My Husband Perfect

My Husband Perfect
BAB 35


__ADS_3

Tuan Tristan datang ke ruang makan, namun tumben Fely belum ada di sana. Tuan Tristan menatap pelayan yang sedang menyusun menu untuk makan malam di meja.


"Mbok, tolong panggilkan Fely, ya?"


Wanita yang berusia sudah tua itu menganggukkan kepalanya. "Baik Tuan, tunggu sebentar."


Setelah berkata seperti itu pelayan itu berjalan dengan sedikit membungkuk untuk memanggil Nona rumah ini.


Tuan Tristan mendudukkan dirinya di kursi dan bersiap untuk makan. Namun tiba-tiba pelayan yang tadi datang dengan tergopoh-gopoh menghampirinya.


"Tuan, Non Fely tidak mau makan malam," ucapnya dengan nada sedikit gemetar karena takut jika Tuan Tristan akan marah.


Tuan Tristan bangkit dari duduknya. "Alasannya apa, Mbok?"


"Tidak mengatakan apa pun, Tuan." Pelayan itu menggelengkan kepalanya.


"Ya sudah biarkan saja." Tuan Tristan mengibaskan tangannya tanda pelayan itu boleh pergi.


Dan setelah selesai makan malam sendirian, Tuan Tristan mendatangi kamar Fely.


Di dalam kamar, Fely rasanya enggan mau membuka pintu yang di ketuk dari luar, namun Fely tidak bisa abaikan begitu saja karena yang mengutuk pintu itu adalah ayahnya, terdengar dari suara Tuan Tristan yang memanggil namanya.


"Kenapa lama sekali, Fely?"


"Dan kamu kenapa tadi tidak ikut makan malam?"


"Kamu tidak sedang sakit, kan?"


Beruntut pertanyaan Tuan Tristan pada Fely begitu pintu kamar itu dibuka.


Fely menghela nafas panjang sembari balik badan berjalan lagi menuju ranjang. "Lagi gak enak makan!" jawabnya ketus.


Tuan Tristan yang mengikuti di belakang Fely seketika menghentikan langkahnya. "Kamu sedang kesal? Kesal sama siapa? Cerita sama, Ayah?"


"Fely kesal sama, Ayah!" jawabnya cepat dengan suara tinggi.


Tuan Tristan menunjuk diri sendiri. "Sama Ayah?"


Fely berjalan mendekati ayahnya. "Ya, karena Ayah, karena keegoisan Ayah waktu itu, sekarang Enzo sudah menikah dengan wanita lain!" Fely menatap tajam ayahnya.


"Ya baguslah kalau Enzo sudah menikah, lalu apa kesalahan Ayah?"


"Ayah ..." teriak Fely sembari menarik selimut yang berada di atas ranjang kemudian ia lempar karena kesal mendengar ucapan ayahnya barusan.


Tuan Tristan tergagap melihat aksi berontak Fely barusan.


"Ayah tahu kalau dari dulu Fely cinta sama Enzo! Tapi Ayah menolak tidak mau restui hubungan itu!"

__ADS_1


"Karena saat itu Enzo lumpuh, Fely!" bentak Tuan Tristan. "Ayah tidak mau putri Ayah menikah dengan pria lumpuh," jelasnya lagi dengan suara lebih embut.


Fely menggelengkan kepalanya. "Enzo tidak pernah lumpuh, Ayah! Tidak pernah!" Fely menangis histeris.


Dan melihat hal itu Tuan Tristan menjadi merasa bersalah, apa lagi apa yang Fely ucapkan itu memang benar bahwa Enzo waktu itu hanya pura-pura lumpuh, setelah ia melihat berita di TV mengenai Enzo yang sempat trending topik akhir-akhir ini di sosial media.


Tuan Tristan mendekati Fely yang saat ini duduk di lantai dengan menyandarkan bahunya di pinggiran ranjang.


"Maafkan Ayah, Fely. Maafkan Ayah." Tuan Tristan berjongkok di sisi Fely, ia sangat sedih melihat Fely yang seperti ini.


"Keluar lah Ayah, Fely hanya ingin sendiri," ucapnya dengan lemah disertai tatapan kosong ke arah depan.


Tuan Tristan tidak mau menganggu Fely, dan ahirnya milih pergi dari sana, dan setelah ayahnya keluar, Fely menjerit meluapkan sesak dalam dadanya.


Aaaaaa!


*


*


*


Di rumah sakit.


Audrey mematikan rokoknya dan membuang putungan rokok itu ke tong sampah sebelum ia keluar dari dalam kamar mandi.


"Kenapa lama sekali?"


Pria tampan itu berjalan lebih dulu setelah di buat kesal oleh Audrey yang lama di dalam kamar mandi.


"Aku sudah berani hanya saja Tuan Enzo belum ijinkan saja," jawab Audrey sembari berjalan mengikuti langkah pria itu dari belakang.


Pria tampan itu hanya menoleh sekilas dengan tatapan tajam.


Audrey tersenyum melihat wajah kesal pria tampan itu.


Hah Tuan Samuel kalau lagi kesal lucu juga, batin Audrey.


"Jangan marah-marah," ledek Audrey sembari memasang sabuk pengaman.


Samuel hanya melirik sebal apa lagi saat melihat senyum Audrey yang baginya terlihat mengejeknya.


Samuel tanpa mau menanggapi Audrey, ia langsung menjalankan mobilnya.


Sementara itu setelah mereka pergi, ada seseorang yang masuk ke dalam rumah sakit. Orang itu mencari ruang tempat Tasya, ruangan yang sudah berhasil ia lacak sebelumnya.


Saat ini pukul sepuluh malam, tentu orang-orang di rumah sakit sudah tidak seramai sore hari.

__ADS_1


Setelah mulai dekat dengan ruang Tasya, orang itu mengintip dari balik dinding, dan dari arah sini ia bisa melihat ada tujuh orang yang menjaga di depan pintu ruang Tasya.


Orang itu tersenyum miring kemudian membuka tutup botol parfum yang ia bawa.


Aroma wangi parfum itu menyebar ke ruangan itu, wangi yang tercium lembut itu terhirup di hidung para penjaga itu.


"Eh, wangi apa ini? Enak banget wanginya."


Salah satu orang penjaga itu berkata seperti itu, namun sedetik kemudian semuanya langsung terkulai tertidur.


Orang itu seketika tersenyum puas melihat mereka sudah tertidur, dengan begini ia bisa masuk ke dalam.


Orang itu tentu tidak tertidur karena ia memakai double masker. Orang itu berjalan mendekati ruang Tasya dan mulai membuka pintu ruangan itu.


Begitu ia masuk, ia melihat ruang pasien yang tampak seperti kamar pribadi.


Dan di atas ranjang sana ada dua orang yang sedang tidur.


Dan tentu orang itu tahu yang mana Tasya, karena ia melihat selang infus.


Sementara itu Samuel yang saat ini sedang menjalankan mobilnya dan sebentar lagi sudah mau sampai, dibuat kesal oleh Audrey saat tiba-tiba wanita itu minta balik ke rumah sakit hanya karena perasaannya tidak enak pada Tasya.


Bahkan Audrey sampai mengancam akan meloncat dari dalam mobil jika Samuel tidak mau putar balik ke rumah sakit lagi.


Dan begitu sampai di rumah sakit, Audrey yang perasaannya begitu khawatir dengan Tasya langsung berlari masuk rumah sakit tak pedulikan Samuel lagi.


Dari jarak beberapa meter Audrey menghentikan langkahnya, Samuel juga terpaksa berhenti saat tiba-tiba melihat Audrey berhenti.


Audrey memejamkan matanya, ia mengenali wangi parfum ini, tentu bukan hal yang sulit bagi Audrey, karena ia dulunya mantan mafia, parfum seperti ini sering ia gunakan untuk memuluskan misi.


Audrey segera ambil masker yang tersimpan di saku jaketnya lalu ia gunakan. "Kamu pakailah masker, jika tidak lebih baik jangan masuk ke dalam." Audrey menoleh ke arah Samuel, dan kemudian langsung berlari begitu saja.


Sampai di sana Audrey melihat para penjaga tudur semua.


"Sialan!" umpat Audrey.


Di dalam ruang Tasya, orang itu sudah melepas infus dan mau melepas alat medis lainya supaya Tasya mati, namun belum sempat hal itu dilakukannya, orang itu merasakan lehernya di pukul keras.


Bugh!


Awh! keluh orang itu.


Bugh!


Pukul Audrey lagi tepat leher orang itu dan seketika orang itu pingsan.


Dan bersamaan itu lampu menyala.

__ADS_1


"Audrey." Enzo yang tidur di sebelah Tasya bangun, dan terkejut melihat ada penyusup.


Enzo turun dari atas ranjang menuju Audrey. "Amankan dia Audrey!" perintah Enzo, Samuel yang baru datang langsung membantu Audrey untuk membawa orang itu ke tempat tahanan markas mereka.


__ADS_2