
Ponsel pria bule itu tiba-tiba berdering saat ia berjalan menuju pintu keluar bandara.
"Halo, Glen. Apa sudah sampai di jakarta?"
Tanya seseorang di sambungan telepon begitu ponsel Glen angkat.
"Sudah, baru aja sampai," jawab Glen.
"Ok, ingat tujuan kamu datang ke Jakarta. Jalankan misi dengan baik," pesan pria di sambungan telepon sebelum ahirnya sambungan telepon dimatikan.
Glen menghela nafas berat saat melihat layar ponselnya berubah gelap, kemudian melanjutkan lagi perjalanannya.
*
*
*
"Argh!" jerit kesakitan seseorang.
Bugh! Bugh!
"Argh!"
Bugh! "Katakan, siapa orang yang menyuruhmu!" bentak Audrey sembari melintir tangan orang itu ke belakang dengan kuat.
Ya, Audrey berhasil menangkap dan melumpuhkan dokter palsu itu, dan saat ini dokter palsu itu sudah tidak berdaya. Lemas sekali rasa tubuhnya, sudah seperti mau mati karena sejak tadi Audrey terus memberinya bogem mentah.
"Cepat katakan!" bentak Audrey sekali lagi seraya semakin melintir tangan dokter palsu itu.
"Argh, akan aku katakan." Orang itu menjeda ucapannya, memejamkan matanya menahan rasa sakit. "Yang menyuruh aku adalah ... Dia adalah-,"
Dor!
Audrey langsung menoleh saat tiba-tiba ada sebuah tembak yang mengarah ke orang itu sampai membuat orang itu tak melanjutkan ucapannya.
Sialan!
Umpat Audrey saat matanya melihat sebuah mobil yang ia yakini penjahat itu dan kini sudah melaju kencang.
Audrey kembali melihat dokter palsu itu yang kini sudah tak bernyawa lagi karena tertembak.
Audrey kemudian membawa orang itu ke dalam rumah sakit, supaya di urus oleh para dokter.
Tidak lama kemudian setelah kejadian itu, Enzo yang tadi sedang meeting bersama klien, terpaksa harus pergi tiba-tiba karena mendapat kabar Tasya dalam bahaya. Sehingga pekerjaannya di handel oleh Samuel.
Dan disinilah Enzo sekarang, berdiri tepat di samping Tasya yang berbaring di ranjang.
Enzo mengusap pipi Tasya, di dalam ruangan ini sekarang hanya ada Enzo dan Tasya, yang lain semua di luar.
"Maafkan aku, kamu hampir celaka, Sayang."
Enzo mencium berulang kali punggung tangan Tasya, hatinya benar-benar merasa bersalah, karena permasalahannya kini Tasya harus jadi sasaran orang jahat.
Dan sesat kemudian Enzo berganti mengepalkan tangannya, wajahnya tampak dingin dengan tatapan tajam. "Markus, aku tidak akan maafkan kamu. Bagiku kau sudah keterlaluan!"
Setelah cukup lama di samping Tasya, Enzo memanggil Audrey untuk menghadapnya.
Kini Enzo dan Audrey duduk di kursi sofa dengan meja sebagai pembatas, yang masih di ruangan itu.
"Jelaskan!" tegas Enzo.
Audrey menatap mata Enzo yang tajam itu, dan kemudian menceritakan dari awal mula dokter palsu itu datang hingga berakhir kematian dokter palsu itu yang di tembak temannya sendiri.
"Dia mau menghapus jejak," pendapat Enzo, setelah mendengar cerita Audrey sampai selesai. Karena dari cerita Audrey dokter palsu itu sudah mau jujur.
"Benar, Tuan." Jawab Audrey. "Dan saya berjanji akan lebih ketat lagi menjaga, Nona Tasya." Lanjut ucap Audrey, yang tidak ingin membuat Enzo merasa khawatir.
"Em, kamu boleh keluar."
__ADS_1
Setelah mendengar perintah Enzo tersebut, Audrey pun beranjak pergi dari sana.
*
*
*
Sampai malam hari, Enzo tetap berada di ruangan itu untuk menjaga Tasya, bahkan tidak keluar sedetik pun.
Gak ada lelah baginya dan terus mengajak Tasya bicara, Enzo sangat ingin Tasya segera bangun dari koma.
Tangan putih yang lemah milik Tasya itu Enzo genggam, Enzo menatap wajah Tasya yang kian tirus pipi itu.
"Sayang, aku akan membacakan puisi cinta untuk kamu, aku harap kamu sebentar lagi dapat sadar. Aku mencintaimu."
Setelah berkata seperti itu, Enzo kemudian membacakan puisi cinta untuk mewarnai malam ini bersama Tasya.
Teruslah bersamaku
Meski jalan yang kita lewati akan sulit.
Tapi percayalah.
Cinta kita akan memudahkan segala rintangan.
Dan jangan pernah berhenti mencintaiku
Karena walau hanya sedetik saja.
Aku bagikan terbunuh dalam medan perang.
Aku mencintaimu.
Menunggumu sampai kau membuka mata.
Dan melihat wajahku kembali.
"Tuan, apa kita bisa bicara."
Suara Samuel yang baru saja masuk.
"Hem," jawab Enzo, Enzo tersenyum menatap wajah Tasya sebelum ahirnya pergi dan menghampiri Samuel.
Enzo menyibak gorden, dan seketika melihat pemandangan malam di luar sana, lampu-lampu kota memancar dengan indahnya. Enzo melipat kedua tangannya di depan dada dan memandang lurus ke depan.
"Tuan Markus, ada di Amerika. Dan setelah saya menyelidiki ternyata, Tuan Markus telah mengubah wajahnya. Dia melakukan operasi plastik pada wajahnya, Tuan."
Samuel menjelaskan semua informasi yang ia dapat.
"Apa kamu sudah mendapat informasi baru mengenai seperti apa wajah Markus saat ini?" Enzo balik badan menatap Samuel dengan tajam.
"Masih saya cari tahu, Tuan." Samuel menundukkan kepalanya.
"Aku tidak butuh waktu lama, segera dapatkan mengenai informasi wajah Markus yang sekarang!" perintah Enzo dengan tegas. Kemudian kembali balik badan melihat ke arah luar jendela lagi.
"Siap, Tuan. Akan saya kabari secepatnya." Samuel menunduk hormat sebelum ahirnya meninggalkan Enzo.
Setelah Samuel keluar, Enzo mencengkram kuat tralis jendela itu, disertai matanya yang nampak marah. "Ini gila, Markus. Kamu sudah bertindak sampai sejauh ini, mempersiapkan strategi kamu. Bahkan aku sampai saat ini belum tahu apa yang membuat kau membenciku."
Sementara itu di tempat lain, Elis sedang uring-uringan dengan dirinya sendiri. Bingung mau meminta pertanggung jawaban pada siapa atas kehamilannya.
Mungkin salah satunya ada pada ketiga pria yang pernah tudur bersamanya. Dan tentu itu bukan Reka Sadewa, yang tempo lalu pernah Elis temui.
Tapi Elis menginginkan Reka, karena Reka pria kaya dan seorang tuan muda. Meski Elis sudah menjebaknya, ternyata Reka tidak bisa dibohongi, dia terlalu pintar.
"Ah! Sialan sialan!" Elis melempar barang-barangnya ke lantai. kamarnya saat ini sudah berantakan, karena seharian ini Elis melempar barang-barangnya untuk mengurangi kekesalan.
"Aku gak boleh kayak gini, bagaimana pun caranya aku harus menikah dengan, Reka!" teriaknya dengan emosi.
__ADS_1
Elis kemudian mengambil ponselnya, dan menemukan foto berdua bersama Reka di atas ranjang waktu itu.
Elis tersenyum, dan akan menggunakan foto itu untuk menekan Reka.
Dan malam ini tidak perlu menunggu besok, Elis langsung menemui Reka.
Setelah menempuh perjalanan setengah jam, Elis sudah tiba di apartemen Reka. Tidak perlu menunggu lama pintu apartemen itu terbuka, dan seketika menampakan sosok pria tampan dan gagah.
"Reka," sapa Elis dengan suara lembut.
"Kita tidak ada urusan lagi!" Reka mau menutup pintu itu kembali, namun dengan cepat Elis cegah.
"Reka, tunggu."
Reka menatap tajam Elis, ia benar-benar malas dengan wanita ini, yang memiliki seribu sandiwara.
"Aku punya bukti foto-foto panas kita di atas ranjang, apa kau yakin tidak mau bertanggung jawab. Hem?" Elis tersenyum penuh kemenangan.
Cih! Murahan! umpatnya.
"Apa kau lupa siapa aku!" Reka berkata angkuh dan menatap tajam.
Elis terkekeh masam. "Aku tidak lupa dengan kamu, Reka. Kau adalah pria yang berkuasa dan seorang tuan muda. Tapi-," Elis menjeda ucapannya sembari mengusap wajah Reka. "Jika foto dan Vidio panas itu aku unggah di sosial media, maka karir kamu sebagai CEO pasti akan han-cur ..." Elis tersenyum miring.
Reka hanya terkekeh mendengar penjelasan Elis, entah kenapa tidak merasa takut sama sekali dengan ancaman Elis.
"Sudah selesai bicaranya?"
"Oh, belum," jawab cepat Elis.
"Aku akan mendatangi ibu dan ayahmu, kau ingat bukan? Bahwa aku pernah kenalan dengan beliau, tentu kamu tidak lupa." Elis menatap Reka yang wajahnya seketika berubah makin dingin setelah membawa kedua orang tuanya dalam masalah ini.
Elis yakin rencananya kali ini pasti akan berhasil.
Hahahah.
Reka tertawa keras setelah memasang wajah marah, dan seketika membuat Elis bingung.
"Lakukan, lakukanlah, Elis!" Reka tidak peduli apa pun yang terjadi, baginya terserah Elis mau bertindak seperti apa.
Mau sampai seluruh manusia di dunia tahu bahwa Elis hamil dengannya dari berita yang Elis buat, terserah! Reka tidak peduli.
"Ta-,"
Brakk!
Ucapan Elis seketika terhenti bersamaan pintu itu kembali di tutup dengan kuat.
"Akan aku buat kau bertekuk lutut padaku, Reka." Elis mengepalkan tangannya, wajahnya terlihat sangat marah.
Elis kemudian pergi meninggalkan tempat itu. Dan esok hari akan berencana untuk menemui kedua orang tua Reka.
Sementara itu di tempat lain, lebih tepatnya di sebuah restoran mewah. Terlihat dua orang sedang berdebat.
"Aku sudah katakan tidak punya uang lagi, kan dua Minggu lalu sudah aku kasih ke kamu!" ucap Ibu Mika dengan hati sangat kesal.
"Mika ... Aku gampang aja jika kamu tidak mau memberiku uang lagi. Kamu tahu kan bahwa rahasia terbesar kamu ada di tanganku."
Hahah.
Pria itu tertawa usai bicara.
"Diam kau ba-ji-ngan!" geram Ibu Mika. "Kau sudah memeras aku selama bertahun-tahun, sudah banyak uang yang aku berikan padamu!"
"Apa tidak bisa kau buat aku hidup tenang, huh!" lanjut ucap Ibu Mika dengan marah.
"Hahah. Terlalu enak, jika aku berhenti mengganggumu," ucap pria itu yang terdengar sangat menjengkelkan di telinga Ibu Mika.
Pria itu tersenyum mengejek sembari menatap Ibu Mika. "Seperti apa ya reaksi, Gunawan? Jika tahu bahwa, Elis. Bukan putri kandungnya."
__ADS_1
"Kau!" sentak Ibu Mika.