My Husband Perfect

My Husband Perfect
BAB 20.


__ADS_3

Brakk!


Enzo menggebrak meja kerjanya saat sampai malam belum ada kabar dari Tasya, padahal setiap detiknya Enzo berharap Tasya akan pulang, dan kabar Tasya menghilang hanya mimpi buruk.


"Sya ... kamu dimana ..." teriak Enzo, tak dapat ia tahan lagi, kini air matanya sudah membasahi pipi.


Enzo sudah mengerahkan semua orang-orangnya untuk mencari Tasya, tapi satu pun dari mereka belum ada yang memberi kabar mengenai Tasya. Dan hal ini makin membuat Enzo khawatir dengan keadaan sang istri.


"Harusnya kamu tetap di mansion saja."


"Harusnya aku tidak mengijinkan kamu keluar Mansion."


"Tasya aku khawatir, aku takut dengan keadaan kamu yang entah sekarang ada dimana ...."


Enzo terus menyalahkan diri sendiri, ia sangat merasa takut, takut apa bila kejadian satu tahun lalu akan terulang kembali.


"Aku tidak akan memaafkan diriku jika terjadi sesuatu yang buruk padamu, Tasya. Tidak akan." Enzo semakin merasa terpukul.


Enzo ahirnya mutusin untuk mencari Tasya tidak mau hanya diam saja, ia langsung bangkit dan berjalan, namun saat tangannya sudah memegang handel pintu, ia baru teringat bahwa saat ini masih dalam pura-pura lumpuh.


Arghhhh!


Enzo berteriak, merasa tidak berguna tidak bisa berbuat apa-apa untuk segera menemukan Tasya.


Karena saat ini tidak mungkin Enzo tiba-tiba berjalan keluar, semua belum waktunya untuk semua orang mengetahui kebenaran bahwa ia tidak lumpuh selama ini.


Sementara itu di tempat lain, Mom Zelea juga sedang menangis, tak dapat ia jelaskan lagi perasaannya saat ini, yang pasti ia benar-benar merasa khawatir dengan keadaan menantunya di luar sana yang tidak diketahui keberadaannya.


"Ini semua salah Lala, Mom."


"Harusnya Lala tidak mengajak Kak Tasya ke taman kota."


"Lala menyesal, Mom."


Tangis Lala sembari terus menyalahkan diri sendiri Mom Zelea dengar terus menerus.


Mom Zelea langsung memeluk Lala. "Ini bukan salah Lala, semua sudah takdir, Lala yang tenang, berdoa Kak Tasya cepat pulang." Mom Zelea mengecup kening Lala.


Namun mendengar ucapan ibunya barusan, Lala semakin bertambah menangis, hatinya makin sedih, karena hilangnya Tasya memang karena dirinya.


Tasya benar-benar menyesal, andai waktu bisa ia ulang, Tasya tidak mau ke taman kota, namun sayangnya hanya angan-angan, kini semua sudah terjadi.


Dan hatinya semakin kecewa pada diri sendiri saat sadar tidak bisa melakukan apa pun untuk membantu segera menemukan Tasya.


Mom Zelea semakin memeluk erat Lala, untuk menenangkan anak gadisnya itu.


Kejadian ini tidak ada yang patut di salahkan, Mom Zelea pikir penjahat itu memang sudah mengincar Tasya, sehingga saat Tasya bersama yang lain datang ke taman kota, itu adalah kesempatan penjahat itu untuk menculik.


Semua sudah terjadi, mau seperti apa pun tetap tidak bisa diulang lagi, sekarang hanya bisa terus melakukan pencarian, agar Tasya segera ditemukan.


Samuel sejak siang tadi mendapat kabar bahwa Tasya hilang, ia langsung melakukan pencarian, tapi sampai sekarang waktu sudah malam juga belum dapat ia temukan.


Keberadaan Tasya memang sulit dilacak, karena sejak tadi hp wanita itu tidak aktif, sehingga Samuel tidak bisa melacak GPS di hp Tasya.


Padahal Samuel berharap Tasya masih memegang hp nya, sehingga saat wanita itu menyalakan hp nya, akan mudah Samuel deteksi.


Sekarang Samuel mendatangi rumah orang tua Tasya, meski hatinya sempat yakin bahwa tidak mungkin Tasya berada di rumah itu, mengingat selama ini Tasya tidak pernah mau pulang, tapi Samuel sekalian mau memberi tugas Pak Gunawan.


Bel rumah terus berbunyi, tidak lama kemudian pintu dibuka dan seketika menampakkan wanita sekitar usia tiga puluh tahun, yang saat ini tengah tersenyum ramah ke Samuel.


"Maaf, Tuan mau mencari siapa?" tanyanya lembut penuh hormat.


"Saya mau bertemu, Tuan Gunawan."


"Baik, tunggu sebentar saya akan panggilkan Tuan Gunawan." Pelayan tersebut kemudian pergi untuk memanggil Tuan Gunawan.


Tidak lama kemudian Tuan Gunawan datang, namun tidak sendirian, ia berdua bersama wanita yang masih cantik di usianya yang tidak lagi muda.


"Selamat malam, Asisten Samuel," ucap Tuan Gunawan, ia menundukkan kepalanya menghormati orang yang ada di depannya saat ini.

__ADS_1


"Saya tidak akan basa-basi," jawabnya dingin.


"Nona Tasya menghilang, apa dia ada di sini?"


"Tasya hilang," ucap Gunawan dan istrinya bersamaan dengan terkejut.


Samuel mengangguk kecil.


"Tapi Asisten Samuel, dia tidak ada di sini. Dan bagaimana bisa putrimu hilang?" Tuan Gunawan berakting sedih, meski hatinya merasa tidak peduli, tapi ia tidak mau melihatkan semua itu.


"Asisten Samuel, tolong temukan putri kami, kami sangat khawatir." Ibu Mika ikutan berakting sedih, supaya di depan Samuel terlihat seperti ibu yang peduli.


"Saya memang datang kemari untuk mencari Nona Tasya, tapi bukan berarti saya mencari sendirian." Samuel menatap Tuan Gunawan dan Ibu Mika bergantian. "Tuan, Nyonya. Juga harus ikut membantu mencari keberadaan Nona Tasya ."


Ibu Mika langsung tercengang mendengar ucapan Samuel barusan.


"Permisi," ucap Samuel dan kemudian pergi dari sana.


Hah dasar anak menyusahkan! Sudah menikah saja masih juga merepotkan, batin kesal Ibu Mika.


Ibu Mika melihat suaminya mau masuk ke dalam rumah, namun langsung ia tahan langkahnya.


"Ayah, cari sana anakmu itu, aku tidak sudi mencarinya!"


"Jika Anda tidak mau membantu mencarinya, Tuan muda Enzo akan menarik suntikan dana di perusahaan Anda, dan bisa dibayangkan selanjutnya yang akan terjadi."


Deg! Ibu mika dan Tuan Gunawan langsung menoleh ke belakang, seketika terkejut yang ternyata ada Samuel, yang tadi sudah pergi kini kembali lagi.


"haha, Anda ... Anda salah dengar Asisten Samuel, mana mungkin kami tidak mencari karena Tasya adalah putri kami." Tuan Gunawan berusaha tenang menutupi kegugupannya.


Samuel tersenyum miring, kemudian beranjak pergi dari sana.


"Dia sudah mirip seperti hantu," gumam Ibu Mika yang merasa kesal mendapati Samuel kembali lagi.


Tuan Gunawan menatap tajam istrinya. "Lagian kamu kenapa sih pake bicara seperti itu! Apa pun perintah Tuan Enzo ya harus di lakukan!"


Sudah dibuat kesal oleh Samuel dan sekarang malah mendengar ucapan suaminya yang seperti itu, bertambah rasa kesal dalam hati Ibu Mika.


"Kalian semua menyebalkan!" teriaknya sembari berjalan mengikuti suaminya masuk ke dalam rumah.


Di dalam sebuah rumah kosong, tempatnya sangat kotor, terlihat sekali sudah lama tidak huni.


Dan di dalam rumah ini lah seorang wanita cantik tubuhnya tengah tidak berdaya dan terus menangis sedari tadi.


"Kak Enzo selamatkan aku."


"Ini sakit sekali, temukan aku di sini, Kak."


Wanita cantik itu terus bergumam lirih memanggil seseorang yang dipercayainya bisa menolongnya.


Bagaimana tidak sakit, jika sedari tadi tubuh wanita itu dicambuk oleh orang yang menculiknya, dan kini banyak luka cambukan di tubuh wanita itu.


Brakk!


Tiba-tiba pintu ruangan itu kembali terbuka dengan kasar, seketika menghentikan tangis wanita itu.


"Makan!"


Laki-laki itu memberikan sepiring makanan lengkap dengan nasi dan lauknya.


"Habiskan makanan ini! Jangan membuat kami susah!"


Setelah berkata kasar seperti itu, laki-laki itu kembali keluar dan mengunci ruangan tersebut.


Tasya ahirnya mencoba untuk mendekati piring itu dengan tubuh yang terasa sakit saat digerakkan, kaki diikat dan tangan juga diikat.


Dalam keadaan seperti ini tidak ada cara lain lagi selain Tasya menundukkan kepalanya dan langsung makan tanpa menyentuh piring itu, dan cara ini sangat sulit.


Air matanya terus mengalir deras di pipi, hanya sekali saja Tasya mampu makan selanjutnya ia lebih milih menjauh dan tidak lanjut makan lagi.

__ADS_1


Kalau sudah seperti ini ia seperti hanya melihat makanan itu tanpa bisa menyentuh, padahal saat ini ia tengah kelaparan, mengingat hanya sarapan pagi saja, dan sekarang sudah malam.


"Tuan!" teriak Samuel setelah masuk ke ruang kerja Enzo.


Enzo langsung berdiri dari tempat duduknya, menatap Samuel, menuntut kabar baik yang dibawa pria itu.


"Saya sudah menemukan di mana Nona Tasya berada saat ini."


"Kamu tidak bohong, kan?" Enzo berjalan mendekati Samuel dengan tatapan tajam.


Samuel menggeleng, dan tanpa menunggu lama mereka berdua segera mendatangi lokasi tempat keberadaan Tasya sekarang.


Samuel mengetahui tempat Tasya di sekap karena beberapa saat lalu hp Tasya menyala, jadi ia dapat mengetahui lokasi itu melalui GPS.


Tapi Samuel tidak tahu orang yang memegang hp Tasya. Dipikirnya bisa jadi orang jahat yang telah menculik Tasya.


Tempat itu cukup rumayan jauh, tapi dalam waktu tiga puluh menit mobil mereka sudah sampai, Enzo mengendarai dengan cepat karena tidak mau membuat Tasya lama menunggu.


Enzo datang bersama Samuel dan sepuluh bodyguard, mereka semua langsung masuk ke rumah kosong itu.


Dan mereka langsung di sambut dengan anak buah orang penjahat itu, dan terjadilah perkelahian dan baku hantam diantara mereka.


"Tuan, sebaiknya Anda masuk ke dalam mencari Nona Tasya! Biar mereka kami yang mengatasi!" teriak Samuel.


Saat orang-orangnya sedang berkelahi melawan penjahat itu, Enzo segera menyusup masuk ke dalam.


Tanpa Enzo sadari pergerakannya itu sedari tadi diawasi oleh seseorang yang saat ini berdiri di balkon lantai tiga.


"Ternyata selama ini dia hanya pura-pura lumpuh." Pria itu tersenyum miring, tapi wajahnya terlihat sangat marah.


"Aku tidak sia-sia menculik istrinya dan akan aku pastikan dia menyesal."


"Enzo tidak ada kata maaf untuk mu!"


Pria itu balik badan meninggalkan balkon, ia berjalan masuk.


Sementara itu Enzo terus mencari keberadaan Tasya, setiap pintu ia buka, tapi juga tidak ada Tasya di dalamnya.


Enzo berjalan lagi naik kelantai dua, Enzo sampai terbatuk-batuk karena rumah ini sangat kotor.


"Tasya!" teriaknya terus memanggil Tasya.


Enzo terus berlari kadang ia juga terjatuh karena tidak memperhatikan lantai yang juga banyak kayu berserakan potongan kursi yang rusak.


Bersamaan Enzo masuk ke dalam ruangan yang di dalamnya terdapat Tasya, seseorang yang tadi di balkon lantai tiga juga melihat Enzo.


Orang itu mengambil sesuatu yang disimpan di saku celana, dengan tatapan nyalang pria itu berjalan menuju ruangan yang tadi Enzo masuki.


"Tasya maafkan aku," ucap Enzo, ia langsung memeluk Tasya, hatinya sakit melihat istrinya dalam keadaan seperti ini.


"Kak, terimakasih sudah menemukan aku, mari kita pergi."


Enzo tersadar bahwa saat ini sebaiknya harus pergi, Enzo langsung membantu Tasya berdiri, saat ini ikatan di kaki dan tangan Tasya sudah di lepas.


Mereka segera berjalan untuk pergi, namun setelah mereka melewati pintu, mereka tidak menyadari ada seseorang yang berdiri di balik pintu.


"Aku tidak akan membiarkan kamu bahagia, Enzo!" gumam pria itu dengan marah sembari melempar belati beracun ke arah punggung Tasya.


Jleb!


Tasya langsung menghentikan langkahnya, saat ini punggungnya terasa sangat sakit.


"Kak."


"Tasya!" Enzo terkejut, ia menoleh kebelakang dan seketika matanya melihat seseorang yang tidak asing.


"Markus!" teriak Enzo. Tapi ia tidak bisa mengejar Markus yang melarikan diri, karena saat ini Tasya tiba-tiba pingsan.


Enzo langsung membopong tubuh Tasya dibawanya pergi dari tempat itu.

__ADS_1


"Aku mohon bertahan, Sya."


Dengan langkah kaki gemetar dan bajunya berlumuran darah yang keluar dari punggung Tasya, Enzo membawa Tasya keluar dari rumah kosong itu.


__ADS_2