
Di dalam sebuah kamar mandi, seorang pria sedang memukul dinding dengan berulang kali, sampai melukai buku tangannya, rasa perih campur sakit di tangannya tidak dapat pria itu rasakan lagi, karena lebih sakit melihat orang yang dicintainya berbaring tidak berdaya di rumah sakit.
Apa lagi orang yang dicintainya itu saat ini tengah dinyatakan koma, membuat pria itu seperti laki-laki yang tidak berdaya, tidak ada artinya, merasa gagal melindungi.
Bugh!
Bugh!
Suara pukulan terus bersahutan terdengar dari arah dalam kamar mandi.
Samuel yang berjaga di depan pintu kamar mandi, hatinya ikut merasa nyeri melihat kesakitan yang dirasakan sang Tuan Mudanya.
Sudah lama Samuel bekerja sebagai asisten pribadi Enzo, bahkan sudah sangat mengenal Enzo, karena tengah bersahabat sejak duduk di bangku SMA, hingga kini bekerja jadi asistennya Enzo, sungguh baru kali ini Samuel melihat Enzo terlihat sangat terpukul.
Satu tahun lalu Enzo juga terlihat terpukul saat kejadian kecelakaan hingga membuat Lala lumpuh dan Enzo memutuskan ikutan pura-pura lumpuh, tapi mendapati Tasya yang terluka ternyata membuat Enzo lebih terlihat terpuruk.
Samuel hanya bisa menghela nafas panjang, dan terus berjaga di depan pintu kamar mandi supaya tidak ada orang yang masuk.
*
*
*
"Dad, ada yang kita lupakan sejak tadi," ucap Mom Zelea, saat ini mereka duduk di depan ruang ICU, dimana ada Tasya di dalam sana yang sedang di rawat.
"Lupakan apa, Mom?" tanya Dad Zeon yang belum paham arah pembicaraan Mom Zelea.
"Enzo bisa berjalan tanpa kursi roda tanpa tongkat, Dad-." Mom Zelea tidak bisa melanjutkan kata-katanya, kepalanya menggeleng, baru menyadari sekarang, padahal sejak tadi bersama putranya terus.
Dad Zeon juga tidak kalah terkejut mendengar ucapan Mom Zelea, sejak tadi ia juga melihat Enzo berjalan, tapi tidak kepikiran sama sekali bahwa Enzo selama ini lumpuh, karena pikirannya terus mengkhawatirkan keadaan sang menantu yang sedang kritis.
"Mom, Dad. Lala juga baru menyadari hal itu, harusnya kan Kak Enzo pakai kursi roda," ucap Lala ikut menimpali pembicaraan kedua orang tuanya.
Dad Zeon dan Mom Zelea menghela nafas panjang bersamaan, sama-sama berpikir bahwa dirinya bertiga tidak peka sedari tadi.
__ADS_1
"Dad, mau kemana?" tanya Mom Zelea saat melihat suaminya berdiri.
Dad Zeon menoleh menatap istrinya yang masih duduk. "Mau mencari Enzo," ucapnya kemudian berlalu.
Mom Zelea menghela nafas, kini tinggallah dirinya dan Lala yang duduk di depan ruang ICU.
*
*
*
Samuel yang masih setia menunggu Enzo di depan pintu kamar mandi, kini mulai mendengar keheningan di dalam sana, bertanda bahwa Enzo sudah tidak lagi memukul dinding kamar mandi.
"Samuel, dimana Enzo."
Sebuah suara yang tidak asing tiba-tiba Samuel dengar, Samuel menoleh, dan benar saja kini ia melihat orang pemilik suara itu, orang yang ia hormati.
"Tuan Besar." Samuel menunduk hormat.
"Sedang apa dia?"
"Tuan Enzo sedang melampiaskan kekesalannya dengan memukul dinding, Tuan." Samuel menjelaskan.
Dad Zeon mengangguk mengerti.
Sementara itu, Enzo yang sudah merasa lebih baik, setelah membasuh wajahnya dengan air, pria itu kemudian membuka pintu.
Awalnya ia terkejut saat mendapati Dad Zeon ada di sana, tapi itu hanya sesaat, setelah ia bersikap biasa saja.
"Tuan, Anda tidak apa-apa?" tanya Samuel begitu melihat Enzo keluar dari kamar mandi, ia sangat khawatir.
"Hem," jawab singkat Enzo.
"Ikut Daddy, Daddy mau bicara."
__ADS_1
Setelah berkata seperti itu, Dad Zeon berjalan pergi lebih dulu, Enzo dan Samuel mengikutinya dari belakang.
*
*
*
Di dalam mobil, serang pria dengan usia yang berbeda, kini tengah berbicara serius di dalam sana.
Tidak ada pilihan tempat yang aman untuk bicara berdua selain di dalam mobil, karena saat ini sedang berada di tempat umum yaitu rumah sakit.
"Iya, Dad. Selama ini aku pura-pura lumpuh," jawab Enzo dengan jujur, setelah Dad Zeon tadi bicara mengenai Enzo yang tiba-tiba bisa berjalan.
"Kenapa? kenapa kamu menyembunyikan semua ini dengan, Daddy?" tanya Dad Zeon, ia sedikit emosi, tapi ia tahan, bukan marah, hanya kecewa karena Enzo harus membohonginya, apa pun alasannya itu.
"Karena musuh yang Enzo hadapi itu sangat licik, Dad." Enzo menatap lekat wajah ayahnya. "Aku tidak mau dia terus menerus menyelakai keluarga aku." Enzo menggelengkan kepalanya. "Aku tidak mau ... Tapi sekarang lihat, Tasya."
"Tasya harus koma karena aku, Dad." Enzo menatap lurus ke depan dengan tatapan penuh luka. "Musuhku ingin aku hancur dan mati, tapi sebelum itu terjadi, dia mau menghukum ku dengan menyakiti orang-orang terdekatku."
"Tapi sekarang dia udah tahu kamu sudah bisa berjalan?"
Enzo mengangguk benar.
"Siapa dia? Apa Daddy kenal?" tanyanya penuh rasa ingin tahu, tangan Dad Zeon sampai terkepal, marah rasanya ada yang ingin bermain-main nyawa dengan putranya.
Enzo mengangguk.
"Bukan tidak kenal lagi, tapi Daddy sangat kenal," batin Enzo.
Ia sampai bingung harus berkata jujur, karena sebenarnya Dad Zeon sangat menyayangi Markus, tapi entah kenapa Markus tega menyusup keluarganya.
"Siapa dia, Enzo?" tanya Dad Zeon dengan suara berat.
"Markus." Enzo menatap lekat wajah ayahnya. "Dia Markus, Dad."
__ADS_1
Deg!!