
Klek.
"Selamat malam, Tuan." Seorang wanita berpakaian serba hitam, celana jins panjang warna hitam, kaos hitam yang dilapisi jaket kulit warna hitam, serta rambut panjangnya warna kuning keemasan di ikat tinggi.
Wanita berkulit putih tersebut saat ini tengah menunduk hormat pada tuannya yang baru datang.
Pria itu melangkah masuk tanpa menjawab ucapan selamat dari wanita itu, tapi malah bertanya hal lain.
"Bagaimana keadaan istriku?"
"Nona Tasya masih seperti biasanya, Tuan. Em ... Maksud saya belum ada tanda-tanda untuk sadar dari koma," jelas wanita pada tuannya.
Pria itu menoleh. "Audrey."
"Iya, Tuan." wanita itu menjawab.
"Terimakasih sudah mau menjaga istriku, sekarang kamu boleh pulang," ucap Enzo dan kemudian berganti menatap wajah Tasya.
"Terimakasih, Tuan. Saya permisi," ucap Audrey sebelum ahirnya pergi meninggalkan tempat tersebut.
Ya, wanita itu bernama Audrey, yang Enzo tugaskan untuk menjaga Tasya, Audrey terpilih untuk menjaga Tasya, karena Audrey bukan sembarang wanita.
Audrey jago ilmu bela diri, juga wanita mantan mafia, lebih tepatnya ia selama ini tinggal di Amerika dan kabur ke Indonesia karena ingin berhenti dari pekerjaannya yang gelap itu.
Audrey memasuki mobilnya, dengan harga yang tak seberapa mahal itu, tapi masih rumayan untuk Andrey gunakan dalam bertransportasi.
Audrey membawa pergi mobilnya keluar dari area rumah sakit, namun tanpa Audrey sadari, bahwa sejak tadi ada seseorang yang memperhatikannya.
Dan setelah melihat mobil Audrey keluar dari rumah sakit, orang tersebut langsung melakukan panggilan telepon, yang entah sedang menelpon siapa, namun tampaknya dari pembicaraan itu terlihat serius.
"Dia sudah keluar, siap jalankan misi selanjutnya," lapor orang itu pada orang di sambungan telepon.
__ADS_1
Setelah berkata seperti itu, orang tersebut mematikan panggilan dan menyimpan kembali hp nya, kemudian berjalan ke arah parkiran mobilnya, lalu ia kendarai mobil tersebut dan pergi dari sana.
*
*
*
Audrey masih mengendarai mobilnya di perjalanan, sambil menyalakan musik barat, Audrey ikut bernyanyi seperti lagu yang di dengarnya itu.
Saat ini masih pukul sembilan malam, jadi jalanan masih rumayan ramai.
Namun dari jarak beberapa meter, meski Audrey sedang menyetir dan asik bernyanyi, ternyata matanya begitu awas dengan sesuatu yang mencurigakan.
Entah karena sudah biasa di ikuti oleh seseorang, atau memang Audrey memiliki keahlian dan feeling yang kuat terhadap sesuatu yang mencurigakan.
Audrey tersenyum miring dan seketika ia berhenti bernyanyi, namun entah apa yang sedang direncanakan olehnya saat ini, yang pasti harusnya arah jalan pulangnya adalah lurus, namun Audrey dengan gerakan cepat membelokkan mobilnya dan langsung menambah kecepatan tinggi.
"Sial! Jangan sampai kita kehilangan jejak dia," umpak orang itu yang berbicara pada temannya yang juga duduk di dalam mobil.
Sementara itu Audrey terus mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, dan begitu lihainya ia menyalip beberapa mobil di depannya sudah seperti bak pembalap mobil profesional, sembari mulutnya mengunyah permen karet dan sesekali ia plembungkan.
Sebenarnya Audrey juga tidak tahu apa motif orang tersebut mengikutinya, tapi yang pasti ia harus berhati-hati.
Karena saat ini ia sedang mendapat tugas untuk menjaga istri Tuan Enzo, dan bisa jadi orang yang mengikutinya ada kaitannya dengan pekerjaannya saat ini.
Ternyata Audrey membawa mobilnya terus berjalan di jalan raya dan berputar, harusnya sudah sampai tiga puluh menit yang lalu, tapi karena harus menghindar dari orang yang mengikutinya, kini pukul sepuluh malam baru sampai di apartemen.
Audrey memasuki tempat tinggalnya, yaitu sebuah apartemen yang terbilang biasa saja, harga sewanya saja tidak begitu mahal.
Bukan tidak punya uang, tapi wanita seperti dirinya suka di cari seseorang, atau suka mendapat teror, jadi berpindah tempat hal biasa, dan jika harus menyewa apartemen mahal maka akan sayang uangnya.
__ADS_1
Setelah sampai di apartemen, Audrey langsung masuk ke dalam kamarnya, meletakan tas dan hp yang dibawanya tadi.
Merasa badannya lelah dan membayangkan jika mandi akan terasa segar, Audrey pun segera berjalan menuju kamar mandi, namun baru beberapa langkah hp nya ditinggal, kini telinganya sudah mendengar suara hp nya berdering.
Audrey urungkan untuk masuk ke dalam kamar mandi, ia kembali dan melihat siapa yang tengah menelpon malam-malam begini.
Ternyata nomor baru, dan hal ini biasa Audrey dapatkan, dan hanya sekedar memastikan siapa orangnya, Audrey pun mengangkat panggilan telepon tersebut.
Dan entah apa yang diucapkan oleh orang di seberang telepon sana, namun setelah itu wajah Audrey terlihat begitu marah, bahkan hp yang barusan ia pegang langsung ia lempar ke atas ranjang, dan berjalan cepat masuk ke kamar mandi dan menutup pintunya dengan kasar.
Brak!
*
*
*
Di rumah sakit.
Ruang ICU yang kini sudah di sulap seperti kamar pribadi, ranjang pasien yang berubah ukuran king size, tentu Enzo bisa melakukannya, padahal ini di rumah sakit, yang sebenarnya adalah milik umum.
Tapi rumah sakit ini adalah milik keluarganya, tentu pemilik rumah sakit bisa melakukan apa pun.
Enzo yang saat ini juga berbaring di sebelah Tasya, dengan posisi miring ke arah Tasya, mata pria itu terus memandangi wajah cantik istrinya, yang baginya meski tanpa make up dan sedang sakit seperti ini, tapi wajah Tasya terlihat cantik berseri-seri.
"Katakan kamu maunya apa? Apa yang harus aku lakukan? Sehingga kamu mau sadarkan diri?" Enzo mengusap lembut pipi Tasya.
"Mau sampai kapan kamu diemin aku seperti ini, Hem?" Enzo semakin lekat menatap wajah Tasya.
"Aku sangat mencintaimu, plis bangunlah untuk aku," ucapnya lagi, dan malam ini sebelum Enzo benar-benar tertidur, ia terus mengatakan cinta pada Tasya, berharap dengan begitu Tasya mau membuka matanya.
__ADS_1