
Ahir pekan tiba, di dalam sebuah rumah mewah bertingkat, seorang wanita cantik sudah rapih penampilannya.
Padahal saat ini hari Minggu, dan biasanya wanita itu tidak ada urusan keluar rumah, tapi tidak dengan pagi ini.
Tap. Tap.
Suara langkah sepatu high heels wanita itu yang saat ini menuruni tangga, dan wajahnya makin cantik bersinar saat bibir merah itu tersenyum.
"Wah-wah, putri Ayah pagi-pagi sudah cantik." Pria tua itu meletakkan koran yang baru dibacanya ke atas meja.
Senyum wanita itu makin lebar saat mendengar pujian dari ayahnya, sembari berjalan mendekati ayahnya.
"Ayah ...," ucapnya dengan nada manja setelah ikut duduk di sebelah ayahnya sembari memeluk lengan ayahnya.
Wanita itu menyandarkan kepalanya di bahu sang ayah. "Pagi ini Fely mau keluar, Ayah. Ada urusan sebentar."
"Hem, jangan kesorean pulangnya." Pria yang dipanggil ayah itu mencium puncak kepala Fely.
Fely menatap ayahnya. "Siap bos! Laksanakan." Tangan Fely hormat.
Dan seketika tingkah konyol Fely membuat keduanya tertawa.
Setelah berpamitan dengan ayahnya karena mau pergi, Fely segera melajukan mobilnya pergi dari kediamannya.
Dan tidak butuh lama mobil itu pun sudah sampai di tempat tujuan, hanya memerlukan waktu tiga puluh menit.
Fely keluar dari dalam mobilnya masih mengunakan kaca mata hitam, di balik kaca mata hitam nya itu, Fely melihat bangun mewah sebuah mansion besar.
Mansion yang dahulu sering ia datangi hanya untuk bermain dengan anak pemilik mansion tersebut.
Meski kejadian itu sudah beberapa tahun yang lalu, tapi jika saat mengingat seperti ini, Fely masih suka tersenyum sendiri.
Baginya kenangan itu tidak akan pernah terlupakan, justru kenangan di masa lalu lah yang ia rindukan, bahkan kalau bisa mengulang kembali di masa itu.
"Maaf, Nona. Anda mau bertemu siapa ya?"
Sebuah suara pertanyaan dari seseorang di balik pintu gerbang itu seketika menyadarkan lamunan Fely.
"Ah, saya-," Fely gugup, mendadak lupa mau bicara apa? Tangannya melepas kaca mata hitamnya dengan gerakan elegan.
Satpam itu menautkan kedua alisnya menuggu kelanjutan ucapan Fely.
"Ma-mau bertemu Enzo. Saya temannya," ucap Fely ahirnya meski dengan suara terbata-bata.
Satpam itu pun langsung pergi menuju mansion, karena ia tidak berhak untuk menjawab.
Tidak lama kemudian satpam itu datang kembali, tapi tidak sendirian, satpam itu membawa seorang wanita yang sudah tidak muda tapi masih tampak cantik, jelas terlihat dari garis wajahnya.
"Hai cantik, ternyata kamu yang datang, kirain Tante siapa? Sini masuk-masuk." Ucap Mom Zelea begitu sampai di depan gerbang dan melihat Fely.
Pintu gerbang itu dibuka setelah mendapat perintah dari sang Nyonya.
"Tante apa kabar?" Fely memeluk Mom Zelea.
__ADS_1
"Baik, Sayang." Mom Zelea membalas pelukan Fely.
Mereka berdua kemudian berjalan masuk ke dalam mansion.
"Tante, ternyata sudah banyak perubahan ya? Sudah lama Fely tidak bermain kemari," ucap Fely begitu sampai di ruang tamu yang terhubung ruang keluarga.
"Dahulu tidak ada lukisan besar itu." Lanjut ucap Fely sembari memandangi sebuah lukisan besar yang terpasang di dinding.
"Ah iya, biasa lah Om Zeon suka merubah-rubah." Mom Zelea menimpali.
Fely terkekeh. "Gak apa-apa lah Tante."
Mom Zelea menjawab dengan senyuman sembari merangkul lengan Fely yang diajaknya naik tangga.
*
*
*
"Oh, Tante. Enzo dimana ya? Kok saya tidak melihatnya?" tanya Fely tiba-tiba, kini mereka baru sampai di lantai tiga.
"Enzo sudah punya mansion sendiri, Sayang. Dia sudah tidak tinggal bersama Tante lagi," terang Mom Zelea, dan seketika membuat Fely terkejut sampai mulutnya menggangga.
"Man-mansion sendiri?" tanya ulang Fely dengan suara terbata-bata.
Mom Zelea mengangguk benar. "Sini akan Tante tunjukan, dari dalam kamar Lala mansionnya kelihatan kok."
"Hai, Sayang." Sapa Mom Zelea pada Lala begitu pintu kamar itu Mom Zelea buka.
Lala hanya diam mematung melihat wanita yang datang bersama ibunya saat ini.
Mom Zelea mengajak Fely mendekati jendela, kemudian menyibak gorden itu. "Tuh lihat, mansion itu milik Enzo, sekarang dia tinggal di sana." Mom Zelea menerangkan sembari jemari telunjuknya menunjuk.
Jadi tempat tinggal Enzo yang sekarang di mansion depan itu, batin Fely seraya menatap mansion besar yang tak kalah megah dengan mansion orang tuanya.
"Lala, kamu tidak mau menyapa, Kak Fely?"
Suara pertanyaan Mom Zelea pada Lala seketika menyadarkan Fely dari lamunannya.
Fely menoleh kebelakang dimana saat ini Mom Zelea berjalan mendekati meja belajar tempat Lala berada saat ini.
"Sudah selesai belajarnya?"
Begitu pertanyaan Mom Zelea yang Fely dengar. Dan Lala menganggukkan kepalanya yang Fely lihat.
Fely ikutan mendekati mereka berdua dengan bibir terus tersenyum.
"Lala masih ingat tidak sama, Kak Fely?" tanyanya saat berduri di dekat Lala duduk.
"Iya, ingat." Jawab Lala sesingkat itu.
"Dahulu kamu masih kecil dan sekarang kamu sudah gadis" puji Fely, bibirnya tersenyum.
__ADS_1
Lala pun ikutan tersenyum.
Karena dahulu saat Enzo dan Fely masih kuliah, Lala masih SD, tentu saja masih kecil.
"Maaf ya, saat kamu sakit Kak Fely tidak berkunjung karena tinggal di Amerika," ucap Fely basa-basi setelah berdiri di dekat Lala.
"Tidak masalah, Kak. Sekarang Lala sudah sembuh." Lala tersenyum.
"Sekarang dia sudah bisa berjalan lagi, ya meskipun masih menggunakan tongkat." Mom Zelea yang bicara.
Fely langsung menatap iba ke arah Lala. "Kamu malang sekali sayang, semoga cepat bisa berjalan seperti sediakala ya?" Fely mengusap rambut Lala.
"Amin," jawab Lala dan Mom Zelea bersamaan.
Kedatangannya kemari memang ingin bertemu Enzo, tetapi karena Enzo tidak ada di sini, ahirnya Fely mutusin untuk mengobrol dengan Lala juga Mom Zelea.
Hitung-hitung ngedeketin calon mertua dan calon adik ipar, Fely tertawa geli dalam hati mengingat pikirannya barusan.
*
*
*
Di dalam sebuah rumah mewah yang lain, tepatnya di dalam kamar, wajah wanita cantik tampak terlihat pucat, yang saat ini tengah berjalan mendekati ibunya, yang sedang duduk bersantai di kursi sofa sembari bermain ponsel.
"Ibu."
Ucap wanita itu yang seketika membuat ibunya yang fokus dengan ponsel itu menoleh.
"Ada apa Elis?" tanya Ibu Mika, ia sedikit terkejut mendapati putrinya datang ke kamarnya, apa lagi wajah putrinya yang kini pucat jelas kentara.
Tapi apa yang dilakukan Elis selanjutnya sungguh tidak pernah Ibu Mika duga.
Elis bertekuk lutut di hadapan Ibu Mika sembari menangis.
Sungguh Ibu Mika jadi bingung dengan Elis.
"Elis, ka-kamu kenapa?" Ibu Mika mau membantu Elis bangun tali Elis tidak mau tetap milih bertekuk lutut di hadapannya.
"Ibu maafkan, Elis." Tangis Elis semakin kencang.
"Sudah katakan maumu apa?"
Bukan tanpa alasan Ibu Mika malah bertanya hal seperti itu, karena Elis biasa akting apa bila ingin sesuatu.
Elis menggelengkan kepalanya menatap ibunya dengan berlinang air mata. "Elis hamil Ibu!"
Duar!
Ibu Mika langsung syok, ucapan Elus bagi Sambaran petir.
"Ibu ..." Teriak Elis saat melihat Ibu Mika jatuh pingsan.
__ADS_1