
Hari yang sudah Fely nanti ahirnya tiba juga, dari kemarin-kemarin Fely sudah menantikan untuk bisa bertemu dengan Enzo lagi.
Bisa saja Fely membuat janji temu dengan Enzo, mengingat ayahnya pemegang saham tertinggi di perusahaan Alexa Group.
Namun Fely maunya pertemuan yang tanpa rencana, seperti saat ini, Fely dan Enzo berada dalam satu ruangan yang sama sedang membahas pekerjaan, tapi tidak hanya mereka berdua, banyak rekan kerja juga di ruangan tersebut.
Dan selama pembahasan soal pekerjaan, Fely tidak fokus dengan apa yang sedang di bahasanya sekarang.
Wanita itu terus saja memperhatikan Enzo sedari tadi, pandangannya tak teralihkan dari wajah Enzo sedetik pun.
Pikirannya masih belum percaya bahkan jika benar ia mau menolak kebenaran itu jika pria yang dicintainya selama ini telah menikah.
Enzo hanya milikku, aku akan menyingkirkan siapa pun wanita yang berada di sampingnya, batin Fely.
"Baik semuanya, meeting hari ini cukup sampai di sini."
Suara Enzo barusan seketika menyadarkan lamunan Fely, wanita itu sedikit tergagap tiba-tiba meeting diumumkan selesai, padahal ia sama sekali belum tahu apa hasil dari meeting barusan.
Tidak mungkin Fely bertanya, karena bisa ketahuan kalau sejak tadi ia tidak fokus menjalankan pekerjaan dengan tidak baik.
Fely ikutan bangkit dan menyusul Enzo yang keluar dari ruangan tersebut lebih dulu.
"Tuan Enzo," panggil Fely saat sudah sama-sama di luar ruangan itu, namun di belakangnya masih banyak orang-orang yang ikut meeting tadi baru keluar.
Enzo dan Samuel sama-sama menoleh ke belakang begitu mendengar ada suara yang memanggil.
Fely berjalan mendekat dengan bibir tersenyum. "Tuan Enzo, apa kah kita bisa berbicara sebentar?"
"Mengenai pekerjaan?"
"Mengenai pribadi," jawab cepat Fely atas pertanyaan Enzo.
Enzo mengangkat tangan kirinya untuk melihat arlojinya. "Baiklah kita bicara di ruangan saya aja, karena setelah ini saya kembali sibuk." Enzo menatap Fely yang kini tersenyum.
Fely kemudian mengikuti langkah kaki Enzo yang berjalan menuju lift.
Di dalam lift terasa hening, andai tidak ada Samuel di dalam itu juga, Fely sudah ingin berakting pingsan supaya ditangkap Enzo.
Tapi sayangnya itu hanya angan-angan, karena pada kenyataannya tidak hanya berdua tapi ada Samuel.
Setelah lift berhenti dan pintu itu terbuka, Enzo berjalan keluar lebih dulu, dan sebelum masuk ke ruang kerjanya, Enzo menghentikan langkahnya sembari menatap Samuel.
"Tunggu saya di ruangan kamu, dan persiapkan semua untuk meeting bersama klien nanti."
"Baik, Tuan." Samuel menunduk hormat dan setelah itu Enzo masuk ke ruang kerjanya diikuti Fely yang berjalan di belakang pria itu.
__ADS_1
Dalam hati Fely sangat senang karena ahirnya Samuel tidak mendampingi Enzo, dan berpikir ia akan manfaatkan situasi ini.
Namun sayang seribu sayang, karena Enzo meminta Fely duduk di depan meja kerjanya hingga mereka saling berhadapan hanya dibatasi meja.
Bukan di kursi sofa yang seperti Fely pikirkan tadi, kini rencananya gagal sudah mau mencari kesempatan.
"Hal pribadi apa yang ingin kamu bahas?"
Fely makin kesal mendengar pertanyaan Enzo itu, karena sama saja mengingatkan dengan status pria itu, meski memang itu yang ingin Fely bahas, tapi entah kenapa hatinya selalu kesal.
Fely membuang nafas berat sebelum ahirnya bicara, "Kata Tante Zelea kamu sudah menikah?"
Mereka kembali tidak menggunakan bahasa formal lagi karena hanya berdua.
"Ya itu benar ... Maaf aku tidak memberimu kabar saat itu, karena semua dadakan," jelas Enzo.
"Dadakan?" ulang Fely, bibirnya tersenyum sinis. "Kamu jahat! Enzo." Menatap tajam Enzo.
Enzo tak mengerti tiba-tiba Fely marah. "Maksudnya apa, Fely. Kenapa kamu-," Enzo menghentikan ucapannya saat Fely menyahut cepat ucapnya yang belum selesai.
"Kamu tega merahasiakan pernikahan kamu dengan sahabat kamu sendiri, hahah ... Aku becanda marah sama kamu." Fely menggenggam tangan Enzo mengucapkan selamat.
Saat ini Fely hanya berakting tertawa di hadapan Enzo, seolah dirinya ikut bahagia juga dengan pernikahan pria itu, Fely ingin merebut Enzo tapi dengan permainan yang cantik.
*
*
*
Fely baru tahu kalau Enzo hanya pura-pura lumpuh selama ini, dan satu yang membuat Fely tertinggal oleh wanita istri Enzo, karena wanita itu Enzo keluar dari pura-pura nya, sungguh wanita itu sangat beruntung pikir Fely, yang semakin membuat dada Fely sesak .
Sementara itu di tempat lain.
Rasa sakit dan sesak juga sama halnya dirasakan oleh Elis, sejak kemarin mengaku hamil pada ibunya, Elis tak henti-henti terus dimarahi oleh Ibu Mika.
Dan saat ini Elis sedang di sidang oleh kedua orang tuanya, dengan dipertanyakan pria yang telah menghamili Elis.
Elis duduk di kursi sofa seorang diri dengan kedua orang tuanya yang duduk di depannya dengan meja sebagai pembatas.
"Siapa ayah dari bayi itu, Elis!"
Suara tegas Ayah Gunawan memenuhi ruangan. Sungguh baru kali ini Elis dimarahi oleh kedua orang tuanya, karena sejak kecil Elis selalu dimanja.
"Elis jawab!"
__ADS_1
Brak!
Sangking marah dan geram melihat Elis hanya menangis dan diam saja, Ayah Gunawan sampai menggebrak meja disertai tatapan tajam dan rahang mengeras sudah seperti mau menerkam habis Elis.
"Katakan, Elis! Biar Ibu menyeret pria itu supaya mau tanggung jawab!" Ibu Mika ikut bicara dengan suara tegas.
Tapi masalahnya aku gak tahu siapa ayah bayi ini, Ibu, ucap Elis namun dalam hati.
"Kamu punya mulut kan, Elis!"
"Ayah," sarkas cepat Elis saat mendengar suara tinggi ayahnya barusan.
"Tidak perlu mencari pria itu, Elis hanya mau anak ini di gugurkan!" teriknya dengan lantang dengan tubuh bergetar.
"Elis Kau!" Ayah Gunawan langsung memijit pelipisnya, mendadak pusing kepalanya.
Anak yang ia banggakan selama ini, tidak menyangka akan menorehkan aib pada keluarganya.
Kecewa, sakit, itu yang dirasakan Ayah Gunawan sekarang.
"Kalau kau mau menggugurkan kehamilan itu, silahkan ... Tapi Ayah dan Ibu tidak akan mendampingimu ... Atau kau bawa pria itu ke rumah!" ucap tegas Ayah Gunawan sembari berdiri sebelum ahirnya pergi dari sana.
Elis tertunduk lesu dengan air mata yang terus mengalir.
Ibu Mika menatap Elis yang menundukkan kepalanya. "Elis, kenapa sepertinya kau melindungi pria itu untuk tidak tanggung jawa"
Elis seketika mendongakkan kepalanya membalas tatapan ibunya. "Karena Elis gak tahu siapa ayah dari bayi ini, Ibu ..." Elis menjerit dengan menangis.
Duar!
Bagai ada sambaran petir yang saat ini menyambar Ibu Mika.
Ibu Mika memegangi dadanya sembari menggelengkan kepalanya, dengan berpikir tidak mungkin Elis seburuk itu, melakukan hubungan dengan banyak orang hingga hamil dan tak tahu siapa ayah anak itu.
Dan saat ini karena keadaan yang begitu rumit, dua wanita itu hanya bisa menangis.
Di tempat yang cukup jauh dari sana.
Seorang pria berdiri di depan anak buahnya sembari memberikan botol kecil berbentuk parfum.
"Nanti malam datanglah ke rumah sakit, sebarkan aroma wangi parfum ini di sekitar ruang Tasya, supaya penjaganya mengantuk dan kamu bisa jalankan misi."
Anak buahnya menerima botol parfum itu dan kemudian pergi.
Hahaha!
__ADS_1
Tawa pria itu sangat senang.
"Aku yakin kali ini berhasil ..." teriaknya dengan bangga.