
Seorang pria mau masuk ke ruang ICU, tangannya tampak gemetar saat memegang handel pintu, wajahnya nampak lesu namun tidak mengurangi garis ketampanannya.
Air mata itu langsung jatuh saat matanya menatap sosok yang tengah berbaring tak berdaya di atas ranjang pasien.
Kakinya seolah kian berat untuk melangkah, dan sebisa mungkin berjalan mendekat diantara langkah kakinya yang berat itu.
Begitu sampai di samping ranjang, pria itu seketika mengecup dalam kening wanita itu, wanita yang berstatus istrinya.
Sepanjang bibir Enzo mengecup kening wanitanya, air matanya terus jatuh.
Tidak hanya sedih dan sakit saat melihat Tasya koma seperti ini, tapi Enzo juga merasa menyesal karena sikap dinginnya dulu terhadap Tasya.
"Maaf, kan. Aku sayang ... Aku mohon sadarlah, maafkan aku," ucap Enzo setelah menyudahi ciuman di kening Tasya, yang kini berganti menatap lekat wajah pucat wanitanya.
"Aku mohon bangunlah." Enzo semakin menangis terisak sembari menenggelamkan wajahnya di dada Tasya.
Sekarang Enzo hanya bisa menyesal, seandainya waktu bisa diulang, ia akan memperlakukan Tasya dengan baik sejak awal, tidak akan menyakiti Tasya seperti yang pernah dilakukannya dulu.
Enzo meraih telapak tangan Tasya yang terpasang infus, ia ciumi berulang-ulang punggung tangan itu, sesekali menatap wajah Tasya.
Tanpa Enzo ketahui, sudut mata Tasya meneteskan air mata, ternyata alam bawah sadar Tasya merespon ucapan Enzo, di sana ia juga merasa sedih.
Enzo terus bicara, kadang mengucap minta maaf, kadang juga ia bercerita, apa pun Enzo bicarakan seolah Tasya mampu mendengar meski Tasya tidak menjawab.
*
*
*
Di dalam sebuah kamar yang bernuansa warna pink, jelas dari warna dindingnya sudah kelihatan, bahwa sang pemilik kamar adalah perempuan.
Lala masih saja terus merasa sedih meski sudah dijelaskan bahwa penyebab Tasya koma bukanlah dirinya.
Namun Lala masih saja menganggap itu semua tetap kesalahannya.
__ADS_1
"Aku sangat jahat, huhuhu." Tasya memukul bantal guling, ia menangis, hatinya sangat sedih.
Klek!
"Lala kamu sudah tidur bel-,"
Bersamaan pintu kamar Lala terbuka, Mom Zelea masuk dan menyapa Lala namun ucapannya terhenti saat melihat putrinya tengah menangis.
"Lala kamu kenapa!" Mom Zelea panik sampai tanpa sadar suaranya meninggi, berjalan mendekati Lala yang saat ini duduk di atas ranjang.
"Huhuhu, Mom ...."
"His! Anak gadis gak boleh nangis," ucap Mom Zelea sembari memeluk Lala, setelah naik ke atas ranjang Lala.
"Ada apa? Kenapa, Hem?" Mom Zelea mengusap rambut Lala dengan lembut.
"Kak Tasya belum sembuh ... Ini salah Lala, Mom, huhuhu."
Mom Zelea menghapus air mata Lala. "Sudah-sudah, jangan dipikirin lagi, kan sudah dibilang bukan salah, Lala."
"Tapi, Lala merasa bersalah, Mom." Lala memeluk ibunya mencari tempat nyaman di pelukan ibunya.
Lala tidak menjawab ucapan ibunya, ia melepas pelukannya dan beralih menatap lekat wajah ibunya. "Kak Enzo masih di rumah sakit?"
Mom Zelea mengangguk. "Iya, kenapa?" Tangan Mom Zelea mengusap rambut Lala ke belakang.
"Besok Lala mau bertemu Kak Enzo dan Kak Tasya lagi," ucap Lala disertai Isak tangis.
"Ok," jawab Mom Zelea lembut. "Tapi sekarang, Lala bobok karena sudah malam." Mom Zelea tersenyum. "Ayo." Mom Zelea menggiring Lala untuk berbaring di atas ranjang.
Mom Zelea menemani Lala sampai putrinya itu benar-benar tidur, setelah itu Mom Zelea turun dari ranjang, dan tidak lupa matikan lampu sebelum keluar dari dalam kamar.
*
*
__ADS_1
*
"Hah, ahirnya bisa istirahat juga," ucap Mom Zelea, setelah selesai rutinitas malam sebelum tidur, seperti gosok gigi dan membasuh wajah juga berganti baju tidur.
Namun baru saja membaringkan tubuhnya dalam posisi miring, kini sudah merasakan di dekap erat oleh suaminya.
"Sayang ... Sesak tahu," keluh Mom Zelea, tapi Dad Zeon tidak mau mengendurkan pelukannya.
"Daddy lagi marah, Mom," adunya dengan nada suara sedih.
"His! Lagi marah kok peluk Mommy sih Dad, nanti tulang Mommy patah gimana?" jawab Mom Zelea dengan sedikit mencandai.
"Gak bakalan patah, Sayang ... Karena Daddy peluknya dengan mesra, hehe."
Mom Zelea kemudian menggerak-gerakkan bahunya supaya Dad Zeon berhenti memeluknya.
"Sayang kamu yakin tidak mau tahu apa yang membuat Daddy marah?" tanya Dad Zeon, kini ia sudah melepas pelukannya dan berganti posisi telentang sembari melihat langit-langit kamar.
Mom Zelea hanya menoleh sekilas dan hanya membenarkan posisi tidurnya supaya lebih nyaman, namun ucapan Dad Zeon yang selanjutnya ia dengar langsung membuang rasa nyaman itu.
"Markus putranya Bas, yang diam-diam ingin mencelakai, Enzo."
"Dad." Mom Zelea langsung pindah posisi berubah posisi miring menghadap ke arah suaminya.
Dad Zeon hanya mengangguk, bahwa apa yang tengah Mom Zelea dengar kini adalah benar, bukan salah dengar.
Jangankan Mom Zelea, Dad Zeon juga lebih terkejut saat pertama kali mendengar penjelasan dari Enzo.
Bagaimana tidak? Markus adalah putra dari sahabatnya yang bernama Bas, dan Markus sudah Dad Zeon anggap seperti putranya sendiri.
Apa lagi setelah Bas meninggal dunia lima tahun lalu, Dad Zeon semakin menyayangi Markus.
Sampai-sampai miliki keinginan akan memberikan sahamnya untuk beberapa persen ke Markus, meski Markus sendiri juga miliki perusahaan, tapi perusahaan miliknya belum semaju seperti Alexa Group.
Dan kenyataan ini seolah menghempas segala harapan yang dimiliki Dad Zeon pada Markus.
__ADS_1
Dikira persahabatannya yang terjalin dengan Bas, akan berlanjut dengan putra-putranya, tapi ternyata malah saling bermusuhan saat ini.
Sungguh sangat tidak terduga bahwa orang yang jahat ternyata ada di dekatnya.