
"Hai, Kakak."
Enzo yang baru saja mengambil file di dalam lemari kerja karena posisinya memunggungi pintu masuk, ia tidak tahu siapa yang masuk, tapi hafal dengan suara itu.
Enzo menoleh kebelakang, dan matanya seketika terbelalak lebar, seperti tidak percaya dengan apa yang saat ini tengah dilihatnya.
Adik kesayangannya tengah berjalan menggunakan tongkat menuju ke arahnya.
Deg!
Benarkah? Benarkah ini Lala adikku? batin Enzo.
"Kak Enzo, Lala bisa berjalan lagi, Kakak pasti terkejut, kan?" tanya Lala dengan riang, kini sudah berdiri di depan Enzo.
"Ka-kamu bisa sampai sini datang dengan siapa?"
Enzo yang terkejut bertanya sampai suaranya terbata.
"Dengan, Kak Tasya." Lala menjawab cepat. "Kaka tidak menyuruh aku duduk?" Lala meledek Kakaknya karena malah dibiarkan berdiri saja.
Ya, tadi Lala saat Tasya mau pulang, ia menawarkan diri untuk ikut, gadis belia itu ingin pamer sama sang Kakak kalau ia sudah bisa berjalan lagi. Dan disinilah Lala sekarang, duduk di ruang kerja Enzo.
Enzo membawa kursi rodanya mendekati kursi sofa yang di duduki sang adik.
"Kakak bahagia bisa melihat kamu berjalan lagi." Tangan Enzo mengelus rambut panjang Lala.
"Lala akan makin bahagia jika Kak Enzo juga bisa berjalan lagi," ucapnya dengan disertai senyum lebar.
Enzo terkekeh, adiknya itu selalu saja bisa merayu. "Kakak pasti akan sembuh sepertimu nanti."
Lala menarik kursi roda Enzo untuk lebih dekat dan langsung memeluk sang Kakak. "Lala rindu, Kakak."
Sore hari ini kakak beradik itu banyk bicara bertukar cerita selama tidak bertemu, meski tempat tinggal mereka dekat tapi memang mereka jarang ketemu, karena Enzo yang sibuk.
Lala juga tidak lupa menceritakan perjalanannya dalam berobat terapi bersama Tasya, hingga kini Enzo jadi tahu bahwa apa yang dikatakan ibunya satu bulan lalu adalah benar, bahwa Tasya merawat Lala.
*
*
*
Malam hari.
Tasya masuk ke dalam kamarnya, setelah baru saja mengantar Lala pulang.
Ya, Lala baru saja mau pulang setelah makan malam di mansion nya, gadis belia itu sangat bahagia berada di sini, sampai tadi untuk pulang saja harus dibujuk-bujuk, karena Mom Zelea sudah menelpon, Lala belum boleh untuk menginap.
Tasya yang sudah merasa mengantuk bersiap naik ke atas ranjang dan segera tidur. Tapi urung ia lakukan karena kembali mendengar suara pintu kamarnya terbuka.
Bertepatan matanya menoleh, mata mereka bertemu, mereka saling diam dengan tatapan saling mengunci.
Hingga siapa yang masuk ke dalam kamarnya kini sudah ada di dekat samping ranjangnya.
"Sudah mau tidur?"
Pertanyaan dengan suara yang sangat lembut, sampai membuat Tasya terkejut, ini mirip seperti mimpi.
"Aku bertanya dan kenapa malam diam, Hem?"
Dan mendapat pertanyaan dengan suara lembut dua kali membuat Tasya malah jadi gugup.
"A-aku."
"Bangunlah duduk dengan benar, kita bicara," ucap Enzo dan masih dengan suara lembut, yang malah membuat bulu kudu Tasya merinding, karena terbiasa mendengar suara galak Enzo.
Tasya yang tadi masih tiduran miring, kini membawa tubuhnya untuk duduk di atas ranjang dengan kaki menjuntai ke bawah.
__ADS_1
"Kak Enzo mau bicara apa?" Tasya sudah merasakan jantungnya berdebar-debar, padahal Enzo belum bicara, hanya cemas dengan ucapan yang akan pria itu sampaikan.
"Aku minta maaf," ucap Enzo ahirnya.
"Hah, apa?" Tasya seperti tidak percaya dan malah balik tanya, namun setelah itu langsung menutup mulutnya takut Enzo akan marah.
Tapi apa yang dilakukan Enzo selanjutnya diluar dugaan Tasya, Enzo meraih tangan Tasya yang menutup mulutnya dan kini berganti Enzo genggam tangan itu.
"Aku minta maaf sudah menyakitimu ... melukai perasaanmu dengan pernikahan kontrak yang aku buat ... Aku minta maaf," ucap tulus dengan suara lembut.
Tasya balas menggenggam tangan Enzo. "Tidak Kak, jangan minta maaf, Kak Enzo tidak salah, hal ini wajar karena kita saling di jodohkan." Tasya tersenyum.
Meski selama ini hatinya sakit dan kecewa dengan sikap Enzo, tapi Tasya tidak bisa membenci pria itu sama sekali, karena sejak awal memang ia sudah jatuh cinta pada Enzo, pria tampan yang saat ini berada di depannya.
"Aku akan melakukan apa pun, minta lah apa pun untuk menebus kesalahanku."
Tasya menggeleng. "Tidak perlu, Kak. Jika kita mau memperbaiki hubungan kita, maka yang terbaik Kak Enzo dan aku saling memaafkan, tidak ada yang perlu harus menebus kesalahan, karena bagiku tidak ada yang salah. Kita hanya manusia biasa."
Enzo langsung mencium punggung tangan Tasya yang sedari tadi ia genggam.
Tasya merasakan kecupan hangat di punggung tangannya, ini adalah kali pertama ia merasakan Enzo bersikap lembut.
Setelah cukup lama mencium punggung tangan Tasya, Enzo meletakkan telapak tangan Tasya di pipinya. "Benar kata Mommy, kamu adalah wanita baik, dengan mudah memaafkan aku."
"Ish, Mommy ngomongin aku ya?" bibir Tasya dibuat mayun-mayun.
Melihat itu Enzo tersenyum. "Iya, tapi ngomongin yang baik-baik kok."
*
*
*
Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam, tapi Tasya belum tidur juga, merasa gugup karena malam ini tidak seperti malam-malam biasanya.
Malam ini tentu beda, karena malam ini ia tidak tidur sendiri, ada Enzo yang tidur di sebelahnya, yang saat ini lengan kekar itu sedang memeluk pinggangnya dengan posesif.
Entah mungkin karena sangking merasa bahagia, sampai ia susah tidur.
Karena masih belum percaya apa yang terjadi sekarang, setelah kata maaf yang diucapkan Enzo tadi, pria itu langsung memutuskan mulai malam ini akan selalu tidur bersamanya.
Tasya tentu bahagia, rumah tangga yang sempat ia khawatirkan akan berakhir karena mengingat hubungan keduanya yang sebelumnya dingin, kini tiba-tiba berubah hangat, ia sangat bersyukur.
*
*
*
Satu Minggu kemudian.
Enzo sudah menyadari perasaannya bahwa selama ini sikap dinginnya hanya takut jatuh cinta ke Tasya, dan sekarang ia menyadari telah mencintai Tasya, dan berencana akan jujur ke Tasya tentang perasaannya.
Enzo yang saat ini tengah duduk di kursi kerjanya, tengah senyum-senyum sendiri saat memandangi foto Tasya.
Foto yang ia ambil gambarnya diam-diam saat Tasya sedang memasak.
"Benar kata Mommy, aku pasti akan menyesal jika menyia-nyiakan istriku yang cantik ini," gumam Enzo sembari terus tersenyum dan memandangi foto Tasya di dalam galeri ponselnya.
Setelah satu Minggu hubungannya baik dengan Tasya, Enzo jadi tahu semua jati diri Tasya yang selama ini tidak pernah ia lihat.
Hatinya menyesal sudah memperlakukan buruk ke Tasya sejak awal.
"Aku berjanji, aku akan melindungi mu dan akan bahagiakan kamu." Enzo mengecup foto Tasya dalam Galeri itu.
Tasya yang saat ini sedang di dapur, ia lagi membuatkan teh pahit untuk Enzo, sudah satu Minggu ini Tasya memiliki tugas baru, yaitu setiap pagi membuat teh pahit untuk suaminya.
__ADS_1
Setiap harinya Tasya juga masih menemani Lala, tapi sebelum datang ke mansion mertuanya, Tasya akan melayani suaminya seperti membuatkan teh pahit.
Tasya yang sudah selesai membuat teh pahit, kini ia langsung membawanya menuju ruang kerja Enzo.
Setelah tiba di depan pintu ruang kerja Enzo, Tasya langsung masuk begitu saja, tidak seperti dahulu yang harus minta ijin lebih dulu.
Enzo mendongakkan kepalanya dan bibirnya semakin tersenyum lebar saat matanya melihat seseorang yang datang.
Wanita cantik yang saat ini menggunakan dress warna kuning dengan membawa secangkir teh pahit di tangannya.
"Selamat pagi suamiku," ucap Tasya lengkap dengan suaranya yang manja.
Enzo tersenyum sembari tangannya menepuk pahanya, bertanda Tasya harus duduk di sana.
Tasya menggerakkan jari telunjuknya "No, Kak. Nanti kaki Kak Enzo sakit."
Enzo terkekeh mendengar ucapan penolakan Tasya. "Tidak, jika yang duduk wanita cantik tidak akan sakit."
"Ish! Gombal." Bibir Tasya menyebik.
Mau tidak mau Tasya ahirnya duduk di pangkuan Enzo, dengan kedua lengan kekar pria itu yang melingkar posesif di pinggangnya.
"Kak," ucap Tasya saat merasakan bibir Enzo mulai mengecup-ngecup leher jenjangnya. Rasanya geli membuat Tasya merasa aneh.
Tapi Enzo bukannya tidak paham Tasya protes, ia malah semakin menggigit leher Tasya meninggal tanda kiss mark.
"Kak," keluh Tasya lagi.
"Hem." Enzo menggigit kecil sekali lagi untuk yang terakhir kali.
Setelah puas dengan yang dilakukannya, Enzo mendongakkan kepalanya menatap wajah cantik Tasya. "Ayo temui, Mom dan Daddy. Aku mau mengatakan ingin bulan madu bersama kamu."
"Bulan madu," ulang Tasya dengan terkejut.
*
*
*
Di dalam sebuah ruangan, yang terdapat dua buah lukisan gambar kerajaan berukuran besar yang terpasang indah di dinding.
Serta Gucci-Gucci hiasan yang terdapat di setiap sudut dinding, juga terdapat patung harimau dengan mulut terbuka.
Di sinilah sekarang Tasya dan Enzo sedang berada di ruang keluarga milik orang tuanya.
Tasya pikir tadi suaminya itu hanya main-main mau mengajaknya bulan madu, ternyata itu sungguhan, begitu ia tahu langsung datang bersama Enzo ke mansion Mom Zelea.
"Ada apa? Pagi-pagi sudah datang berdua." Dad Zeon bertanya.
Enzo berdehhem, matanya melirik Tasya sebelum ahirnya ia berucap, "Aku mau ajak Tasya pergi bulan madu, Dad."
Mendengar itu, Mom Zelea dan Dad Zeon langsung saling pandang dan saling melempar senyum.
"Boleh, kapan mau berangkat?" Kali ini Mom Zelea yang bertanya.
"Besok, Mom." Enzo menggenggam tangan Tasya dan menatap Tasya penuh cinta.
Tidak hanya Tasya, tapi Mom Zelea dan Dad Zeon juga terkejut, karena mereka bertiga sama-sama berpikir mungkin seminggu lagi, ternyata Enzo sudah mempersiapkan lebih dekat.
"No problem," ucap Dad Zeon. "Yang penting pulang bawa cucu untuk Daddy."
Hahah!
Semua langsung tertawa keras, dengan pikiran masing-masing, jika Tasya merasa malu-malu, Enzo berpikir tidak akan semudah itu, sedangkan Mom Zelea merasa setuju dengan ucapan suaminya barusan.
"Cucu perempuan," ucap Mom Zelea.
__ADS_1
"Cucu laki-laki, Mom," sahut cepat Dad Zeon.
Ish! Mereka malah debat ngurusin cucu, lha aku bingung, batin Enzo.