My Husband Perfect

My Husband Perfect
BAB 13.


__ADS_3

Dua bulan kemudian.


Tasya sudah terbiasa dengan sikap dingin Enzo terhadapnya, Tasya tidak ambil pusing lagi, setiap kali Enzo membuang ramuan yang ia buat demi kesembuhan Enzo tapi selalu pria itu buang, Tasya tidak kecewa, semua telah terbiasa.


Dan selama dua bulan ini, pernikahannya dengan Enzo hanya akan terlihat manis apa bila hanya di hadapan kedua mertuanya.


Enzo dan Tasya melakukan aktifitas masing-masing setiap harinya, tidak ada yang saling ikut campuri urusan masing-masing.


Meski hubungan mereka sangat dingin, tapi di depan kedua orang tua Enzo sangat apik dalam bersandiwara keromantisan.


Seperti saat ini Enzo sedang menyuapi Tasya, karena saat ini mereka sedang makan malam di mansion orang tuanya.


Dan masih banyak sekali hal-hal romantis yang mereka tunjukan di depan kedua orang tuanya, tapi harus diingat bahwa ini hanya sandiwara.


Dan begitu mereka sampai di mansion sendiri, semua kembali dingin seperti semestinya.


Sekarang tidak ada lagi kesedihan, apa bila dulu Tasya akan menangis karena sedih, tidak untuk sekarang.


Tasya langsung membawa tubuhnya tiduran di atas ranjang, namun baru saja ia ingin memejamkan matanya, mendengar ponselnya berdering.


Tasya kembali duduk di atas ranjang sembari meraih hp di atas meja, sedikit memicingkan matanya saat membaca nama yang tertera di layar ponsel.


"Elis," gumamnya pelan.


Tidak biasanya adik tirinya itu menghubunginya, lebih-lebih hubungan keduanya tidak akrab.


"Ada-," ucapan Tasya terhenti.


"Elo itu ya, di telfon dari tadi tidak mau angkat-angkat, elo pikir gue Sudi menunggu lama!" maki Elis di sambungan telepon.


"Apa an sih! Ngapain marah-marah!" sentak Tasya tidak kalah galak.

__ADS_1


"Udah gak usah banyak tanya! Sekarang elu kirim gue duit, buruan! Gue lagi genting!" suara teriakan Elis di sambungan telepon.


Tasya langsung tertawa terbahak-bahak mendengar kalimat yang di ucapkan Elis.


Helo duit? Gak pernah kasih kabar dan sekalinya berkabar marah-marah serta minta duit.


Tentu Tasya tidak akan berikan apa yang Elis minta itu, bukan ia balas dendam, tapi bukankah selama ini Elis tidak peduli, dan untuk apa ia peduli dengan hidup Elis.


Apa lagi cara minta duitnya dengan marah-marah, tidak ada soan santunnya sama sekali pikir Tasya.


"Aku tidak bisa kirim, mintalah sama ibumu dan ayahmu."


"Hei! Kau itu saudaraku, pelit sekali sama saudara sendiri," sarkas cepat Elis, ia tidak terima.


Tasya terkekeh masam."Itu kamu yang menganggap, aku tidak merasa jadi saudara kamu."


Setelah bicara hal tersebut, Tasya langsung mematikan sambungan telepon, membuat Elis di seberang sana makin kesal dan emosi.


*


*


*


Seperti hari-hari yang Tasya lalui setiap harinya, gadis itu pasti selalu menemani Lala, membantu adik iparnya itu untuk sembuh.


Dan tentu perjuangannya selama dua bulan ini tidak lah mudah, tapi bersyukur kaki Lala sudah ada kemajuan jauh lebih baik, tidak selemas seperti sebelumnya.


Saat ini Tasya sedang membantu Lala untuk berlatih berjalan menggunakan tongkat, sudah dua Minggu ini setiap harinya Lala berlatih berjalan menggunakan tongkat.


Mereka saat ini sedang berada di taman belakang, Mom Zelea tersenyum melihat semangat putrinya untuk sembuh.

__ADS_1


Hingga apa pun yang di perintahkan Tasya pasti akan Lala lakukan.


Dan melihat sudah banyak kemajuan kaki Lala, membuat Mom Zelea bahagia, bahkan setiap kali melihat putrinya berlatih berjalan selalu terharu hingga meneteskan air mata, bahkan saat ini juga sedang meneteskan air mata.


"Sayang?"


Suara lembut Dad Zeon menyadarkan lamunan Mom Zelea.


"Ish! Daddy ngagetin." Mom Zelea memukul lengan Dad Zeon gemas.


Dad Zeon hanya terkekeh. "Jangan melamun, harusnya senang melihat anak sudah ada kemajuan, tapi kok malah melamun," sindir Dad Zeon yang kemudian menyebikkan bibirnya.


"Terharu, Dad. Terharu ... Ish! Daddy." Mom Zelea kesal diledekin suaminya.


"Hahah ... Mommy makin terlihat cantik kalau lagi marah begini." Dad Zeon langsung berjalan cepat kabur dari sana.


"Daddy ..." pekik Mom Zelea sangat kesal.


Tasya dan Lala yang saat ini sudah selesai latihan, hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah dua orang yang tak lagi muda barusan itu.


"Mommy dan Daddy ku selalu terlihat romantis, apakah orang dewasa selalu berbuat romantis?"


Tiba-tiba Tasya mendapat pertanyaan dari Lala, ia bingung mau jawab apa, karena peran yang ia jalani tentu beda dengan peran yang Mom Zelea jalani.


Pernikahannya tidak ada cinta, sedangkan Mom Zelea dan Dad Zeon ada cinta. Tasya malah terdiam.


Lala ingin menegur Tasya, tapi urung saat Mom Zelea menghampiri mereka berdua.


"Sudah selesai latihannya, yuk kita masuk ke dalam," ajak Mom Zelea.


Tasya dan Lala mengangguk, kemudian mendorong kursi roda yang Lala dudukki.

__ADS_1


Huh, aku melihat Kak Tasya tidak bahagia, tapi apa yang membuat Kak Tasya tidak bahagia, batin Lala.


__ADS_2