My Husband Perfect

My Husband Perfect
BAB 21


__ADS_3

Dokteeerrr!


Pekik seorang pria yang saat ini tengah membopong seorang wanita yang tengah terluka, bahkan baju mereka berdua sudah terkena noda darah.


Darah yang sedari tadi terus mengalir tanpa mau berhenti.


Mendengar pekikan seseorang dan melihat ada yang sedang gawat darurat, dua perawat langsung menarik brankar ke arah pria itu.


"Letakkan disini, Tuan," ucap salah satu perawat itu.


Pria itu segera meletakkan wanitanya di atas brankar pasien. "Tolong, tolong selamat kan istriku!" ucapnya dengan nada membentak karena panik.


"Akan kami lakukan yang terbaik, Tuan. Permisi. Dua perawat itu kemudian membawa wanita yang terluka itu masuk ke ruang UGD.


Pria itu mengusap wajahnya dengan kasar begitu pintu ruang UGD di tutup.


Arghhhh!


Teriaknya dengan penuh amarah. Pria itu mendekati dinding dan kemudian memukul dinding itu sampai buku tangannya terluka.


Bugh!


Bugh!


"Enzo ... Enzo! Hentikan!" Mom Zelea yang baru datang bersama Dad Zeon juga Lala, ia langsung meraih tangan putranya yang digunakan untuk memukul dinding.


Enzo menghentikan kegiatannya, Mom Zelea menangkup wajah Enzo, mata Mom Zelea kini sudah berkaca-kaca.


Melihat putranya dalam keadaan seperti ini, hati seorang ibu merasa sakit dan sedih.


"Jangan menyakiti dirimu sendiri, Nak. Jangan ..." Air mata Mom Zelea sudah tidak bisa dibendung, mengalir begitu saja.


"Aku takut, Mom," ucap Enzo lirih, matanya menatap ke arah lain, dan terlihat jelas sangat terpukul.


Tangan kiri Dad Zeon memegang bahu Enzo, Mom Zelea menggeleng. "Semua akan baik-baik saja, percaya sama Mommy, kita semua berdoa, ya?"

__ADS_1


Setelah berkata seperti itu Mom Zelea langsung memeluk Enzo, ia bisa merasakan sakit dan takut yang dirasakan putranya saat ini.


Apa lagi kejadian ini bukan yang pertama menimpa putranya, tapi sudah yang kedua kali.


"Siapa sebenarnya yang membenci keluarga kami," batin Mom Zelea.


Klek!


Suara pintu ruang UGD terbuka, semua orang yang di depan sana langsung menoleh, Enzo langsung melepas pelukan ibunya.


"Dokter bagaimana dengan istri saya?" tanya Enzo dengan tidak sabaran.


Wajah dokter pria itu terlihat sedih, nampak sekali ada masalah dengan pasien yang sedang ditangani itu.


"Kami tim medis harus segera mengambil tindakan, bahwa pasien harus segera di operasi, karena benda tajam yang menusuk punggung pasien itu beracun."


Deg!


Semua orang langsung bersedih, Enzo mengusap wajahnya dengan kasar, ia merasa murka dengan Markus.


"Lakukan yang terbaik, tolong selamatkan istri saya, cepat!"


"Duduk dulu, Nak?" Mom Zelea mengajak Enzo duduk, Enzo yang seolah sudah kehilangan bagian jiwanya hanya menurut saja saat ibunya memintanya untuk duduk.


"Kamu yang tenang dan sabar, ok?" ucap Mom Zelea setelah mereka berdua duduk.


Kini mereka berempat tengah duduk dengan perasaan sedih semua, Lala duduk di sebelah Dad Zeon, gadis belia itu menyadarkan kepalanya di bahu sang ayah.


Tidak berselang lama pintu ruang UGD kembali terbuka, menampakkan suster yang sedang mendorong brankar yang dimana ada Tasya di atas brankar pasien tersebut.


Enzo berdiri dan mendekati brankar itu. "Tasya." Tangan Enzo mengusap pipi pucat Tasya. "Aku mohon bertahan untuk aku." Enzo mencium dalam kening Tasya sebelum ahirnya mengijinkan suster membawa Tasya ke ruang operasi.


Tubuh Enzo seolah limbung melihat Tasya mau dibawa ke ruang operasi, Dad Zeon segera memegangi bahu Enzo. "Anak Daddy harus kuat, karena kita tidak tahu orang yang kita cintai mana yang akan menguji kita."


Mendengar nasehat ayahnya, Enzo seketika memejamkan matanya, seolah mencari kekuatan dalam dirinya.

__ADS_1


"Tuan besar, Nyonya besar, maaf saya baru tiba, ini pakaian ganti untuk Tuan Muda Enzo."


Suara Samuel yang baru saja datang, Dad Zeon mengambil paper bag yang dibawa Samuel.


"Bersihkan dulu badanmu dan ganti bajumu dengan yang bersih ini," titah Dad Zeon sembari menyerahkan paper bag ke tangan Enzo.


Enzo mengangguk dan mengambil paper bag itu, kemudian pergi dari sana mencari kamar mandi.


*


*


*


Kini semua keluarga Enzo tengah menunggu di depan ruang operasi, mereka semua menunggu dengan perasaan harap-harap cemas.


Sudah dua jam Tasya berada di dalam sana yaitu ruang operasi, seperti sebuah jawaban bahwa luka Tasya sangat serius sampai membuat operasi berjalan begitu lama.


"Kak Enzo, Lala minta maaf," ucap Lala lirih, ia sangat merasa bersalah, karena dirinya semua ini terjadi.


Enzo meraih bahu Lala. "Bukan salah kamu," ucapnya kemudian memeluk Lala, saat ini mereka tengah duduk berdampingan.


Menit terus berganti menit hingga ahirnya yang ditunggu kini telah selesai, pintu ruang operasi ahirnya terbuka, seorang dokter berpakaian seragam warna hijau telah menyembul keluar.


"Dokter?"


Dokter pria itu sudah mengerti saat dirinya dipanggil dokter oleh keluarga pasien, bahwa ia harus memberikan jawaban hasil operasi barusan.


"Alhamdulillah operasinya lancar, dan tinggal menunggu pemulihan-." Dokter itu menjeda ucapannya. "Tapi pasien saat ini sedang dalam keadaan koma."


Duarr!


Enzo langsung merasa lemas, seolah dunia ini runtuh, semua menjadi gelap tanpa warna lagi.


Mom Zelea langsung mau pingsan, tapi Dad Zeon langsung memegangi tubuh istrinya hingga tidak jadi mau pingsan.

__ADS_1


Setelah mengatakan yang sebenarnya sedang terjadi, dokter pun pamit undur diri.


Aaaaaa! Teriak Enzo sembari membawa tubuhnya meluruh ke bawah tertunduk di lantai, Enzo menangis rasanya tidak sanggup harus mendapati kenyataan bahwa Tasya koma.


__ADS_2