
Hahaha ....
Tawa dua orang wanita beda usia itu terdengar riang, yang saat ini sedang membuat kue nastar di ruang dapur.
Ya, Tasya diajak oleh Mom Zelea untuk membuat kue nastar, karena kue tersebut salah satu kue kesukaan Enzo.
Tentu Tasya dengan senang hati membantu Mom Zelea membuat kue nastar, karena ia miliki harapan bahwa saat nanti posisinya bisa diterima di hati Enzo.
Mengingat itu, Tasya menjadi semangat, Mom Zelea yang sedari tadi terus menggodanya, membuat mereka berdua terus tertawa.
"Yeah, semua sudah selesai di buletin, sekarang saatnya kita panggang," ucap Mom Zelea begitu sudah selesai.
Kue nastar yang sudah di letakkan di atas loyang, kini siap untuk dimasukkan oven untuk dipanggang.
Kemudian tinggal ditunggu beberapa menit, kue nastar akan matang.
Mom Zelea meminta salah satu pelayannya untuk menjaga oven, jika sudah matang kue nastarnya, memintanya untuk mengeluarkan dari dalam oven.
Sementara itu Mom Zelea mengajak Tasya mendatangi kamar putrinya, anak keduanya, yang belum sempat kenalan dengan Tasya.
"Jadi, kak Enzo punya adik, Mom?" tanya Tasya saat mereka berdua berjalan menuju kamar anak kedua Mom Zelea.
"Iya, Mom punya anak dua, dan yang kedua itu perempuan," jelas Mom Zelea, Tasya langsung mengangguk mengerti.
Mereka berdua terus berjalan sampai kini tiba di dalam kamar anak kedua Mom Zelea.
"Hai, sayang ... Lihat Mom datang ngajak siapa ini?"
Ucap Mom Zelea begitu baru masuk ke dalam kamar putrinya.
Putrinya hanya diam duduk di atas ranjang, memandang tanpa ekspresi.
"Ini kakak ipar kamu, cantik kan dia?" Mom Zelea memandang Tasya. "Namanya, Kak Tasya." Mom Zelea memperkenalkan.
Putrinya masih setia diam tanpa ekspresi, meski Tasya sudah tersenyum manis kearahnya.
__ADS_1
"Ayo sayang, kenalkan nama kamu pada Kakak ipar." Mom Zelea membelai rambut putrinya itu.
Putrinya mengangkat tangan menjabat tangan Tasya. "Namaku Lala."
Tasya menerima jabatan tangan Lala. "Tasya," jawabnya dengan bibir tersenyum.
Setelah berjabat tangan, Lala masih diam tanpa ekspresi, belum mau membalas senyuman Tasya. Sampai ahirnya Tasya mendengar cerita Mom Zelea, yang sampai membuat Tasya terkejut.
"Putriku tidak bisa jalan ... Satu tahun lalu ia mengalami kecelakaan bersama kakaknya Enzo ... Hingga mengakibatkan ia lumpuh dan Enzo juga lumpuh." Mom Zelea membelai rambut Lala, matanya sedih melihat keadaan putrinya.
"Sejak ia tidak bisa berjalan lagi ... Mom kehilangan senyum dan keceriaannya ... Sudah Mom berobatkan dan mengikuti kelas terapi untuk kakinya." Mom Zelea menggeleng. "Tapi juga tidak berhasil."
Mom Zelea menangis, Tasya mengusap bahu Mom Zelea, ia tidak menyangka gadis kecil di hadapannya itu mendapat ujian hidup yang sangat berat di usianya yang masih muda. Tasya tidak bisa untuk tidak menangis, ia juga ikutan sedih mendengar ceritanya.
"Harusnya sekarang ia sudah masuk sekolah SMP seperti teman-temannya ... Tapi karena tidak bisa berjalan ia harus belajar melalui homeschooling." Mom Zelea mengusap air matanya.
"Masa mudanya yang indah terenggut begitu saja ... Membuat ia tidak bisa tersenyum lagi."
Tasya langsung memeluk Mom Zelea setelah mendengar ucapan Mom Zelea yang terakhir itu, hanya mendengar ceritanya saja Tasya merasa sedih, apa lagi Lala yang mengalaminya, pasti gadis belia itu sangat terpukul.
Ya, Lala bersikap seperti itu karena merasa sudah tidak ada harapan untuk sembuh, untuk bisa berjalan lagi seperti semula, karena sudah beberapa kali mengikuti kelas terapi tetapi hasilnya selalu gagal.
"Nyonya, ada tamu di bawah ingin bertemu."
Suara pelayan menyadarkan Mom Zelea dan Tasya dari rasa sedihnya, Mom Zelea menatap pelayan yang baru datang itu, yang kini masih berdiri di ambang pintu.
"Baik, saya akan turun sekarang."
Begitu mendengar ucapan Nyonya-nya, pelayan itu undur diri, Mom Zelea beralih menatap menantu cantiknya.
"Kamu disini saja temani Lala, nanti Mom akan kemari lagi." Mom Zelea mengusap lengan Tasya, sebelum ahirnya pergi dari ruangan tersebut.
Kini di ruangan tersebut tinggallah Tasya dan Lala berdua saja, Tasya yang sedari tadi hanya berdiri kini ambil posisi duduk di pinggiran ranjang sebelah Lala.
"Lala."
__ADS_1
Suara lembut Tasya menghampiri telinga Lala, namun gadis belia itu tetap diam, malas menjawab.
"Apa Kak Tasya boleh menjadi teman Lala?"
Ternyata Tasya tidak kehilangan akal untuk bisa mendekati Lala, ia tahu bahwa tidak bisa bersikap sok dekat dengan Lala, karena gadis belia itu pasti akan langsung merasa tidak nyaman, dengan dalil menjadi teman, Tasya berharap pelan-pelan Lala mau terbuka padanya, mau bercerita juga tentang yang dirasakan gadis belia itu.
Mendengar tawaran kakak iparnya yang ingin menjadi teman, Lala seketika menoleh menatap Tasya, matanya menatap dalam ke arah Tasya dengan wajah masih setia tanpa ekspresi.
Tasya tersenyum, ia tidak mengapa dipandang seperti itu oleh Lala, hal ini wajar karena belum saling kenal.
"Kakak, akan sering berkunjung ke kemari ... Dan siap mendengar apa pun itu cerita Lala," ucap Tasya dengan suara lembut.
"Kakak dahulu juga pernah punya teman yang tidak bisa berjalan, karena dia semangat berusaha untuk sembuh, ternyata harapan sembuh itu ada." Tasya tersenyum ke arah Lala. "Kakak yakin, Lala pasti bisa sembuh."
"Kenapa kakak yakin?"
Tasya semakin tersenyum lebar saat mendengar pertanyaan Lala, itu artinya gadis belia di hadapannya itu kini mulai tertarik dengan ceritanya.
"Karena Kakak yakin Lala gadis cantik yang hebat, jangan bersedih sayang." Tasya bicara penuh keyakinan sembari menatap dalam bola mata Lala, seolah keseriusan itu sampai bisa menembus pikiran Lala.
Lala mengangguk kecil dan tampak sedang berpikir, Tasya tersenyum melihat respon Lala, berharap pelan-pelan mau terbuka padanya.
"Lala, kakak ke balkon sebentar ya, mau nelpon seseorang dulu," ucap Tasya sebelum beranjak dari duduknya.
Tasya sengaja menjauh saat mau melakukan sambungan telepon, karena tidak mau sampai Lala mendengar pembicaraannya.
Kini Tasya sudah berada di balkon dan sedang melakukan sambungan telepon, setelah menunggu beberapa saat sambungan telepon diangkat oleh seseorang di seberang sana.
Tasya sedang menelpon gurunya yang berada di Asrama tempatnya di pulau Jawa, Tasya menceritakan kondisi Lala ke gurunya, karena gurunya itu biasa membntu mengobati orang-orang yang lumpuh, dan kebanyakan yang berobat ke gurunya itu sembuh.
Selama gurunya mengobati pasien yang lumpuh, Tasya selalu ikut membantu, jadi sedikit-sedikit ia tahu, dan sekarang ia menghubungi gurunya mau minta tolong.
Dalam sambungan telepon itu, gurunya Tasya memberitahu Tasya tahap-tahap yang harus Tasya lakukan untuk memijit kaki Lala dalam pemijitan akupunktur, setelah mendapat petunjuk dari gurunya, Tasya pun mengakhiri sambungan telepon itu.
Tasya kembali mendekati Lala dan duduk di pinggiran ranjang seperti tadi, Mom Zelea masuk sembari membawa satu piring kue nastar yang sudah matang.
__ADS_1