
Sore itu setelah cukup lama Tasya mengobrol bersama Mom Zelea juga Lala yang lebih banyak diam dari pada ikut mengobrol, ahirnya Tasya ijin pulang karena sudah sore hari.
Mom Zelea mengajak Tasya keluar dari dalam kamar Lala, mau mengantar menantunya itu pulang sampai depan teras mansion.
Sementara itu Lala istirahat sore setelah ibu dan kakak iparnya pergi dari dalam kamarnya.
"Sayang, ini berikan untuk Enzo, dan katakan bahwa kamu yang membuatnya." Mom Zelea memberikan satu toples isi kue nastar yang tadi dibuatnya bersama Tasya.
Tasya menerima toples berisi kue nastar tersebut, bibirnya tersenyum. "Terimakasih, Mom."
"Iya, Sayang. Ingat pesan Mom ... Yang sabar dalam hadapi Enzo."
Tasya mengangguk mendengar ucapan Mom Zelea barusan, ia akan selalu mengingat pesan Mom Zelea itu selama ia masih mampu bertahan, karena apa pun yang terjadi di masa depan, tidak ada satu pun orang yang tahu, dan Tasya hanya bisa bertahan sebisa mungkin untuk menjaga pernikahannya.
Tia yang sedari tadi di dapur bersama pelayan yang lain, kini sudah berdiri di sebelah Tasya, mereka sudah bersiap untuk kembali pulang.
Mom Zelea mengantar Tasya sampai di depan teras Mansion, dan masih berdiri di sana belum beranjak masuk sampai Tasya dan Tia menghilang di balik pintu gerbang.
Aku berdoa semoga rumah tangga putraku di beri kebahagiaan, meski saat ini mereka belum saling dekat tapi semoga mereka segera dekat dan berjodoh untuk selamanya, doa Mom Zelea dalam hati, sebelum ahirnya beranjak masuk ke dalam mansion.
*
*
*
Tasya yang baru masuk ke dalam Mansion, langsung memerintahkan Tia untuk mandi sore, tidak perlu melayaninya lagi, karena sebenarnya tanpa Tia, Tasya juga bisa, karena selama ini ia adalah wanita mandiri, tidak perlu di bantu seperti bak putri raja.
Tasya berjalan menapaki anak tangga dengan bibir melukis senyum, ia saat ini mau langsung menuju ruang kerja suaminya, meski Enzo galak dan tidak pernah bersikap hangat padanya.
Tasya hanya berharap setidaknya hubungannya dengan Enzo tidak seburuk ini, sebagai istri tidak salah bukan jika Tasya miliki harapan tersebut.
"Nona Tasya," sapa pengawal penjaga pintu ruang kerja Enzo, begitu melihat Tasya datang.
__ADS_1
"Aku mau bertemu suami aku," ucap lembut Tasya.
"Baik, Nona tunggu sebentar." Salah satu pengawal masuk ke dalam lebih dulu, dan tidak lama kemudian sudah kembali keluar, dan mengatakan bahwa Tasya boleh masuk ke dalam.
Dengan semangat Tasya melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruang kerja Enzo, namun setibanya ia masuk, di dalam sana tidak ada siapa-siapa, ia tidak menemukan Enzo di dalam sana.
Tasya ingin berteriak memanggil nama suaminya itu, tapi urung saat ia mengingat ucapan Enzo yang tidak mau diikut campuri.
Ahirnya Tasya milih meletakkan toples berisi kue nastar itu di atas meja kerja Enzo, dan setelah itu langsung keluar begitu saja.
Hatinya merasa kecewa karena tadi inginnya langsung memberikan kue nastar itu ke tangan Enzo, karena Tasya ingin melihat ekspresi Enzo.
Setelah Tasya keluar, tidak lama kemudian Enzo keluar dari dalam kamar mandi, tentu saja Enzo bisa mandi sendiri dan bahkan sekarang ia lagi berjalan menuju lemari pakaian.
Hal seperti ini tidak ada yang tahu, setahu mereka Enzo lumpuh, padahal ia hanya pura-pura.
Di kata lelah dan capek harus pura-pura, pasti Enzo rasakan, namun mau bagaimana lagi ia harus mengungkap musuh yang selama ini diam-diam menginginkan nyawanya.
Setelah berpakaian rapi, Enzo kembali menuju kursi kerjanya, mau melanjutkan pekerjaannya, namun matanya melihat toples berisi kue nastar di atas meja kerjanya.
*
*
*
Malam hari, seusai Tasya selesai makan malam, ia berniat mau mengantar minuman ke ruang kerja suaminya.
Sebenarnya hati Tasya sedih tiap kali harus makan sendiri, merasa Enzo sulit sekali untuk didekati.
Ahirnya setelah benar-benar yakin dengan keputusannya, Tasya membawakan segelas air putih untuk Enzo.
Karena berpikir kalau bukan dirinya yang mendekati Enzo, rasanya mustahil jika Enzo akan mendekat padanya.
__ADS_1
Pelan namun pasti, Tasya berharap hubungannya dengan Enzo bisa lebih baik, tidak terus menerus berjarak seperti ini.
Setelah Tasya diijinkan masuk ke dalam ruang kerja Enzo, bibirnya langsung terangkat tersenyum manis, bukan tanpa alasan, karena saat ini matanya sedang melihat pria yang dikagumi itu sedang duduk di sofa sembari makan kue nastar.
Tasya berjalan mendekati tempat Enzo duduk, sembari matanya terus melihat Enzo makan kue nastar, baginya setiap butir kue nastar yang dimakan Enzo adalah tanda cinta.
Tasya tiba-tiba merasa hatinya berbunga-bunga, dan seolah sekarang ini banyak bentuk hati yang berjatuhan dari atas turun menghujani Tasya.
"Kenapa senyum-senyum!" suara ketus Enzo membuyarkan lamunan Tasya.
Wanita cantik itu malah tersipu malu, sembari lebih mendekat dan meletakkan gelas berisi air putih di meja depan Enzo duduk.
"Aku bawakan air minum." Tasya bicara dengan suara khas lembutnya.
"Disini ada air minum, aku tidak menyuruhmu!" jawab Enzo ketus.
"Bawa lagi keluar gelas itu, aku tidak akan minum di gelas pemberianmu!"
"Aku mengerti, aku hanya ingin mengantarkan minuman ini." Tasya menjelaskan bahwa tidak ada maksud lain selain hanya sekedar mengantar air minum.
Tasya melihat Enzo yang menyelidiki air minum yang baru ia bawakan itu, seolah Enzo takut ia racuni.
Untung dia tampan dan untungnya juga dia suami aku, coba kalau bukan sudah aku tonjok muka songongnya itu, batin Tasya.
"Jika begitu saya permisi," ucap Tasya, sebenarnya dalam hatinya ingin mengajak Enzo tidur bersama seperti pasangan suami istri yang lainnya juga, tapi bibirnya kaku mau mengatakan hal itu, dan sudah pasti Enzo akan marah jika ia berani berkata seperti itu.
Tasya keluar dari dalam ruang kerja Enzo, tidak jauh dari tempat ruang kerja Enzo adalah kamar Tasya, kamar Enzo juga.
Setibanya di dalam kamar, Tasya langsung membaringkan tubuhnya, ia merasa lelah seharian ini, tidak lama kemudian Tasya sudah masuk ke alam mimpi.
Dalam mimpinya itu Enzo memeluk Tasya dan mengatakan tanda cinta. Enzo di mata Tasya terlihat sangat tampan dengan balutan kemeja putih yang melekat pas di tubuh atletis milik Enzo.
"I love you too," gumam Tasya dengan mata terpejam.
__ADS_1
Dalam mimpinya itu Tasya sedang membalas cinta dari Enzo.