
Di Indonesia.
Hangatnya mentari pagi yang menyinari bumi, angin berhembus sepoi-sepoi menerbangkan dedaunan di jalanan, mengiringi aktifitas semua orang di pagi hari.
Tidak terkecuali para pekerja di Gedung Alexa Group yang berdatangan untuk menyelesaikan tugas hari ini.
Semua orang mengawali hari penuh semangat serta doa kelancaran untuk hari ini.
Seorang pria tampan tengah duduk di kursi kerjanya dan tampak fokus dengan berkas-berkas yang ada di hadapannya.
Asisten pribadinya masuk ke ruangan itu dengan membawa file penting. "Tuan Muda, rapat pagi akan dimulai tiga puluh menit lagi."
"Hem." Jawab singkatnya tanpa melihat lawan bicara.
"Ini, file yang Anda minta," lanjut ucap Samuel.
"Hem."
Samuel meletakkan file itu di meja kerja Enzo sebelah tumpukan file-file di sana.
Samuel kemudian undur diri dari ruangan tersebut.
Empat puluh menit kemudian.
Enzo bersama petinggi perusahaan yang lain juga para pemegang saham di perusahaan ini tengah berkumpul dalam satu ruangan.
Meeting kali ini akan membahas pemegang saham terbanyak di perusahaan ini, Enzo perlu tahu karena mau mengadakan perubahan keuntungan, dan harus ada persetujuan dari pihak semuanya.
Enzo menatap wajah satu per satu semua orang di ruangan ini, sampai matanya beradu dengan mata seseorang yang saat ini tengah tersenyum manis ke arahnya.
Deg!
Dia ada disini, batin Enzo.
Setelah itu meeting pun dimulai, semua orang fokus dengan pembicaraan penting mengenai bisnis yang dibahas.
Setelah beberapa saat saling berbincang, kini Enzo mulai menyebutkan siapa pemegang saham terbesar bulan ini.
"Perusahaan Tristan Company," ucap Enzo yang kemudian matanya melihat ke arah Fely.
"Saya di sini mewakili, ayah." Ucap Fely.
Seketika semua orang menatap Fely termasuk Enzo.
Dan setelah kurang lebih dua jam rapat itu berlangsung kini akhirnya selesai di tutup dengan kesepakatan semua pihak.
Enzo sekaligus pemimpin dan pemilik perusahaan Alexa Group, ia keluar lebih dulu dari ruangan tersebut yang disusul Samuel asistennya.
Semua orang di ruangan tersebut ikutan bubar, pulang ke tempat masing-masing.
Fely pun tidak mau kehilangan kesempatan ini, ia segera menyusul langkah Enzo sebelum jauh.
__ADS_1
"Tuan Enzo!"
Enzo dan Samuel yang baru saja sampai di depan pintu lift, langsung menoleh ke belakang begitu mendengar suara seseorang memanggil.
Enzo menatap Fely yang berjalan tergesa ke arahnya dengan kening berkerut.
"Tuan Enzo, apa makan siang nanti ada waktu sebentar, ada hal penting yang ingin saya bicarakan dengan Anda," ucap Fely dengan formal, karena menghargai Enzo yang saat ini posisinya berada di kantor dan banyak karyawan.
"Bisa, nanti saya kabarin." Enzo menoleh ke arah Samuel, menggerakkan dagunya mengajak Samuel untuk masuk ke dalam lift.
Ayo Fely tunjukan bahwa kamu bisa menaklukkan hati Enzo, batin Fely seraya matanya menatap pintu lift yang kini telah tertutup.
*
*
*
Siang hari di sebuah restoran cepat saji.
Enzo dan Fely makan siang bersama, duduk berdua di meja yang sama, namun tidak jauh dari tempatnya, ada Samuel juga yang ikutan makan siang.
Sebenarnya Fely hanya mau sama Enzo saja tanpa ada Samuel, namun mau bagaimana lagi, Enzo tidak bisa pergi tanpa ada Samuel asisten pribadinya itu.
Fely melihat Enzo yang sedang mengunyah makanan. "Menurut kamu masakannya enak tidak?"
"Em ... Rumayan," jawab Enzo singkat sembari menyuap lagi.
"Ingat." Enzo menghabiskan daging yang sudah ia potong-potong.
Fely tersenyum. "Aku ingin masa-masa itu bisa kita ulang kembali."
Tidak ada jawaban dari Enzo, pria itu asyik menghabiskan makan siangnya.
Ternyata kamu tidak berubah ya Enzo, dari dulu tetap dingin sikap kamu, tapi sikap kamu yang seperti ini lah yang membuat aku makin jatuh cinta, ada tantangan tersendiri untukku bisa bersamamu, batin Fely seraya memandangi wajah tampan Enzo.
Setelah makan siang bersama, mereka pun kembali terpisah, Enzo yang kembali ke perusahaan, dan Fely pulang ke rumahnya.
*
*
*
Malam hari.
Di dalam sebuah kamar yang luas dengan warna dinding putih tulang, juga terdapat lukisan cantik berukuran besar gambar wajah wanita itu yang terpasang di dinding.
Pemilik kamar itu terlihat senyum-senyum sendiri sembari menatap langit-langit kamar.
"Enzo, aku sudah tidak sabar kita jadian sebagai sepasang kekasih lalu kemudian menikah."
__ADS_1
Fely saat ini tengah berkhayal bahagia bersama Enzo, wanita itu belum tahu jika Enzo sudah menikah.
"Kali ini aku yakin, ayah akan mengijinkan aku bersama Enzo." Fely tersenyum lagi terkadang menutup wajahnya dengan telapak tangan karena bahagia.
"Aku mencintaimu, Enzo." Fely memejamkan matanya seraya membayangkan ada Enzo di hadapannya.
Sementara itu di tempat lain, tepatnya di sebuah apartemen, seorang wanita tengah mengamuk dengan prianya.
"Aku hamil! Ini adalah anakmu! Ini anakmu ..." teriak wanita itu seraya menunjuk perutnya yang masih rata.
Hahah!
Pria itu tertawa. Namun kemudian mencengkam bahu wanita itu seraya menatap tajam. "Dengar, Elis. Aku bukan pria bodoh yang bisa kau bodohi!"
"Aku tidak membodohimu!"
"Tapi malam itu kau yang menjebak aku!" bentak pria itu yang langsung membuat tubuh Elis gemetar ketakutan.
"Ta-tapi- kau tidak lupa, kan. Darah itu? Kau yang pertama menyentuhku!"
Hahah. "Menyentuhmu?" Hahaha!
Elis merasakan cengkraman pria itu makin kuat hingga ia merasa kesakitan. Dan di detik kemudian Elis tercengang dengan ucapan pria itu.
"Itu bukan darah, Elis! Aku tahu kau menjebak aku dan memanipulatif semuanya!"
"Enggak, Reka!" elak Elis dengan cepat seraya menggelengkan kepalanya.
Tapi pria bernama kepanjangan Reka Sadewa itu langsung menarik tubuh Elis menuju pintu keluar.
"Reka, Reka ini anakmu aku tidak bohong!" Elis masih berusaha menyakinkan Reka, menahan pria itu yang mau mengusirnya keluar dari apartemen.
"KELUAR!!" Reka mendorong tubuh Elis hingga tersungkur ke lantai, Elis menangis.
"Jangan pernah datang menemuiku lagi!" bentaknya seraya menunjuk wajah Elis lengkap dengan tatapan tajam.
Elis berusaha bangkit saat Reka mau menutup pintu. "Reka tunggu!" Elis menjangkau pintu itu namun gerakan tangannya terlambat, pintu itu lebih dulu Reka tutup.
Elis menggedor-gedor pintu sembari berteriak. "Reka .... Buka pintunya aku mau bicara, ini anakmu Reka aku tidak bohong, Reka! Buka pintunya, Reka ...."
Aaaaaa!
Elis berteriak hingga suaranya berubah serak, wanita itu terus menangis mendapati penolakan Reka.
Pikirannya juga bingung karena takut mau jujur sama kedua orang tuanya.
"Aku harus gimana," gumamnya lirih sembari membawa tubuhnya meluruh ke bawah, Elis duduk meringkuk dengan memeluk lututnya, tangisnya tersedu-sedu.
"Apa aku harus cerita sama, Tasya. Tapi apa Tasya mau membantuku," ucapnya pada diri sendiri.
Tapi begitu ingat sesuatu, Elis langsung membuang nafas berat. "Tasya kan sedang koma." Elis semakin menangis.
__ADS_1