
Utusan lamaran dari Raja Afrian telah datang di Istana raja Arad, begitu banyak
Koper yang berisi perhiasan berupa emas dan permata dibawa sebagai oleh - oleh dari calon pengantin wanita kepada pengantin pria.
Sahman tak peduli dengan acara lamar- lamaran tersebut. Karna tangannya sudah pulih, ia tak sabar untuk menemui kekasih yang ia rindui.
Kurang lebih seratus kali, Sahman ngalih pakaiannya, serta memandangi wajahnya
didepan cermin ajaib warisan sang nenek.
" Mungkin ini tampilan paling Oke." katanya. " Seraya tersenyum didepan kaca.
Ia ingat pertama kali melihatkan mukanya dulu didepan Ayu. Ayu menertawakan penampilannya yang memakai mahkota.
Sejak saat itu, Sahman akan memilih tampil dengan kostum ala Turki atau ala Korea.Ayu tak lagi berani mengatai norak pada Sahman. Belakangan Sahman tahu, kekasihnya itu pecinta drama Turki dan Korea.
" Sayang suka Li min ho atau atau Engin Aryurek sih ? " tanya Sahman dengan nada cemburu saat begitu banyak koleksi foto Engin dan Limin ho di dinding kamar Ayu.
" Dua- duanya! jawab Ayu singkat tanpa ragu.
" Bagaimana bisa kau mengidolakan dua- duanya. Satu mulus, satu berwajah setara dengan hutan Amazon? " tanya Sahman dengan dahi mengerut karna bingung.
Ayu Mengusap wajah Sahman. Kemudian Ayu memejamkan matanya.
" Wahai pria berwajah halus didepanku, coba kau kecup pipiku ini! " katanya seraya memindahkan
tangannya, lalu melingkarkan ditengkuk Sahman. Mereka sangat dekat, nafas Sahman sesak, Dihelanya nafas beberapa kali, lalu ia memenuhi permintaan Ayu
Ayu tersenyum setelah pipinya dikecup.
Lalu ia berkata lagi.
" Egin Aiyurek pujaanku, ciumlah aku sambil menggesekkan cambang rimbunmu. " kata Ayu lagi.
Sahman terdiam, ia cemburu ketika nama
aktor Turki itu disebut Ayu dengan suara
seksi menggoda.
Begitu ia tak merasakan apa- apa, Ayu membuka matanya.
" Sayang...mengapa tak menciumku dengan memakai wajah berjambang
seperti Engin. Kau bukan manusia, apa susahnya malih wajah demi untuk menyenangkan kekasihmu ini. " kata Ayu yang membuat mata Sahman terbelalak.
" Sayang...Akhirnya lisanmu mengakui juga, kalau aku kekasihmu. " Ucap Sahman girang. Lalu ia mengecup Ayu setelah malih rupa. Ayu membalas kecupan itu. Sejak saat itu Sahman tahu,
kalau Ayu lebih antusias bercumbu dengannya kalau ia tampil menyerupai aktor Turki itu.
Setelah puas memandangi penampilannya didepan cermin. Sahman masih bertanya pada dayang- dayangnya,
apa penampilannya sudah oke. Begitu
semua menjawab luar biasa, maka Sahman mengusap rambutnya untuk merapikannya lagi.
Twing....Sahmanpun menghilang dari hadapan para pelayannya tersebut.
" Pangeran akan bertunangan dengan dua putri sekaligus, tapi nampaknya ia menyukai putri yang lain. Gimana nasip
ratu dan selir nanti ya? " bisik salah satu dayangnya pada dayang yang lain.
Suut...Jangan banyak omong, ntar raja Arad dengar, kita bakal dilempar. " kata dayang yang lain mengingatkan.
Kedua dayang itupun saling pandang Lalu terdiam.
Detik berikutnya " Raja datang! "
Kedua dayang itu menunduk dengan wajah memucat. Lalu dengan gemetar memberi salam pada raja.
__ADS_1
" Salam yang Mulya raja...,,kata mereka serentak dengan dayang yang lain.
Raja memeriksa kamar Sahman.
Begitu tak menemukan putranya, iapun menatap para dayang satu- persatu.
Semua menunduk mendapat tatapan tajam dari yang Mulya raja Arad.
Detik berikutnya suara Pangeran Sahman menggema diruangan itu.
" Jangan menghukum para pelayan ku ayah...mereka tak tahu apa- apa. Ayah urus saja kedua calon menantumu itu sesuai perjanjian. Aku tak peduli dengan istri diatas kertas, sekaligus istri pemberian Ayah itu. Aku akan pergi sampai waktu pernikahanku tiba, baru aku kembali. Jangan mencariku, aku baik- baik saja, dan akan sangat baik, karna aku akan menemui kekasihku." kata Suara itu.
Raja Arad terdiam, lalu meninggalkan kamar pangerannya itu.
Ayu baru selesai Shalat Isya ketika Sahman sudah sampai dikamar gadis itu.
Ketika melihat wajah tampan Sahman muncul dihadapannya dengan senyum terindahnya, Ayu memalingkan mukanya.
Lalu dengan sigap ia menggantung mukena dan berlari ketempat tidur, kemudian menyembunyikan wajahnya dalam selimut tebalnya.
Sahman tersenyum penuh kemenangan
melihat tingkah Ayu. Itu artinya Ayu merindukannya, saking rindunya, ia marah Sahman terlalu lama menemuinya. Untuk menunjukkan kemarahannya ia sengaja mengabaikan Sahman.
Sahman duduk disisi pembaringan Ayu.
Dibukanya selimut penutup wajah Ayu.
" Sayang...Aku merindukanmu, tapi aku terluka, coba lihat bekas luka dipangkal lenganku. Apa Ayu tak peduli lagi dengan Sahman? " bisiknya lembut dikuping Ayu.
Ayu masih belum bergeming, ia memunggungi Sahman dengan mata masih terpejam.
Sahman mengerutkan dahinya. " Ada apa dengannya, tidak biasanya ia cuek kalau
sudah mendengar soal sakit atau luka pada diriku? Apa dia benar- benar sudah
Sahman tak tahan lagi, rasa rindu yang besar membaur dengan rasa kecewa dan
sakit atas kecuekan kekasih yang ia dambakan itu, membuatnya menangis sesugukan disisi pembaringan
Ayu.
Sekarang ia tak lagi menyentuh Ayu.
Ia menangis sesugukan bak seorang bayi yang kehilangan ibu Susunya.
" Kenapa kau menangis? Bukankah kau calon raja yang sebentar lagi akan menikahi dua permaisuri sekaligus. Tidak malu seorang raja dengan dikelilingi banyak dayang dan akan memilili dua ratu cantik, menangis bak anak bayi dihadapan gadis biasa sepertiku? Hey! " kata Ayu dengan suara keras dan bernada kesal, ia bahkan lupa
kalau dirumah mereka ia tak sendiri.
Begitu ia teringat ayah dan bundanya, ia lalu menutup mulutnya. Sahman mengerti mengapa Ayu terdiam.
Dengan satu hitungan maju, kamar Ayu terkunci rapat.
Sahman menatap kekasih yang masih membelakanginya itu. Kemudian ia merebahkan diri di sisinya. Mengecup lembut tengkuknya dari belakang.
" Siapa yang menyampaikan kabar ini padamu sayang?" tanyanya berbisik dikuping Ayu. Tubuh Ayu menggigil merasakan hangat yang ditimbulkan dari
sentuhan bibir Sahman ditengkuknya, juga kupingnya. Tapi ia tak mau mengalah hanya karna gairah yang tiba- tiba bagai Aliran listrik menyentak- nyenyak ditubuhnya.
Walau tubuhnya bergetar menahan hasrat, tapi ia tak bergeming, batinnya terlalu terluka mengingat kabar pernikahan pangeran Sahman yang akan disegerakan.
Sekarang gantian Ayu yang menangis, tapi wajahnya tetap disembuhkan dari Sahman.
Dengan satu sentakan, Sahman Membalikkan tubuh Ayu, membawanya
kedalam dekapannya. Ayu berontak dan memukuli dada Sahman.
Sahman meringis menahan sakit, ketika Ayu dalam pemberontakannya tak sengaja memukul bekas lukanya.
__ADS_1
Tapi Sahman masih dapat menahannya,
ternyata lebih sakit diabaikan oleh kekasihnya itu, ketimbang dipukuli seperti ini.
Ayu menghentikan pemberontakannya sejenak, lalu ditatapnya wajah Sahman yang memucat.
" Kau? Ayu gugup menemukan wajah kekasihnya yang sudah pucat pasi menahan sakit.
Detik berikutnya Ayu sadar, ia telah menyakiti fisik Sahman. Ia membuka kaos oblong yang dipakainya,lalu memeriksa bekas luka Sahman.
Ayu meniup bekas luka itu, membacakan mantra penawar bisa dan pengobat luka warisan sang nenek. Ajaib, bekas luka Sahman langsung menghilang.
Wajah Sahman kembali normal.
" Makasih sayang..." bisiknya pada Ayu.
" Tidak ! Aku benci kau! enyahlah dari hadapanku. Aku tak mau lagi berteman denganmu. Kau sama' saja dengan manusia itu, yang menghianatiku, saat aku mulai mencintai mereka. " kata Ayu berusaha tegar, menahan agar air matanya tak jatuh lagi.
Sahman meraih wajah kekasihnya itu,
mencium pipinya berkali- kali, lama dan dalam. Walau Ayu memberontak, Sahman tetap melakukannya. Setelah capek Ayupun pasrah dalam cumbuan Sahman.
" Hatiku tak pernah berkhianat barang sekalipun sayang...Bukan aku yang ingin
menikah, tapi Ayah yang memaksaku.
Ia juga mengancam keselamatanmu
, aku tak mau sesuatu terjadi padamu.
Apapun akan kulakukan untuk menjagamu. " Bisik Sahman lembut untuk meyakinkan pujaan hatinya itu.
" Aku tak butuh kau! Aku punya Tuhanku tempat berlindung." kata Ayu tegas.
Sahman terdiam, lalu ia melepaskan dekapannya. Airmatanya kembali bercucuran.
Dalam Isak ia berkata" Sayang...Aku tak pernah memintamu untuk jauh dari Tuhanmu. Walau aku jin yang tercipta dari api, tapi aku Jin muslim.
Aku melindungimu karna aku mencintaimu, aku takut kehilanganmu,
bukan memintamu menduakan Tuhan Kita.
Kalau aku salah dengan cintaku, maafkan
aku, baik aku akan pergi darimu dengan cara membenturkan kepalaku Ketembok batu, agar aku lenyap untuk selamanya. "kata Sahman sembari berdiri.
Ayu menarik Sahman, hingga terjatuh diatasnya. Posisi yang sangat berbahaya.
Ayu menatapnya dengan mata sayunya.
" Kau membuat perjanjian dengan kedua istrimu. Kau kira siapa yang mau berbagi cinta dengan mahluk lain pula. Sedang sesama manusia saja orang tak rela, apalagi dengan cinta diluar jalur seperti kita. Kau harus membuat kontrak pula de nganku, bilamana aku sudah menemukan seorang ustadz tampan yang berhati bersih yang mencintaiku apa adanya, kau harus melepaskan ku selamanya." kata Ayu sembari menatap intens kekasih
yang saat ini tak ada jarak dengannya.
Sahman berdiri walau Dadanya bergemuruh.
" Baiklah..Ayo kita buat suratnya." kata Sahman mengalah dari Ayu.
Dengan berurai airmata , Sahman menandatangani perjanjian yang ternyata
sudah disiapkan Ayu.
" Apa kau Setega ini sayang? " tanya Sahman setelah menandatangani kesepakatan itu.
" Diamlah..lelaki cengeng! Aku hendak melepaskan rinduku." kata Ayu sebelum
membekap bibir Sahman dengan kecupan panasnya. Selanjutnya entah apa yang akan terjadi.
Bersambung...
__ADS_1