My Love Ruler Of Another World

My Love Ruler Of Another World
Hajatan Sedernana


__ADS_3

"Orang yang membantu saudaranya untuk menikah, lebih utama di sisi Allah daripada orang yang membantu untuk jihad di jalan Allah," kata Maulana dengan memeluk erat istrinya, usai sholat subuh.


" Kalau begitu, mulai besok bicaralah, setelah kedua calon pengantin mantap kita akan membawa mereka ke KUA. " Tukas Ayu membayangkan kedua pasangan senja itu memulai hidup baru dan bahagia.


" Baiklah sayangku...semua akan terjadi sesuai keinginanmu dan bibi centilmu itu. " Jawab Maulana.


" Wuiiih...Ini sebenarnya ikhlas apa ngak sih...kok pake bumbu cemooh segala." Cemberut Ayu melepaskan diri dari pelukan Maulana.


Ayu mulai bekerja mengembalikan peralatan ibadah ketempatnya. Tentu Maulana tak membiarkan istrinya bekerja sendiri. Dengan sigap pria gagah itu membereskan tempat tidur mereka, yang


lumayan sembrautan akibat pergumulan semalam. Maulana mengganti seprai yang baru, dan


memasukkan seprai bekas kedalam mesin cuci, tak lupa ia memasukkan pakaian kotor berwarna lainnya.


Setelah mengatur air dan detergen, Maulanapun mulai mencuci.


Mengingat sebentar lagi ia akan makin sarat dan bahkan akan membutuhkan istirahat cukup begitu buah cinta mereka lahir, Ayu tak banyak protes, membiarkan suami memulai pekerjaan sebagai calon ayah siaga. Meski ada asisten rumah tangga, sebagai suami sudah sepantasnya melakukan hal- hal begitu saat istri dalam masa cuti dan membutuhkan pertolongan. Ayu tidak akan meminta, tapi hatinya tentu girang bila mendapat perhatian lebih dari suami.


Selesai mengurus kamar, merekapun siap- siap untuk sarapan pagi.


Aneka sarapan pagi bergizi sudah tertata rapi dimeja makan. Ayu meminta bibi Ningsih memanggil om Ujang untuk sarapan bersama. Dengan patuh dan senang hati tentunya Ningsih melakukan itu.


Merekapun mulai sarapan, begitu sudah berkumpul.Maulana mulai menyampaikan maksudnya untuk membantu bibi Ningsih dan om Ujang menikah kalau mereka merasa sudah siap.


" Akankah indahnya sarapan pagi Doble date begini. Tapi akan lebih afdol bila sama- sama sudah resmi. " Ucapnya memulai perbincangan sehabis sarapan.


" Apa salahnya diresmikan bila itu akan menambah marak rumah ini. " timpal Ayu.


" Apa sudah siap menjadi pasangan halal, berjanji saling membahagiakan hingga ujung usia? " tanya Maulana makin mendalam, seraya menatapi calon pasangan sebaya ayah dan ibu mertua Maulana itu.

__ADS_1


Kedua orang itu tak langsung menjawab pertanyaan majikan tampannya. Mereka saling pandang dan melempar senyuman.


" Diam dan senyuman cukup jadi jawaban, jika tidak setuju berarti mulai hari ini tidak dekat- dekatan lagi, artinya perasaan kalian mungkin hanya mainan." Ujar Ayu menatap kedua pasangan senja itu bergantian.


" Tidak !!! Ini bukan cinta rekayasa! sorak mereka bersamaan.


Maulana terkikik melihat kedua orang itu tertunduk malu, begitu sadar mereka ngomong barengan.


" Ini sudah lebih dari pengakuan sayang... berembuklah dengan baik mengenai mahar, soal biaya pernikahan dan perjamuan sederhana akan kami tanggung, kalau soal mahar, itu sudah kewajiban Om Ujang. " jelas Maulana.


Ujang manggut- manggut. Sebenarnya om sudah punya tabungan, kalau tidak minta berlian sepertinya uang paman cukup buat nikahan juga, itu jika dik Ningsih mau maharnya hanya sebentuk cincin Emas. " Balas Om Ujang seraya menatap calon istrinya.


" Aku dikasih mahar nyanyian juga ngak apa, bila ada emas tentu itu lebih baik. " Jawab bibi Ningsih dengan mengumbar senyum lebar.


Ayu tersenyum puas, tidak lama lagi ia akan bebas duduk bersama dirumah besar Maulana tanpa ada rasa segan dan


takut dosa.


Om Ujang segera menelfon saudaranya yang dikampung. Bibi Fida dan suaminya merasa senang kalau abangnya akhirnya memutuskan untuk berumahtangga juga.


Johan suami Fida bergegas menuju KUA setempat. Tengah hari surat sudah selesai discan dan dikirim keponsel Ujang. Maulana yang sudah dikirimi Ujang surat Pengantar NA langsung saja memerintah asistennya untuk mengurus tindak lanjut ke KUA setempat.


Hanya butuh tiga hari dengan acara berbiro. Pasangan itu akhirnya ditetapkan menikah di dikantor KUA.


Ayu membantu bibi Ningsih berhias. Bi Ningsih memakai kebaya merah yang mereka beli bareng Ayu dipasar raya dengan uang seserahan yang diberikan Om Ujang.. Sebenarnya Ayu mengusulkan warna yang lebih lembut. Tapi Ningsih sukanya itu, Ayu hanya bisa angkat bahu. Toh yang memakai bukan dia.


Walau harus sedikit menderita kesilauan dipagi jelang siang yang terik harus bertentangan mata dengan pengantin yang serba menyala, dengan senang hati Maulana dan Ayu membawa pengantin baru kembali kerumah setelah Syah.


" Adik ikut berbelanja kok pilih warna begitu? Pak KUA tadi sampai menyipitkan matanya karna kesilauan. " Bisik Maulana dikuping istrinya setelah mereka tiba dikamar untuk beristirahat siang.

__ADS_1


" Habis yang punya badan maunya begitu, aku mau apa selain angkat tangan. " Ayu merebahkan kepalanya dipangkuan Maulana. Sedang Maulana mulai membelai rambut istrinya.


" Ya.. aku sampai lupa mereka pasangan ternorak masa kini. " tukas Maulana seraya teringat akan membuat acara perjamuan sederhana nanti malam.


Dengan tangan kirinya Maulana menelfon


AA Catring. " Tolong sediakan hidangan untuk 100 orang, paket lengkap makanan penutup dan pembuka ya! " Jelas Maulana. Setelah mengiyakan, pihak Catring meminta alamat. Maulana melanjutkan dengan mengirim Chatt.


" Kok Catring sayang? " tanya Ayu yang khawatir suaminya yang terdengar mulai boros.


" Ini syukuran nikahan bibi, sekalian nyambut dedek bayi dan bulan puasa! Abang ngak mau merepotkan tetangga kali ini, apalagi cintaku sedang masa rentan, kalau buat acara masak masakan


rumahan bersama ntar adik ikut- ikutan, Abang ngak mau adik kelelahan. " Tukasnya mantap tak ingin dibantah lagi.


" Terserah tuan Takur saja, nyonya takur pasrah karna sebentar lagi bakal busung lapar dan sedikit keseksian akan berlipat- lipat. " Ujar Ayu sembari membayangkan perutnya yang tidak lama lagi akan membesar.


" Sejak kapan istri jadi narsis begini? tapi tak apa aku suka, segendut apapun Ayu bagi Abang memang akan terus makin candu. Bagi Abang keseksian istri tidak dari bentuk tubuh saja, tapi _


" Tapi apa? Ayu mulai menghujani suuaminya dengan banyak cubitan dan gelitikan.


Awwww...Maulana terpekik-pekik mendapat serangan istri. Maulana tidak yang tidak kuat segera memegangi kedua tangan Ayu. Setelah itu ia mulai melakukan serangan balasan dengan bermain lidah. Ayu meringis menahan gelenyar yang mulai menjalar. Sejak hamil ia semakin mudah terpancing, hampir semua Indra peraba yang menyelimuti tubuhnya menjadi sensitif.


Ayu mulai membuka kancing- kancing suami. Sedang Maulana lanjut dengan permainan apa saja yang ia suka. Tidak lama suara- suara nyanyian indah kedua pasangan dari kamar masing- masing mulai berirama disiang bolong. Ternyata pasangan muda dan tua sama saja, tetap tujuan utamanya berwisata cinta adalah pusat kota.


Setelah menggempur pusat kota dengan bermandikan keringat, pasangan - pasangan halal itu mengucap syukur.


Tak urung acara mandi berdua juga berlanjut dikamar Ayu. Sedang pengantin baru Mandi berdua dikamar mandi keluarga. Melihat tuan dan nyonya tak keluar dari kamar, mereka meneruskan pesta makan enak berkali- kali.


Malam hari kedua pengantin baru dikejutkan oleh kedatangan para tetangga untuk mendoa, disusul mobil pengantar makanan.

__ADS_1


" Ada hajatan rupanya den Lana? " tanya Om Ujang yang masih lemas karna kebanyakan transfer energi.


" Hajatan sederhana untuk mendoakan kita semua. " Jawab santai Maulana.


__ADS_2