
" Aiss...Bang...Cepatlah..ini sudah tak tahan.." Ringis Ayu terus memegagi pinggangnya dengan keringat yang mulai bercucuran.
Bi Ningsih yang duduk disisi Ayu mengusap keringat majikan yang sudah seperti putrinya itu dengan sapu tangannya." Tahan sebentar lagi ya sayang.. Tolong Jangan ngedan dulu." Pinta biNingsih
Sedang Maulana sudah tak dapat berkata apa menenangkan istrinya. Ia sangat takut melihat istrinya yang terlihat sangat kesakitan.
" Ya Allah...Tolong istriku agar selamat melahirkan buah cinta kami, dan kuatkanlah aku membawa mobil ini agar kami sampai segera diklinik. " Doa Maulana dalam hati sepanjang jalan.
Waktu seperempat jam terasa sangat lama bagi ketiganya.
Begitu mobil Maulana telah sampai didepan klinik. biNingsih segera membuka pintu. Sedang Maulana menggendong Ayu, dan membawa istrinya yang terus meringis keluar dari mobil itu.
Tim medis menyambut mereka begitu kaki Maulana sampai diteras klinik dokter Aulia.
Ayu segera diletakkan dibrankar oleh Maulana. Dan secepatnya tim para perawat mendorong brankar Ayu.
" Bang...Sakit...." Rintih Ayu.
" Sabar sayang...Abang akan melakukan apapun, agar kalian bertiga selamat. " Maulana mencoba menenangkan istrinya walau ia sendiri sangat cemas.
Ya Gusti...Selamatkan Ayu dan dan baby-nya.
Bi Ningsih tak lepas dari kalimat doanya sepanjang langkah.
Maulana menggenggam tangan istrinya sepanjang
koridor sampai mereka tiba diruang persalinan. Sedang bi Ningsih setia mengelap keringat Ayu yang tampak besar- besar.
Dokter Aulia segera memeriksa jalan lahir, saat mereka sampai diruang bersalin.
" Pembukaannya sudah lengkap. Dek Ayu tenang ya. Tarik nafas rileks dan mulailah mengedan begitu terasa dorongan dari dalam. " Jelas Aulia lembut.
" Apa tidak perlu dioperasi dokter, aku tak mau istriku tersiksa begini. " Wajah Maulana pucat karna cemas. Ia tidak mau mengambil resiko membiarkan istri melahirkan normal, jika itu tidak mungkin.
" Ayu ibu yang kuat Maulana! Ia juga sangat sehat, posisi bayi- bayi kalian baik, bahkan rambutnya sudah nampak. " Ujar Aulia.
Detik berikutnya Ayu mengedan sesuai petunjuk dokter.
" Semangat buk...Sedikit lagi..." ucap Pera perawat yang membantu.
Melihat Ayu mengedan dengan keringat bercucuran, Maulana sangat cemas.
" Aku tidak mau kau menganggap enteng persalinan istriku Aulia! Kau jangan sembarang, lihatlah keringat istriku bercucuran dari tadi. Kau jangan sampai salah mengira rambut ibunya rambut bayiku. " Ujar Maulana marah serius.
__ADS_1
" Uffff...Aulia menahan tawa, tak urung tim medis yang lain. "Kau ini konyol sekali, emang kau lupa kalau punya istrimu sangat bersih Maulana, rambutnya tak ada, padahal belum lama kau mencokoli jalan lahir anakmu. " Ujar Aulia.
Semua kembali tersenyum kecuali Maulana dan bibi Ningsih. Wanita ceria ini juga tidak bisa tersenyum dalam kondisi begini, ia sangat mencemaskan Ayu. Sikapnya berubah total karna takut kehilangan Ayu.
" Uha....Uha...Sebentar kemudian terdengar tangisan bayi yang kencang, yang membuat semua
bersorak gembira.
" Alhamdulillah..."
" Tu kan, Jagoanmu sudah keluar!!! " Ujar Dokter Aulia.
" Alhamdulillah...." Maulana bersujud syukur setelah melihat baby mungil berjenis kelamin lelaki itu sudah keluar. Seorang perawat membawa sang baby untuk dibersihkan.
Maulana yang sudah bangkit memandang istrinya,
teringat bayi satunya belum keluar, Maulana kembali cemas.
" Tunggu dokter! Bagaimana dengan satunya lagi? " Tanya Maulana menghambur kesisi istrinya. Melihat wajah lelah sang istri iapun mulai menangis.
" Kalau tahu bakal begini, tadi tidak akan kuiznkan kau ikut masuk! " Ujar Marah Aulia. Melihat airmata Maulana yang bercucuran.
" Bibi bisa bawa ayah cengeng ini keluar.. " Pinta Aulia menatap bibi Ningsih.
" Biarkan suamiku disini, ia begini bukan tanpa alasan. " Ucap Ayu lirih.
" Baiklah..." Jawab Aulia tak kalah pelan.
" Mungkin Maulana begini karna teringat ibunya. " Batin Aja.
Detik berikutnya Ayu merasakan dorongan lagi dari dalam yang tidak semendesak tadi. Dorongan yang
terkesan terlalu ragu- ragu,hingga bagai berayun- ayun. Maju mundur dan mendesak lalu tenang lagi, hingga membuat Ayu nyaris mengantuk. Tapi ia berusaha menahannya, takut suami cemas lagi, sambil bibirnya terus melantunkan doa yang diajarkan oleh suaminya.
Beberapa kali Ayu mengedan dan terdiam kembali, tapi didorongan ketiga muncul desakan yang menyintak dari dalam.
" Uuuuuuhhhhhh..."
Menit berikutnya terdengar suara mungil nan lembut.
" Hek..Hek...He...Ehe...ehe...Ehe...
Dokter Aulia membalikkan mahluk mungil itu. Begitu dibalikkan, nampaklah bayi perempuan yang sangat cantik dan imut.
__ADS_1
" Anak gadismu sudah bronjol Lana! Sekarang menangis lah lagi karna bahagia! " Sorak Aulia menyambut baby mungil nan cantik itu.
Kemudian dengan sigap para perawat mengambil alih mengurus baby cantik itu dari sang dokter.
Baru saja Maulana ingin bersorak syukur. Matanya membola melihat istrinya yang sudah tak sadarkan diri.
" Huuuu...Lihatlah istriku kenapa itu Aulia..." Tangis Maulana pecah.
Dokter Aulia segera memeriksa Ayu." Diamlah...Istrimu cuma pingsan karna kelelahan. Sebentar lagi pasti siuman. Sekarang bersiaplah untuk menunjukkan jalan terang pada Twinsmu Pak Ustadz. Dari tadi hanya tangismu saja yang terdengar. " Ujar Aulia.
" Iya nak...Bersiaplah untuk azan dan Iqomah. " Sela bi Ningsih yang sekarang sudah bisa berucap dengan baik.
Benar apa yang dikatakan dokter. Tidak berapa lama Ayupun membuka matanya. Yang pertama ia cari adalah suaminya.
" Sayang...Anak kita mana? " Tanya Ayu.
Dua orang suster datang membawa sepasang bayi Kembar.
" Suuut...Maulana mengisyaratkan istrinya untuk diam. Kemudian ia mengambil Putranya dari gendongan perawat.
Maulana mengazankan putranya dengan suara yang sangat merdu.
Setelah selesai ia menyerahkan baby boy itu kepada ibunya. Bi Ningsih dan perawat lain membantu Ayu untuk memberikan Asi pertama pada sang putra sementara Ayahnya mengiqomahkan sang putri.
" Tiga menit kemudian, Maulana sudah tiba disisi istrinya dengan masih menggendong baby girl.
" Selamat datang Rahman dan Rahma Sahman maulana! " Ujar Senang Maulana.
" Jadi namanya sesimpel itu? " Ujar Aulia.
" Kau ini dari tadi menigkahku saja! Istriku tercinta saja tidak protes. Ya kan sayang..."
" Tentu...Itu nama yang bagus, semoga mereka menjadi tumbuh menjadi putra - putri kita yang baik dan penuh kasih sayang. " Balas Antusias Ayu.
" Amiiin...akhirnya Aulia turut berseru bersama yang lain. Walau dihatinya sedikit iri, melihat kebahagiaan lengkap keluarga lelaki tampan yang dulu pernah di impikan dimasa muda itu. Aulia berusaha menyembunyikan rasa itu.
Demikian juga didunia kasat mata. Sahman turut menitikkan airmata bahagia melihat kebahagiaan perempuan yang dicintainya sejak bayi itu.
" Selamat sayang...Semoga keluargamu selalu dilimpahi keselamatan, ketenangan, kebahagian dan kecukupan. Walau bukan aku yang disana, setidaknya sebagian dari namaku selalu ada diujung nama penerusmu. Itu berarti mereka anak- anakku juga, aku senang pria yang senama denganku itu yang mendampingimu, kuakui cintanya begitu luar biasa. Jadi ia berhak selamanya memilikimu, bukan aku karna Cinta kita terhalang dunia lain."
Zahra dan Nini menatap sendu wajah suami tampan mereka. Sekarang mereka lega mendengar
penuturan yang menunjukkan keikhlasan Seorang Raja Sahman.
__ADS_1