My Love Ruler Of Another World

My Love Ruler Of Another World
Akhirnya..


__ADS_3

" Apa adik ingin ikut keluar kota? Abang mulai Minggu ini akan banyak dinas keluar dalam rangka usaha pemantauan sekaligus perbaikan kondisi daerah wisata pantai C ." Ujar Maulana usai sarapan pagi dengan Ayu.


" Ayu lagi sibuk mengurus perkembangan tanaman sayur dan bunga yang baru Ayu tanam bang..." jawab Ayu setelah menghabiskan sarapannya.


Maulana mendekat, tatkala bibirnya sudah mendekat, Ayu mengelak, karna bi Ningsih lewat.


" Jangan pamer didepan pasangan lain yang dalam masa pingitan! " ujar Ayu.


" Siapa bilang Abang ingin bermesraan didepan orang , Abang hanya ingin membersihkan bibir istri yang belepotan." Ucap Maulana sembari mengusap bibir Ayu dengan tisu.


Ayu tersenyum malu. " Kok bisa aku makannya ngak rapi ya bang...habis enak kali rasanya, aku sangat selera makan sekarang. " Jawab heran Ayu.


" Tentu adik makannya banyak, karna biasanya hanya pergi sekolah dan dimanja ayah bunda dikampung, disini malah banyak kerja, banyak kerja tentu butuh banyak asupan makanan. "


" Tapi perasaan kerjaku ngak banyak kok bang...lebih capek hilir mudik dari sekolah satu kesekolah yang lain kejar jam dikampung. " Ayu.


" Berarti kerja malam kita yang membuat butuh asupan yang banyak. " ucap Maulana sembari menatap intens istrinya.


" Kalau mau ngomong yang gituan didalam, jangan buat aku mesti bekerja keras jadi Security cinta mereka karna ada yang bakal naik kepuberannya karna mendengar ucapan mesummu. " Ayu mencoba mengingatkan Maulana, karna bi Ningsih masih saja memergoki mereka.


" Kalau begitu ayo kekamar cepat. " Pinta Maulana.


" Ayolah...biar kubantu menyiapkan pakaian ganti." ujar Ayu tanpa curiga.


Ayu kemudian mengikuti suaminya kekamar, dengan tujuan membantu beberes. Tapi mata Ayu membola ketika melihat suaminya malah buka baju setelah tiba dikamar mereka.


" Bang...katanya mau berangkat keluar kota! " protes Ayu ketika melihat suami bukannya bermaksud beberes, malah memulai acara membereskan Ayu.


" Suuut...Diamlah...Abang kepalanya, jadwal berangkat sesuai keinginan ketua, Abang mau ambil bekal dulu, karna istri lebih senang menjadi Security Cinta ketimbang menemani suami. " ujar Maulana.


" Jadi-


Ucapan Ayu terputus, karna bibir dan mulutnya sudah dijajah oleh suami. Selanjutnya pergumulan dipagi hari terjadi lagi. Maulana sepertinya tak pernah kenyang meraup keindahan istrinya.


Ayu pasrah dalam permainan indah yang menguras energi itu. Toh ujung- ujungnya, nanti suami bekal memanjakannya dibilik mandi, siapa yang bisa menolak pesona suami tampan yang memiliki sejuta kekuatan dikemas kelembutan.


Setelah menuntaskan ngidam cinta pagi harinya, dengan santai Maulana membersihkan istri, lalu dirinya.


" Kalau sudah begini, baru bisa Abang punya energi berjauhan satu malam saja. " katanya setelah mereka didepan cermin.


" Emang itu Untuk mengisi energi? kalau menurutku menguras energi. " sanggah Ayu.


" Bagi Abang...itu sebagai sumber kekuatan dan semangat untuk berjuang dalam bekerja." jawab Enteng Maulana.

__ADS_1


Ayu membantu Maulana memakai dasi. Sedang Maulana membantu Ayu merapikan rambutnya dengan sisir.


" Bang...nanti terlambat. " Rengek Ayu takut suaminya dikira sebagai kepala yang tidak profesional.


" Tenanglah...sudah kuingatkan semalam pada Fian kalau Abang datang terlambat dan kami berangkatnya siang.


" UMM....Jangan sampai cinta menurunkan etos kerja, maunya cinta sebagai penyemangat kerja. " balas Ayu mengingatkan.


Maulana mencium kening Ayu kemudian berbisik. " Jangan terlalu banyak bekerja berat, jaga Ayu kecil disini. "


Ayu mengernyit sembari menangkap tangan suami yang mengelus perut ratanya.


" Mana ada? emang merasa kalau bibitnya seunggul itu? " tantang Ayu.


" Insya Allah...ini bibit yang terbaik. " ujar Maulana sembari mendekap istri sekali lagi.


Ayu kemudian mengantar suami kedepan. Ketika mereka tiba dipintu, didepan berhenti taksi. Dari dalam keluar 4 pria muda.


" Pak...kami memutuskan untuk menyusul, kita berangkat dari sini saja, semua sudah saya siapkan! " Ujar teriak pria muda yang paling tampan.


" Asistenku paling tahu dan mengerti kalau pimpinannya sedang sibuk menyiapkan diri jadi papi, makanya ia atur siasat, buat instruksi rombongan. " Bisik Maulana.


Detik berikutnya datang pula mobil patroli yang akan mengawal perjalanan sehari semalam mereka.


Ayu mengulurkan tangannya menyalami suami, setelah ayu mencium tangan suami, suami membalas dengan mengecup pipinya. Tak peduli mata para Jomblo yang kesilauan melihat kemesraan singkat namun hangat itu.


" Babbynya mungkin perempuan, nampak


dari kemanjaan dan kecengengan sang bunda! " Terdengar celotehan bi Ningsih yang membuat Ayu buru- buru mengusap airmatanya.


" Ayo kita lanjutkan acara berkebunnya bi.." jawab Ayu mengalihkan perhatian.


" Bibi mau memeriksa kebun bunga yang ini dulu. Ayo bisik biNingsih menarik Ayu kedalam rumah.


Bi Ningsih menyerahkan alat tes kehamilan pada Ayu.


Ayu mengernyit, teringat barusaja bercampur dengan suami dan ini sudah siang. " kita coba besok pagi ya bi...ini sudah siang." tolaknya lembut.


" Baiklah...tapi sekarang nak Ayu duduk diam aja ya, ngak usah bekerja, biar bibi dan Om Ujang yang beresin kebun termasuk menyiram. " ujar pinta Bi Ningsih.


Ayu tersenyum sembari mengusap pundak biNingsih...Oke...Aku akan bawa tikar keteras, sekaligus untuk memastikan tak ada yang curi mesra sebelum ikrar. " ujar Ayu.


" Baiklah...bibi patuh saja demi calon cucu. " Ujar Bi Ningsih dengan senyum centil.

__ADS_1


" Bibi sama saja dengan suamiku, sok tahu sebelum ada bukti.


" Makanya tadi bibi ingin membuktikan, tapi Nak Ayu pengennya besok pagi, terpaksa dech bibi nurut. " ujar cemberut bi Ningsih. Tapi dengan cekatan ia membawa tikar keteras, disertai bantal satu.


Ayu berjalan mengekori ARTnya itu.


" Ni sambil bobok- bobok cantik..." Ucap bi Ningsih.


" Oke...Ucap Ayu mulai duduk ditikar yang


sudah dikembangkan Ningsih.


" Kalau hasilnya positif, nanti bunda dan ayah turut gembira juga lho Bi..." Ujar Ayu saat biNingsih melengkapi santai nyonyanya dengan cemilan.


" Ibu mana yang ngak senang dapat berita gembira sayang...Bibi saja sudah tak sabar. " ujar Ningsih.


" Bi...tolong bilang sama om Ujang setop tukang rujak nanti kalau lewat ya.... " Pinta Ayu sedikit merengek.


" Oke nak...Biar om pesan lewat chatt aja,


kebetulan om punya nomornya. " ujar Om Ujang mengejutkan kedua perempuan beda generasi itu.


" Perasaan tadi masih duduk disana, kok dah nyampe sini aja? " tanya serobot biNingsih.


" Namanya juga raja kancil, jalannya cepat. " ujar Om Ujang.


" Iya om...pesanlah.. Ayu pengen makan itu secepatnya, rasanya ngiler bangat, tapi jangan pake nanas ya..banyakin jambu dan buahan lain. " pinta Ayu masih terdengar manja.


Om Ujang mengangguk sembari membuat pesan.


Hari berlalu tak begitu menjemukan buat Ayu, selain sebagai satpam cinta, ia juga menjadi mandor hari ini. Kedua pasangan tua yang baru mengenal cinta itu dengan cekatan membuat kebun disekitar rumah makin bangus dan variasi tanaman makin bertambah.


Saat mereka kedapatan saling usap keringat, Ayu langsung berdehem. Dehem peringatan lebih mengejutkan dari Alarm.


Akhirnya hari berlalu cukup menyenangkan. Ayu juga tidur dengan bi Ningsih dikamar bibi, tak mau sampe kebobolan.


Subuh itu mereka sehabis shalat berdua, mereka melakukan tes dari air seni Ayu yang sudah ditampung saat bangun tadi.


Beberapa menit mereka berdua menunggu dengan perasaan deg- degan.


" Akhirnya benar garis dua!!! " teriak senang mereka setelah melihat alat itu.


" Suut....Ayu minta bibi bantu rahasiain dulu sampai ia sendiri bawa kedokter. " ujar Ayu.

__ADS_1


" Ya nak...lagian usianya masih rentan, kita harus jaga hati - hati tu cabang bayi. "


ucap setuju bi Ningsih.


__ADS_2