My Love Ruler Of Another World

My Love Ruler Of Another World
Tangisan dimalam pernikahan.


__ADS_3

Malam Jumat Kliwon, malam yang sudah ditentukan untuk Ayu Sukma dan Sahman Maulana melangsungkan akad yang pernikahan mereka.


Dengan diantar tiga mobil yang membawa pengantin pria dan keluarga,


Maulana tiba dirumah Ayu sekitar jam Delapan malam.


Dirumah Ayu sudah menunggu Sanak famili, kaum kerabat, penghulu dan Petugas KUA Yang akan menikahkan mereka.


Begitu Maulana dan rombongan sudah duduk dirumah, Ayu dipanggil untuk meminta wali pada Ayahnya Pras. Disini aturannya begitu, walau sang ayah ikhlas menjadi wali, anak perempuan tetap diminta untuk meminta sendiri didepan umum, hanya merupakan kebiasaan dikampung yang sudah turun temurun.


" Ayah.. tolong nikahkan Ayu dengan bang Sahman Maulana.." akhirnya kata itu berhasil Ayu ucapkan setelah menarik nafas berkali- kali.


Maulana tersenyum melihat wajah cantik


Ayu yang nampak gugup mengucapkan permintaan itu.


" Mungkin selama ini Ayu tak pernah meminta pada ayahnya, ayahnya sendirilah yang memberikan apa yang dibutuhkan oleh putri semata wayangnya itu. Itu sebabnya ia begitu kikuk ketika memohon. " Batin Maulana.


Ayu menundukkan wajahnya, ketika mereka beradu pandang. Entah mengapa, malam ini Ayu sangat gugup, seperti tidak pernah saja berhadapan dengan orang banyak.


Kedua pengantin diminta mengaji. Maulana tentu mengaji dengan sangat baik. Sedang Ayu entah mengapa suaranya jadi serak dan nyaris hilang.


Tapi pegawai KUA maklum, sebelumnya Ayu sudah mengaji baik dikantor.


Setelah semua rangkaian acara pranikah itu dilakukan. Mempelai pria dan wali nikah diminta duduk berhadapan untuk melakukan Ijab Qobul.


Sahman Maulana...


Ya pak....


" Saya nikahkan Sahman Maulana dengan anakku Sukma Ayu binti Prastawa koncoro maharnya seperangkat pakaian shalat dibayar tunai.


Saya terima nikah dan kawinnya Sukma Ayu binti Prastawa Kuncoro bagi diriku, maharnya seperangkat pakaian sholat


dibayar tunai.


" Syah...Para saksi berseru bersamaan.


Pak imam memimpin doa bersama, setelah Ijab Qobul itu. Usai berdoa bersama, pengantin wanita diminta menyalami suaminya.


Maulana menatap wajah Indah dibalik kerudung putih bertahtakan mutiara yang


Ayu kenakan.


Ayu mengulurkan tangannya dengan bergetar. Maulana menyambutnya, kemudian Ayu mencium tangan suaminya. Maulanapun balas mengecup pipi istrinya.


" So Sweet! " Ucap para muda yang kebetulan melongok dari jendela rumah itu.

__ADS_1


Setelah perjamuan makan selesai, kedua pengantin menyalami orangtua mereka, para petugas, penghulu, tetua kampung dan handai taulan.


Usai salam- salaman, orang- orangpun kembali ketempat masing- masing. Tinggal para tetangga dan kerabat dekat membantu mengatur piring- piring kotor, kebelakang. Sebagian ada yang bertugas mencuci piring.


" Akhirnya kau dapatkan menantu yang tampan ya Aini! " Kata Bu Meri tetangga Ayu.


" Alhamdulillah...Ternyata setelah gagal berkali- kali, ada juga ternyata yang ditakdirkan berjodoh dengan Ayuku. " Jawab Aini dengan wajah cerah.


" Sebenarnya aku sangat berharap dulu Almarhum berjodoh dengan Ayu. Tapi ia ternyata umurnya singkat, Kecelakaan maut merenggut nyawanya, itupun terlebih dahulu ia mengkhianati Ayu dengan mengencani Putri kalian. Hingga celaka menjelang janjian yang kesekian kalinya. " Ujar Masda sari.


Sedang Meri pucat, dikatai begitu.


" Sudahlah dik Sari! Itu sudah berlalu, jangan mengungkitnya, itu hanya akan mengingatkan kita pada kesedihan dan penyesalan yang tak berguna. " Timpal Bu Rahma tetangga Ayu yang lain.


Maulana menghentikan langkahnya ketika mendengar percakapan para ibu itu.


" Ternyata ini bukdenya Almarhum, berarti apa yang dikatakan siluman itu benar! Ayu dikhianati dan kecelakaan dijalan ketika ingin menemui pacar selingkuhannya." Batin Maulana.


Detik berikutnya terdengar tangis Perempuan separuh baya yang bernama Masda sari itu.


Mendengar tangisan Itu, Ayu langsung menuju dapur. Bukde....Sudahlah...Ia sudah tiada..Bukankah ia sudah tenang disana, kenapa kita meratapinya lagi.." Gumam Ayu sembari memeluk Masda.


" Ya sayang.. maafkan bukde, buat Ayu bersedih juga, habis bukde terkenang dengan dia, teringat masa- masa kalian bertemu dirumah bukde dulu. Maaf...Bukan bermaksud merusak kebahagiaan Ayu dimalam pernikahan ini, hanya bukde teringat saja, rasanya hati ini pilu. " Curahan hati Masda.


" Ayu tak menjawab. Ia hanya mengusap bulir yang mengalir dipipi Masda, sedang Masdapun mengusap Airmata Ayu.


Tepat pukul 12 Lewat. Semua orang akhirnya kembali. Sekarang tinggallah Orang tua Ayu dan kedua pengantin.


" Jadi kalian bermaksud bulan madu kemana Man? " tanya Pras yang membuat Ayu tersintak kaget.


" Kenapa sayang...Teringat dengan dia? saat Ayah memanggilku begitu? " tanya Maulana dengan berbisik.


" Jawab dulu pertanyaan Ayah." balas Ayu.


" Anu yah...Kami tidak akan berbulan madu. Ayah tidak buru- buru mengusir kami kan? " Canda Maulana sembari tersenyum.


" Kalau kami sih maunya kalian disini saja. Tapi Mak Maulana pengawai pemerintahan, tugas Anak dikota, sedang Ayu sudah menjadi tanggung jawab nak Maulana, karna ia hanya guru honor yayasan biasa. Jadi ia sudah seharusnya mengikuti suami, terserah kepada kepala rumah tangga untuk mengatur istri disisi nak Maulana. Mau diizinkan dan dicarikan kerja, atau mau diminta jadi ibu


rumah tangga biasa itu keputusan kalian berdua. Sebagai orangtua, hanya satu yang kami minta. " Kata Pras sengaja menggantung kalimat terakhirnya.


" Apa Ayah? Ucap pasangan pengantin itu


bersamaan.


" He...He...Kompak kali kayaknya! Kalau begitu Cepatlah berikan kami cucu, kan sudah halal, jangan menunda lagi. " timpal Aini.


" Iya itulah yang kami minta, kami minta dengan sangat, karna kalian sudah cukup

__ADS_1


berumur, permintaan kami tidak berlebihan. " Kata Pras menyetujui istrinya.


Sedangkan kedua pengantin pipinya sudah memerah menahan malu.


" Sudahlah...Sebelum nikahkan sudah ngak sabar, masak sudah halal malah malu- malu. Ayo masuk dan bekerjalah!!! " Seru Aini yang membuat anak dan memantunya makin tersipu.


" Ya Tuhan...Kok orangtuaku yang semula kalem berubah jadi Bar- bar ya. Buat mukaku terasa makin mengecil didepan bang Maulana. " Ayu membatin.


Akhirnya dengan hati berdebar tak karuan, kedua insan yang sudah dihalalkan itu menuju kamar mereka.


Tanpa bicara, Ayu memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri.


Setelah Ayu keluar, Maulanapun menyusul.


Beberapa menit berikutnya, mereka sudah tenggelam dalam doa yang sangat


khusuk sehabis sholat.


Ayu mengulurlan tangannya pada Suami, dipenghujung munajatnya. Maulana menjabat tangan Ayu. Ayu mengecup punggung tangan Maulana.


Kemudian Maulana membacakan doa dikepala pengantinnya.


Ketika mereka sudah ditempat tidur. Maulana mendekap Istrinya. Ayupun membenamkan tubuhnya dalam pelukan suaminya. Kemudian mereka Renahan berdua.


" Sayang...Kamu terlihat capek sekali, apa perlu kita tunda permintaan mereka? " tanya Maulana ketika ia melihat wajah Ayu sangat kelelahan.


Detik berikutnya, ditelinga keduanya terdengar raungan seorang wanita. Tangisan itu begitu menyayat. Maulana sampai menutup kupingnya.


" Apa Ayu mendengar itu sayang? " tanya Maulana.


" Ya...Itu suara Zahra, istrinya raja Sahman. Apa Abang mendengarnya? " tanya Ayu balik.


" Ya...itu terdengar menyedihkan. Jadi ia sudah punya istri? " tanya Maulana.


" Sudah! Dua malah permaisurinya.


" Predator juga tuh dia! Tiga dengan Ayu? " tebak Maulana.


" Ayu milik Maulana! " Sanggah Ayu cepat.


" Sekarang iya! Kalau kemarin bukankah begitu? "


" Maafkan Ayu bang...rengek Ayu.


" Sudah berlalu! Sekarang gimana cara kita agar tak terganggu lagi oleh mereka? " - Maulana.


" Kita akan bicara nanti, sekarang kita tidur dulu! " Ajak Ayu sembari masuk kebalik ketek suaminya

__ADS_1


__ADS_2