
Maulana tertidur dikasur lipat, samping tempat tidur sang nenek. Sehabis Isya, karna asyik bercerita, ia tak sempat pindah kekamar depan. Ia malah sudah mendengkur. Dan dengkuran Maulana membuat sang nenek tersadar kalau ceritanya tak ada lagi yang mendengar.
" Aduh...Sudah masuk kealam mimpi rupanya ia. " Ucap sang nenek. Kemudian
mencoba pula memejamkan matanya ditempat tidur, setelah menyelimuti cucu semata wayangnya itu.
Maulana sedang duduk santai bangku panjang depan rumah nenek, dibawah pohon, sembari memandang kejalanan yang mulai sepi, karna malam semakin larut. Hanya sesekali lewat motor anak muda yang melakukan balap liar.
" Ih...anak muda zaman sekarang, ngak dikota ngak didesa, suka sekali melakukan hal- hal yang berbahaya bagi diri sendiri. " Cerocos Maulana lirih.
" Memang begitu model generasi sekarang...kalau sekedar balapan sih biasa, kalau ngak disertai dengan pesta obat dan Miras tidak terlalu bermasalah, toh dilakukan tengah malam, tidak mengganggu jalanan." Ucap seseorang yang membuat Maulana menoleh, bulu kuduknya berdiri, angin malam disekitar pantai itu nampak kian kencang.
Maulana hendak beranjak menuju rumah, karna merasa kurang aman dan nyaman karna tiba- tiba ada orang yang berperawakan hampir sama dengannya datang- datang langsung menimpali ucapannya dan duduk santai disisinya.
Ketika ia sudah berdiri, tangan kekar pria itu mencekal tangannya. Menatapnya dengan sorot yang sengaja dilembutkan, padahal Maulana tahu, sorot mata itu sangatlah tajam. " Mohon bertahanlah disini sebentar, aku ingin berbicara empat mata denganmu bro! Ini masalah Ayu, maukah dirimu meluangkan waktu sekejap lagi? " tanya pria itu, tatapan matanya kian dalam menembus batin Maulana.
" Ayu Sukma Cakra Prastawa Kuncoro?" tanya Maulana setelah kembali duduk.
" Iya...Ayu kita... Ucap pria itu lirih.
Batin Maulana bergejolak, ia sangat marah dan cemburu, seenaknya saja pria itu mengatakan Ayu milik dengan sebutan seperti itu. Seperti Ayu barang saja yang bisa dimiliki kongsi.
Maulana terkesiap dan kedua tangannya terulur kasar untuk menangkap Krah baju pria disampingnya. Ketika ia tak bisa menyentuh pria itu, iapun bertanya dengan lantang.
" Siapa kau? Berani mengatakan Ayu seperti mainan! " Bentak Maulana.
" Tenanglah...Aku tahu kau marah karna cemburu dan sayang pada Ayu, kau tak ingin Ayu terdengar direndahkan. Aku padamu, aku suka caramu mencintainya. " Ucap pria itu santai.
" Siapa kau? kenapa tanganku lolos saat ingin menyentuhmu, mengapa kau tampak nyata namun tak bisa dipegang. " tanya Maulana sembari menatap pria disampingnya dengan pandangan menyelidik, tapi nada bicaranya sudah mulai tenang.
" Aku adalah seseorang dari dunia berbeda, yang selama ini mendampingi Ayu. " Ujar pria itu masih terdengar santai.
" Sahman? Raja Jin gunung B itu? tanya Maulana.
" Iya...Aku sudah dekat dengan Ayu sejak Ayu terlahir diwilayah kerajaan ayahku. Aku mencintai Ayu sejak bayi. " jawab Sahman melirih.
__ADS_1
" Cinta! Apakah ada cinta semacam itu? kau mengada bro! kau bukan manusia, sebaiknya mencintai wanita dari golonganmu, jangan menahan wanita yang bukan bangsamu, bagaimana kau bisa membahagiakannya, dengan mengambil nyawanya untuk bisa hidup selamanya denganmu, itu terlalu egois, tidak kasihan pada orang tuanya, mereka hanya punya Ayu saja! " geram Maulana.
" Tidak! aku tidak akan seegois itu! walau aku menginginkan Ayu, tapi padanya aku tak bisa kasar, padanya aku tak bisa ekstrem. Aku tak sanggup melukai Ayuku
sedikit saja, termasuk melukai orang yang menyayangi Ayu dengan tulus, seperti ayah dan ibunya.
" Siapa yang bisa percaya ucapan siluman sepertimu, sedang manusia saja banyak penghianat, apalagi bangsa siluman! Kau pasti berpura- pura, setelah ini kau akan mengambil Ayu dari orang- orang yang mencintainya. " Ujar Maulana memancing emosi pria dari alam lain itu.
Tak ada jawaban penuh pemberontakan seperti yang Maulana bayangkan. Malah ia melihat pria perkasa itu mulai meneteskan airmatanya, mengusap bening yang tak terbendung itu dengan lengan besar dan tampak kuat itu.
Maulana mengerutkan dahinya, tidak pernah membayangkan dalam hidupnya, melihat pria segagah itu sesugukan, seperti pria tak berdaya.
Maulana tidak berkomentar, tak tahu harus berucap apa.
Pria itu menghembuskan nafas berat.
Lalu menatap Maulana dengan wajah memelas.
" Sulit mempercayai mahluk seperti kami, tapi aku berbeda bro...terutama menyangkut Ayu, aku mencintai Ayu sedalam hatiku, aku menyayangi Ayu melebihi diriku, semua yang Ayu cintai dan mencintainya dengan tulus, takkan bisa aku merenggutnya, karna tak bisa aku menyakiti Ayu. Dengan apapun aku bisa kejam, tapi dengan Ayu aku tak bisa!
" Benarkah? bagaimana aku bisa membuktikannya? Apa yang bisa kulakukan? " kejar Maulana penuh penekanan.
" Cintai Ayu sepenuhnya jiwamu, sayangi ia sebisa dirimu, miliki dia dengan menikahinya, Ia sudah gagal nikah tiga kali, ia selalu dikhianati lelaki, jangan lakukan itu lagi padanya. Segerakan pernikahan kalian, dan jangan pernah menduakan Ayu, apalagi meninggalkannya! " Ujar Sahman dengan pandangan berkilat.
" Apa kau akan mengambil ragaku sebagai tempat tinggal untuk bisa bersama dengan Ayu selamanya, untuk itu kau pinta aku menikahinya? " tanya Maulana masih menguji emosi pria ini.
" Aku akan membunuhmu sekarang juga! Apa kau sudah siap mati untuk Ayu? " Ucap Sahman mulai gusar dengan perkataan Maulana yang tak kunjung mengerti ucapannya.
Maulana tersenyum. Lalu menatap siluman itu." Kalau nenekku sudah tiada, aku tak punya siapa- siapa lagi. Tapi nenekku masih bernyawa, ia sudah tua dan tak ada yang ia miliki dihari tuanya selain aku, aku besok akan mencarikan pengasuh untuknya. Kalau aku mati, tak akan ada yang mengurus nenek dan menggaji pengasuhnya. Andai aku tak punya nenek yang masih tersisa dihidupku, tentu aku mau mengorbankan diri untuk cintamu dan Ayu. " Ucapnya santai dan terdengar tanpa beban, kata- kata itu murni keluar dari lubuk hatinya yang paling dalam.
" Kau bodoh Maulana, untuk apa kau berkorban, andai tak ada nenekmupun aku tak menyukai nyawamu, kau orang baik, haram darahmu bagi seorang raja Sahman. Aku pernah melenyapkan pria yang sudah mengkhianati dan mencoba untuk memperkosa Ayu, tapi aku tak mengambil tubuhnya sebagai pion.
Aku tahu cintaku terhadap Ayu takkan berhasil, tapi aku disisinya, untuk memastikan tiada lagi yang menyakitinya. Kami sudah punya perjanjian tertulis, aku memang bukan manusia, tapi aku tak suka melanggar janji, terutama janjiku pada perempuan yang kucintai. Jika ada yang mencintainya dengan benar dari bangsanya, maka aku akan melepasnya." jelas Sahman.
" Bagaimana ia bebas darimu, sedang bayangmu bercokol dihati dan benaknya? " tanya Maulana.
__ADS_1
" Bawa ia ke Tuan Guru diPasantren Al Barkah, setelah ia dipertemukan dengan kiai itu, Insya Allah ia akan bisa menerimamu. Nikahi dia, setelah itu berjuanglah untuk mencintainya seumur hidupmu. Jika sampai suatu hari kau mencoba menyakitinya, tentu perjanjian kami akan Batal, aku akan mengabilnya
lagi darimu, tidak peduli kau menyesali perbuatanmu.! "
" Aku takkan membiarkan siapapun mengambil Ayu kalau ia sudah menjadi milikku ! Tengas Maulana sembari mengepalkan tinjunya.
" Maka jaga ia selamanya, sampai ujung nyawamu! " Titah Sahman lebih tegas lagi, disini nampaklah Auranya sebagai raja.
Maulana terbangun ketika tubuhnya menggigil, Azan subuh berkumandang. Ia menemukan dirinya terlelap dibangku panjang dibawah pohon beringin didepan rumah nenek.
" Astagfirullah...mengapa aku tertidur disini, bukankah tadi aku tidur disamping dipan nenek. Selimut ini ? pasti nenek yang memberikannya, tapi bagaimana aku keluar dan berbaring disini?
Ya Allah...aku berjalan dalam tidurku, malah bertemu pula dengan pria itu. Mana dia? Oh... Ia memasuki alam bawah sadarku. Aku baru saja bicara Empat mata dengannya. Aku harus cepat- cepat masuk, nanti nenek memarahiku kalau tahu aku berjalan lagi ketika tidur. Maulana menepuk jidatnya.
Dengan menyandang selimut tebal , ia bergegas masuk kedalam, memeriksa rumah apa ada kemasukan maling, karna ia sudah membuat pintu terbuka.
Setelah memastikan semua Aman, Maulana melipat selimut dan kasur lipatnya. Lalu bergegas kekamar mandi membersihkan diri.
" Man...Cepatlah, nenek kebelet nih...tak tahu ini sudah los, nanti pipisnya menyerak, kau juga yang bakal susah mengepelnya! " teriak sang nenek dipintu kamar mandi.
Untung ia sudah selesai.
Ia segera keluar, nenek menggantikannya
masuk, masih berdiri ledakan air terjun itupun berdesir.
Maulana tersenyum, lalu berlari menuju kamar depan. Memakai baju Koko dengan sarung bersih, menggelar sajadah lalu menunaikan kewajibannya.
Siang menjelang sore, Maulana menjemput Ayu dengan alasan nenek merindukannya. Ayu menurut saja karna arahnya sama. Begitu mobil sudah menempuh jarak 4 Km, tepat disimpang tiga. Maulana belok kanan, membuat Ayu protes.
" Kemana kau mau membawaku bang? kau tidak ingin menculikku kan? " tanyanya.
" Benar dik...aku ingin menculikmu setelah ini, tapi kita jalan - jalan dulu ke Al Barkah. Tidak keberatan kan? " tanya Maulana balik.
" Ketempat pamanku? Baiklah...siapa takut! " ujar Ayu mulai riang.
__ADS_1
Bersambung....