My Love Ruler Of Another World

My Love Ruler Of Another World
Ngebet Kawin.


__ADS_3

Subuh hari, Maulana heran mengapa istrinya begitu sulit dibangunkan. Biasanya pautan hati Maulana ini, akan langsung terbangun begitu fajar mulai menyingsing. Ini sudah berkumandang azan pertama, Ayu belum juga mau bangun walau berkali- kali Maulana mengguncang tubuhnya.


Maulana berkali memeriksa denyut nadi Ayu dengan cemas. Ya Allah...mengapa istriku begini? perasan semalam tidak terlalu berlebihan." Gumamnya dengan keringat yang mulai keluar karna takut terjadi apa- apa dengan Istri dan calon buah hatinya.


Maulana kembali menggoyang tubuh Ayu sembari berfikir keras bagaimana membangunkan istrinya. Ia kemudian mengambil Air mineral dari kulkas, mengusapkan kemuka Ayu, namun usahanya belum berhasil, Ayu masih belum juga bangun, tubuh Ayu nampak keras dan wajahnya keringatan.


" Om Ujang! Bi Ningsih! " Teriak Maulana yang mulai menangis.


Kedua pasangan yang lagi mandi itu, buru- buru mengeringkan tubuh dan memakai baju mendengar teriakan majikannya.


" A- Ada apa den Lana? " tanya Ujang gugup didepan pintu.


Hik, lihatlah istriku tak mau bangun om, bi Ningsih..." Maulana memandang kedua


Asistennya dengan tatapan putus asa.


" Ayo kita bawa kerumah sakit." Ujang segera menyerobot masuk diikuti istrinya.


Ningsih memeriksa Alamat- alamat Ayu.


" Ini tidak ada obatnya dirumah sakit. " Ujar Ningsih.


" Trus?" tanya cemas kedua lelaki itu hampir bersamaan.


" Cepat ambilkan Jerapah kuning Kaukasia Kang! " Titah Ningsih pada Ujang.


" A - apa itu? " Tanya Ujang bingung.


" It- Itu Jeranga kunyit bungle om. " Jawab Maulana dengan terbata. Ia masih


sangat takut melihat istrinya yang belum juga bangun.


Dengan cepat Om Ujang berangkat menuju taman apotek hidup Maulana dibelakang.


Ningsih menatap Maulana, sembari terus memijiti Ayu dititik- titik penting syaraf yang menyambungkan dengan memory.


" Den Lana sebaiknya mandi." Kali ini bi Ningsih yang memerintah Maulana.


" Tapi- Bi isteiku?" Maulana tak tega meninggalkan istrinya yang belum jelas keadaannya.


" Tenanglah...Bibi yang atasi, yang penting mandi dulu biar sholat subuh." Ucap bi Ningsih tenang.


Dengan langkah gontai Maulana menuju kamar tengah untuk mandi. Maulana mandi dengan cepat, yang penting niat dan tidak ada satu helai rambut pun haluspun yang tidak basah.

__ADS_1


Sementara bang Ujang sudah tiba dikamar, membawa obat pesanan istrinya.


Setelah mengunyah kedua tanaman obat yang sudah dibersihkan Ujang itu, Ningsih meminta suaminya memanggil Maulana.


Baru saja Ujang mau berangkat, Maulana sudah tiba disana.


" Pegangi nak Ayu bersama Bang Ujang." Pinta Ningsih. Walau Maulana ragu dan bingung dengan apa yang akan dilakukan Ayu, ia tetap patuh demi keselamatan istrinya.


" Bacakan ayat- ayat Ruqiah. " Pinta Ningsih lagi, kemudian entah apa yang ia baca, kemudian perempuan itu menyembur kepala Ayu.


Ayu membuka matanya dengan menyeringai tajam. Mata itu sangat merah. Mulut Ayu mengeram keras.


" Apa urusanmu mengganggu kami perempuan centil! " Tanya Suara yang tidak dikenali oleh Maulana dan Ujang.


" Fokus baca Ayatnya. " Bisik Ujang terus memegangi Ayu yang tubuhnya mengeras dan menggeliat kuat ingin lepas.


" Kalian perempuan siluman tak tahu diri, keluar dari tubuh putriku!!! Dasar dedemit ngak tahu aturan.


Huurfff...


" Teriak Ningsih menyembur Ayu.


Terdengar teriakan dan lolongan keras disertai tubuh Ayu yang melemas.


" Dasar raja dedemit tak tahu diri! " Bawa pulang istri- istrimu, mengapa membiarkan kedua istri gilamu berani memasuki tubuh Nyonyaku! Hey! " Hardik


" Baik, aku akan membawa dan menghukum mereka, terima kasih sudah memanggilku. " Ucap Salman sendu, kemudian menyilangkan tangannya memberi hormat pada Ningsih. Kedua lelaki itu tidak bisa melihat, tapi suara Maulana dapat mereka dengar.


Ayu mengerjabkan matanya dengan berlinang airmata, memandang sekeliling dengan wajah letih.Maulana menghambur ketubuh istrinya, darahnya kembali kemuka, melihat istri sudah tak apa- apa.


Sebelum Maulana sempat berkata, Ningsih lebih dahulu menyela.


" Mereka sudah pergi dan takkan berani balik, Cepat sediakan air hangat Kang, biar den Lana memandikan istrinya. Setelah itu kita jamaah, hari hampir terang. " Titah Ningsih.


Tidak memberi kesempatan pada pasangan itu berlama- lama peluk- pelukan. Pagi ini Ningsih menjadi ratu yang tak dapat dibantah.


Ujang berlari kekamar mandi mengatur Suhu air diBathtup." Sudah den. " katanya segera menyeret istrinya keluar kamar.


" Ayo kekuar NYI ratu dedemit! " Ujarnya menggoda Ningsih.


Ningsih mengangkat suaminya, menggendongnya model Koala, lalu memelototi lelaki itu.


" Kalau waktu subuh tidak sudah mepet, sudah kuperkosa kau lagi! " Ucap Bi Ningsih.

__ADS_1


Aww!!! " Turunkan Aku ratu demit! Kan katanya mau wudhu." teriak Ujang berkilah.


Ayu dan Maulana terkikik geli mendengar celotehan pasangan baru yang aneh itu.


Cepatlah! Nanti bi Ningsih menarik om Ujang kekasur lagi, jadi terjerat rayuan siluman semuanya. " Sarkas Maulana segera mengangkat Ayu kekamar mandi dan munurunkannya di Bathtup.


Setelah Ayu mandi, dan semua bersuci, maka sholat subuh berjamaahpun dilaksanakan oleh mereka dengan khusuk, diimami oleh Om Ujang.


Usai Sholat dan bermunajat, Maulana memandang istrinya, beralih pada Om Ujang dan Bibi Ningsih.


" Alhamdulillah...Istri dan bayiku terselamatkan tepat waktu. Terima kasih Bi dan om, tidak disangka kalian pasangan yang uniq dan ajaib, berkat kepandaian bi Ningsih dan keligatan om Ujang, semua musuh mistik yang berani merasuki tubuh Istriku akhirnya kabur, tanpa banyak perlawanan. " Ujar Maulana


sembari menyilangkan kedua tangannya didepan dada.


" Iya bi, Ayu tak sangka bibi ternyata Bibi Indigo dan terkenal didunia hunian, hingga raja Salman saja tertunduk patuh. " Ucap Ayu lirih karna tubuhnya masih belum kuat habis bertarung mempertahankan Bayinya dari kedua wanita siluman Nini dan Zahra.


" Ngak ada tuh, bibi cuma Ningsih si bibi penggemar sinetron Indosiar, ngak ada indigo- indigo yang nak Ayu katakan. " Jawab Bi Ningsih menunduk.


Ayu menghambur memeluk biNingsih.


" Tuhan mempertemukanku dengan orang- orang Istimewa, untuk membantuku keluar dari rong- rongan dendam mahluk masa lalu yang pernah salah kujalani." Bisik Ayu.


" Ini karna Nak Maulana begitu mencintaimu sayang, jadi tiada yang punya alasan untuk membawamu kembali kedunia luar jalur itu." Balas Ningsih dengan berbisik.


Melihat kedua bidadari mereka asyik bisik- bisikan, kedua pria itu mengernyit.


" Kapan sarapan pagi akan disiapkan ni Ratu? " Tanya Ujang membuat Ningsih melepas dekapannya pada Ayu.


" Ayu bantu bi. " Ujar Ayu mengikuti Ningsih berdiri.


" Istirahat sikamar sayang, biar Asisten bibi Yang biasa saja, kan sudah halal, jadi ngak apa senggol- senggolan didapur. " Ujar Ningsih menyeringai centil, membuat wajah Ayu memerah.


Maulana membawa istrinya kembali kekamar." Nanti siang akan kudatangkan dokter dengan peralatan USGnya kesini. " Ujar Maulana setelah mereka membaringkan Ayu dikasur, membuka mukenanya pelan- pelan.


" Kan Berat tu alat - alat bang, tunggu Ayu kuat saja biar kita kerumah sakit buat periksa. " Usul Ayu.


" Tidak menerima penolakan, Nanti temanku dokter Aulia SpOG akan datang dengan perangkatnya kesini." Ujar Maulana.


Ayu merenggut mendengar nama dokter perempuan yang disebut teman oleh suaminya.


" Jangan cemburu sayang, ia sudah beranak dua, masih dokter umum aja dulu, dia sudah ngebet kawin. " Ujar Maulana faham maksud wajah cemberut Ayu.


Ayu kemudian menyembunyikan wajahnya dibalik bantal. " Kedapatan! " Batinnya.

__ADS_1


" Cemburu tanda cinta! " Ujar Maulana bangga, kemudian menghujani tengkuk istrinya dengan kecupan, membuat Ayu berbalik. Begitu Ayu berbalik, Maulana sudah mendekapnya Erat.


" Diam dan tenanglah sayang, Abang hanya ingin memeluk saja. " Bisiknya. Walau Sobona, gajah berbelalai panjang dibawah sana sudah menggeliat, Maulana mengabaikannya, karna ia tidak ingin membuat Ayunya tepar lagi.


__ADS_2