My Love Ruler Of Another World

My Love Ruler Of Another World
Kalau Abang sih mau saja.


__ADS_3

Setelah kembali kekota P, kehidupan mereka kembali berjalan seperti biasa. Dirumah besar ini mereka selalu bekerjasama mengerjakan semua tanpa ada perbantahan yang berarti. Bi Ningsih dan


om Ujang tentu makin setia menjaga kebutuhan kedua pasangan ini. Apalagi perut Ayu seiring waktu semakin serat. Bibi tak memberi izin lagi untuk melakukan kegiatan- kegiatan yang menguras tenaga.


" Kalau mau keringatan, cukup dengan jalan pagi sambil kemasjid dengan suamimu, kalau masih kurang juga berbagi peluh dikasur. " Ujar Bibi Ningsih tak berfilter membuat wajah Ayu menjadi merona merah menahan malu.


" Bibi ini..." Rengek Ayu menunduk, apalagi itu dikatakan Ningsih didepan om Ujang.


Om Ujang yang melihat nyonyanya malu segera beranjak dari dapur.


" Tak usah malu sayang...Karna Ayu berencana mau lahiran normal, sebab dokter Aulia mengatakan bisa normal, ya dukun beranak kadaluarsa kayak bibi ngasih saran agar sering- sering main jungkat jungkit dengan suami, biar jalan lahirnya makin lancar. " Ucap Ningsih lagi tampa sungkan.


" Ya ampun bi...Kalau kerja didapur bibi bilang nanti takut tenaga Ayu banyak terbuang kalau banyak kerja. Ini malah nyaranin kerja berat dikasur. " Sungut Ayu.


" Bedalah sayang...Kalau ditempat tidurkan Abang yang banyak bekerja. " Ujar Maulana begitu tiba.


" Ihhhh....Tu kan bibi, dia jadi dengar, bisa tiap hari ntar dia minta kalau udah gini. " Cemberut Ayu. Ayu


merenggut dan segera berjalan cepat menuju kamar dengan bibir mengerucut. Ia tidak menatap suaminya sedikitpun karna sebal dengan kemesuman bibi dan suaminya.


" Sayang...jangan lari- lari. " Ujar Maulana segera menahan langkah istrinya, lalu ia menggendong Ayu yang sudah sangat berat menuju tempat tidur.


" Patuh sekali pada bibi dan suami istriku yang cantik ini. " Bisik Maulana seraya mulai membuka pakaian Ayu.


" Abang mau apa? " Ujar Ayu seraya menepis tangan nakal suaminya.


" Kan biasanya kepanasan dan meski buka baju kalau sudah dikamar. " Balas Maulana cuek. Seakan matanya tak melihat bibir istri yang cemberut. Ia terus saja membuka semua yang dikenakan istrinya dan mulai meraih remot untuk menutup pintu.


Seperti biasa setelah diajak bergelut, Maulana tak perlu lagi merengek, Ayu dengan sendirinya akan membuka jalan lahir baby mereka untuk suami nengokin dedek yang didalam sana. Bahkan kalau Maulana lengah, Ayu tidak akan segan mengambil apa yang sudah menjadi miliknya. Kehamilan membuat wanita ini menjadi sangat agresif begitu mendapat Impuls dari tangan lihai Maulana.


Malam ini Ayu sudah merasakan pinggangnya sakit saat Maulana menghujamnya walau dengan begitu


pelan dan lembut seperti biasa.


" Bang...Sepertinya baby kita sudah dekat dijalan lahir, kayaknya besok udah brojol nih. " Ucap Ayu disela kegiatan enak mereka.


" Abang juga merasa begitu, makanya makin pelan.


rasanya masih enak kalau disini kan sayang? "

__ADS_1


Ayu mengangguk cepat. " Disini masih enak bang, makanya masih meram melek. Yang ngak enak dipinggng. Itu sebabnya Ayu pasrah aja dari tadi, ngak kuat lagi goyang. " Balas Ayu sembari tersenyum malu.


Maulana segera memagut bibir tipis nan manis itu


dengan bibir tebalnya nan sensual. Pertautan bibir itu makin dalam, seiring ribuan pasukan yang melesak dari bawah sana, siap melumuri kepala dedek bayi yang ada didalam rahim ibunya.


" Ughhhhh... Leguhan keduanya bersahutan. Tubuh keduanya melemas.


" Makasih sayang...Maulana mengecup kening Ayu berkali- kali setelah kembali mendapatkan kekuatannya sehabis pelepasan yang baginya tetap sangat indah,walau tubuh istrinya sudah tak langsing lagi.


" Dua bulan akan berpuasa setelah ini. " Ujar Ayu yang membuat Maulana kembali merangkak keatas tubuh gembung Ayu.


" Bang...sudah dong... Nanti kepala anaknya jorok


banyak- banyak disiram kecebongmu. " Sungut Ayu


karna suaminya kembali mencumbuinya.


" Kan setelah ini bakal puasa lama, jadi izinin Abang menikmatinya sebelum waktu puasa wajib itu tiba. Untuk urusan kepala dedek, Abang punya cara buat bayi kita lahir bersih, selama ini sudah Abang jalankan usahanya kok sayang. Adik tak perlu khawatir, ia insya Allah anak kita lahir bersih. " Jawab mantap Maulana. Walau awalnya Ayu bingung, tapi kemudian ia mengangguk patuh dan mulai kembali membalas cumbuan Suami.


" Kata bibi, Abang harus rajin buka jalan lahir.Ucap Maulana begitu Ayu kembali terlihat menikmati dan


membalas cumbuan nya.


" Aamiin..." Seru Maulana lantang. Selantang usahanya untuk kembali mendaki puncak orgasme yang selalu menyisakan nada dan denyutan indah yang tiada Tara.


Ayu juga merasakan keindahan yang sama. Semua yang dilakukan atas nama cinta ternyata sangat syahdu dan mengesankan. Walau pinggang sudah mau patah rasanya, tapi nikmat yang satu itu masih


bisa mengalahkan rasa sakit itu.


Seperi biasa, setelah meraup manisnya cinta sang istri. Maulana tak lupa menyerfis Ayu dengan rapi sebelum bobok, mulai dari membersihkan, memberi susu, minuman alami, sampai membedaki perut agar tidak stretch mark. Semua Maulana lakukan dengan lembut dan penuh kasih, membuat Ayu merasa sangat beruntung memiliki suami seperti Maulana. Maulana benar- benar ingin menghapus semua kenangan Ayu dengan kekasih beda dunianya, dengan kasih sayang yang bisa ia curahkan dengan segenap jiwanya.


" Bila dia rakus, aku lebih maniak. Andai dia sayang dan lembut aku lebih penuh kasih. Aku tidak akan membiarkan istriku mengingat sentuhan lain selain belaianku. Aku takkan beri waktu untuk Ayuku mengingat masa lalu, karna aku akan menjilat semua jejak yang ada dimasa lalu dilahir dan batin istriku dengan tangan bibir dan lidah dan hatiku. " Tekad Maulana setiap teringat pada pria gagah beda dunia yang pernah menggagahi Ayu sebelum bertemu dan menjadi miliknya.


" Bang...Kenapa belum tidur? Masih mau buka jalan lahir? " Goda Ayu begitu terbangun tengah malam kepergok suaminya yang masih memandanginya dengan penuh kasih.


" He...He....Ngak kok sayang...Mana Abang tega sampe tiga ronde dengan kondisimu yang seperti ini. Abang baru saja suap Shalat, mau bobok lagi terpesona dengan kecantikan istri. " Balas Canda Maulana.


" Kalau gitu ngak usah tidur lagi, nanti terlambat subuh, buatkan aku nasi goreng seafood, rasanya laper nih." Pinta Ayu seraya mengusap perut buncitnya.

__ADS_1


" Oke sayang...Tunggu 15 menit semua akan siap disuapkan buat istri tercinta! " Ujar Maulana sembari turun dari tempat tidur.


" Tunggu dulu! " Panggil Ayu ketika Maulana sudah mendekati pintu.


" Cium dulu...." Rengek Ayu dengan memajukan bibir bawahnya.


Maulana langsung berbalik dan memenuhi permintaan Ayu. Cepat- cepat Maulana menyudahi pagutan bibir itu, takut nasi gorengnya tak jadi kalau masih berlama- lama dekat Ayu.


Maulana dengan tergesa keluar dari kamar dan bergegas menuju dapur.


Lima belas menit kemudian nasi goreng pesanan Ayu siap sepiring jumbo.


" Masak apa nak? kenapa tak bangunin bibi tadi? " Ujar Bi Ningsih melihat Maulana keluar dari dapur dengan membawa sepiring nasi goreng.


" Ini pesanan ibu dan bayinya khusus mau nasi goreng buatan bapaknya bi. Bibi tenang saja, ini kurasa lezat. " Jawab Maulana penuh percaya diri.


" He...He...Kalau begitu selamat makan berdua. Kalau harumnya cukup menggoda sampai membangunkan bibi. " Ucap bi ningsih mengendus- endus, sedang mulutnya sampai ngences melihat sajian yang dibawa Maulana.


" Kalau begitu coba aja bi. Diwajan masih ada seporsi lagi, tapi tidak sebanyak ini. " Kasihan melihat Bi Ningsih terlihat ngiler begitu.


" Benarkah...Sepetinya bibi juga ngidam. Jangan Nursal kalau nanti bibi habisin ya nak. " Ucap bi Ningsih.


" Ya! tapi jangan lupa cuci muka dulu." Tunjuk Maulana pada wajah kusut bi Ningsih.


Bi Ningsih tertunduk malu, lalu mengangguk.


Maulana tersenyum lebar meninggalkan Artnya itu dan segera membawa pesanan istrinya kekamar.


Ayu menyambutnya dengan senang. Mereka suap- suapan hingga nasi goreng porsi jumbo itu habis


ludes.


Setelah memberi Ayu minum, Maulana bermaksud menghantar piring kedapur. Namun Ayu melarangnya.


" Tarok dimeja nakas saja, nanti biar bibi yang beresi, sekarang kesini dulu, aku mau Abang buka jalan lahir lagi. " Pinta Ayu tanpa sungkan.


" Apa adik masih kuat? Tanya maulana tak yakin setelah menarik piring dinakas.


Ayu merenggut dan berbalik punggung.

__ADS_1


" He...He...sayang...kalau Abang sih mau saja cinta... Takut adik kelelahan saja." Bujuk Maulana seraya membalikkan tubuh Ayu kembali menghadapnya. Iapun dengan lembut kembali mencumbui istrinya. Menjelang pagi tiba ia kembali


mengayuh biduk sarat beban itu atas permintaan yang punya badan. Walau sangat sulit ia tetap berjuang menuju pulau impian keduanya hingga jelang azan pertama barulah mereka benar- benar sampai.


__ADS_2