
Sejak dari pagi rombongan melakukan acara ." Sisir bersih pantai P ", dengan melibatkan pimpinan daerah, pemuka masyarakat, warga sekitar dan bahkan turis domistik.
Maulana mengusap keringatnya dengan sapu tangan. Sapu tangan yang sengaja ia bawa untuk melepas rindu, karna disapu tangan itu ada stempel bibir bidadari hatinya . Teringat bagaimana mendapatkan stempel itu kemarin malam, pipi Maulana merona sendiri, seperti tomat masak.
Untuk berpisah sehari semalam saja, Maulana sampe membuat
stempel bibir istri disapu tangannya, Dengan memakaikan lipstik kwalitas minim kebibir istri dan mencuri stempel kecupan itu saat Ayu tidur.
Sebelum mulai perjalanan Maulana sudah membuat panggilan, sedang dijalan juga, habis makan siang lagi, tapi tak satupun yang dijawab. Membuat wajah tampan Maulana semakin terlihat keras dan malas senyum, apalagi
ditambah teriknya mentari hari ini, ditambah banyaknya ditemukan cela kesucian tempat wisata yang mereka telusuri.
Melihat Bos yang nampak berbeda hari ini, setelah mereka tinggal berlima, jiwa nakal Fian tiba- tiba bangkit untuk menggoda.
Ehem...setelah berdehem, iapun berpantun.
" Dahulu nak berpintu papan
Sekarang papan nak sama terali .
Dahulu rindu nak sama makan.
Sekarang kangen nak sama mandi".
Dibalas pula oleh Udin.
" Kalau perahu sudah merapat
Pake tambang ikat ditepi
Kalau rindu sudah merekat.
Rame sekampung rasa sepi. "
" Ciha!!! disambung lagi oleh Eris
Tentu sepi rasa dilapak
Sibuk nya lagi zaman pesanan
Tentu sepi rasa bapak
Ibuknya lagi dalam lamunan.
Maulana yang semula merasa dadanya panas dingin karna istri tak menjawab terfon, ingin tertawa karna pantun - pantun aneh anggota rombongannya, tapi sebagai ketua, ia tak mau kehilangan
wibawa, maka ia membalas mereka dengan senyuman tipis saja.
" Jauh dari Cinta membuat harga tawa sangat mahal rupanya. " dengus batin Fian karna pancingannya tak tepat sasaran.
Dehem magnetis keluar dari tenggorokan
__ADS_1
sang pemilik kharisma.
" Kalau Tabuk dipariaman.
Tari Jawa diantaranya Jaipong
Walau ibuk dalam lamunan.
Lagi kerja tak segitunya bengong. " Balasnya membuat anggota tutup mulut.
" Mampus! Sindiran yang berbalik." batin Eris. Yang kedapatan sedang bengong, lantaran teringat belum sempat ngirim biaya kuliah adiknya dikota M.
Ketika semua anggota saling pandang, telfon sang ketua berdering.
Maulana menatap layar, melihat panggilan dari my Engel, iapun menahan senyumannya.
" Kalian mulai saja ntar begitu udah pada ngumpul ya, bapak angkat telfon ibu dulu. " titahnya sembari menatap tajam dan dingin pada Alfian dan yang lain bergantian, membuat keempat pemuda itu tertunduk, bak kucing yang baru dapat
pukulan.
" Ba- baik pak! " jawab serentak mereka gagap.
" Makanya, Mentang- mentang dapat pimpinan manis, lalu mengira bisa berleluasa, jangan harap!" Batin Maulana masih dengan aura mencekam.
" Kan kau selalu seruangan dengan bapak, apa begitu juga Auranya biasa? " tanya bisik Eris setelah Maulana pergi.
" Ada waktunya hangat, ada pula sisi menyeramkan. " jawab jujur Fian.
Plak...
Bugh...
Jitak, timpuk dan tinju mendarat ditubuh Fian dari ketiga pemuda itu.
" Aduh...Kalian menganiayaku. " keluhnya dengan wajah memelas.
Ger..
Ketiga kawannya tertawa puas.
" Salahmu juga, sudah tahu pimpinannya begitu, berani pula kau mulai menggoda, kami yang mengira aman tentu mengikuti permainmu, ternyata itu cukup berbahaya." Ujar kesal Udin.
" Sory...Kukira cinta telah merubah gaya kepimpinannya. " Jawab pelan Alfian.
" Busyet kau fi...Kau kira bapak itu sama dengan hikayat lebai Malang, ragu- ragu karna bisikan angin, orang yang frofesional, hanya berubah saat dirumah, ditempat kerja tak ada lagi pengaruh siapa- siapa, untung aku tak bisa berpantun seperti Kalian, tapi walau begitu dapat sorot seram juga aku." timpal Dadang bersesungut.
Setelah melihat wajah cantik istri tersenyum didepan layar, seakan semua hawa panas berubah jadi sejuk, ribuan pohon asmara tiba- tiba, tumbuh rimbun meneduhi hati Maulana.
" Sayang...maaf ya, adik asyik pijitan sama bibi, hp tertinggal dikamar, jadi baru tahu Abang banyak nelfon, sory sayang... nanti dibayar dech hutang kesalnya." Ujar bibir manis sang istri seperti sudah memahami seluruh isi hati kekasih resminya.
" Masak bibi aja sudah bisa membuat adik melupakan suami." sungut Maulana.
__ADS_1
" Mana bisa lupa, orang cinta Abang sudah menancap dijambang." Rayu sembarang Ayu.
Tubuh Maulana menjadi panas membayangkan perkataan istri yang terdengar erotis, dengan spontan ia memegang yang dibawah yang langsung menjulang. Ayu yang baru sadar suaminya salah faham jadi merona.
" Busyet! Salah pagut. Ehh bukan! salah sebut. " Celetuk hati Ayu.
" Maksudku jambang diatas lho yang...kok malah usap yang disitu! " protes Ayu setelah mengatasi gedebuk hatinya.
" Atas bawah sana saja sayang...pokoknya Abang ngak sabar pengen cepat pulang." ujar senang Maulana.
Ayu mengangkat bahu dengan tatapan mengalah. " Ya...adik juga tak sabar pengen dimandiin sama yang tercinta. " jawab sarkasnya.
" Toh mau jawab apa arahnya pasti sama, mending tuntasin saja nyenangin hati suami." batin Ayu.
" Oke.. tunggu Abang selesaikan dulu acaranya, begitu sampai, walau tengah malam, Abang tetap bangunin adik lho." tuntut Maulana.
" Terserah tuan muda, hamba patuh saja. " ujar Ayu.
" Abang tak mau adik patuh, tapi nurut. " balas Maulana.
" Isss...Apa bedanya?
" Bedalah...patuh itu untuk bawahan, sedang menurut itu untuk pasangan. Pasangan wajib saling turut menuruti, agar bahtera rumah tangga satu haluan, agar pulau impian tercapai dan keduanya merasakan kebahagiaan. " jawab jelas Maulana.
Ayu hanya bisa tersenyum lebar dibalik layar, untuk menjawab ia kehabisan kata.
" Abang kerja dulu, nanti malam baru ngerjain. " ujar jahil Maulana.
Ayu mengangguk kemudian menutup telfon Vidio itu.
Melihat bibi yang sudah tiada, iapun lanjut menelfon sang bunda.
" Wah.. senangnya yang baru telfonan. " ujar bibi baru datang dari depan.
" Seharusnya bibi bersyukur, dengan Ayu sibuk telfon, bibi punya waktu buat intipin
partner terbaik. " Sindir Ayu.
" Ngk kok non.. cuma ngantar makan saja. Sekarang tinggal giliran ngasih calon mommy makan, biar babbynya sehat dan cepat numbuh." celetuknya sebelum berlalu kedapur untuk menyiapkan makan untuk Ayu.
Ayu mengekori bibinya, melihat pintu belakang terbuka, dibelakang terpampang kebun buah suami siap panen, liur Ayu rasa ingin jatuh.
" Ayu malas mangan bi..pengennya Jus mangga dan jus naga. " rengek Ayu.
He...He.. " Kedengarannya segar Dua- duanya, boleh dech. " jawab riang bibi sembari berjalan menuju kebun belakang.
Hanya membutuhkan waktu sepuluh menit saja, kedua jenis jus pesanan nyonya sudah siap terhidang. " Buat untuk bibi dan Om Ujang, setelah bagian kalian siap, baru Ayu minum ini. " titah Ayu.
" Oke lah..." jawab patuh bibi mulai memotong buah lagi.
Akhirnya ketiga orang itu minum jus didapur sembari tertawa senang.
__ADS_1
Karna ruang dapur dipasangi Camera, Maulana dapat menonton istri dan pasangan belum resmi itu dari telfon genggamnya.
" Kiranya senang sekali ni istri jadi mandor cinta." lirihnya sembari geleng - geleng kepala.