
Dikamar mandi nenek, Maulana mengambil satu Sikat gigi baru. Ternyata benar apa yang dikatakan nenek, peralatan mandi sang nenek sudah ditata rapi ditempatnya, dirak gantung.
" Ternyata Ayu gadis yang Care sama orang tua, ia bahkan tak memberitahuku kalau ia sudah menjalin persahabatan yang dekat dengan nenek, bahkan mengunjungi nenek tiap Minggu. Kenapa tak ada masalah dengan nenek, bukankah seharusnya Siluman itu mempertanyakan kalau Ayu akrap dengan siapapun?" tanya hati Maulana
******
Sementara dikamarnya, Ayu baru saja selesai menunaikan Isya. Karna kepalanya masih pusing, ia kemudian
berbaring tengada memijiti keningnya sembari menatap langit- langit kamar.
Detik berikutnya ia merasakan ada gerakan dibitisnya, begitu ia melihat kebawah, ternyata Sahman yang memijiti betisnya.
" Sayang...kamu?" ujar Ayu terkejut.
" Kenapa? Apa tak boleh lagi aku mengunjungi istriku? tanya Sahman terdengar sendu.
Ayu terdiam, hatinya benar- benar bingung, apa ia harus berkata jujur, atau diam saja tentang kondisinya sekarang, termasuk hubungan barunya.
" Ah...Sebaiknya aku diam saja, Ia kan siluman, walau aku diam, ia tentu tahu apa yang terjadi denganku, kepandaiannya tidaklah sedikit, kalau memang ia tak tahu sama sekali dengan diriku sekarang, berarti ia tak lagi mengingatku, ia pasti sudah sibuk dan makin lengket dengan Nini dan Zahra, itu artinya aku akan bebas darinya. Tapi mengapa rasanya hatiku sedih, memikirkan ia melupakanku karna istri dari dunia yang sama itu ya?" Kecamuk batin Ayu .
" Aku tahu sekarang kau sedang mengandung anak kita Ayu. sebenarnya itu tak baik bagimu, karna dirimu berada dilingkungan orang banyak. Nanti gejala mual, pusing itu akan menimbulkan prasangka buruk manusia terhadapmu sayang...Untuk membawamu pergi selamanya dari lingkungan manusia, aku
tak tega ibu dan ayah akan sedih kehilanganmu. Untuk mengatasi semua ini, cobalah berbicara baik- baik dengan pria itu, kalau ia sungguh- sungguh mencintaimu dan mau menikahimu, maka aku akan menerima, melepasmu pelan- pelan sampai kupastikan ia tidak akan menyakitimu. " Ucap Sahman membuat hati Ayu terasa aneh dan sakit juga.
" Benar dugaanku, kau sudah tergila- gila dengan istrimu Nini dan Zahra, hingga mau melepasku dengan mudah." ujar Ayu
__ADS_1
dengan sekuat tenaga menahan air matanya.
Sahman menarik Ayu kedalam pelukannya. " Tak ada siapapun perempuan yang kucinta selain dirimu adik...Hanya karna dunia kita saja yang berbeda, kalau tidak, sampai kapanpun aku takkan pernah melepasmu, andaipun Ayu Abang lepaskan untuk bahagia dengan orang yang pantas, tapi hati Abang akan terus mencintai dan menyayangi Ayu sampai bilapun. Walau Lelaki itu telah membuat syarat memisahkan kita, obat atau apapun juga, takkan mampan untuk membuat Sahman
melupakan Ayu. Kita hanya berpisah raga, tapi hatiku akan tetap sama. " Ucap Sahman tak dapat lagi menahan sebak dihatinya. Bulir- bulir bening kembali bercucuran dipipi raja Jin Gunung B itu.
Ayupun tak tahan membedung kesedihannya , detik berikutnya airmatanya pun terjun bebas dipipi mulusnya.
" Mengapa hidup dan cintaku serba rumit sejak dari awalnya, apa karna diriku seorang gadis yang terlahir dirimba, hingga percintaan ku juga selalu dalam masalah. Disaat aku mengharap cinta, aku malah dikhianati. Sekarang malah ada dua jiwa satu nama yang mencintaiku dengan tulus, tapi aku pula yang bingung, kemana hatiku yang sebenarnya berlabuhnya, Ya Allah...tolonglah aku...Jangan biarkan aku dalam dilema." Ringis batin Ayu.
Mencintaiku atau dia itu sama dik...Kalau Adik memilikinya, setidaknya hati Abang lega, selain nama kami sama, sikap kami juga tak jauh berbeda. Yang Abang lihat, pria itu nyata menyayangimu, bahkan ia juga tahu hubungan rumit kita, bahkan ia berfikir akan menjadi tumbal, tapi hatinya tak suruk, ia siap mati demi cintanya, Abang sudah mendengar curahan hati nya. " Jelas Sahman.
Ayu menarik kakinya yang dipijit oleh Sahman, kemudian ia membalik, menarik selimut dan menyembunyikan wajahnya dibalik selimut. Entah mengapa mendengar keikhlasan Sahman membuat ia semakin sedih, padahal itulah yang seharusnya terjadi, agar ia dapat segera bebas dari Jin itu dan bisa hidup normal menjadi wanita biasa, menikah dan punya anak, layaknya teman
sebaya yang sudah banyak mengundangnya kepernikahan mereka, bahkan ada yang sudah mengirimkan undangan kedua, yaitu undangan aqiqah anak mereka.
Sahman berbaring disebelahnya, menarik
selimutnya dengan lembut, untuk menemukan wajah yang sudah bersimbah airmata itu. Ia meraihnya dan membawanya kebalik dadanya.
" Ukuran dada kami juga hampir sama, tubuhnya nyata dan sungguh indah sayang...Hatinya juga baik, sikapnya lembut nan humoris, Abang baru menemukan inilah pria yang cocok untukmu. Sahman bicara sembari membelai rambut Ayu.
Ayu diam dan tidak merespon, isaknya sudah tidak terdengar, tapi air matanya masih terjun bebas, nampaknya begitu sulit dibendung, malam ini sepertinya hujan semakin lebat, Tah mana yang lebih deras dari airmata Ayu.
" Jangan dihabiskan airmatanya sayang...nanti sisakan juga untuk malam pengantin kalian. " Ucap Sahman sembari tersenyum tipis. Ayu tidak melihat senyumnya, tapi ia mencubit pinggang pria itu karna kesal dengan kesantaiannya.
__ADS_1
" Santai sekali kau menyebutkan malam
pengantinku, apa menurutmu aku akan menangis dimalam pertamaku, bukankah
dirimu sudah merenggut mahkotaku, dimana lagi letak sakitnya? " tanya Ayu.
" Nanti bersamanya nyata sayang...Ia yang akan mengambilnya dengan tubuh nyatanya, jadi itu akan lebih sakit lagi.
Sedang aku memberikannya dalam ilusimu, aku menyentuhmu dengan jiwa yang tanpa raga. " jelas Sahman.
" Aku pusing dengan penjelasan mu, aku bisa menyentuhmu, bisa menciummu, bergelayut dan main itu denganmu, segalanya nampak nyata, aku rasa ini semua nyata. " ujar Ayu sembari mencubiti setiap sisi badan Sahman yang ia inginkan.
" Aku nyata dimata dan hatimu cinta...tapi coba ada yang masuk kekamar ini, orang biasa pasti mengira kau berbicara sendiri sayang... Jadi Abang minta, sesuai dengan perjanjian kita, terimalah ia, karna Abang kira ia sudah mendekati sempurna sebagai lelaki idaman. Sahman meraih dagu Ayu untuk menatapnya, kemudian mengecup bibir basah Ayu dengan lembut.
" Melakukan seperti ini dengannya akan lebih indah, karna ia punya raga yang nyata sayang...Tapi jangan lakukan sebelum menikah, itu sungguh berbahaya " Bisik Sahman menggoda Ayu.
" Tapi aku mau itu sekarang denganmu, aku mau..." rengek Ayu.
" Tentu sayang...Sebelum pria itu membawamu berobat dan diruqiah kita akan tetap melakukannya, sampai ia menghalalkanmu, begitu ia menghalalkanmu, Abang akan menjauh, tapi hati Abang takkan pernah jauh, Abang akan terus memantaumu dari tempat abang, sejauh mana pria itu menjagamu, kalau ia benar- benar setia dan tulus, barulah Abang membebaskanmu selamanya. Diucapan Sahman yang terakhir, ia tak dapat lagi menahan airmatanya.
Ayu mengusap airmata itu, kemudian menggigit dada Sahman. Sahman mengerti keinginan Cintanya, maka iapun mulai membuka kancing piyama Ayu. Seterusnya Ayu kembali terbuai dan terbang kelangit ketujuh bersama dengan suami yang nyata dihatinya, tak terlihat oleh ayah dan ibunya.
Andai mereka bisa melihat seperti Ayu, tentu mereka akan berfikir untuk menuntut Ayu untuk menikah lagi. Tapi bagi mereka Ayu adalah gadis mereka yang belum menemukan kebahagiaannya, hanya kepatahhatian oleh lelaki saja, kisah Ayu yang bisa mereka saksikan. Kebahagian Ayu yang ini, sungguh mereka tak tahu sama sekali.
" Cinta yang terbesar adalah ketika kita bisa melepaskan dengan ikhlas orang yang kita cintai untuk menemukan kebahagiaannya yang nyata. " ucap Sahman setelah menuntaskan percintaan
__ADS_1
mereka dipertengahan malam.
Hujan diluar makin deras, sederas airmata Sahman yang mengalir. Ayu tak lagi mengusapnya, takut membuatnya makin terluka. Dipejamkannya matanya sembari menyuruk kebalik dada Sahman, tanpa berkata apa lagi.