
Pagipun menyapa dengan lembut dan hangat. Sinar matahari mulai menerobos masuk kedalam kamar melalui kaca jendela dan pentilasi. Usai subuh tadi Ayu ketiduran lagi, hingga baru terbangun lagi saat matahari pagi benar- benar sudah menampakkan kegagahannya diufuk timur.
Gimana ngak terlelap lagi karna kelelahan, udah perut sebuncit itu masih saja hobbynya main jungkat- jungkit😂
Ayu membuka matanya pelan- pelan, cahaya matahari membuatnya silau dan sempat mengerjab beberapa kali. Setelah netranya bisa mengkondisikan cahaya yang masuk, mata Ayu tertuju pada jam dinding dikamarnya.
" Astaga...Sudah jam sembilan lewat. Berarti suamiku sudah berangkat kerja tanpa kuurusi sebelum pergi. " Sesal Ayu bicara sendiri masih dengan suara serak khas bangun tidur.
" Ngak usah khawatir nak..Katanya nak Maulana kekantor hanya sebentar kok, soalnya ia mau jagain
Ayu hari ini. " Ujar sebuah suara yang tiba- tiba datang dari arah pintu.
" Ya Ampun bibi! Kebiasaan DECH masuk kamar orang tanpa aba- aba. " Pekik Ayu dengan mengusap dada , lalu bergegas memakai pakaiannya, yang untungnya sudah disediakan tuan suami disisi tempat tidur.
" Maaf sayang...Tadi pas mau ngetuk bibi dengar Ayu ngomel, makanya ngak nahan lihat langsung.
Sory ngejutin cucu Oma..Jangan apa- apa ya cayang .." Ujar Bi Ningsih seraya menghampiri Ayu dan mengusap perut besarnya Ayu, karna sekarang Ayu sudah berpakaian walau rambut panjangnya masih kusut.
Ayu merapikan rambut lurusnya dengan jari, lalu meyanggulnya model kulit kerang besar tertelungkup. Dalam sekejap penampilan Ayu sudah rapi.
" Mudah- mudahan ngak apa- apa cucu oma, kalau sampai kenapa- kenapa dengan bibir kami, bunga teratai Oma yang akan diambil buat memperbaiki."
Balas Ayu dengan bercanda setelah merasa rapi seraya menatap bi Ningsih yang tanpa dosa dari tadi sudah duduk manis disisi tempat tidur Ayu dengan jarah 5 CM dengan sang majikan. Mendengar Candaan Ayu, sontak perempuan yang sudah tidak bisa dikatakan muda lagi itu tertawa terbahak.
" Ha.ha ha...Kalau bunga teratai nenek dikeping- keping nanti kakek Ujang mau berenang ngak ada lagi dong pelampungnya. " Balas Ningsih meneruskan kalimat Ambigu Ayu.
" Salah sendiri main kejut- kejutan tak beraturan, tapi sebaiknya berdoalah Oma segera dalam Dhuha biar kami lahirnya selamat dan tidak kurang satu apapun." Ucap Ayu mewakili bayi- bayinya yang masih dalam perut sembari meringsut kepinggir tempat tidur ingin turun.
Ningsih yang melihat Ayu kesulitan melangkah setelah turun, segera turun membantu Ayu, dan membimbing wanita hamil tua itu menuju kamar mandi.
Setelah berwudhu bergantian, Ningsih membawa Ayu menuju ruang sholat.
Pagi ini mereka melakukan shalat Dhuha dengan sangat khusuk.Walau Ayu sedikit kesulitan duduk dan berdiri, namun ia masih bisa menyelesaikan sholatnya dengan baik. Kedua wanita beda generasi itu lalu bermunajat berdua dengan menengadahkan kedua tangan mereka didalam mukena putih nan bersih.
Om Ujang, suami Ningsing sekaligus satpam rumah itu, masuk hendak mengambil cemilan, terdiam takjup dengan kekhusukan istri dan majikannya dalam doa. Pria itu mengurungkan niatnya kedapur, segan melewati ruang sholat itu, karna takut derap langkahnya mengganggu.
" Kalau sudah selesai nanti, Ningsih pasti mengantarnya padaku. " Batinnya sembari melangkah pelan kembali kepos.
*
__ADS_1
*
Sedangkan Maulana, setiba dikantornya duduk gelisah dimeja kerjanya, menunggu sang asisten untuk mengarahkan dan menjelaskan penanganan pelaksanaan agenda tiga hari kedepan tanpanya, karna ia ingin mengambil cuti tigahari menunggui Ayu yang kata dokter Aulia sudah memasuki hari persalinannya.
"Wah...Saya kalah cepat kali ini. " Ucap Alfian berbasa nasi begitu tiba diruang Maulana .
" Tak masalah, bapak yang kepagian. Sebaiknya langsung kita mulai." Balas Maulana sembari menyerahkan Draf agenda selama tiga hari.
Alfian dengan sigap menyalin catatan itu.
Kemudian Maulana mulai menjelaskan satu- persatu. Yang didengar dengan seksama oleh asistennya.
Setelah pukul sepuluh pagi, barulah Maulana selesai berbincang dengan Alfian. Anak muda itu mengangguk mengerti dengan semua penjelasan yang disampaikan Maulana dengan rinci, walau Maulana menjelaskan dengan gelisah dan berkali menatap jam tangan mewahnya, Alfian cukup dibuat mengerti dengan apa yang disampaikan Maulana.
"Sedang tidak fokus saja bapak masih bisa menjadi guru yang baik, apalagi sedang dalam mood booster, sebab itulah ia selalu dinantikan dipodiun walau jadwalnya sebagai pegawai negri membuatnya tak memiliki banyak waktu untuk banyak menerima panggilan ceramah." Kagum Alfian dalam hati.
" Hei Pian! Kamu ngertikan? kok malah melamun? " Tanya Maulana ragu pekerjaannya tetap baik dan terkondisi aman saat ditinggal cuti olehnya nanti, melihat asistennya yang terlihat melongo.
" Te_ Tentu Pak, saya sangat paham, hanya terpesona saja dengan bapak." Jawab Alfian jujur.
" Terpesona apanya? Kau jangan becanda Pian.., putriku masih belum lahir kau sudah menyongok bapaknya, apa kau kira aku akan sedia menerima mantu kakek tua sepertimu nanti? " Balas Canda Maulana.
" He...He...Kau ini...Seperti tahan saja membujang tua. Untuk putriku Insya Allah cantiklah... Karna ayah bundanya cantik dan tampan original, dan bukan oplosan." Balas Maulana sedikit narsis.Lalu Maulana berdiri dari kursinya, berjalanmenghampiri Alfian seraya menepuk lembut pundak nak muda itu.Kemudian Maulana mulai meraih buku agendanya, dan memaaukkan kedalam tas, lalu rapi- rapi meja.
Alfian paham, ia diusir secara halus oleh sang pimpinan , maka iapun berdiri dan permisi.
" Kalau begitu aku permisi pak, semoga ibu melahirkan lancar. " Ujarnya sembari mengatur langkah.
" Amiin...." Seru Maulana.
" Amiin...Sambut Alfian dengan antusias, lalu ia melangkah meninggalkan ruangan.
" Kau ini mengajakku bercanda sih, hingga aku hampir saja melupakan, kalau aku harus secepatnya pulang menyambut kelahiran putra -putriku." Cerocos Maulana sebelum Alfian menghilang dibalik pintu.
" Sory pak...Jangan lupa lamaranku untuk putrimu yang cantik. He...He...Kekeh Alfian.
" Tenang saja! Aku akan fikirkan. He..He..." Maulana turut terbahak.
" Aku harus kembali secepatnya. Hatiku tak tenang berlama- lama disini. " Gumam Maulana sebelum melangkah besar meninggalkan ruangannya.
__ADS_1
Maulana tak ingin sampai jika istrinya kesakitan saat kontraksi tanpa ada dirinya yang menemani, untuk itulah ia mengambil cuti. Padahal bibi Ningsih sama paman Ujang berkali- kali mengatakan kalau mereka tidak akan lalai menjaga Ayu barang sekejabpun.
" Nak Lana cemasnya terlalu berlebihan, padahal Ayu saja yang mau lahiran biasa saja. Ia sungguh calon Ibu yang sangat kuat, bahkan sering kontraksi palsu saja, ia tidak pernah menunjukkan keluhannya itu." Celetuk biNingsih mendengar Majikannya sampe mengajukan cuti.
" Aku tak mau membuat suamiku cemas lho bi, sebenarnya aku setuju dengan bibi, bang Maulana tak perlu ngambil cuti dulu untuk ini. Kalau babynya udah lahir, baru minta cuti beberapa hari, tapi bang Lana kukuh sih bi. " Sela Ayu membela pendapat Asisennya itu seraya menatap tajam sang suami yang datang- datang langsung menarik
Ayu kepangkuannya, sambil mengumumkan cutinya.
" Justru sebelum baby- baby kita lahirlah aku tak tenang. Aku tak ingin sampai terjadi sesuatu padamu dan mereka sayang. " Kukuh Maulana
" Terserah yang punya badanlah mau cuti untuk itu, walau yang lahirin tetap Ayu, tapi untuk menyambut anak- anaknya pertamanya, apa salahnya nak Lana mengambil cuti." Ujar Om Ujang.
" Iya paman...Istriku melahirkan jauh dari mertuaku, aku tak ingin menjadi menantu yang tidak menjaga putri dan calon cucu mereka dengan baik." Ujar Maulana.
" Jadi Abang melakukan ini cuma karna takut disalahkan oleh ayah dan bunda jika sesuatu terjadi pada kami? " Ujar Ayu mengerucut melepaskan diri dari pangkuan suami.Lalu dengan tertatih- tatih perempuan hamil besar itu berjalan menuju kamar.
Belum sampai didepan pintu kamar, sudah terdengar teriakan Ayu. " Aduh....Pinggangku kok sakit sekali...." Keluhnya sembari menahan sakit.
Untung Maulana dengan cepat menyusul istrinya.
Maulana memeriksa jalan lahir secara spontan.
Ayu yang kesakitan tak sempat protes. Ia membiarkan suaminya mengacak- acak CD melarnya.
Maulana melihat lendir bercampur darah dipintu.
Jantungnya berdegup kencang.
Deg.
" Ya Allah...Tolong istriku...Lancarkanlah dan selamatkan istri dan anak- anakku.Ini sepertinya tanda kalau istriku akan segera melahirkan. " Doa Maulana dalam hati. Lalu dengan sigap digendongnya Ayu.
" Bibi...Tolong panggil Om Ujang bantu belokkan mobil, Sepertinya sudah saatnya kita keklinik Aulia.
" Pekik Maulana dalam kecemasan. Apalagi melihat Istrinya sudah keringatan menahan sakit.
" Aisssss ini aku sesak BAB bang..." Ringis Ayu.
" Tahan dulu sayang...Itu tandanya mereka akan lahir, bukan mau berak. Kita akan secepatnya sampai diklinik. " Ucap Maulana seraya melarikan Ayu kemobil.
__ADS_1
OM Ujang sudah membukakan pintu mobil yang sudah dibelok menghadap gerbang. Bi Ningsih terburu- buru mengunci pintu sembari menggeret koper pakaian untuk Twins begitu lahir nanti.