My Love Ruler Of Another World

My Love Ruler Of Another World
Mandi


__ADS_3

Begitu sampai didepan Gapura pasantren. Maulana memperlambat laju mobilnya. " Rumah pemilik pasantren didalam atau diluar kompleks ?" tanya Maulana.


" Diluar bang...lanjut saja pelan- pelan, lima rumah dari sini. " Jelas Ayu.


Maulana mengikuti saran Ayu, setelah merasa pas dengan petunjuk, Maulanapun menepikan mobilnya kepinggiran jalan.


" Yang Cat merah jambu ini kan? " tanyanya memastikan.


" Iya bang...Ini rumahnya...Sebenarnya sudah ada rumah paman yang baru sebelum gapura tadi, tapi masih dalam pengerjaan.


" O...rumah besar yang masih dalam proses, tiga rumah sebelum gapura pasantren? " tanya Maulana memastikan.


Ayu mengangguk.


" Bagaimana adik tahu segalanya, sering kesini? " selidik Maulana.


" Kerumah sih ngak...Cuma kepasantren ada pernah, ngantar adik sepupu yang dari SGL yang mau mondok disini. Selebihnya pernah lewat juga dijalan ini, mau ketempat kawan di Kampung D. " terang Ayu.


Maulana manggut- manggut.


" Ayo turun...Apa paman guru biasanya dirumah jam segini?


" Biasanya ia bang...paman selalu dirumah, kalau ngak ada perjamuan dan acara diPasantren, karna yang pimpinan pondokkan bukan dia, tapi adiknya, paman B. " Jelas Ayu.


Maulana turun dan membukakan pintu untuk Ayu. Ayu melangkah pelan menuju teras rumah, mengikuti langkah Maulana.


Baru sampai diteras, ia sudah mengantuk, hawa tubuhnya tiba- tiba dingin dan menggigil. kepalanya terasa berat, baru saja salam Maulana dijawab dan mereka dipersilahkan masuk, Ayu sudah mau rebahan.


" Kasih bantal dulu untuk Ayu, riah...Ia kurang sehat dan biarkan istirahat sebentar, sementara kami berbicara dulu dengan Buyung ( panggilan anak lelaki ) ini.." pinta paman Guru pada istrinya. Yang langsung dilakukan dengan sang istri.


Dan tanpa bisa ditahan lagi, Ayupun tertidur diruangan tamu rumah paman Guru, sang ketua yayasan sekaligus pemilik Pasantren Al B itu hampir satu jam.


Tatkala Ayu tertidur, Maulana dan paman guru membicarakan tentang bagaimana mengobati Ayu. Akhirnya diberikan solusi


oleh paman guru itu dengan cara memandikan Ayu dengan Air perasan jeruk pasir ( sejenis jeruk untuk keramas orang yang tersihir siluman atau guna- guna dengan niat setelah dimandikan dengan air perasan jeruk ini, orang bisa melupakan fantasi liar yang disebabkan oleh mahluk astral itu.


Selain jeruk untuk mandi. Ayu juga dibacakan doa oleh tuan guru. Dan reaksi


dari setelah pembacaan doa itu, Ayu terbangun dari tidurnya dan tiba- tiba mau muntah.

__ADS_1


" Aduh...aku mual dan ingin muntah, apa aku mabuk mobil ya? " tanya Ayu sembari


menahan muntah.


" Kekamar mandi dan langsung muntah saja Yu, biar perutnya lega! " Ujar paman Guru.


Ayu yang tidak mengerti sama sekali, karna ia baru bangun dan tak tahan ingin muntah, melupakan rasa malu pada pamannya, iapun berlari kekamar mandi, dan mengeluarkan seluruh isi perutnya yang dirasa sangat sesak. Begitu semua keluar, iapun merasa lega. Setelah berkumur- kumur dan bertepat pula waktu Ashar tiba, maka Ayupun segera mengambil wudhu.


Ayu sudah segar keluar dari kamar mandi


dan siap- siap untuk sholat Ashar ditempat shalat yang terletak diruang tengah rumah semi permanen itu.


Sepuluh menit berikutnya, setelah sempat bercerita sedikit dengan bibi Riah istri paman S atau paman guru, barulah Ayu kembali keruang tamu.


" Nampaknya sudah cerah...apa udah shalat?" tanya Maulana sembari menilik


pada jam tangan yang melingkar dipergelangan tangan kirinya.


Ayu mengangguk sembari tersenyum sebelum duduk ditikar.


" Karna Ayu sudah sholat, kami juga izin untuk sholat. " kata paman guru.


Mendapat tatapan sekilas dari Ayu, Maulana mengerti. " Abang shalat bareng


paman, siap ini baru kita balik, Besok pagi Ayu harus mandi dengan air perasan


jeruk ini," kata paman. " Ujar Maulana sembari menyerahkan jeruk yang ada dikantong kresek pada Ayu, lalu berjalan mengikuti paman S kedalam untuk menunaikan kewajiban mereka.


*****


Sementara dirumahnya orang tua Ayu berbincang mengenai calon mantu yang keempat.


" Kenapa ibu kasih izin mereka pergi naik mobil berdua saja? " tanya Pras yang baru pulang dari kebun pada istrinya.


" Lo kenapa to pak? Ayukan sudah dewasa dan sarjana? lelaki itupun jauh lebih dewasa dari Ayu, ngak mungkin berbuat yang tidak- tidak bukan? "


" Semuanya tidak tergantung umur ibu, pokoknya kali lain jangan biarkan anak perempuan kita pergi dengan lelaki yang belum menikahinya, apalagi tak ada pihak ketiga yang mendampinginya, ntar pihak ketiganya setan, mereka melakukan dosa, kita orang tua juga menanggung dosa lho Bu! Karna kita sudah memberi peluang untuk itu. " Ujar Pras menasehati istrinya.


Aini tersenyum kecut, sembari menghembuskan nafasnya dengan berat.

__ADS_1


" Ya deh pak...lain kali ibu janji, ngak kasih izin lagi sama Ayu dibawa orang selain suaminya! " Janji Aini.


" Gitu to buk...Jadi orang tua harus tegas! Jangan kayak kemaren - kemaren, walau Ayu masih selamat, tapi kan sempat hampir dicelakai sama lelaki brengsek itu! " Ujar Pras sembari mendengus kesal, teringat mendiang Eldi yang hampir melecehkan Ayu.


" Pokoknya, bapak sana shalat, doakan anak kita selamat, dan jodohnya yang pas segera dapat! " Ucap Aini sembari mendorong suaminya kekamar mandi.


" Bapakkan memang mau shalat..Cuma lagi mendinginkan badan saja tadi, trus teringat anak gadis yang dibawa orang, malah ibunya ngasih dengan mudah. " protes Pras.


" Udah...jangan banyak omong lagi, cepat mandi dan kerjakan tugas hidupmu, habis itu biar kita makan, masakan ibu hari ini enak lho...Jadi jangan nunda- nunda kewajiban, biar dapat ngambil hak jatah manikmati Rezki dari yang Maha pemberi! " Ujar Aini.


" Ya..tuan putri...hamba nurut deh...Mudah- mudahan Ayu segera balik! " teriaknya sebelum menutup pintu ruang mandi.


Aini pergi kedapur, menghidangkan makanan untuk makan mereka sore ini. Karna ia tak ikut kekebun hari ini, jadi semua hidangan sudah selesai sejak pukul tiga sore tadi. Aini memang begitu, ia kalau dirumah takkan mau diam, paling


tidak selain hidangan pokok, ia juga akan membuat satu jenis kue setiap kali ia libur mengikuti suami kekebun.


*****


" Kalau begitu kami izin pulang paman. Kami tadi lupa bawa anak tetangga untuk


mendampingi kami dimobil agar tak mengundang fitnah. Saking mau cepat Ayu sembuh dari pusing kepala dan mual yang baru- baru ini ia derita, aku jadi ngak kefikiran kesitu. " pamit Maulana Sopan.


" Iya nak...cepatlah kalian balik...tapi hati- hati, jangan kebut- kebutan juga! " pituah paman S sembari menjabat tangan Sahman.


" Kapan lagi sambung obatnya paman? " tanya Ayu menimpali.


" Setelah mandi semua akan baik- baik saja! Jadi kalian balik kesini setelah halal saja. Paman akan senang begitu secepatnya ayah dan ibumu kesini membawa undangan pernikahan kalian, walau paman tak bisa datang karna sibuk, tapi paman pasti kirim doa dan Insya Allah kado juga." Ucap Paman S sembari tersenyum cerah.


Ayu tertunduk dengan pipi memerah, tatkala mendengar ucapan pamannya, dan mendapat tatapan dari Maulana.


" Kalau lamaran diterima, itu takkan lama paman. Soalnya Maulana tak suka tunangan lama, maunya langsung cepat dan dapat. He...He..." Kekeh Maulana.


" Paman juga maunya gitu, semoga ini jawaban doa kita selama ini! " Ucap Paman guru.


Amiin...Seru mereka semua, termasuk bibi Riah yang baru datang dari dapur.


" Kalau sudah halal nanti, baru kita makan


bersama disini! " serunya sembari melepas kepergian kedua sejoli itu menuju mobil Maulana.

__ADS_1


__ADS_2