My Love Ruler Of Another World

My Love Ruler Of Another World
Pada ngak Peka.


__ADS_3

Maulana hari ini mengadakan peninjauan beberapa lokasi wisata bahari yang terletak dipinggiran kota P dengan anggotanya dari rombongan dinas pariwisata.


Mata Maulana yang Jeli langsung tertuju pada sampah- sampah yang berserakan.


" Dengan tak segan ia mengutipi sampah tersebut sepanjang jalan, tapi sepertinya


sampah itu tak pernah habisnya.


Fian sang asisten turut mengikuti apa yang diperbuat oleh pak Kadis itu, diikuti empat anggota lainnya.


Melihat sekeluarga turis lokal yang masih saja menyecer sampah sepanjang jalan dipinggir danau, Fian geleng- geleng kepala.


" Manusia sekarang pada ngak peka ya pak...Lihat kita ngutip sampah, bukannya malu, malah keluarga itu masih saja membuang sampah seenak Undel. " Cerepet Fian dengan suara keras, membuat keluarga kecil itu sampai menoleh.


" Melihat rombongan yang berjalan mendekat, hingga ibu dari sepasang anak itu menunduk pucat.


Sedang suaminya mulai mengutipi sampah yang barusan mereka serak.


Maulana menghampiri keluarga itu.


" Andai semua menaruh sampah mereka ketong yang sudah disediakan, tentu danau ini akan semakin nyaman untuk dikunjungi. " Ujar Maulana yang membuat


lelaki itu tertunduk, sembari terus membersihkan bekas karya jelek ia dan keluarganya.


" Sekarang susah mencari sungai, danau dan pantai yang bersih pak , bahkan kepelosok desa sekalipun. Masyarakat pada makin ngak tahu aturan kebersihan, bahkan dengan sengaja buang sampah kesaluran air. Semakin banyak dana negara menyerak, semakin banyak sampah membayak. Maklum,,,makin banyak masukan, makin banyak makanan, makin pikun orang soal kebersihan. " Sindir tajam Fian.


" Entahlah Fian...aku jadi malu dan iba sebagai kepala Dinas pariwisata, rasanya


gagal total dan patah semangat. Bagaimana bisa daerah kita yang indah ternoda karna sampah dimana- mana, hingga turis asing akan malas bermain diwisata bahari kalau dimana- mana sampah jadi masalah. Tulisan dan pemberitahuan diabaikan, seakan yang buang sampah sembarangan Buta dan tuli. " Ujar Maulana turut terbawa Emosi.


Sebentar kemudian muncul seorang anak


kecil menjajakan udang panggang hasil dari danau M itu.


" Kita beli pak? " tanya Fian menawarkan karna kasihan pada anak kecil itu.


" Baiklah.. semua boleh beli, saya yang bayar, tapi cuci tangan dahulu, dan buang lidinya ketempat sampah, paling ngak, jangan sampai orang berpendidikan seperti kita tidak tahu juga aturan. " Ujar Maulana.


Semua rombongan mencuci tangan, kemudian mulai mengambil udang panggang dalam talam bertutup plastik transparan itu.


Setelah semua mengambil bagiannya, Maulanapun melakukan pembayaran.

__ADS_1


Sejak kecil jangan lupa buang sampah ditempat sampah ya dik...Biar jualan adik selalu laku dan lalat tak berkembang biak. " Ucap Maulana pada bocah lelaki penjual udang itu.


" Ibu saya selalu mengajarkan begitu juga pak tampan... kadang ia sering bertengkar dengan orang disini yang suka buang sampah seenak perut, danau ini sumber penghidupan kami, kalau kotor dan tidak dikunjungi banyak wisatawan asing, bagaimana kami bisa berdagang." Ujar bocah lelaki itu mantap.


" Trus kemana ibumu sekarang? " tanya Maulana sembari berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan bocah itu.


" Ibuku sudah kembali setahun yang lalu pak...Bapak menikah lagi, aku lanjut berjualan untuk bertahan hidup dengan adikku, tapi bapak ganteng tak usah kasihan, ibuku mengajarkan kami banyak hal sebelum kembali, sebaiknya bapak usahakan saja mengembalikan kesucian danau ini, beri penyuluhan dan aturan yang keras, dengan menjadikan danau ini menjadi tempat wisata Faforit lagi, bapak akan otomatis membantu hidup saya dan adik saya, ibu saya melarang kami meminta - minta, kami diminta bekerja keras untuk mendapatkan apa yang kami mau dalam hidup, tolong jangan kasihani kami." Ujar panjang bocah itu membuat Maulana tercengang.


Sedang yang lain juga melongo.


Maulana meminta bocah itu menunjukkan tempatnya, tapi bocah itu mangatakan tidak perlu. Karna dagangannya sudah diborong oleh Maulana dan rombongan, sebagai gantinya, bocah itu membantu tim menyapu sepanjang pinggiran danau. Banyak pengunjung dan pedagang yang bercengangan, ketika Maulana menyampaikan penyuluhan dadakan tentang kebersihan, banyak yang tertunduk malu, sedang bocah itu tersenyum riang sembari menegakkan pandangannya.


Sampai jelang sore, barulah rombongan itu meninggalkan Danau M, dalam hati mereka bertanya- tanya, siapa bocah lelaki imut yang rajin itu.


" Jika ada sepuluh anak sepintar dan serajin itu disetiap tempat wisata, tentu daerah kita akan menjadi surganya Nusantara ya pak. " Cicit Fian dalam mobil.


" Tentu anak begitu karna latar belakang ibunya yang pandai mendidiknya. Taukah kau Fian? pendidikan ibu adalah adap bagi anak- anaknya. Sedang adap lebih berharga dari ilmu. "


" Iya pak...Melihat dari keluarga pengunjung tadi, mengendarai mobil pribadi, berpenampilan terpelajar, tapi keluarganya menyecer sampah sepanjang jalan, tandanya adab mereka


kurang, walau ada ilmu. Ibunya mungkin tidak mengatur mereka sejak dari lingkungan rumah. " Ujar Fian teringat rangkaian peristiwa didanau hari ini.


" Iya pak...sepertinya bapak memilih ibu karna ia pemerhati lingkungan juga. " Ujar Kiran menimpali.


Sedang yang lain tersenyum sembari mengacungkan jempol pada Kiran, sudah mewakili isi hati mereka.


" Aku bertemu dengannya didepan mesjid pinggir pantai dikampung nenek.


Pertama aku tertarik karna ia mendahulukan sholat sebelum picnik. Berikutnya kami sama- sama menyusuri pantai sembari bercerita, ia bahkan lebih keras lagi menentang masyarakat yang sengaja mengotori alam, ia menantangku sebagai pegawai pariwisata, aku diminta menjadikan daerah kita sebagai pemenang daerah tujuan wisata nasional dan internasional, hal yang belum pernah diraih itu. " Jelas Maulana.


" Trus bagaimana pak? " tanya Fian melihat wajah sendu Maulana.


" Kalau kita tidak berhasil mengubah kebiasaan buruk masyarakat,mana akan tercapai impian itu. Turis mana yang betah bermain dipantai dengan tumpukan sampah, Bali dan daerah wisata lain dikunjungi karna selain indah, kesuciannya terjaga. " ujar Maulana.


" Jangan putus asa pak...Kita akan lebih bersemangat lagi mengelola masalah sampah ini. " ujar Kiran yang diangguki yang lain.


Maulana menarik nafas panjang. "Semoga kita bisa untuk kedepannya, kalau sebelumnya masih gagal. Bahkan pembuatan Ekobrik tidak berhasil. " kata Maulana.


" Semoga kedepannya lebih baik!!!." Seru serentak semua anggota tim Maulana.


Maulana sampai dirumahnya sudah sore sekali, melihat istri yang sedang sibuk menyirami bunga dan kebun bertingkat yang nampaknya baru diolah , membuat Maulana penasaran dan menghampirinya.

__ADS_1


" Tanam apa disini? " tanyanya melongok pot- pot yang berjejar rapi itu.


" Biasa...keperluan dapur, biar ngak semua serba beli, begitu ni sayur dan cabe sudah bisa dipanen. " Ujar Ayu sembari menggulung dan menyimpan pipa.


" Abang tidak membawamu kesini untuk berkebun. " Protes Maulana menilik istrinya yang keringatan.


" Udah...jangan mengomel, tidak boleh kerja diluar bukan berarti aku lantas pasrah dan mengalah pada suami. Tenanglah...aku hanya mengerjakan yang


kecil- kecil saja, sisanya kedua pasangan yang baru menemukan cinta diusia jelang senja itu yang aku arahkan. " Bisik centil Ayu.


Maulana sedikit menyeringai, suasana hari ini membuatnya sedikit kurang semangat.


Ayu tahu ada yang tidak beres dengan perasaan suaminya.


" Ayo kedalam...Setelah mandi aku akan menciummu seratus kali, biar kesalmu hilang. " Kata Ayu.


Maulana menggandeng istrinya dengan senyum mengembang.


" Benarkah? " tanyanya bersemangat.


" Tentu...tapi mandi bersama juga ya...Biar kuhanyutkan kesalmu dengan arus cinta. " bisik bandel Ayu.


" He...He ..Tau aja Abang lagi kesal. Dasar anak Indosiar! " kelakar Maulana.


" Bukan! " Tolak Ayu.


" Trus apa dong?


" Lebih suka si Bolang... " Ujar mantap Ayu.


" Tadi Abang ketemu anak mantap dilokasi lho dik, tapi diminta alamat ia tak mau kasih tahu. " Kenang Maulana.


" Oke...kita lanjut cerita setelah wangi ya...Lebih enak bau jengkol ketimbang bau keringat. " Ujar Ayu berlari kekamar mandi. Tentu Maulana tak sia- siakan tawaran istri. Setelah meletakkan tas dinakas, ia menyusul Ayu tanpa berganti baju. Bagitu sudah menutup kamar mandi, Maulana langsung buka tenda, istrinya pun sama, pakaian pindah kemesin cuci.


Detik berikutnya mereka sudah main Angsa- Angsaan didalam bathtup. Untung Bathtup itu yang cukup besar untuk menampung tubuh sepasang pecinta itu.


Bersambung...


Bagi yang mampir tinggalkan jejak ya say...biar penulis tidak makin merasa sepi.


Like, Fote, komen dan Faforitkan karya pening kakak ini..He...He...

__ADS_1


__ADS_2