My Love Ruler Of Another World

My Love Ruler Of Another World
Nanny untuk Nenek.


__ADS_3

Menurut aturan kebiasaan turun- menurun keluarga bunda Ayu. Pengantin baru boleh meninggalkan rumah setelah melewatkan malam ketiga.


Setelah Dua hari berkemas- kemas, Ayu dan Maulana berangkat kekampung neneknya. Karna Esok pagi pasangan baru itu akan berangkat kekota P, mereka ingin pamit kepada sang nenek, sekaligus membawa nanny untuk sang nenek.


" Gimana Bi Imah, apa sudah siap semua bawaannya? " tanya Ayu ketika wanita sebaya bundanya itu tiba buru- buru kerumah Ayu dengan menyandang ransel besar dengan nafas terengah- engah.


Maulana dengan cekatan menurunkan ransel itu karna melihat bi Imah kesusahan karnanya.


" Saya rasa udah nak Ayu, kan yang dibawa cuma baju- baju rumah. Baju cantik dan modelkan bibi ngak punya.


"Ucap bi Imah tersenyum malu.


" Ngak perlu baju cantik dan model segala kok bi, kan bibi kesana buat Nemani nenek, bukan untuk pergi


ulang tahun." seloroh Ayu.


" Apa bi Imah sudah sarapan? Jangan sampe mabuk nanti saat naik mobil? " Timpal Maulana.


" Sudah den Lana! Bahkan ditas bibi juga bawa sarapan, daripada ntar sayang ditinggal digubuk bibi, kalau ngak datang kucingkan mubazir. " Jelas bi Imah gamblang.


" Baiklah...Kalau begitu kita berangkat ya," Ajak Maulana.


" Oke Bos! " ujar Ayu sembari melangkah kesisi sang bunda untuk memberi salam, juga ayahnya, diikuti oleh suaminya.


" Kami berangkat kekampung nenek dulu ya yah..." pamit Maulana.


" Ya nak...Hati- hati bawa mobilnya! " Nasehat Ayah Ayu.


_


_


_


Setelah berkendara sekitar 50 menit, akhirnya mereka sampai didesa nelayan itu. Maulana turun dari mobil, mengintari mobil itu untuk membukakan pintu untuk istrinya dan bi Ipah.


Maulana mengucap salam dengan lantang, agar didengar oleh nenek.


Tik tak tik..terdengar suara tongkat menuju arah pintu. " Sudah datanglah pengantin baru? " terdengar suara nenek dari balik pintu.


Krek...


Pintu itupun terbuka, terlihat senyum sang nenek menyambut mereka ditengah pintu.


Ayu memeluk neneknya Maulana, nenek menepuk- nepuk pundak Ayu dengan tangan kirinya, karna tangan kanannya memegang tongkat.


" Selamat datang dirumah nenek bi Ipah...Mudah- mudahan bibi betah bersama nenek, kalau bibi berhasil merawat nenek dengan baik dan membuatnya senang, pasti akan aku tambah bonus buat Bibi." Ucap Maulana sembari mengangkat ransel bi Ipah dan memindahkannya pada kamar tengah, bersebelahan dengan kamar sang nenek.


Nenek sadar kalau ada orang lain bersama pasangan baru itu. Ketika mereka sudah duduk bersimpuh dikarpet ruang tengah nenek, sang


nenek pun menatap Maulana tajam.


"Santai aja lihatnya kali nek... Itu mata kalau urusan protes pasti nyalangnya 100 Watt ! " Goda Maulana sembari mencium kening sang nenek.


"Eeeeee !!! Mentang - mentang sudah punya istri udah berani kau Kukis- kukis nenek ya??? Kemaren bilang bau, ntar kusembur pake air liur rasa jengki campur petai ni baru tahu kau!!!" Ancam sang nenek memelototi cucu satu- satunya.


Maulana segera melompat dan menyingkir dengan cepat, dengan wajah ketakutan, teringat saat nenek menyemburnya malam itu.

__ADS_1


" Ngak lagi deh...Ampun..." batin Maulana.


" Kukis tu kue nenek! Disini ada guru bahasa Inggris lho! Ntar nenek diprotes. " Seru Maulana setelah jauh dari neneknya..


" Biar aja! Anggap aja itu bahasa keren nenek, kukiskan enak, sama dengan cium- cium orang muda itu. " kukuh sang nenek.


" He...He...nenek- nenek...seenaknya saja menyamakan kiss dengan kukis! Kekeh Maulana.


" Oh ya nek...Sampe lupa! Ayu bawa kue bolu dan Kukis buat nenek, karna nenek ngak ikutan syukuran nikah kami, bunda sengaja buatin kue ini kemarin. " Kata Ayu sembari membukakan rantang taperware berisi kue untuk nenek.


Nenek Rayani menerima dan langsung mencicipinya, lalu dengan centilnya ia mengacungkan jempolnya.


" Ini benar- benar Kukis rasa kiss- kiss !


" Serunya riang sembari meram melek.


He...He...Semua tertawa melihat tingkah sang nenek.


" Selain itu juga Ayu bawa seseorang untuk nenek. " Ucap Ayu setelah nenek menikmati kuenya.


" Sudah kulihat dari tadi! Untuk apa? tanyanya cuek.


" Bi Imah sengaja kami bawa untuk nanny buat nenek. " Timpal Maulana.


" Siapa sih sebenarnya namanya? Sudah Imah Nany pula. " tanyanya dengan nada Ejekan.


" Ini bibi ingin menemani nenek disini, karna kami akan kembali kekota esok. " Terang Ayu.


" Ngapain ditemani! Kan selama ini sendiri baik- baik aja! " Protes nenek Rayani dengan bibir mengerucut.


" Agar kami konsentrasi bikin cicit buat nenek, karna disini nenek ada yang menemani, jadi ngak kefikiran terus. " ujar Maulana yang berhasil membuat pipi


" Abang Ini...ngak kreatif kali cari alasan." protes Ayu dalam hati.


" Emang kenapa kalau kefikiran saya? tanya nenek, masih berusaha menolak.


Bi Imah yang dari tadi diam, hatinya kembang - kempis takut ditolak sama nenek Ray yang tampaknya kukuh ingin mandiri itu.


" Nenekkan cinta pertama Maulana, kalau


Maulana kefikiran terus sama kesehatan nenek yang sendirian disini, kapan Ayu sicinta kedua dapat perhatian? Ngak dapat perhatian pasti ngak dapat bagian dong? kalau Ayu ngak dapat bagian, cicitnya kapan numbuh? " tanya Maulana dengan seringai mesum.


" Ih...Dasar CUKRIS!!! Seru Ayu berbarengan dengan nenek.


" Apaan tu! kok kompak bangat! Kernyit Maulana.


" Cucu kurang segaris!!! " jawab Ayu.


Sedang nenek Rayani terkikik Geli.


" Jadi terima ya nek...Bi Imah jadi kawannya, kasihan bi Imah Jodi yang kesepian, dengan bersama nenekkan hidupnya bisa ceria lagi. Mau ya sayang..." Rayu Maulana.


" Ya deh...nenek terima...Tapi kalian harus kasih kabar cicit tumbuh sampai bulan ketiga dihitung dari sekarang! Kalau cicit tu belum ada, itu tandanya kalian belum buat, nenek akan kembalikan ini si Imah Nany dari kalian.


" Ujar sinenek memberi syarat dengan wajah tanpa dosa.


" Ya ...Deal! Ucap Maulana sembari mengulurkan tangan pada sang nenek.

__ADS_1


" Deal!!! " Balas sinenek Gaul.


Ayu membelalakkan matanya, begitu melihat dengan entengnya sang suami menyanggupi persyaratan sang nenek.


Maulana menghampiri Ayu, setelah dari neneknya.


" Emang Abang kira bikin anak sama kayak buat godok? sekali aduk, goreng langsung jadi? " protes Ayu dengan berbisik dikuping Maulana.


" Tenang saja Ayu! Ayo kita kedalam biar nenek kusuk. Habis dikusuk, Insya Allah, sekali ngadon langsung jadi nantinya. " Kata sang nenek sembari beringsut untuk berdiri. Lalu ia berjalan dengan tongkatnya menuju kamar.


Ayu terpaksa mengikuti nenek Rayani, walau hatinya mulai deg- degan.


" Ni nenek kupingnya benar- benar kayak lintah. Bisik sehalus itu bisa ia dengar dengan jelas, kena deh aku. " Cicit Ayu dalam hati.


Sembari dikusuk, Ayu juga tak hentinya merayu sang nenek agar bisa menerima nannynya dengan senang. Ayu membuat cerita yang cukup dramatis tentang kerinduan bi Ipah akan memiliki keluarga,


karna wanita sebaya bundanya ini tidak memiliki keluarga, anaknya meninggal saat masih balita. Sedang suaminya meninggal 3 tahun yang lalu.


Ayu berharap simbiosis mutualisme antara nenek dan bi Imah berjalan dengan baik. Hingga mereka sedikit lega


meninggalkan nenek kalau ada bi Imah yang menjaga.


****


Pengantin baru itu kembali kerumah Ayu, saat Azan Isya berkumandang.


" Kami sudah makan disana sebelum balik bun..., jadi kami langsung kekamar ya. " pamit Ayu.


" Baiklah...cepatlah kalian sholat dan istirahat, agar besok tak ngantuk diperjalanan. " kata sang Ayah menimpali.


" Baik Ayah...kami kedalam dulu. " Ujar Maulana.


Maulana menatap istri cantiknya dengan intens setelah sholat. Melihat bibir merah


nan seksi itu, Maulana tak tahan.


" Sini sayang.. ada yang mau Abang bilang. " katanya memanggil Ayu seraya pindah duduk di peraduan.


Ayu mengemasi sajadah mereka, kemudian berjalan kesisi ranjang.


Begitu Ayu sampai Maulana langsung menarik istri lebih dekat lagi. Mereka saling tatap dengan jarak yang sangat dekat. Kemudian Maulana mencomot bibir merah muda itu.


Ayu tanpa sadar membuka mulutnya, hingga lidah suami menerobos masuk mengakses semua isi mulutnya. Lama mereka saling ******* hingga nafas mereka saling tersegal barulah mereka mengurai pagutan yang memabukkan itu.


" Nampaknya begitu sampai disana, kita sudah siap buat cicit untuk nenek." Bisik Maulana.


" Insya Allah...Bang..." Balas Ayu.


" Semoga kalian bahagia!!! " Seru raja Sahman seiring datangnya semilir angin.


Maulana membawa istrinya rebah dalam dekapannya. Kemudian menarik selimut


dan menggulung dirinya dan Ayu dibalik selimut tebal itu.


Yang mampir kasih tanda ya say...biar penulis ngak merasa sendiri dan kurang bahagia masa kecil.


He...He...

__ADS_1


Kasih like, Komen, fote, dan hadiahin juga.


__ADS_2