
Seharian Ayu menemani bi Ningsih mulai dari kepasar dan kedapur. Walau badan capek akibat kerja berat dengan suami, Ayu tak mau bermalas- malas ditempat tidur.
" Gimana Bi? Enak tidak semur buatanku? " tanya Ayu pada ningsih yang habis mencicipi semur ikan laut buatannya.
" Mantap!!! Emang non Ayu biasa masak ya? " tanya kagum bi Bi ningsih.
" Biasa ngak...tapi sering masak waktu ngekos dulu. Selama dikampung jarang, maklum anak tunggal, kalau dirumah apa- apa masakan bunda. " Ujar riang Ayu teringat bundanya.
" Enak punya bunda yang penyayang non...Kalau bibi dari kecil ngak merasakan kasih sayang bunda, bunda pergi setelah lahirin bibi.
Bibi diasuh nenek sampai berumur 15 tahun, setelah nenek menghadap pula, bibi mulai merantau dan bekerja rumah tangga. " kenang Ningsih.
" Maaf bi...sudah membuat bibi teringat masa lalu. " Ujar Ayu tak enak hati.
" Tenanglah sayang...Bibi tak lagi sedih sekarang, coba lihat tampilan bibi, Cusano! " ujar Bi Ningsih menyeringai.
" Apa itu Cusano bi? Kalau Sussano dewa laut petir dalam mitologi Sinto. " ujar Ayu.
" Istilah suka- suka bibi, kalau mitologi - mitologi mana bibi paham non.
" Trus apa? " Tanya Ayu tak sabaran.
" Cuek...Santai dan norak! He...He..." kekeh bi Ningsih tanpa dosa.
Ayu menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
" Baru kali ini aku lihat ada orang yang bangga mengakui dirinya norak. " Batin Ayu geli.
Bibi orangnya nikmati hidup tanpa banyak mikir non, tapi sekarang kayaknya bibi sudah mulai mikirin sesuatu. " Ucap bi Ningsih sedikit berbisik.
" Mikirin bang Ujang ya? " tebak Ayu.
" Kok bisa tahu? Ayu punya Indra keenam ya? " Selidik Ningsih dengan berkedip centil.
" Satu, dua, tiga, empat lima! tetap lima kok bi, belum ada numbuh yang keenam." Balas seloroh Ayu.
" He...He ..Maksud bibi kayak cerita Kartun Wowo gitu anak In...in ...Indigo!!!
" Seru rame Ningsih.
" He...He...ngak kenal yang begituan mah bi..." Elak Ayu.
" Nak Ayu suka ngeles juga ya...tapi ngak apa dech..." Ucap lirih bi Ningsih.
" Jangan cember gitu dong bi...ntar lipstiknya pindah kemana- mana. " Goda Ayu.
" He...He..nasip lipstik murahan non, kemana kesenggol langsung nempel."
__ADS_1
" Ya udah...nanti kita cari yang bagus di Aflikasi online Shop. " Bujuk Ayu.
" Emang non mau? tanya bi Ningsih berbinar.
" Maulah...asal nyentilnya bibi tidak pada sembarang orang, nanti tambahin modal cantiknya. " Ucap Ayu.
" Janji! Bibi ngak bakal centil kesembarang orang, Suer sambar teri! He. .He..." Kikik Bi Ningsih.
" Mana ada ikan teri nyambar bi...Yang ada paling ngupilin kudis kalau bibi mandi disungai, emang kaki bibi kudisan ya? " tanya Canda Ayu.
" Ada sih dulu, kalau sekarang sudah sembuh deh, itu kudis bekas gigit Pacet pas pulang kekampung. "
" Ayu sih pernah juga bi, namanya juga berasal dari kampung." Balas Ayu jujur.
Tanpa berasa, mereka sudah selesai menyiapkan semua menghidangkan sembari bercanda.
Maulana tiba dirumah pukul 15 : 40 bertepatan ketika Ayu selesai berdandan rapi.
Mendapat sambutan istri cantik dan wangi didepan pintu membuat hati Maulana berbunga- bunga.
Maulana langsung mengikuti Ayu kekamar. Dengan cekatan Ayu membantu membuka dasinya. Jarak mereka sangat dekat, Usai membuka dasi, Ayu langsung dihujani ciuman.
" Mandi dulu baru lain- lain, aroma jengkol beda dengan aroma keringat. Ujar Ayu menepis lembut tubuh suami.
Maulana menggaruk kepalanya yang tak gatal, badannya yang tadi sudah panas dingin mendadak, bak tersiram air Es.
Maulana tersenyum senang." tentu Abang mau, Abang pemakan segala kok...yang penting halal dan ngak asin. " Ujar Maulana.
" Soal rasa seperti orangnya, pedas manis gurih. " Seloroh Ayu.
" He....He...Abang buruan mandi dan wangi deh...biar incip yang gurih disini dulu, habis itu baru yang didapur. " Ucap Maulana dengan Kerling nakal.
"Kayaknya salah omong dech, jadi korban santap sore." ringis batin Ayu.
Benar apa yang Ayu fikirkan. Baru selesai mandi, Maulana langsung menarik Ayu ketempat tidur.
" Apa pinggangnya kuat? kan belum makan, protes Ayu.
" Udah tadi siang...kayaknya cukup buat bekal sekali goyang. " Ujar Maulana santai, kemudian mulai melaksanakan aksi.
Sore itu Ayu benar- benar dibuat mandi dua kali, namun mandi kedua ia boleh bermanja, soalnya suami yang memandikannya.
Setelah bersih dan rapi kembali, barulah mereka menuju meja makan. Mereka makan berdua dengan romantis. Sedang Bi Ningsih sedang asyik bercanda dengan bang Ujang dipos, hingga tak peduli dengan aktifitas sore pasangan baru ini. Aksi suap- suapan dengan mulutpun dilakukan, hingga menjelang magrib barulah makan mereka selesai.
*****
Malam hari habis Isya, Ayu bergelayut manja dibahu suami.
__ADS_1
" Bang...Carikan aku kerja dong...Bosan kalau ditinggal dirumah terus. " rengek Ayu.
" Oke sayang...Abang akan Carikan kerja, tapi tunggu sampai anak kita berumur dua tahun. " Jawab Maulana santai.
" Ye...itu namanya ngak boleh kerja, anak belum ada diperut, malah disuruh nunggu
sampe berumur dua tahun baru boleh kerja. " Ucap lirih Ayu dengan wajah cemberut.
Maulana dengan sigap menarik Ayu kepangkuannya, didudukkan menghadap kepadanya. Kemudian diraihnya bibir cemberut itu, lalu dicomot dengan rakus.
" Ahhhh...manisnya..." pujinya setelah mengurai pagutan.
" Kan katanya mau jadi istri Soleha dan ibu yang baik. Makanya kudu nurut suami, ngak maukan punya anak yang suka cemberut, apalagi pembangkang? " tanya Maulana dengan mengernyit.
" Ngak...Maunya punya anak manis. " Bisik Ayu. Makanya banyak senyum pas buatnya. " Ujar Maulana mulai menggeluti istrinya lagi.
Ayu pasrah dengan senyum dikulum, setelah bertarung sekali lagi, barulah Maulana menyentuh layar telfonnya.
" Om Ujang...Tolong bawakan kado- kado dimobil." ucapnya setelah telfon tersambung.
" Oke! " jawab singkat Om Ujang.
Dua menit kemudian pintu diketuk, muncullah bang Ujang dan bi ningsih melansir kado.
Maulana menatap dengan curiga.
" Bukankah tadi yang diminta om Ujang saja. " tanya selidik Maulana.
" Hemat energi sesekali apa salahnya nak Lana.
" Ayu mengedipkan matanya pada suaminya, Maulana terpaksa diam. Selama sepuluh menit kado- kado sudah pindah kekamar Maulana semua.
" Kok sebanyak ini bang...Apa tadi Abang buat acara dikantor? " tanya Heran Ayu.
" Ngak sayang...Ini rezeki anak sholeh, sungguh ini Abang tak menyangka, lantaran Abang cuma ngajuin surat cuti saja untuk nikah, tidak ada nyampaikan undangan walaupun lisan, tapi nampaknya semua pada kasih kado, mungkin ini rezeki yang didalam. " Ujar Maulana sembari mengusap perut rata istrinya.
" Is...pede Amat sudah langsung jadi? Emang bibit Apa? " tanya Ayu mengernyit.
" Ya bibit unggullah...Berasal dari gudang streril yang sudah lama menunggu lahan tanam." Ujar Maulana dengan percaya diri.
" Amiin...semoga aja Iya..." Seru Ayu.
" Amin...Balas Maulana sembari duduk bersimpuh didekat tumpukan kado- kado.
Ayu duduk mepet dekat suami, siap- siap membuka kado.
" Bismillah....Mudah- mudahan ngak ada kodoknya. " Seru Ayu mulai dengan kado pertama.
__ADS_1
" Emang Abang tukang kibul, sampe dihadiahin yang aneh- aneh. " Sanggah Maulana.