
Maulana berfikir sepanjang jalan, bagaimana memberikan hukuman manis untuk istrinya yang sudah mengabaikan telfonnya hanya karna sibuk bergelut dengan pasangan belum resmi yang bekerja dirumahnya.
Ayu yang merasa tidak salah apa- apa santai saja menunggu kepulangan suaminya. Ketika Maulana belum juga kembali setelah pukul sepuluh malam, Ayu segera membuka pakaiannya lalu tidur dengan hanya memakai pelapis segitiga saja, membiarkan bukit kembarnya bergelantungan bebas tanpa penutup, ia lalu menggulung tubuhnya dalam selimut tipis, karna malam ini terasa gerah.
Maulana pulang tepat pukul sebelas malam. Mendapatkan istri yang telanjang
dada karna selimutnya tersingkap, membuat jakun lelaki perkasa itu naik turun. Dengan gugup ia menutup dada Istri sebelum kekamar mandi untuk membersihkan diri.
Ia melupakan tubuh lelahnya, begitu selesai sholat Isya, ia segera menaiki ranjang. Maulana menatap lekat wajah Ayu. Memasukkan anak rambut kebalik kuping mungil nan seksi milik Ayu.
Memandangi istri dalam keadaan tidur begini, membuat rasa kasih Maulana makin meluap- luap. Niat semula ingin memakan istrinya berganti jadi rasa belas kasih yang besar. Iapun dengan sayang mengecup kening sang istri, setelah membelai rambut indahnya dengan sayang, Maulanapun masuk kedalam selimut Ayu, mengurungkan niat
menjajah istri cantiknya saat tidur.
" Abang bobok saja sayang...Nanti bila sayang terjaga dan sengaja menggoda Abang, barulah Abang akan berikan hukuman manisnya. " Ucapnya lirih seraya memeluk Ayu dengan posesif.
" Pasangan hidupku...Bagai sepasang sandal kita saling melengkapi, jika yang satu tiada maka yang satunya takkan terpakai lagi,
ini janjiku padamu, hanya dirimu saja pasangan hidupku, hingga akhir hidupku kelak." Ucap Maulana seperti berpuisi.
Ayu tersenyum dalam tidurnya, hingga Maulana menutup mulutnya karna malu.
" Mungkinkah alam bawah sadarnya mendengar pernyataan cintaku yang terdengar norak." Tanya batin Maulana malu sendiri.
Ayu makin membenamkan tubuhnya kedalam pelukan Maulana, sedang matanya masih terpejam dan nafasnya tetap teratur, menandakan ia benar- benar lelap dalam tidurnya.
Hanya beberapa menit berikutnya Maulanapun memejamkan matanya pula. Karna aroma tubuh istri yang menyejukkan, tidak butuh waktu, akhirnya Maulanapun ikut terlelap dalam memeluk mesra pasangan hidupnya.
Merasakan goncangan sedikit dirumah, membangunkan pasangan itu. Mereka saling menatap, Maulana bergegas memasangkan piyama tidur untuk sang Istri, takut goncangan gempa berlanjut. " Sayang...lain kali pakai baju tidur ya...walau didalamnya ngak pake ngak apa. Karna takut terjadi lagi gempa susulan, susah keluar cepat." Ujar Maulana setelah Ayu memakai kimononya.
" Maaf...tadi gerah sekali, lain kali tidak begitu lagi. " jawab Ayu sembari mengusap dadanya yang masih berdebar
entah karna gelegar bumi, atau karna bekas pegangan suami ditubuhnya.
" Sayang...rengek Ayu manja merebahkan
kepalanya dipangkuan Maulana.
__ADS_1
" Kenapa sayang..Syukurlah gempanya sudah berhenti, Abang khawatir apa masih kuat getaran dikampung ya? kasihan para pengungsi kembali dilanda kecemasan." ujar sendu Maulana.
" Besok kita kirim bantuan ya bang...Mudah - mudahan ngak datang lagi gempa susulan. " Jawab Ayu.
" Tadi siang, rombongan Abang sudah mengantar bantuan kelokasi pengungsian terdekat, makanya pulangnya lama sayang." Jelas Maulana.
" Mudah- mudahan banyak yang tergerak hatinya untuk membantu ya bang...Ayu lihat diinternet nomor rekening dari beberapa Badan yang menyalurkan bantuan. " Ayu.
" Ada juga ternyata sayang Abang melihat internet untuk memikirkan nasip saudara kita yang terkena musibah, Abang kira hanya sibuk ngurus pasangan
kedaluarsa itu. " Sindir Maulana.
Piut..
Pinggang Maulana langsung jadi korban kepiting panas Ayu.
" Aduh...sakit lho dik.." Keluh Maulana.
" Salah sendiri, menuduh istri yang cantik dan baik begini ngak peduli sosial. " Sungut Ayu lalu duduk dan menjauh dari suami.
" Habis Abang lihat adik sibuk bercanda didapur dengan pasangan belum jadi itu. " Bisik Maulana sembari menarik kembali
Ayu mengernyitkan dahi. " Abang pasang kamera didapur ya? " tanyanya setelah memahami maksud suami.
" Mhum...kalau didapur sudah Abang pasang dari sejak kita ada asisten rumah tangga sayang...Abang pengen tahu apa saja yang dihidangkan dan bagaimana tingkat kebersihan makanan yang akan kita makan. Abang tak mau istri makan makanan yang tak jelas bahan, dan cara penyajiannya." Jawab jelas Maulana.
Ayu menatap suaminya, mengetahui suami sangat teliti urusan perut, hati Ayu makin dipenuhi rasa cinta yang melimpah pada suami. Ayu kembali menyusup lebih dalam kedalam dekapan Maulana.
" Kalau mancing- mancing ntar dapat hukuman manis lho." Bisik Maulana.
" Orang memang lagi menunggu hukuman manis itu. " Ucap jujur Ayu sembari mengusap pipi Maulana.
" Benarkah? tidak takut sedang main bumi berguncang lagi? " Maulana.
" Takut sih...tapi kalau selera kayaknya ngak boleh ditahan bang..apalagi perihal yang halal, selagi masih ada kesempatan
kita nikmati, entah Esok apa pula yang akan terjadi. " Ucap Ayu mulai melancarkan usapan lembut didada suaminya.
__ADS_1
Maulana menatap Ayu lekat, hatinya makin bergetar hebat. " Sa- sayang...Abang hanya punya Nenek dan Ayu saja didunia, maka sejak saat ini, ikutlah Abang kemanapun kalau dinas luar, Abang tak dapat berkonsentrasi bila jauh dari adik. " Curhat Maulana.
" Abang punya satu lagi sayang...Semoga bumi kita selamat , dan ia juga selamat. " Ucap Ayu seraya mengarahkan tangan suami keperutnya yang masih datar.
" Jadi sudah jadi cicit nenek? " tanya Maulana girang.
Ayu mengangguk.
Maulana mengecup perut Ayu. " Memang ia datang seiring goncangan, tapi semoga ia termasuk kedalam golongan hamba yang diselamatkan dunia akhirat . " Ucap lirih doa Maulana.
" Amiin...Semoga berakhir sudah bencana dibumi kita, dan setelah ini kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga ketertiban dan kebersihan meningkat, Semoga Allah melindungi kita semua kedepannya. Dan bagi saudara kita yang sekarang dipengungsian sana, semoga diberi kesabaran menghadapi musibah ini. " Ujar Ayu.
" Iya sayang...sepertinya saat ini dengung
telinga kanan dan kiri bersahutan. Kabar buruk dan baik beriringan, kita tidak bisa terlalu banyak ketawa karna dapat anugrah, karna saudara kita sedang menangis akibat musibah. " Ucap Sendu Maulana.
" Iya sayang...nampaknya memang kita harus banyak- banyak sadar diri, bahwa kehidupan yang kita punya sepenuhnya milik yang Kuasa, kita hanya dititipkan selagi Dia belum berniat membawanya. Tapi satu keyakinan Abang yang jelas, walau bumi bergejolak, dihati Abang hanya akan ada satu gejolak yang luar biasa, yaitu cintamu Ayuku." Ujarnya seraya mulai menyingkap kimono Ayu.
Menelusupkan kepalanya kedalam piyama yang didalamnya tidak berbalut apa. Ayu mencengkram tubuh Maulana, mengusap dadanya dengan lembut, lalu menjilati leher Suaminya.
Maulana mulai mengerahkan hukuman manisnya. Hanya dengan melorotkan penutup tubuh bagian bawah istri. Ia mulai bermain dibawah sana. Memacu dengan pelan, mengusap dengan lembut dan mengesap dengan penuh perasaan.
Ayunan pelan itu akhirnya naik juga, jika sudah berguncang, itulah resikonya, ritme akan naik juga seiring tuntutan dari dasar bumi. Keduanya saling mendekap erat, menggoyang lebih kencang, sebelum akhirnya lenguhan panjang mereka terdengar, tatkala kedua anak manusia itu terdampar dipuncak gelora.
Sayangku....Aghh.....Cintaku...pasangan hidupku.... " Ujar mereka bersama sembari mengetat, mengerat, melebur jadi satu raga dan jiwa.
Usai persatuan yang memabukkan itu. Ayu berbisik pada suami.
" Ini sungguh indah sayang.. Gimana kalau kita bantu bi Ningsih dan om Ujang segera halal, agar mereka bisa merasakan keindahan seperti ini pula." Usul Ayu.
" Baiklah...besok kita urus pernikahan mereka, Abang lihat mereka sudah saling mendamba, tak boleh dilama- lamakan."
Ucapnya sembari merapikan anak rambut Ayu.
Senang dengan jawaban suami, Ayu kembali menghadiahi kecupan dibibir suami. Maulana tentu tidak diam saja, ia membalas lebih panas, Mereka saling meremat, mengesap dan melilit ,hingga udara disekitar kian menipis dan Azan subuh berkumandang, barulah pautan tersebut mereka lepas.
" Wah...tambah seksi bibir bawahmu sayang..." Ujar Maulana sembari mengusap bibir bawah Ayu yang membengkak.
__ADS_1
" Mandi dan shubuh dulu..." Balas Ayu.
Maulana tak menjawab, namun dengan sigap ia menggendong istri kekamar mandi.