
Tamu dekat tak ada hentinya berdatangan. Berbagai kado mereka bawa. Sebagian membawa kado berupa bahan pokok.
Ayu tak ada waktu istirahat kecuali jadwal sholat, menerima bawaan mereka.
Hingga malam hari sehabis Isya.
Para tetangga dekat rumah berkumpul dirumah Maulana makin rame. Ayu tak menyangka masih ada orang seperti suaminya dizaman modern ini. Rumahnya berpagar besi dan dijaga oleh keamanan, tapi orangnya masih setia bertetangga dengan baik. Buktinya, begitu mereka tiba sudah disambut oleh tetangga. Sekarang malah makin sibuk, ada yang membawa Beras segoni, gula dan kelapa. Pokoknya semua mereka membawa perlengkapan syukuran.
Bu Rahma datang membawa perkara bumbu masak yang siap digiling.
" Emang Abang ada ngundang dan buat rencana syukuran? " tanya Ayu berbisik, heran dengan kesibukan dadakan itu.
" Syukuran sih ada rencana, tapi masih didalam hati. Abang rencananya kita masih mau istirahat malam ini. " balas bisik Maulana.
Ayu dan Maulana hanya pasrah, saat rumahnya mulai dipadati para tetangga.
Sebahagian pergi kedapur untuk menyiapkan masakan. Semua bawaan dimobil diangkat oleh kaum bapak.
Para remaja membantu menghias ruang tamu. Ayu bengong dan terduduk dengan perasaan masih canggung apa yang mau dikerjakan.
" Kita akan mendoa besok pagi nak, kami sudah memesan Ayam, dan ikan dari tadi siang. Ayu tidur saja kalau ngantuk, biar kami kerjakan semua ini. " kata Bu Rahmi tetangga Maulana yang paling tua.
Ayu tersenyum, kemudian mengambil jengkol dibaskom untuk membantu mengupasnya.
" Tak usah! nak Ayu tak usah pegang - pegang yang bau, nanti bau pas dekat Maulana. Ini jengkol kalau dah masak kalionya dan samba Tanak, khusus untuk pelengkap hidangan, dan untuk warga kompleks yang ikut hadir, sedangkan nak Ayu tak usah pegang apalagi makan." Ujar Bu Minah yang dengan gaya kuasa.
" Iya! Semua boleh makan jengki kecuali kedua pengantin, kami pastikan akan mengontrolnya! " timpal Kanis anak Bu Rahmi.
Ger....Semua tertawa ketika melihat bibir
Ayu mengerucut.
" Ditahan dulu makan perkara bau sampai anak kalian lahir! Buar nanti anaknya ganteng, cantik dan wangi! " Seru pak Afrian yang sekarang membuat Maulana yang protes.
" Mana boleh begitu pak...Bukankah semua tahu Maulana penyuka petai, kalau ketemu petai ngak nahan ngak makan. " Protes Maulana.
__ADS_1
" Kalau begitu jangan ketemu dulu sama petai, kan ngak ada pokoknya didekat rumah, kalau ngak dibawa dari pasarkan ngak nyampe. "
" Mana bisa begitu, kalian takkan tahu saat kami memakannya. " Ujar Maulana merasa menang.
" Kami sudah mencarikan asisten rumah tangga untuk kalian. Bi Ningsih yang akan mengontrol dapur sampai bayi kian lahir. " Ujar Bu Rahmi.
" Siapa yang suruh cari ART Bu? protes Maulana.
" Kau kira kau akan biarkan istrimu mengurus rumah sebesar ini sendiri Buyung? Tidak! Biarkan uangmu membantu istrimu, lagian hidupmu selama ini tunggal, uangmu banyak, mau dikemanakan lagi kalau bukan untuk anak dan istri! " Timpal Bu Rani.
" Kok pada tahu uangku segala? Maulana menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
" Ya tahulah...Kan bekerja, mengaji dimana- mana! bagi duit sama siapa? Kita- kita kan paling dapat martabak pulang pengajian, itupun giliran! " Timpal Royan anak lelaki rumah depan.
" Ih...Jadi semua pada klaim aku pelit ya?tanya Maulana.
" Ngak pelit sih nduk! Cuma kelebihan uang masuk, kekurangan tanggungan. Jadi kalau bikin anak yang cepat dan kalau bisa banyak! "Ujar Om Zikri menimpali.
" Pusing!!!! pusing!!!Emang dikira istriku Kayak nenek Hawa, sekali beranak selalu dapat dua? Akupun takkan tega membuatnya terus mengandung, kapan senangnya kalau begitu! " Sanggah Maulana.
Ger...Hadirin sidang cuci ayam sama ikan, kupas jengkol kembali terkikik.
" Kapan lagi kami ganggu nak Lana, besok- besok kan tinggal Ayu dan bi Ningsih sama satpam dirumah ini. " Kata bu Rahmi lagi.
" Benar itu! " seru serentak para juru masak dadakan.
Ayu benar- benar mengantuk dan sampai tertidur duduk.
" Abang takkan membiarkan hidupmu sepi kemanapun kau pergi sayang...Semua akan menganggap Ayu saudara, mulai hari ini tak boleh ada kesedihan lagi." Ujar Sahman.
" Kau..." Ayu tergagap, namun matanya terbuka kembali.
" Bawa Istrinya nak Lana ketempat tidur, kasihan tertidur duduk begitu " Seru pak Zikri melihat Ayu hampir terjatuh dari duduknya.
Maulana membimbing Ayu menuju kamar. Semua memandang mereka dengan senyuman.
__ADS_1
Setelah membaringkan Ayu dan menyelimutinya, Maulana bergabung lagi dengan kaum bapak membuat tenda masak disamping. Tidurlah...disamping istrimu, paman akan berjaga! ujar Om Ujang yang melihat Maulanapun mengantuk.
" Emang ini rencana siapa paman? Kenapa bahannya sudah disiapkan, dan orang- orang datang dengan sukarela bekerja? " tanya Maulana.
" Ini buah keramahanmu bertahun- tahun sayang...Walau cuma sedekah senyum sama martabak atau apapun yang kau bawa sebagai oleh- oleh, memberikan dengan ikhlas pada tetangga, membuat mereka menganggapmu keluarga, mendengar berita kau pulang untuk menikah walau tanpa undangan, mereka menyiapkan syukuran Penyambutan ini." jelas Ujang.
" Mereka kerjasama dengan paman? "
" Tidak! Andilku cuma menanyakan kapan kalian tiba disini, karna diminta oleh Bu Rahma. Setelah itu urusan mereka, paman saja cukup terkejut, waktu menjelang siang datang Ayam dan ikan, mereka semua yang udah patungan bayarnya. Pokoknya ini rencana mereka murni, aku hanya tukang terima saja sebagai penjaga rumah. " Jelas Om Ujang.
Maulana terdiam, tak bisa berkata apa lagi. Bahkan dikampung ia tak sempat buat syukuran dirumah neneknya. Eh disini malah dapat yang dadakan. Rezeki memang tidak disangka- sangka, semuanya tentu datang dari Allah. Tanpa disadari airmata Maulana mengalir.
" Ibu...walau ibu dan bapak sudah disisi Allah, tapi Allah memberi ibu- ibu dan bapak yang lain yang mengurus anakmu,
hingga aku tak merasa sebatang kara lagi, Alhamdulillah.... " Batin Maulana mengucap syukur.
Karna tak tahan kantuk, Maulanapun mendatangi kamarnya. Melihat Ayu yang tidur dengan senyuman melengkung, yang membuat wajah cantiknya makin merona, Maulana mengecup bibir itu sekilas. Setelah memandangi istri sejanak, iapun masuk kedalam selimut, dan tidur sembari memeluknya, untuk malam pertama pun tak mungkin, orang sibuk memasak dirumah, bagaimana boleh ia bercinta, mengingat fikiran mesumnya, ia tersenyum sendiri.
Pukul Empat jelang subuh Ayu dan Maulana ternangun, mereka saling pandang. Aroma berbagai masakan Padang menyadarkan mereka, kalau mereka sedang dirumah, dan para tetangga sepertinya sudah menyelesaikan masakan mereka.
" Randang ! Samba Tanak! Asam Paseh dan Kalio Jengkol! " Seru mereka berdua.
Kriuk....Perut merekapun berbunyi.
Sayang...Tenang saja, aku culik dulu samba Tanak dan Kalio Jengkol, kita sembunyikan dikamar pas ibu- ibu pada Sholat subuh. Abang siap- siaplah untuk sholat memimpin jamaah. " Bisik Ayu.
" Iya dik...Abang tak tahan aroma masakan favorit itu, simpan untuk kita. Baru nanti pas makan kita tinggal ngambil yang lain lagi, jadi ngak ada yang
kan tahu kita makan jengkol, masalah bau sih aman, nanti kita gosok gigi. erkali kali dan kumur laserin, kalau perlu makan
sirih dari pokok ditaman. " Jelas bisik Maulana.
" Oke bos! Cepatlah mandi. " Ujar Ayu.
Maulana mengangguk, mengambil handuk dan masuk kebilik mandi.
__ADS_1
Sedang Ayu masuk dapur dan meneriksa hidangan. Kebetulan sepi ia langsung memasukkan Kalio Jengkol dan samba Tanak kedalam mangkuk, dan membawanya segera kekamar.
" Yes! Selamat! " Hati Ayu girang, ketika sampai dikamar kedua makanan kesukaan mereka tanpa ada yang memergoki.