
" Bukankah abang sudah berjanji untuk melepasku menjadi pasangan Syah dirinya? " tanya Ayu pada raja gagah yang duduk termenung diatas batu besar,
dipinggir sungai besar, muara S.
Pria itu menoleh, wajahnya nampak sendu. Tapi melihat gadis cantik yang menghampirinya, senyum dibibir pria itu mengembang. Debaran dihatinya masih sama, walaupun ia tahu gadis yang baru datang itu sudah menikahi pria dari bangsanya sendiri.
" Kenapa Ayu mendatangi Abang? bukankah ini malam pengantinmu? mengapa tidak fokus pada suamimu? " tanya pria itu beruntun, walau ia tak dapat mengingkari lonjakan hatinya karna gadisnya masih mengingatnya bahkan dimalam istimewanya.
" Gimana aku bisa tenang menjalani kehidupan baruku, sementara telingaku masih saja mendengar suara- suara pilu dari rakyatmu. Bahkan malam ini Ayu mendengar tangisan dari istrimu yang terdengar menyedihkan." ujar Ayu menatap tajam pada raja gunung Binjai itu.
" Aku tak melakukan apapun! ia yang ingin menangis, menghabiskan airmata dan suaranya! " ucap Sahman sengit, terdengar tanpa belas kasih.
Ayu menyentuh bahu pria itu, Sahmanpun tak kuasa untuk tidak membalas sentuhan gadisnya. Ia meletakkan telapak tangannya diatas tangan Ayu yang bertengger di bahunya, kemudian ia meremas jemari Ayu.
" Menyakiti perempuan bukan hanya dengan melukai fisiknya bang...Sikap sinis dan kata kasarmu lebih melukai dari
sembilu tajam. Kalau luka dengan sembilu masih dapat diobati dengan piladang, atau obat anti septik. Tapi luka hati karna kata, takkan dapat disembuhkan dengan obat apapun, kecuali dengan kasih sayang."
" Jadi kau datang hanya untuk memintaku menyayangi mereka? Jangan harap permintaanmu yang ini akan terkabul Ayu! Karna aku hanya mempunyai satu hati, dari awal aku melakukan pernikahan dengan mereka karna terpaksa, selamanya takkan pernah ada cinta. " Ujar Sahman.
" Tak ada pun cinta, setidaknya perlakukan mereka dengan sayang...Walaupun aku hanya orang asing, tapi aku tak bisa mendengar tangis wanita karna patah hati, sayangi Nini dan Zahra demi Ayu bang...Agar tidur malam Ayu tidak terganggu, walau Ayu sudah berobat sekalipun, telinga Ayu masih tidak bisa disembuhkan dari suara- suara yang memilukan seperti itu." jelas Ayu.
" Sayang...maafkan Abang, kalau kehidupan kita masih terikat, walau kau
sudah menjadi milik orang lain. " Ujar Sahman sembari mengusap pipi Ayu.
" Jangan meminta maaf! tapi berbuatlah untukku! Bukankah kau mengaku mencintaiku sejak dari Ayu masih bayi? Itulah yang menyebabkan kehidupan kita terikat. Tenangkan hatimu bang...Sayangi
kaummu mulai saat ini, damaikan ratu dan selirmu, tertibkan rakyatmu! Kau seorang raja dari bangsamu, tidak sepantasnya seorang raja mengabaikan rakyatnya, apalagi istrinya." - Ayu.
" Aku hanya belum bisa menyayangi wanita lain selainmu dik... Ini terdengar berlebihan, hanya Ayu saja yang bisa membuatku luluh, yang lainnya lewat! Sungguh inilah hatiku yang keras. Maafkan aku!
__ADS_1
Ayu menatap Sahman dengan sendu. Diusapnya pipi Sahman dengan sayang.
" Andai kau manusia, tentu aku takkan pernah mau dengan siapapun selain dirimu bang...Tapi apa daya, melanjutkan hidup denganmu membuat aku dikira gila
oleh bangsaku. Dengan tidak menikah, Ayahku mendapat banyak cemoohan dan cercaan.
Itulah mengapa Ayu ingin menikahi bangsa sendiri, demi untuk mengikuti kodratku, untuk menyelamatkan ayah dan bundaku. Kalau kau tidak melepasku dengan baik, maka hidupku akan kacau lagi, ayahku malah makin dipermalukan, bila pernikahanku tak berhasil. Tegakah dirimu bang...Lirih Ayu dengan tatapan mengiba. Air matapun terjun bebas dari sudut matanya, membasahi pipi mulusnya.
Sahmanpun mengusap bening yang tak putus itu dengan sudut jemarinya. Lalu menatap kekasihnya dalam- dalam. Kemudian Sahman beralih menatap langit yang dihias oleh rembulan yang bersembunyi dibalik awan gelap.
" Baiklah sayang...Aku janji akan berkata halus pada mereka demimu, mulai Esok, takkan ada tangis lagi! Dan Ayupun jangan menangis lagi ya...Sahman tak tahan melihat Ayu menangis. " pinta Sahman tulus.
Ayu mengangguk, Sahman memeluknya, Ayupun tidak berniat menolaknya, ia membenamkan diri dalam pelukan Sahman.
" Selamat jalan Sayang...Selamat menempuh hidup baru, berbahagialah selamanya..." Gumam Sahman.
***
" Ia masih bertemu dengan Raja gunung Binjai Itu rupanya, pertemuan yang mengharukan, hingga bantal kami basah. " Batin Maulana.
Kamudian Maulana menatap Jam dinding dikamar, tepat pukul Dua dini hari. Maulana turun dari ranjang, melangkah kekamar mandi.
Maulana melakukan shalat malam, dan berdoa untuk kesembuhan istrinya pada sang Khalik.
Setelah berdoa, Maulana kembali ketempat tidur. Membacakan Alfatiha, kemudian penggalan surat Yasin tepat didepan muka Ayu.
Alam Ahhad ilaikum Ya Bani Adama..Alla ta' budus Saiton..Waani' buduni Haza sirotimmustaqim..
Kemudian Maulana menngusap muka istrinya.
" A...Ada apa bang? " tanya Ayu gagap, ketika ia tersentak dari tidurnya.
__ADS_1
Maulana tidak menjawab, Ia hanya mengecup pipi Ayu. Melihat suaminya berbaju Koko dan masih memakai pakaian shalat, Ayupun tersenyum. Lain kali kalau mau sholat malam, bangunin istri juga ya.. Biar kita sama- sama!
Bukankah Syurga itu luas, jangan ingin sendiri kesana, bawa istri juga mencari jalan kesana. " Ujar Ayu.
" Bagaimana kalau Syurga dunia dulu! Apa adik sudah siap? bisik Maulana dikupingnya.
Ayu tersenyum sembari meraba wajah Maulana. Bisa tunggu malam kita sampai dikota P. Aku ingin melakukannya dengan
khidmat, jadi Ayu rasa lebih cocok kita lakukan disana. " Pinta Ayu dengan tatapan lembut.
" Baiklah sayang...Abang akan bersabar, bukankah Ayu akan selamanya disisi Abang, maka akan ada ribuan malam lagi, selagi Allah masih memberi kita umur. " Ucap Maulana sembari mengecup kening istrinya.
" Tidak perlu seribu malam menunggu sayang.. Kalau sudah disana Ayu siap, terserah mau dilakukan dikasur, didapur atau disumur, pokoknya disana hanya ada kita berdua dan Allah, jadi bebas berEkspresi. " gumam Ayu dengan senyum centil.
He...He..." Baiklah kalau begitu! Abang akan menagih janjinya! tapi tak mau melakukan disumur, disana tidak baik, kita akan melakukan disetiap tempat yang kita suka, pokoknya ditempat yang bersih dan jauh dari SD Syaiton.
" Sekarang buka bajunya! " kata Ayu.
" Kan katanya ngak disini? " Maulana mengernyit.
He...He .." Maksudnya diganti! Soalnya itu pakaian sholat, Ayu ingin bobok sambil dipeluk, ntar terkena Iler. " Canda Ayu.
" Oke cantik! Abang sampai lupa masih memakai ini. Tinggal Dua jam lagi sebelum subuh. " kata Maulana sembari berganti baju.
Maulana berusaha sabar menghadapi Ayu, ia juga berjanji dihatinya untuk memperlakukan dengan lembut, ia tak mau kalah dengan raja jin itu. " Gimana bisa manusia kalah dari mahluk ciptaan Allah yang lain? Bukankah manusia sebagai mahluk yang paling sempurna dimuka bumi, dalam hal kasih sayangpun
seharusnya manusia lebih sempurna, karna manusia punya akal untuk memikirkan beribu cara membahagiakan pasangan halal." Fikir Maulana dalam hati.
Setelah mengganti baju, iapun bergolek disisi Ayu. Menarik gadis itu lembut, agar berbaring dibagi kirinya yang kekar, kemudian menarik sampai pinggang, memeluk pinggang kecil itu dengan tangan kanannya.
" Waktu dua jam tidur masih berharga, Azan subuh insya Allah akan membangunkan kita. " ucapnya dengan mengecup pipi gadisnya.
__ADS_1