My Love Ruler Of Another World

My Love Ruler Of Another World
Awas Jangan Sampai Teledor!!!


__ADS_3

Maulana dan Ayu sedang duduk santai didepan TV sembari menikmati kripik kentang.


Maulana mengusap rambut Ayu yang sedang bergolek berbantalkan pahanya. Bi Ningsih berjalan mengendap- endap dengan membawa setoples cip kentang dengan segelas teh. Baru saja Biningsih ingin membuka pintu keluar, ketika mata Maulana beralih dari menatap istrinya menuju pintu.


Deg


" Kemana lagi sudah malam begini?." tanya suara berat yang membuat bi Ningsih terkejut dengan dada berdegup.


" A- Anu nak Lana...Bibi mau ngantar kripik sama teh ini buat bang Ujang, kasihan berjaga tanpa ada cemilan." jawab gagap perempuan paroh baya itu.


Maulana menarik nafas berat, sedang Ayu duduk sembari menatap manik mata suaminya." Jangan galak- galak dong sayang..." ucapnya dengan berbisik, melihat biNingsih berdiri mematung didepan pintu dengan wajah memucat karna dapat Cegatan dari suami tampan Ayu.


Mendapat bisikan lembut dari Ayu, membuat Maulana sedikit tenang, ia lalu mengarahkan pandangannya lagi pada bi Ningsih.


" Udah sana antar! tapi begitu diantar langsung balik, ngak ada acara nonton berdua lagi dipos, jelek dan mencemari lingkungan. Kalau sudah sepakat dan suka sama suka, jangan pacaran, mending minta wali nikah bibi untuk menikahkan kalian. Kalian sama- sama orang yang lebih dari dewasa, ngak asyik dilihat kalau pacaran kayak remaja." Ujar Maulana masih menilik bi Ningsih dengan sorot tajam.


Ayu mengedipkan matanya pada bi Ningsih, melihat perempuan sebaya bundanya itu belum juga beringsut untuk mengantar cemilan dan minuman yang ia pegang dengan bergetar itu. Ayu lalu mengibaskan tangannya agar bi Ningsih cepat keluar.


Ningsih yang mengerti kode Ayu, segera melangkah pelan keluar.


Ayu berdiri dan berjalan menuju pintu, tidak peduli tatapan protes dari mata Suami.


Ayu menunggu bi Ningsih didepan pintu. Setelah bibi itu kembali, barulah Ayu kembali kesisi Maulana.


" Ayo kita kedalam.. Ayu mau membayar hutang cium seratus kali sesuai janji. " bisik Ayu dengan suara magnetis menggoda iman Maulana, dengan berjongkok menempelkan bibirnya dikuping suami, tepat setelah bi Ningsih sudah masuk kedapur


Maulana segera mematikan TV dan menggendong istrinya Ala bridal.


" Coba bibi lihat, ia akan semakin hauredang, sedang ia tak Abang bolehkan ngobrol hangat dengan calon suaminya. " protes Ayu dalam gendongan


Maulana.


Sedang Maulana hanya menatap intens istrinya sembari melangkah besar melewati ruang tengah menuju kamar.

__ADS_1


Setelah sampai didalam, Ayu segera ditindih ditempat tidur.


" Jangan membela hubungan yang belum halal! " Ujarnya sembari menghujam istrinya dengan sorotan melumpuhkan.


Ayu merebahkan tubuhnya lemas di kasur, mendapatkan intimidasi keras dari suami. Bagaimanapun juga, seharian tadi ia sudah membuat kedua pasangan tua yang baru mengenal bunga- bunga acara itu semakin dekat dengan membantu Ayu


membuat kebun sayur.


" Kan katanya mau bayar hutang, kok malah tidur? " terdengar suara berat Maulana menuntut Ayu yang menutup mata.


Ayu kemudian duduk dengan malas, menggeser tubuh kepinggiran tempat tidur.


" Sini! " Katanya sembari mengulurkan kedua tangannya dengan malas.


Maulana memandang wajahnya sejenak didepan cermin, kemudian berjalan kepangkuan Ayu. " Kayak ngak ikhlas gitu." Ucapnya lirih merasakan kecupan Ayu seperti kecupan anak TK.


" Gimana ngak malas, tubuhku lemas karna tatapanmu, kau lebih seram dari ular Weding dan ucapanmu sungguh menakutkan perihal bi Ningsih. "Jawab jujur Ayu sembari menarik tubuh ketengah tempat tidur yang diikuti secara alami oleh Maulana.


" Aku tak terfikir kesitu, aku hanya melihat mereka cocok, pak Ujang kalau dah tua nanti ngak mungkin dirawat sama saudarinya dikampung yang juga tak menikah, mending menua dengan istri, walau tak mungkin dikaruniai anak lagi. " Ucap Ayu membari menyicil utang ciumnya. Kali ini ia lakukan sepenuh hati, hingga Maulana berdebar tak karuan.


" I- itu sebabnya mereka jangan bolehkan terlalu intim, biar jadi penasaran dan minta segera dinikahkan. " Ucap Maulana mulai terbata.


Ayu kembali meneruskan debut kecupnya, hingga Maulana tanpa sadar buka baju sendiri karna gerah.


Aghhh....." Maulana sudah tak tahan tidak membalas serangan berbahaya dari hidung, bibir dan lidah Ayu. Iapun merebahkan Ayu dan mengungkungnya dengan tatapan penuh damba, ia mulai membalas serangan itu lebih ganas lagi.


" Sepertinya hanya ini obat yang paling mujarab untuk menurunkan emosiku hari ini. " Bisik hangat Maulana yang diteruskan dengan menggigit kuping Ayu.


Aghhhh ...." Ka- kan kredcupnya belum lunas. " Balas Ayu gelagapan, karna tubuhnya sudah ketularan panas.


" Cicil kemudian lagi, bayar tunggakan yang besar dulu, bunga belakangan, itu saja sudah syukur bisa dizaman Korona. " Ucap Maulana sembari membuka semua yang Ayu pakai.


" Perasaan keseringan tonggakan besarnya! Jangan - jangan debitor sudah dirugikan, karna ini. " protes Ayu sebelum tubuhnya menggigil dalam pengaruh serangan Maulana yang mengganas.

__ADS_1


Detik berikutnya yang terdengar hanyalah


suara- suara erotis yang memabukkan, yang membuat keduanya makin semangat dalam pergulatan mencapai kemenangan berdua.


Dengan terengah- engah sehabis pendakian tinggi, Maulana mengecup pipi Ayu berkali- kali.


" Perasaan sudah lumayan rajin ngadon dedeknya ya sayang.. Kira- kira udah jadi ngak ya? " tanya konyol Maulana setelah mendapatkan energinya kembali, habis berteduh diceruk leher jenjang Ayu.


Ayu mencubit hidung suaminya.


" Kurasa ini pasti sudah, soalnya cetakan ngak pernah diangkat cepat, kayaknya langsung lengket." Ujar Ayu.


Maulana tersenyum malu, sadar istrinya harus menahan berat badannya, iapun segera turun dari singgasana cintanya itu. Dan menarik lembut tubuh Ayu menghadapnya.


" Masalah bi Ningsih dan Om Ujang tadi,


Awas jangan sampai sayang teledor jaga!!! Jangan sampai mereka khilaf dirumah kita ya.." ujar Maulana dengan tatapan memohon.


Ayu tersenyum sembari memainkan jenggot Maulana. " Tenanglah sayang...Besok Ayu akan bicara dengan mereka, Abang fokus aja kerja, biar kedua ABG itu Ayu yang urus. Kalau sudah final hati mereka, baru saku Abang


yang ngurus nikahannya. " Ujar Ayu dengan mengerjabkan mata indahnya.


" Lama- lama Abang lihat Ayu ketularan centilnya bibi itu. " rungut Maulana.


Ayu menyentil bibir Maulana yang mengerucut, dengan telunjuknya. " centil dihadapan suami kan ladang pahala yang...kalau centil pada orang lain baru dilarang. " Ucap Ayu yang langsung dapat


kecupan bertubi dari suami.


***


Sementara Raja Sahman termenung sembari menatap kedua pasangan baru yang bahagia itu. Tanpa terasa bulir bening menitik kekolam tempat ia menerawang wajah kekasih yang sudah jadi milik orang.


" Seperti setitik airmata yang jatuh dikolam ini, aku tiada apa- apanya dibanding dia. " ucap Sahman lirih.

__ADS_1


__ADS_2