
Tepat pukul delapan pagi, acara Syukuran digelar. Acara doa bersama itu berlangsung dengan khikmad, dipimpin oleh Maulana sendiri selaku pemuka agama dikompleks perumahan itu.
Usai doa bersama dilanjutkan dengan acara makan bersama, Maulana sengaja makan sedikit agar perutnya masih bisa diisi setelah ini makan dengan istrinya.
Tapi itu sudah biasa untuk makan bersama, orang memang tidak akan makan kenyang untuk menjaga imej.
Berbeda dengan para ibu makan. Ketika melihat Ayu makan sedikit , para tetangga saling pandang.
" Nak Ayu..kok piringnya diisi cuma segitu? jangan segan, ini sarapan yang sudah terlewat, ayo makan banyak, jangan dihalangi. " Ujar Bu Rahmi.
" Ayu tak biasa makan banyak Bu..Ayu makan sedikit tapi sering. " kilah Ayu.
" Mana bisa aku makan banyak disini, sedangkan sebentar lagi aku sudah janji akan makan sekali lagi dengan suamiku.
dikamar, disini pake ngak boleh segala makan Kalio Jengkol, padahal dari aromanya saja aku sudah ngiler. " batin Ayu.
Pukul sebelas siang, rumah sudah sepi. Piring- piring sudah disusun rapi diraknya. Sedang peralatan makan dari tetangga sudah dibawa kembali kerumah
masing- masing. Ayu dan Maulana tersenyum puas dengan apa yang dilakukan oleh tetangga.
" Ternyata Abang sangat disayang oleh tetangga ya! Mereka bukan hanya berani mengacaukan rumah saja, tapi bertanggung jawab merapikan kembali sebelum pergi. Ayu salut pada kepandaian Abang dalam membina hubungan selama ini." Puji Ayu.
" Abang tak pernah melakukan apapun pada tetangga untuk merebut hati mereka. Hanya sekedar menyapa, dan kadang membagi hal- hal kecil yang Abang dapat dari pemberian pula. Selain itu tak ada yang lebih. " Tukas Maulana.
Ayu tersenyum, kalau begitu Abang yang beruntung, Ayo kita lanjutkan makan sesuai janji, sebelum bi Ningsih ART kita kembali, sebaiknya kita habiskan Kalio Jengkol itu. Ayu menarik tangan suaminya menuju kamar mereka.
Setelah suami duduk bersimpuh, Ayu mulai menghidang, merekapun makan dengan lahap.
Sedang enak- enak makan terdengar bel berbunyi.
" Habiskan saja dulu makannya sayang...ntar kalau sudah siap baru kita buka pintu. Kan dipos ada Om Ujang, adik tenang aja, tamu kita takkan terlantar. " ujar Maulana.
Merekapun melanjutkan makan, setelah kenyang dan mengatur piring kewastafel, barulah Ayu menuju pintu.
Ternyata benar, bi Ningsih yang datang, sekarang ia sudah siap dengan kopernya diteras rumah, Ayu mengintip dari gorden jendela kaca, sebelum membukakan pintu.
" Assalamualaikum..." terucap salam dari bibir bi Ningsih dengan lipstik tebal perempuan kepala lima itu. Ayu sampai terbelalak menatapi bibir belepotan gincu merah menyala itu.
" He...He...Sory non Ayu...Kenorkan ya dandanan bibi. " ucapnya begitu sadar Ayu menatapinya dengan tatapan aneh.
Teringat tadi baru makan jengkol dan belum sempat gosok gigi, Ayu hanya tersenyum dan menggeleng.
Terdengar jawab salam dari Maulana dari ruang tengah. Ayu senang suaminya cepat tanggap mengatasi masalahnya.
__ADS_1
Begitu salamnya terjawab, Bi Ningsih langsung masuk.
" Kalau bukan sudah berumur, tidak akan Sudi aku punya Asisten rumah tangga secentil ini." Batin Ayu.
" Tenang aja non Ayu...Bibi takkan godain nak Lana kali! Kalau yang didepan belum terjamin. " Ujarnya seperti mengerti apa yang Ayu fikirkan.
" He...He...Bukan begitu bi...aku diam karna ngantuk dan kekenyangan, siap Zuhur ntar kita ngobrol banyak ya. " Janji Ayu begitu sampai didepan kamar untuk Ditempati bi Ningsih. Ayu berani bicara karna jauh dari bi Ningsih yang tertatih menggeret kopernya.
Maulana yang melihat dandanan calon ARTnya yang super norak itu, sengaja tidak membantu, tak mau sampai perempuan sebaya ibunya itu sampe berfikir ia sangat baik. Biarlah ia dinilai sombong dan tak perhatian, dari pada dinilai ramah tapi ada salah faham dibelakangnya. Maulana tak ingin begitu, makanya ia secuek mungkin.
Setelah mengantar bi Ningsih kekamarnya, Ayu kembai kekamar mereka. Maulana sedang membaca buku, ketika Ayu masuk.
" Sayang...Sudah lewat jam dua belas, kayaknya sudah bisa mandi, adik mandi duluan ya! Setelah itu baru Abang. Wes sholat kita syukuran diranjang, Abang ngak tahan nunggu malam, kayaknya besok Abang mulai masuk kantor, jadi kita tak usah MP. " Ujar Maulana yang membuat kening Ayu mengernyit.
" Apa maksudnya Syukuran ditempat tidur, dan ngak jadi MP, jadi bingung Ayu." Tanya Ayu jujur.
" Mandi saja lebih dulu, ntar habis Zuhur Abang jelaskan secara rinci, sampai tak tertinggal satu incipun. " Ujar Maulana dengan seringai licik.
Ayu melirik Jam dinding kamar, karna waktu Zuhur hampir dekat, ia tak banyak protes lagi.
Benar saja apa yang sudah direncanakan Maulana, tak bisa dibendungnya lagi.
Setelah makan randang daging sapi, tiba- tiba tadi ia merasakan keinginan yang besar untuk memiliki Ayu siang ini juga.
Maulana kemuadian bergegas mengunci pintu.
" Ke-kenapa pintunya dikunci bang..." kan panas. " protes Ayu terbata.
Maulana hanya tersenyum, kemudian mengambil remot dinakas, dan segera menghidupkan AC.
Setelah merasa semua terkondisikan. Maulana mendekati istrinya yang sedang merapikan gantungan peralatan sholat mereka.
Cup
Sebuah kecupan panas beraroma jengkol
mendarat di tengkuk putih Ayu. Sebelum Ayu sempat protes, Maulana sudah membalikkan istrinya menghadap padanya. Pandangan mereka beradu dengan jarak dekat, aroma jengkol dari mulut masing- masing seakan menjadi magnet yang membuat mereka makin mendekat mengikis jarak.
Cup
Tak ada lagi jarak, karna kedua bibir beraroma terapi langka itu sudah saling menaut, tenggelam dalam pagutan yang panjang penuh tuntutan.
Kalau pasangan lain menebarkan aroma mint dari mulut mereka, namun pasangan ini menebarkan aroma jengkol dan berganti siliva dengan penuh damba.
__ADS_1
Ahh...Nafas yang tersegal mengurai pagutan yang menggilakan itu.
Mareka saling tatap lagi, lalu bagai penyihir Cinta, Maulana berhasil menggiring kekasih halalnya menuju tempat tidur disiang bolong itu.
Ayu tidak merasakan bau jengkol yang busuk, tapi yang ia rasakan enaknya Kalio Jengkol yang tadi dari mulut suami.
Hingga setelah dalam Kungkungan Maulana, ayu membuka mulutnya lagi, hingga mereka melanjutkan acara bertukar nafas jengki itu.
Entah siapa yang mulai, sekarang mereka
sudah polos. Dengan lembut dan penuh kasih sayang, Maulana menebar seluruh Saliva jenfkinya ketubuh istri, demikian juga sebaliknya.
Mereka saling berbagi lahan, dan berganti penjelajahan, hingga pandangan mereka telah berkabut, wajah mereka sudah merah. Maulanapun membacakan doa.
Bismillah, Allahumma jannib naassyyaithaana wa jannibi syaithoona maarazaqtanaa. Artinya: "Dengan menyebut nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari (gangguan) setan dan jauhkanlah setan supaya tidak mengganggu apa (anak) yang akan engkau rezekikan kepada kami yang diikuti oleh Ayu.
Dibawah AC, ditempat tidur kingsize milik
suami, disiang bolong, seperti perempuan terhipnotis, Ayu pasrah menyerahkan miliknya pada Maulana, Ayu yang merasa sudah pernah berhubungan tidak takut sedikitpun, karna merasa ia takjan kesakitan lagi.
Tapi anehnya, Maulana yang besar dan panjang, sampai keringatan dibawah AC Untuk menjebol bentang istrinya.
Airmata bercucuran tak dapat dibandung, saat benteng berhasil bobol. Maulana mengecup kening istrinya, kemudian membagikan kembali saliva jengkolnya
kedada Ayu, setelah Ayu terlihat santai, ia
mulai memacu kuda semrbaninya hingga mereka berdua tiba dipuncak bersama.
" Makasih cinta...I love you." bisik Maulana sembari menghadiahkan bertubi kecupan dikening istri.
" Love you to bang..." Bisik balik Ayu.
Aku tak menyangka aku masih Virgin. " ujar Ayu jujur.
" Tentu masih Virgin lah sayang...Kan yang kalian lakukan hanya ilusi. " Ucap Maulana.
Sebelum Ayu menjawab, Maulana sudah menggendong istrinya kekamar mandi, membantu membersihkan istri dan kemudian membersihkan dirinya.
Setelah merasa beres, iapun kembali membawa istrinya ketempat tidur.
" Mau Apa lagi? " tanya Ayu tatkala Maulana sudah kembali diatasnya.
Satu kali lagi sebelum BobSi. " Jawabnya sembari mulai beraksi.
__ADS_1
Bersambung...