My Love Ruler Of Another World

My Love Ruler Of Another World
Izinkan terus Menyayangimu.


__ADS_3

" Apa yang mau adik minta sebagai hadiah pernikahanmu dik? " tanya pria tampan itu mengejutkan Ayu.


Kau-


Ayu tak dapat melanjutkan kata, melihat pria tampan dengan suara memelas menatapnya intens.


Ayu membuang muka, agar tak lagi terpesona dengan mata itu. Ia sadar kalau ia sekarang sudah Menikah dan punya suami manusia, ia tak ingin lagi berhubungan dengan raja Jin Binjai itu.


" Adik heran mengapa aku bahkan mengikutimu sampai kerumah suamimu ini? " tanya Sahman dengan tersenyum manis.


" Iya, aku sudah menikah bang...kau bahkan sudah menyetujuinya dari awal, perjanjian kita juga begitu, jika aku sudah memiliki pasanganku yang baik dari golonganku, maka kau akan melepaskanku.


" Iya sayang...Abang sudah melepasmu padanya, tapi bukan berarti Abang tak boleh lagi mengawasimu. " Ujar lembut Sahman.


" Jangan bermanis padaku, nanti aku kalah lagi denganmu, aku tak mau jadi perempuan tak setia." Ucap Ayu berusaha untuk bersikap tegas.


" Aku takkan memandangmu lagi sebagai


kekasih Ayu...Tapi apa salahku jika masih


menyayangimu. Ini tidak mudah bagiku, Ayu sudah dihatiku sejak lama, bagaimana bisa melupakan begitu saja.


Tak ada harapan lain, hanya untuk memastikan Ayu baik- baik saja.


" Ayu akan baik bang...Ada Allah dan malaikat yang menjaga, kau tak usah bersusah payah." Tolak Ayu dengan keras.


Pria itu tertunduk, matanya berat menahan sebak, sebagai siluman ia tersinggung, dan sebagai lelaki ia merasa


benar- benar terjatuh. Tapi untuk marah pada Ayu ia tak sanggup, yang ada hanya kesedihan.


Ayu menatap sekilas wajah berkabut milik Sahman, wajah yang selalu berhasil membuatnya nyaman memandangnya selama ini, tapi ini kedepannya ia hanya ingin memandang satu wajah saja dalam hidupnya, yaitu suaminya Maulana.


" Jangan bersedih bang...maafkan Ayu, Ayu hanya ingin belajar setia, bukan yang lain- lain, Aku mohon jangan tersinggung. " Ucap Ayu tak enak hati.


" Abang tidak akan pernah bisa marah Ayu, jangankan tersinggung, terlindas sekalipun takkan membuat Abang membencimu. Walau Ayu tak mau dijaga, hati Abang akan terus menjagamu. " Ujar sendu Sahman.


" Mengapa tidak bisa kau sayangi mereka saja bang.. mereka membutuhkanmu. " Pinta Ayu mengingatkan Ratu dan selir Sahman.


" Andaikan aku bisa menyayangi mereka, itu takkan bisa juga mengurai rasa cinta kasihku pada Ayu. Ini salahku, bukan salah Ayu, izinkan Abang tetap menyayangimu." Ujar Sahman dengan nada memohon.


Ayu terdiam, tak tahu apa yang akan dikatakan lagi pada pria dunia lain ini, agar berhenti mendekatinya.

__ADS_1


" Abang tidak meminta apapun Ayu, hanya minta itu saja, izinkan aku tetap menyayangimu. Karna menyayangi kupikir bukanlah dosa." Kukuh Sahman.


" Entahlah...terserah padamu, yang penting jangan sakiti orang tercintaku. " ucap Ayu dengan putus asa.


" UM...itu pasti! Ini janjiku, aku takkan pernah memakai kelicikan untuk mewujudkan rasa sayangku padamu. Lanjutkan saja baik- baik kasih sayang adik pada dia, Abang takkan mengganggu kalian, tapi Abang akan terus menyayangi dan menjagamu selamanya. " Ujar Sahman.


Ayu menghela nafas panjang, hatinya begitu berat bagai terimpit batu besar, disatu sisi ia tak mau jadi perempuan yang dianggap tak setia, tapi disisi lain, ia


tak tega mengasari mahluk yang sudah selama ini menemaninya.


Dalam keheningan Ayu, Sahman berucap lagi.


" Apa yang akan kuberi padamu sebagai hadiah pernikahan dik? Sungguh aku pun ingin memberikan kado, tapi itu yang kau butuhkan. Tolong katakan padaku." pintanya dengan lirih.


Ayu berfikir sejenak, kemudian tersenyum. " Bisakah Abang membantuku suatu hal? Kalau bisa, bagiku itu kado yang sangat istimewa. " tanya pinta Ayu.


" Katakan...Abang akan berusaha, bila itu mungkin.


Ayu sedikit menatap Sahman. Lalu mengutarakan keinginannya.


" Suamiku seorang yang bekerja dinas pariwisata, kelemahan tempat wisata di daerah kita adalah sampah. Bisakah Abang memberi kekuatan magnetis pada setiap ucapan suamiku, setiap ia datang dan berkata, orang akan mengikutinya, mereka akan menyapu bersih lingkungannya, berhenti buang sampah sembarangan. " Ujar Ayu.


" Ini permintaan konyol dik...Bukan salah suamimu atau aku soal kebiasaan masyarakat yang jorok, memang itu sudah menjadi kebiasaan mereka. Ha...ha..." Gema tawa Sahman.


Maulana tersentak ketika, bertubi tinju Ayu mendarat didadanya." Sayang...mengapa mengusir Abang? bukankah barusan pengen ditempellin. " Bisik lirih Maulana dikuping istrinya.


Melihat Ayu masih tetap tidur mengigau, dan Azan azhar pun sudah berkumandang, Maulana menggigit lembut kuping Ayu.


" Aghh..." Ayu melenguh merasakan gelinjang yang menyadarkannya. Ia mengangkat kuat kelopak matanya, untuk memeriksa sekitarnya, melihat senyum manis suaminya, ia teringat pertarungan mereka beberapa jam yang lalu, pipi Ayu memerah.


" Masih mimpi tentang dia? tanya selidik Maulana.


" Ayu mengangguk, tak mau membohongi suaminya.


" Tak apa...Itu cuma mimpi...Didalam nyatakan hanya ada diriku. " ujarnya entah menghibur istri atau malah menghibur diri sendiri.


" Maaf bang...Susah sekali menghilangkan dia dari mimpi Ayu, bahkan sudah keramas masih juga. " Ucap Ayu seraya meraih tangan Suaminya dan mengecupnya.


" Itu karna ia tak bisa jauh darimu sayang...Biarkanlah begitu, selagi Ayu tidak merasakan mimpi itu menyakitkan, Abang takkan mengusirnya lagi dari mimpimu, walau ini terdengar bodoh, tapi


Abang tahu ini tidak mudah baginya.

__ADS_1


Hanya dalam satu detik kita bisa jatuh cinta pada seseorang, tapi butuh waktu seumur hidup untuk melupakan. Yang penting dalam mimpi dia tidak menyentuhmu lagi kan? " tanya Maulana kemudian.


" Tidak...Ia hanya minta izin untuk tetep menyayangi Ayu." Ucap Jujur Ayu.


" Kalau sekedar menyayangi biarkan saja, toh rasa itu takkan mudah dibuang, daripada dibenci mending disayang." Ujar Tanggap Maulana.


Ayu mengangguk, setelah mencuri kecup pipi suami, ia berusaha duduk untuk tujuan bersuci. Ditariknya selimut untuk menutupi tubuhnya.


Tatkala ia mau melangkah, wajahnya mengerut, menahan sakit didaerah intinya.


Maulana dengan sigap ingin menggendong istrinya.


" Tak usah sayang...Ayu jalan hati- hati, kan mau cepat mandi, ntar masuk berdua, keluar terpaksa sendiri juga, biar ngak batal wudhunya. " tolak lembut Ayu.


*****


Maulana berangkat kerja pagi ini, ini hari pertama ia kembali bekerja setelah cuti, ada perasaan berat meninggalkan Ayu dirumah, kali ini ia merasa beruntung sudah ada bi Ningsih yang centil, setidaknya istrinya tidak sendiri dirumah,


dengan keramaian celotehan bi Ningsih, semoga istrinya tidak ketiduran dan mimpi tentang kekasih khayalannya itu lagi. Maulana percaya Ayu sekarang miliknya seutuhnya, tapi sebagai suami ia


juga merasa cemburu, meski hubungan itu hanya ilusi, tetap saja hati istrinya terbagi, ia tak mau itu berkelanjutan, walau dibibir ia berkata tak apa, tapi hatinya sebenarnya tak rela, namun untuk mematahkan langsung hati yang baru ingin ia isi itu, ia sungguh tak tega.


Senyum manis terlulas dari wajah Maulana setiap kali berpapasan dengan staf dikantor. Begitu sampai didepan ruangannya, seorang pria muda langsung


menyalaminya.


" Selamat pengantin baru dan semoga bahagia sampai anak cucu pak. " Ujar Fian sang Asisten sembari mengulurkan paperbag berisi kado.


Menit berikutnya suasana makin riuh, setelah Fian menyusul yang lain mengucapkan selamat dan memberikan kado. Hingga Fian sekarang punya tugas baru, mangantar kado itu hingga hampir memenuhi bagian tengah mobil Maulana.


" Apa tidak diadakan pesta besar pak Maulana? " tanya Bapak kepala daerah propinsi.


" Kurasa sudah halal sudah cukup pak...toh kadonya masuk juga tanpa pesta. " Ucap Maulana sembari tersenyum hangat.


" Itu menandakan bapak punya karisma yang kuat, Tampa undangan saja orang antusias memberi kado. " Ujar bapa itu memuji.


" Ah... mungkin lagi rezeki baik saja pak. "


jawab Maulana merendah.


Bersambung...

__ADS_1


Bagi yang mampir, tinggalkan jejak ya say...like, komen, fote, hadiahin untuk semangat buat penulis.


__ADS_2