
Teringat dirinya positif, wajah Ayu semakin cerah, berkali- kali diusapnya perut yang masih rata itu." Akhirnya bakal ada harapan ku menjadi ibu ." Ucapnya senang.
Mengingat selama ini ia selalu gagal dapat jodoh, sampai imannya tergadai dengan berhubungan dengan mahluk lain, Ayu tak pernah mengira harapannya jadi kenyataan dengan keseriusan cinta Maulana, bahkan pria yang sekarang jadi pasangan hidupnya itu rela menikah tanpa resepsi hanya untuk memenuhi keinginan Ayu, yang tak mau pernikahan pesta ria yang akan mengundang rasa sesak dan sebak yang lebih besar pada jin tampan yang sampai sekarang masih menyayangi Ayu.
Maulana mungkin tak tahu apa alasan Ayu yang sebenarnya, yang ia tahu perempuan yang akan ia nikahi sudah jera dengan rencana resepsi yang selama ini berakhir dengan pembatalan.
Maka ia rela sebagai pegawai tinggi dikantor pemerintahan daerah hanya menikah secara sederhana saja. Ditambah ia yang tak punya orang tualagi
selain nenek yang sudah tua, membuat Maulana makin tak masalah dengan keinginan calon istrinya, lagian baginya yang akan melihat ia jadi mempelai tak ada lagi, toh neneknya sudah rabun, sedang orang dikantor sudah pernah lihat, berbagai pesta budaya, Maulana sering memakai pakaian kebesaran daerah tersebut, sebelum ia menjadi kepala.
" Allah memang Maha Pengampun juga Maha memberi jalan pertaubatan, bagi setiap hambanya yang datang dengan sungguh- sungguh minta ampun." Ucap lirih Ayu.
Perasaan syukur membuat hatinya sampai terharu, mata indahnya berembun, hingga tanpa sadar bulir bening pun jatuh dipipi nona cantik yang sekarang akan jadi nyonya itu.
Tes
tes
tes
Nampak seorang perempuan separuh baya dengan memakai baju daster merah
muda, lipstik merah darah berjalan dengan tergopoh- gopoh menghampiri Ayu." Mana boleh menangis tanpa alasan,
apalagi bermuram durja, dapat berita gembira sebaiknya senang, duduk cantik, atau golek manis, Masak nangis pula!" Ujar protesnya sembari mengusap airmata Ayu.
" Ngak nangis kok bi...Ini saking senang airmata sampe keluar, dikira selama ini Ayu takkan kembali lagi. " Jawab lirih Ayu
membuat kedua Alis bi Ningsih menaut.
" Kembali dari mana? " tanyanya bingung.
" Eh...ngak kok bi...akunya lagi ngak fokus, jadi sampe ngomong ngelantur gitu. " Jawab Sembarang Ayu, setelah sadar kalau perihal hidup masa lalunya tak boleh dibagi kepada sembarang orang.
Meski bi Ningsih tak puas dengan jawaban nyonya nya, sebagai seorang yang hanya bekerja disini, iapun menutup mulutnya.
__ADS_1
" Masih syukur non Ayu ramah, tentang hidupnya tak berhaklah aku kepoin." batin
Ningsih tarik diri.
Melihat wajah bi Ningsih yang sedikit kurang bahagia, Ayupun mengusap pundaknya.
" Maaf bi...Bukannya Ayu jaga jarak dengan bibi, emang betul Ayu hanya salah omong. " ucap bujuknya pada bibi.
" Tak apa sayang...bibi percaya kok, bibi hanya lagi mikirin gimana caranya agar Ayu tidak kelelahan, tapi tidak bobok juga
sebelum waktu Zuhur." ujar biNingsih mengalihkan pembicaraan, karna ia tak mau nyonya nya tak enak hati.
Benar saja, wajah Ayu langsung cerah, mata indah berbulu lentik dan panjang itu
mengerjap dengan menakjubkan " Emang kenapa kalau ketiduran jam pagi sampai tengah hari ya bi? " tanya Ayu ingin dapat jawaban persi gadis Jawa besar di Sumatra ini.
" Pantang non, itu bisa menyebabkan ibu dan calon anak terkena penyakit burung." jawab Ningsih dengan nada Yakin.
Ayu tersenyum smirk. Setahunya tidur pagi karna kurangnya waktu tidur akibat begadang malam yang memicu banyak penyakit, termasuk diabetes, obesitas, depresi, unfokus dan memicu kanker. Kalau soal penyakit burung yang bibi Ningsih bilang, Ayu tak begitu tahu. Agar tidak melukai hati bibi itu, Ayupun bertanya dengan antusias.
Bi Ningsih membimbing Ayu duduk disofa, memijiti bitis Ayu sebelum menjawab pertanyaan nyonya mudanya itu. " Kata orang tua- tua, itu penyakit yang dibawa setan burung namanya, Ibu hamil yang terkena penyakit itu, bisa jadi bayinya tak selamat, bahkan ada yang selamat, tapi setelah lahir, ibu itu sampe mau memakan atau membunuh anaknya."
" Wahh...itu mengerikan sekali bi, jadi seperti wanita yang kesurupan? " tanya Ayu lagi.
Bi Ningsih makin semangat memijiti Ayu, Ayu meram melek kesenangan. Kepalanya yang sedikit pusing jadi ringan. biNingsih makin gencar dengan cerita dan pijitannya.
" Iya...pokoknya mengerikan sekali, ada bahkan didesa tempat bibi kerja dulu, seorang ibu tega mengantar bayinya malam- malam kekuburan. " ujar biNingsih tampak serius.
Melihat ekspresi bibinya, bulu kuduk Ayu berdiri. " Jangan sampe dech bi...ada ibu lain yang kayak itu. " ujar Ayu.
" Iya...makanya jangan tidur pagi, karna tidur pagi mengundang setan burung itu datang. Bibi pasti akan jagain Ayu selama 12 jam, mengatur makanan, dan tidur siang Ayu, bibi ngak mau Ayu dan si gadis kenapa- Napa. " Ujarnya mantap.
" Ya dech BI...Ayu akan patuh pada aturan bibi selama hamil, tapi aturannya jangan ketat- ketat ya? " Ucapnya dengan tersenyum menggoda.
" Mana ada peraturan dinegosiasi?" Protes bibi berlagak modern itu.
__ADS_1
" Kalau yang buat aturan memikirkan kemampuan pihak yang akan terdampak aturannya, tentu aturannya tidak mengada- Ngada, apalagi buat sengsarakan ? " debat Ayu masih dengan senyum nakal.
" Iya nyonya cantik? yang didebat sepertinya bukan bibi ni, tapi yang dikursi goyang diatas sana. " ujar Bi Ningsih mengerti sindiran Ayu.
" Bibi memang pintar! pantas om Ujang begitu lihat langsung klapak- klapak. He...He..." kekeh Ayu.
" Dasar Cah Ayu bandel! " Ujar Bi Ningsih sembari mencubit hidung mancung Ayu.
Setelah ia sadar sudah berani membalas candaan Ayu sampai begitu, wajah bi Ningsih menjadi pucat.
" Maaf non, hidungnya sakit ya..bibi merasa Ayu kayak putri sendiri, jadi bawaannya kelewat santai. " ucap lirihnya dengan tatap sesal.
Bukannya menjawab, Ayu malah membalas cubit hidung bi Ningsih." Tak apa lagi, Ayu bukan turunan lady Diana apalagi Raden Ayu bi..Ayu gadis Jawa Minang biasa, yang kakek buyutnya datang kedaerah P karna program transmigrasi, walau Ayu kaya, darah Ayu dan bibi pasti sama merahnya, kulit Ayu putih, kulit bibi gelap, tapi kalau kita kentut, pasti sama bau juga. " ujar Ayu panjang lebar sembari tersenyum dikulum.
"Ha..ha... Non Ayu bisa aja, pantas nak Lana tergila- gila. " ujar Bi Ningsih tertawa lepas.
" Kalau ia sih, paling mabuk dengan kentut Ayu yang bau jengkol. He...He..." kekeh Ayu.
Kedua perempuan beda generasi itu kemudian tertawa terpingkal- pingkal, sampe Ayu memegang perutnya dengan wajah mengerut.
" Ada apa? " tanya cemas biNingsih.
" Ngak usah cemas bi...Ayu hanya kebelet." jawab Ayu sembari berdiri.
Dengan cepat biNingsih membimbing Ayu kekamar mandi.
" Jadi terabaikan nih bang Ujang karna ni cabang bayi. " celetuk Ayu begitu mereka keluar dari kamar mandi.
" Selagi tinggalnya masih dipos tak pala mengapa. Yang ini lebih penting bagi bibi, karna kalau bibi menikahpun tak mungkin lagi punya yang begini." jawab santai bi Ningsih.
" Siapa tahu bibi kayak Siti Sarah." ujar Ayu, sembari berjalan pelan menuju kamar, ia teringat menelfon suami.
" Karna Asyik berbincang berdua, ternyata bukan om Ujang saja yang terabaikan, banyak panggilan dari dia dan bunda juga. " Ujar Ayu sembari membawa HPnya keruang tamu.
" Ya Ampun...jangan sampe tu ada yang ngambek. " Jawab bibi , kemudian menutup mulutnya, karna mendengar telfon Ayu sudah tersambung .
__ADS_1