
Akhirnya malam hari acara lamaran itu digelar. Dengan membawa Kerabat dekat
nenek dan tetua dikampung, Maulana datang menghantar lamaran kerumah Ayu.
" Katanya Cucu kami, tidak akan ada acara adat sebagaimana pernikahan kampung, hanya pernikahan yang dilanjutkan dengan syukuran.
Namun sebagai cucu satu- satunya dari kakak kami, tak ingin dia merasa sendirian dikampung, makanya kami datang bersama- sama untuk melamar putri bapak Pras dan Ibu Aini."
Kata perempuan yang dituakan dikampung nenek Maulana.
" Apa perlu kami menjemput tetua dikampung kami? Tunggulah sebentar biar suamiku jemput. " Ujar Aini.
Pras segera menjemput ibu Heryani yang merupakan perempuan yang dituakan dikampung itu.
Walau semula rencananya tidak akan beradat, namun akhirnya acara lamaran Maulana dan Ayu dilakukan sesuai adat juga, walau nantinya tidak akan menuruti semua rangkaiannya.
Setelah lamaran malam itu. Jam sepuluh pagi, Maulana sudah datang mengantar Surat pengantar NA untuk dilanjutkan pengurusan NA oleh ayah Pras.
Ayu masih sempat menatap calon suaminya sedikit, karna ibunda tak membolehkan mereka berduaan lagi selama beberapa hari kedepan.
Ada rasa rindu pengen bermanja- manja tentunya dihati pasangan itu. Tapi itulah peraturannya. Kalau tidak urusan Penting, mereka tidak boleh bertemu.
Paling kesempatan berduaan sekali lagi, ketika ke Puskesmas dan KUA. Disini masih berlaku aturan sebelum nikah harus dinyatakan negatif, aliyas tidak mengandung setelah diperiksa kehamilan oleh bidan yang sedang piket dipuskesmas, dihari sebelum Penataran Di KUA.
" Emang pergi belanja make Up ke Super market bareng calon suami ngak boleh? " tanya Ayu dengan wajah cemberut. Entah
mengapa sejak keramas jeruk dari sang paman, Ayu makin pengen lengket terus dengan Maulana. Seakan Ayu merasa Sahman itu adalah Maulana, dan Maulana Sahmannya juga.
" Ngak boleh kemana- mana, kecuali lusa Ke rumah sakit sama KUA.
" Ya Udah...lusa aja lepasin rindunya. " Gumam Ayu yang membuat ibundanya melotot.
" Hei!!!! Jangan coba- coba curi kesempatan ya! " ancam Aini.
" Giliran anak ngak dapat pasangan sibuk, takut ngak dapat jodoh. Anak sudah dapat malah dihalangi pula. Orang ngak bakal ngapain juga kok, paling cuma sandar- sandar dikit aja didada Sixpack doi." Cerocos Ayu.
" Akhirnya hanya telfon sebagai pengobat rindu.
Setiap malam menjelang bobok, Maulana
tak pernah absen menelfon calon istrinya. Rasanya beberapa hari menjelang halal bagai bertahun- tahun.
Saling mengecup dan berpelukan dibalik layar. Itu yang mereka lakukan. Bagai remaja yang baru puber, mereka sepertinya tak ada malu bercumbu.
UM....ah....UM....Ah..." Sampai layar buram karna liur mereka.
Hingga mereka sudah terlelap, telfon Vidio masih berlangsung. Hanya baterai low lah yang memutuskan telfon itu.
__ADS_1
Begitu setiap malam, hingga saatnya berbiro ke KUA tiba.
Pak KUA menyambut mereka dengan ramah. Setelah diminta mengaji. Merekapun berbincang dengan kepala KUA itu.
Tidak ada pertanyaan, hanya perbincangan, karna pak KUA menganggap Maulana lebih tahu darinya.
" Bagaimana saya bisa mengajari burung terbang, atau ikan berenang. Sudahlah...kita ngobrol - ngobrol saja pak..." Ucap pak Zul sungkan.
" Disini statusnya Gadis dan perjaka! Benarkah dik Ayu?
" Iya pak..." Ucap Ayu.
" Kalau pak Maulana, masih perjaka? " tanya Pak Zul..
" Entahlah pak... " ujar Maulana yang membuat Ayu dan pak Zul saling pandang.
" Mana akta cerainya? " tanya pak KUA
" Maksudnya, itu pak, Kebelet habis mimpi ketemu bidadari. Eh...terpaksa bermain dengan sabun mandi " ucap Maulana yang membuat pak Zul terkikik geli.
" O....gitu. Kirain sama yang lain. " Ucap pak Zul menarik nafas lega.
" Tuh dik Ayu..Pak Maulana sudah jujur. " ujar pak Zul.
Sedang Ayu tak tahu lagi kemana menyembunyikan mukanya yang sudah merah menahan malu. Walau ia sudah sering melakukan itu dengan kekasih dunia lainnya, tapi kalau membicarakan hal Absur itu dihadapan pria dewasa yang nyata seperti ini, Ayu sungguh malu.
" Lumayan terjaga pak...paling cuma mah- Mahan ditelfonan . He...He...Kekeh Maulana.
Setelah menjekaskan resep saling membahagiakan dalam berumahtangga, acara Penataran itu ditutup dengan bersalam- salaman.
_
_
Maulana meremas jemari Ayu, Ayupun membalas remasan itu.
" Kalau difikir- fikir Ayu mata keranjang juga ya? rasanya dengan bang Sahman nyamannya sama dengan bang Maulana." batin Ayu.
" Tentu begitu manis! karna selain nama kami mirip, bentuk tubuh kami tak jauh beda! " ujar Maulana yang membuat Ayu tersintak dari lamunannya.
" Ih...Ini calon suami kayaknya lebih menakutkan dari siluman, bahkan yang aku fikirkan saja bisa dia tebak" Ayu bergidik, ia menarik tangannya dari genggaman Maulana.
" Udah turun Cepat! tinggal sehari lagi kalian baru boleh remas- remasan! " Ujar Helmi teman Ayu melongok kepintu mobil. Ia sengaja diminta bunda Ayu untuk mencegat pasangan yang sedang dimabuk cinta itu.
Ayu menggaruk kepala dibalik jilbabnya itu, yang tiba- tiba rasa digidik kutu.
" Mi...Cariin kutu aku ntar ya..." Rengeknya sembari turun dari mobil.
__ADS_1
" Dasar aneh! Apa gara- gara aksi pegang- pegangan kalian gua hentikan Lo malah mau menghukum gua dengan mencari kutu lo? " tanya Helmi mengiringi
Ayu menuju rumah.
" Ayu berbalik kembali, kemudian melambaikan tangannya pada calon suami yang lagi menutup pintu mobilnya.
_
_
_
Sayang....Satu kis aja boleh? rengek Maulana.
" Ayu hanya tersenyum panuh arti, Maulana tak tahan melihat bibir merah muda itu, kemudian ia mematuknya.
Tidak berapa lama setelah itu, tak cukup sampai ciuman. Lagi! Lagi! Lagi!
Keduanya tenggelam dalam pergulatan yang panjang. Hingga sampailah mereka di pulau seberang.
Maulana memberi kecupan terimakasih bertubi- tubi.
" Kamu mimpi apa sih Maulana! mengigau panjang begitu! Cium bantal berkali- kali!
" Ujar sang nenek menarik kuping cucu semata wayangnya.
" Astaga! Dengan gugup Maulana menyingkirkan bantal yang tadi dikiranya Ayu itu. Bantal itu sudah penuh dengan peta. Untung Maulana orangnya sehat dan bebas parasit, jadi ilernya ngak bau.
He...He ...perasaannya kali, kalau orang ngak tahu. " Aku mimpi bertemu bidadari lagi nenek...He...He..." kekeh Maulana.
" Ayo bangun Sholat Ashar! " Mandi tuh Celanamu basah! " ujar sang nenek lagi.
" Apa??? Nenek ah! Kalau lihat yang aneh- aneh tuh mata jelas aja. Coba yang baik- baik, pasti bilangnya gelap. Mata neneknya saja centilnya mintak ampun, gimana cucunya ngak genit, orang neneknya genit! " Cerocos Maulana, sembari duduk.
" Kalau genit sama yang Syah tak masalah! Tapi jangan coba incip- incip barang jalanan! Bisa dikutuk tujuh turunan dirimu ! " ujar sang nenek.
" Apaain sih nenek! Ngapain ngatain gitu. " Sanggah Maulana.
" Jangan salah- salah ya Maulana! semakin tinggi derajat iman seseorang, maka semakin tinggi pula pangkat setan yang menggodanya. Jangan sampai longgar menegang prinsip, longgar prinsip, Iman tergadai. "
" Semoga cucumu ini jadi suami setia nenek! Soalnya ayahku dulu setia, tentu anaknya akan setia juga. "
" Semoga....Sudah sana mandi wajib! Tidur siang kok mimpi begituan! " Cerepet sang nenek menggelengkan kepalanya.
Maulana tersenyum- senyum sebelum mengguyur tubuhnya. " itu cerita sampai kebawa mimpi . Mana ketiduran diruang tengah pula , Eh...dipergokin lagi sama mata genit. Nasip...nasip...He...He...
" Tapi? Mungkinkah begitu ya Ayu berhubungan dengan Raja Sahman, dalam mimpi, seperti yang kualami barusan. Hingga pas dites Virgin, Ayu masih perawan." Gumam Maulana.
__ADS_1
Semoga pernikahan ini selamat sampai kepenghujung kehidupan kami, semoga setelah resmi, tak ada gangguan lagi. " batin Maulana