My Love Ruler Of Another World

My Love Ruler Of Another World
Jangan Menangis lagi.


__ADS_3

Pagi hari berikutnya, Ayu dan Maulana siap untuk meninggalkan kampung. Masih subuh Ayah Ayu sudah sibuk menggeret koper pengantin itu kedalam mobil. Tetangga Ayu juga tak mau diam, ada yang mengantar pisang setandan, ada yang mengantar sayuran sekardus, dan ada pula yang mengantar jengkol segoni. Ketika Maulana dan Ayu berjalan keluar, karna mendengar kehebohan kecil


dihalaman rumah, mereka terkejut.


" Ayah...Kami tidak memesan jengkol segoni, ini barang mahal, lagian bagaimana kami menghabiskannya. " protes Maulana.


" Paman yang memberikannya, itu bukan untuk dijual, jadi tidak ada harganya, kalian bisa mendoa sampai kesana dan gunakan ini sebagai sayurnya. Hanya ini yang paman punya karna dari pokok sendiri, kado pakaian ataupun peralatan, tentu kalian punya yang lebih baik dari paman. " Kata seorang pria sebaya Pras Ayah Ayu.


" Ya...terima saja Maulana, pamanmu Rahman, punya kebun jengkol satu hektar. " Kata Pras.


" Kalau begitu terima kasih paman." kami memang ada rencana mendoa disana, untuk memperkenalkan Ayu pada warga sekompleks." Jelas Maulana dengan wajah berbinar.


Pria paruh baya itu tersenyum, sembari menepuk pundak Maulana. " Jaga baik- baik permata hati kami, setelah banyak persoalan, ternyata dirimulah pemilik sebenarnya, sayangi dia segenap jiwamu, maka kami tidak akan menyesal ditinggal


olehnya. " Ujar paman Rahman menaruh harapan pada Maulana.


" Insya Allah paman...Saya akan mengingat semua harapan paman , semoga saya bisa menjadi mantu yang amanah." Ucap Maulana sembari mengulurkan tangannya pada paman Rahman.


Setelah semua bawaan dikemas kedalam mobil, Maulana pun membukakan pintu untuk Ayu yang masih berurai airmata.


" Sudahlah...Jangan menangis lagi nak...kau tidak pergi jauh, itupun bersama suamimu, lebih tiga tahun tinggal disana, mengapa giliran ada yang menemani malah menangis? Anak perempuan ya begitu, menurut Kemana imamnya membawa, bunda dulu dibawa ayahmu kegunung itu, tapi demi cinta bunda tidak sedikitpun berkecil hati, karna ayah sangat menyayangi bunda. " Nasehat bunda Ayu sembari mengenang masa lalu.


Maulana mengusap airmata Ayu, kemudian memasangkan sabuk pengaman. " Insya Allah Maulana akan menjaganya dengan baik bunda! Bunda, ayah dan paman tenang saja." Janji Maulana sembari melambaikan tangan pada kedua orang tua itu.


Kemudian mobil melaju seiring dengan lambaian tangan orang tua dan warga kampung sekitar kediaman orang tua Ayu.


.


" Selamat pengantin baru Ayu! Akhirnya bertemu juga dengan jodohmu yang sebenarnya, maaf selama ini begitu banyak berburuk sangka padamu. " Ucap lirih seorang lelaki sebaya ayah Ayu yang berdiri dibawah rumpun jambu.


" Itulah tak baik menakari nasip orang Yon! kau lihat sendiri setampan dan sepaten apa pria yang akhirnya menikahi Ayu." Kata seseorang yang membuat pria itu terkejut.


" Kau mengejutkanku seperti hantu! " teriak pak Yondri geram.


" Makanya jangan suka bergunjing, ini dengan setan pun kau mau bergunjing ! " Balas Rahman.


" Mana, aku bicara sendiri , kau yang datang seperti setan! " Sanggah Yon.


" Setan itu yang berbisik dihati kita Yon, yang memfitnah supaya kau mencemburui kesuksesan anak orang. Menghinakan kekurangan seseorang, itulah bisikan setan, mulai sekarang jangan lagi begitu."

__ADS_1


Raja Sahman menatap Kepergian pengantin itu dari Cermin ajaib


peninggalan neneknya. Melihat Maulana


begitu rapi menjaga Ayu, hatinya cukup tenang.


Tapi mendengar pembicaraan kedua orang tua yang mengagumi Ayu dengan cara yang berbeda itu memperbincangkan Ayu. Ia menggeleng- geleng tak setuju.


" Dasar manusia, hati sudah busuk dari dasarnya, malah mengira itu bisikan setan, padahal itu adalah jiwanya yang kotor dari Sononya. Hendaknya dikasih minum Rinso biar bersih? " Cibirnya dari singgasana.


Sedang Yondri masih berjuang melawan Rahman paman Ayu.


" Kau ini, mengataiku sembarangan, mana aku begitu. " Kilah Yondri, tak mau mengakui perbuatannya yang suka mencemarkan nama Ayu dan ayahnya, setiap kali mewarung.


" Terserah kau lah mau insyaf atau tidak, yang jelas jenggot sudah berwarna, tubuh sudah mulai renta, putramu belum juga kau bolehkan menikah. Aku tahu dulu putramu menyukai Ayu, tapi kau mencegahnya, karna menganggap Ayu perempuan sial. Sekarang carilah gadis mujur selain Ayu, biar kau tidak sama- sama merana dengan putramu. " Ujar Rahman panjang lebar , tanpa membiarkan Yon menyanggahnya.


Setelah puas membalaskan sakit hati sepupunya Pras, iapun berlalu.


Begitu Rahman berlalu, barulah Yon termenung. " Iya...Ini memang salahku, kalaulah Aldiku kuizinkan mendekati Ayu, pasti aku sudah punya menantu cantik, pintar dan baik hati. Ini karna melihat hubungan Ayu yang selalu gagal, aku malah mengiranya yang jelek- jelek, sudah ditangan orang apalah daya lagi, yang punya juga bukan orang sembarangan. " Ucap lirih Yon menyesali diri.


" Tak ada gunanya lagi pak...Ayuku sudah


Krak...Batang pinang merah penghias rumah tetangga depan rumah Ayu itu ambruk, hampir mengenai Yondri.


Ha...ha...ha...ha..." Manusia sering menyesal karna termakan akal bulus sendiri. Ha...Ha...Ha...Makan tuh dengki!


Wajah Yon memucat. Ini bukan suara Rahman lagi, ini benar- benar suara hantu, masak iya hantu nongol siang begini? I....iiii..." Yon bergidik ngeri dengan bibir nyaris tak berdarah. Iapun terkulai lemas dibawah pohon Jambu.


Rahman yang mendengar suara batang pohon tumbang, langsung berbalik, Ia celingak celinguk mencari sumber suara. Begitu menemukan Yondri tersandar lunghai dibawah pokok jambu. Iapun berlari mengejarnya.


" A- aku mendengar suara hantu disiang ini Man...Ini bukan ilusi, ia mengataiku seperti kau mengataiku. Aduh man...Aku takut sekali, bahkan hantu saja tidak suka pada penggosip sepertiku. Toubat...Taubat... " Ujar Yon sembari meneteskan airmata.


" Sudahlah...jangan menangis! Nanti dikira orang kenapa- kenapa. Ayo kuantar


pulang. " Ujar Rahman sembari menarik tangan Yondri untuk berdiri.


_


_

__ADS_1


_


Setelah berjalan selama Lima jam, akhirnya mobil Maulana sampai didepan kediamannya di Jalan melati no Xx kota P, tepat pada pukul 13 : 15 Siang.


Karna sudah waktunya Zuhur, dan tak mau istrinya kelewatan, Maulana pun membangunkan Ayu dengan menciumi pipinya. Merasakan ada kehangatan dipipi, yang berpindah ke bibir, Ayupun membuka matanya.


" A- Apa ini sudah sampai tanyanya sembari melebarkan netranya untuk memeriksa sekeliling.


Maulana tersenyum, sebelum membuka mulutnya. " Ini rumah Abang? Apa pernah main kedaerah sini saat kuliah? " tanyanya sembari mengusap pundak Ayu.


" Kurasa pernah! Ada kos - kosan teman arah kedalam kompleks. " Ucap Ayu sembari memandang rumah besar, dengan taman Asri dan berpagar besi.Dari pos, datang seorang security berusia setengah baya membukakan pintu dengan tergesa - gesa.


" Maaf nak Bos! Om Ujang tadi lagi telfon bibi Idamu dikampung, jadi ngak nyadar nak bos sudah tiba..." ucap Pria itu dengan tatapan sesal, ketika mobil melewati pintu.


" Tak apa paman...Lana juga masih membangunkan Ayu. " Balas Maulana.


kemudian melajukan mobilnya pelan menuju parkiran pribadinya.


Detik berikutnya, melihat mobil Maulana masuk pekarangan rumah, para tetangga dekat pada berdatangan memberi salam.


" Selamat datang pengantin baru!!! " Seru mereka riang sembari menatap kagum wajah cantik Ayu.


Ayu menyalami mereka satu persatu, sedangkan Maulana membukakan pintu.


" Ayo kita masuk! kita berbincang didalam!" Panggil Maulana.


Bersambung...Hallo say...


Yang mampir tinggalkan tanda ya...


Like,


Komen,


Fote


Hadiahin juga,


Dan tambahkan kerak bukunya dengan menekan Love.

__ADS_1


__ADS_2