
" Benar bang...Ayu sudah membuat perjanjian dengan pria yang namanya sama denganmu dari dunia berbeda itu, ia sudah menikahiku dan menggauliku.
Tapi apa akibat dari pergaulan itu Ayu tak tahu, apa bisa hamil benaran atau gimana Ayu tak tahu." jawab Ayu jujur setelah menghabiskan mangga yang dikupaskan Sahman Maulana untuknya.
" Hu....Kalau begitu Abang harus menikahi Ayu segera. " ucap Sahman Maulana santai, membuat Ayu menjadi bingung.
" Siap Abang nuduh Ayu hamil, trus mau nikahi Ayu, rasanya apa yang Abang ucapkan dengan yang Abang lakukan ngak ada nyambungnya, Ayu jadi semakin tak faham dengan Abang." Ujar Ayu sembari mengernyitkan dahinya.
" Kalau benar Ayu Hamil anaknya, itu gejalanya akan seperti hamil benaran, tapi kalau diperiksa secara medis, hasilnya akan negatif, Ayu hamil itu gaib, hanya gejalanya saja yang nampak.
Abang menyukai Ayu dari hati, tak peduli Ayu siapa dan sudah bagaimana. Bukti Cinta seorang pria adalah berani menikahinya. Abang berani menikahi Ayu, tak peduli kalau nantinya Abang bakal jadi tumbal kalau raja siluman itu marah dan tidak mau menerima perpisahannya dengan Ayu. " Ujar Maulana mantap.
Ayu kembali menatap Sahman. " Ya Allah...Sadarlah ia dengan apa yang diucapkannya? Apakah ia benar dengan segala yang sudah ia ucapkan? Jangan biarkan hamba ditipu lagi dengan rayuan berkedok cinta Ya Allah..Sungguh menyakitkan dikhianati oleh orang yang sudah mulai dipercayai. Kalau ia hanya seperti pria dimasa laluku jangan biarkan hatiku menerimanya ya Allah...Namun kalau ia pria yang Engkau pilih untuk menyelamatkan cintaku, maka bukalah jalan untuk kami bersatu. " Batin Ayu meringis meminta pada Yang Maha Kuasa.
" Amiin...Ucap Sahman membuat Ayu merasa dikuliti.
" A..Abang tahu Ayu mikirkan apa? " tanyanya bingung.
" Ngak kok Yu...Abang hanya menduga Ayu sedang berdoa dalam hati, karna Abang tidak berharap Ayu termenung lagi, takut Ayu pingsan lagi. " kilah Maulana.
Ayu tersenyum lega. " Hu...baiklah...lain kali lebih baik berdoa dan berzikir ketimbang bermenung. Bukankah begitu pak Ustadz yang mujur jadi KADIS?. " Ucap Ayu semakin melebarkan senyumannya.
Sedang kedua orang tua Ayu menatap mereka dari dari bawah pohon mangga, Dihati mereka tersemat doa, semoga Sahman Maulana bisa benar -benar menjadi menantu sekalian putra buat mereka. Berharap kali ini putri semata wayang mereka tidak patah hati lagi.
Malam Hari, Sahman duduk dipinggir tempat tidur sang nenek. Menatap neneknya yang sudah tak banyak yang bisa diandalkan lagi dari fisiknya. Perempuan yang dulu begitu cantik dan Anggun, dengan kulit kuning langsat, hidung mancung, tubuh tinggi sampai, mata lebar dengan bulu- bulu hitam dan panjang. Alisnya lebat dan berbentuk walau tidak dibentuk seperti Alis gadis sekarang. Fhoto zaman dulu hasil cipratan lensa kamera biasa, mengabadikan betapa sempurnanya sang nenek dikala muda.
Selain dari fhoto, Sahman juga masih ingat, waktu usianya 6 tahun, ia masih sering memuji kecantikan sang nenek.
Kini tubuh dan wajah cantik itu tiada lagi, pudar dimakan usia.
Aimata Sahman menetes, kasihan pada sang nenek yang tiada punya siapa-siapa selain dirinya. Andai dulu ibunya Sahman tidak cepat meninggal, dan Ayah juga menyusulnya sepuluh tahun kemudian, tanpa meninggalkan keluarga baru, tentu sang nenek ada yang menjaga diusia tuanya.
" Hei anak lelaki tak boleh menangis! Apalagi setua dirimu. Tak usah memikirkan diriku, karna aku takkan lama
__ADS_1
lagi, Elok kau fikirkan dirimu, jangan sampai kau sepertiku dihari tuamu, cepatlah menikah dan buat anak yang banyak, biar ada yang bergiliran merawatmu dihari tua. Kalau satu sibuk bisa gantikan yang lainnya, kalau yang satu enggan entah ada yang lain yang sayang, jangan membuat anak dua orang saja seperti program penguasa itu, biarkan ia tak dapat tunjangan, Tuhan pasti memberi tunjangan lain dari usaha lainmu, yang penting lebihkan anakmu, kalau bisa kembar-kembar kayak Siti Hawa, kan manusia sekarang sudah pada banyak pulang karna Korona katanya, buatlah anak yang banyak sebagai generasi baru." Ucap sang nenek yang membuat Sahman tertawa dalam tangisnya.
" He...he...Nenek sangat lucu sekali, melihat keadaan nenek, tiada yang akan bisa mengira nenek bisa bicara selancar, sesinis dan selancang ini pada cucu tertampan sejagat raya. " Ucap Sahman
mulai menarik tangan sang nenek untuk memijiti lengan yang ototnya sudah keriput itu. Tulang- tulangnya sudah terlalu mudah untuk dijamah. Dengan hati- hati ia melakukannya agar tangan renta itu tak tersakiti.
" Jangan memujukku dengan pijitan Maulana...Usiamu udah tiga puluh tahun
lebih, calon istri belum pasti, mau ubanan
baru kau buat anak? " tanya sang nenek lagi.
" Tenanglah nek...Aku akan segera menikahi seseorang, dan akan membuat anak sebanyak mungkin. Ha...ha...Emang
nenek kira jadi ayah itu gampang, kalau punya banyak anak dizaman sekarang, sekarang dunia makin mengerikan nek, labih angker dari kuburan, anak -anak sekarang banyak tantangan dan gangguan hidupnya. Mendidik anak lebih susah daripada menafkahinya. " Jelas Maulana.
" Jadi karna takut anakmu tercemar zaman, kau berfikir untuk tidak akan menikah?" ujar sang nenek makin sinis.
He...he... Dari kecil kau pintar merayu nenek, tapi mengapa tak ada pandai - pandainya merayu perempuan sebayamu. " ucap sang nenek mulai mereda cerocosannya.
" Itu karna nenek yang paling cantik, untuk perempuan yang lain tak perlu dirayu, sekarang perempuan banyak nek, tinggal pilih, semua antri ingin dinikahi, tapi cucumu ini punya standar gadis secantik dan Seuniq nenek, dan baru Nemu setelah berumur begini, kan sudah Sahman kenalkan pada nenek. " Sahman menguji kamampuan daya ingat sang nenek.
" Sukma Ayu Caraka Prastawa Kuncoro Itu maksudmu Buyung? tanya sang nenek membuat Maulana terkejut.
" Aku bahkan tak tahu nama panjangnya
seperti itu, nenek malah sudah hafal. Tak perlu diperiksa lagi, dari muda sampai
tua nenek tetap saja Gadis genius yang paling istimewa." Puji Maulana.
" Tentu beda dengan dirimu Maulana. Aku mengenal seseorang dengan hatiku dahulu, semua yang diucapkan tersimpan
dihatiku, sedang dirimu mengenal dia dengan mata. Aku memanggilnya dengan hatiku, setiap Minggu Ayu kesini mengurus makan dan mandiku, aku memanggilnya dengan hatiku, kau hanya bisa memanggilnya dengan telfonmu, sedang aku tak butuh telfon untuk itu.
__ADS_1
" Nenek! Benarkah ia selalu kesini, mengapa ia tak pernah mengatakannya
padaku? Bukankah ia begitu sibuk dengan kekasih...Eh...ngak...ngak...lupakan saja, aku hanya salah berucap. " Maulana menutup mulutnya.
" Kekasih silumannya dari Gunung B maksudmu? " tanya sang nenek.
" Nenek tahu semua? " tanya Sahman membulatkan matanya.
" Kami sudah cerita banyak, ia mencintai lelaki dari dunia lain itu. Apa kau bermaksud merebutnya dari Raja siluman tampan itu?
" Nenek...Jangan memanas-memanasiku." rengek Maulana
dalam kecemburuan, ia terlihat seperti Maulana kecil yang merengek takut mainan kesayangannya diambil orang.
Nenek terkikik sembari duduk.
" Kau lucu juga kalau Cemburu. " ucapnya sembari menyentil hidung cucu satu- satunya.
" Nenek sehat - sehat saja? pantas bicaranya lancar. Tadi cuma pura - pura lemah? " Tanya Sahman bertubi-tubi.
" He...He...Kalau nanya tu satu- satu! Jangan sampai Asmaku kambuh memikirkan jawabannya. " Bisik sang nenek didekat mukanya hingga liurnya
menyembur kepipi pria muda itu.
" Nenek...ntar pipiku bau, mana gigi jarang gosok lagi. " protes Mauana.
" Hey...tidakkah kau lihat gigiku yang tinggal beberapa ini makin kinclong. Tu priksa dikamar mandi. Ayu bahkan membelikan selusin sikat gigi dan odol untukku. Basuh tuh muka! sholat dan tidurlah..." titah sang nenek.
Sahman Maulanapun berdiri, lalu berjalan
menuju kamar mandi.
Bersambung.
__ADS_1