My Love Ruler Of Another World

My Love Ruler Of Another World
Lamaran


__ADS_3

Jam lima subuh...Ayu melakukan ritual mandi sesuai petunjuk yang ditulis paman S dalam kantong kresek itu.


Entah mengapa ia bahkan tak ingin mempertanyakan arti semua ritual mandi


itu. Ia hanya melakukannya dengan patuh.


" Sahman meringis meninggalkan Ayu yang sedang melakukan ritual perpisahan dengannya itu.


" Semoga semua janji pria itu bisa segera


ia penuhi sayang...Biar jiwaku tenang melepasmu. " Ucap Sahman sembari meninggalkan Tempat Ayu.


Selamat tinggal cintaku, selamanya aku akan selalu mencintaimu, walau kau sudah menjadi miliknya seutuhnya, aku akan tetap memantaumu dari jauh, semoga hubungan kalian baik- baik saja selamanya, sehingga aku merasa tidak begitu menyesal melepasmu.


Angin pagi itu tiba- tiba bertiup kencang. Seiring titik - titik hujan yang mulai terdengar diatas genteng. Gerimis melanda hati raja Jin gunung B itu.


Pagi hari itu matahari sepertinya akan enggan memunculkan wajahnya, karna tertutup oleh awan hitam yang akhirnya mengguyur bumi.


Hujan dipagi hari, membuat Ayu yang habis keramas, begitu malas memakai bajunya. Setalah sholat subuh, ia kembali meraih handuknya, hanya dengan berbalut handuk, ia menyurukkan


badan nya kedalam selimut tebal diranjangnya.


Iw....iw.... Ini dingin sekali, busyet deh harus keramas pake jeruk segala, mana habis itu udara makin kencang lagi. Hawa hujan juga makin merontokkan tulang belulang ku." Keluhnya dengan menggigil.


Ayu tertidur kembali dalam selimut tebalnya. Ibu datang kekamar Ayu untuk membangunkannya sarapan.


" Ayu...bangun dong nak...Sudah jam delapan pagi, apa tadi sudah menunaikan sholat subuh? " tanya Ibunya setelah mengguncang tubuh Ayu.


Ayu membuka matanya, menatap ibu yang tersenyum melihat tingkahnya yang tidur hanya berbalut handuk saja.


Tadi habis mandi, kedinginan karna hujan datang dan angin kencang Bu.Jadi siap sholat, langsung masuk selimut lagi. " Ucap Ayu dengan suara serak, asli bangun tidur.

__ADS_1


" Ia cepatlah...Ibu masak pisang goreng, tahu goreng, sama bakwan. Mau tidak? kalau ngak mau ibu bagikan sama tetangga." Ujar ibu memancing Ayu.


" Boleh dibagikan kok Bu! tapi bagian kita


tetap disisakan, jangan sampai kelewat baik, perut sendiri ngak diisi."


" Ya duduklah... Nak Maulana hari ini mau


ngantar lamaran, waktunya mendesak, dalam Minggu ini urusan pernikahan kalian akan diselenggarakan, untuk resepsi Langsung saja kayaknya.


Setelah nikah malam, siang resepsi.


Kita tak usah pakai adat kampung lagi, yang penting pernikahannya Syah secara agama dan secara hukum negara, ada acara syukuran keluarga, masalah adat ngak perlu diikutkan, nanti prosesnya lama, ayahmu dan nak maulana sudah sepakat tidak ada acara adat, karna ia juga tak ada kerabat dekat didaerah sini, lagian waktu cutinya tak banyak lagi. Nanti kalau sudah nikah sudah aman, terserah Ayu mau tinggal dikota bersama suami atau tetap disini. " jelas Ibu Aini.


" Apa ibu tak bakalan rindu padaku, hingga cepat- cepat mengusirku dengan buru- buru menikahkan Ayu? " Goda Ayu.


" Ibu pasti rindulah...siapa yang ngak sedih bakal berpisah dengan putri satu- satunya! Tapi usia Ayu sudah pantas menikah , teman sama besar sudah pada beranak, Ibu ngak mau Ayu sampai jadi gadis tua, apalagi sudah ada calon mantu


tampan didepan mata. Ibu tak mau Ayu gagal lagi, jadi tak perlu perkara adat, yang penting perkara Syah, trus syukuran ya kalau mau ikut suami silahkan, kemana aja pergi boleh, yang penting sudah halal." Cerocos Aini.


Setelah mencuci muka, ia duduk kembali disisi tempat tidur, dekan Ibu Aini.


" Ayo sarapan...Kan tadi katanya ngajak putri sarapan, kok malah jadi ustazah tanpa mimbar? apa karna mau punya mantu Ustadz, ibu juga ketularan jadi ustazah. " Goda Ayu sembari menarik ibunya duduk.


" Ya...Mudah- mudahan cinta putriku kali ini terujud sampe kepelaminan dan abadi hingga penghujung usia Ya Allah..." Doa sang ibu seraya mengadahkan tangannya tinggi- tinggi.


" Jalan lihat- lihat buk...Jangan sampai kejedot pintu saking semangatnya mendongak. Kalau doa tu dihati saja Allah pasti mendengarnya, ngak perlu ngangkat tangan setinggi itu juga. " Ucap Ayu membimbing ibunya kemeja makan.


" Sedang sudah segitu lebar- lebarnya ibumu menampung, belum juga kesampaian, apalagi ngak ada ekspresi sama sekali.


Pokoknya kali ini semoga Gusti Allah mengabulkan. Tak ingin patah hati lagi! " Timpal sang Ayah yang sedang duduk dimeja makan menyeruput tehnya sama pisang goreng.

__ADS_1


" Ayah...Masih ditinggalkan kan pisang gorengnya? " tanya Ayu mengalihkan pembicaraan.


" Pastikan dulu menerima pernikahan ini, walau akan diselenggarakan dadakan. Ntar siang nak Maulana melamar, karna pagi ini, ngurus pengantar NA.


Ayu mengernyitkan dahinya. Menatap kedua orang tuanya bergantian.


" Emang siapa yang mau? Lucu kali, masak duluan ngurus pengantar NA ketimbang lamaran. Gimana kalau yang dilamar ngak mau? "


Brak...Meja makan digebrak oleh Pras. Ia geram melihat putrinya yang terlihat santai dan mempermainkan perasaan ia dan istrinya.


" Ayah! kenapa marah segala! Untung ngak ada yang pecah! Napa sampe segitunya ingin Ayu pergi dari rumah ini? pake naik tensi segala, Apakah Ayu menjadi beban saja dirumah ini? Kalau menurut Ayu, Ayu masih bisa menafkahi diri sendiri, hanya karna kalian saja yang tak mau membelanjakan uang pemberian Ayu. " tantang Ayu yang tidak terima perubahan sikap Prastawa, ayah kandungnya


Pras menunduk, menyesali kekasarannya, Entah mengapa pagi ini ia tak ingin bercanda. Dipermainkan oleh putrinya membuatnya sakit, rasa takut dan malu gagal menerima mantu membuatnya hilang kendali. Memang sejak Ayu gagal menikah, Pras tak pernah lagi duduk diwarung kopi, tak tahan mendengar gosip, sedang diMesjid saja orang masih suka menggosip, apalagi diwarung. Pras menenggelamkan


dirinya setiap hari berkebun, untuk menghindari cemoohan orang tentang putrinya.


" Anak pak Pras itu cantiknya ngak ada duanya dikampung kita ya! Tapi setiap mau nikah selalu gagal. Apa karna putrinya itu sudah dihabisi orang dikota? atau malah oleh Ayah sendiri? Sekarangkan banyak cerita begituan. Pantas saja ditolak pria, kalau begitu kejadiannya! " itulah kata- kata kejam dan tajam yang orang- orang bisik- bisik, setiap Ayu gagal menikah. Ini sudah beberapa hari orang melihat mobil Maulana parkir didepan rumah, sudah banyak pula bisik- bisik. Gimana Pras tidak khawatir, kalau Ayu malah main- main, ia tak tahu bagaimana lagi menghadapi lidah orang- orang yang tak bertulang. Suka bicara dan menilai orang seenak perut, tanpa tahu kata- kata mereka sudah melanggar batas. Ya Allah...Jangan beri hamba cobaan lagi yang berhubungan dengan buah hati hamba ini, hamba sudah tak tahan tinggal dikampung ini, kalau sampai Ayu tak jadi lagi. Mohon Lancarkan urusan pernikahan ini. " Batin Pras berkecamuk.


Tanpa terasa Pras menitikkan air matanya, Aini yang melihat juga turut menangis. Tiba- tiba ruang makan itu jadi


mencekam.


Ayu memberanikan diri mendekati Ayahnya. Digenggamnya tangan sang Ayah yang pandangannya masih menunduk dengan airmata bercucuran itu. Ia sungguh menyesal menggoda orang tuanya yang selama ini tertekan oleh pandangan masyarakat, karna


nasipnya.


" Maafkan Ayu ayah...Ayu tahu, ayah tak banyak bergaul lagi sejak Ayu gagal dan gagal lagi. Tapi untuk kali ini tenanglah...Ayu takkan mau menolak lagi! dan bang Maulanapun insya Allah


bukan tipe pria pembohong seperti selama ini yang Ayu kenal. Berdoa dan bersabarlah Ayah...Jodoh takkan kemana ...Ayu patuh pada kalian. Semoga rencananya lancar. Ayu tahu ayah tertekan selama ini karna masalah Ayu. Tapi itu bukan kehendak Ayu, itu bagian dari kisah yang harus Ayu lalui dalam hidup! Percayalah..semua akan indah pada waktunya. " Ucap Ayu panjang lebar.


" Ayah minta maaf nak...Ayah terlalu lemah jadi seorang bapak.

__ADS_1


" Lain kali jangan memikirkan kata- kata orang yang tak punya aturan. Tetap pokus pada hidup kita sendiri. Percayalah putrimu baik- baik saja.


Mereka bertiga saling peluk, lalu kemudian duduk kembali dikursi masing- masing. Sarapan pagi pun dimulai.


__ADS_2