
sekarang Alan sudah berada di dalam kamar dan sedang berbaring di ranjang.biasanya tempat itu begitu tempat yang begitu nyaman tetapi sekarang tidak karena ia sedang menanti dokter datang.
keringat dingin terus mengalir di dahi Alan dan Alena dengan telaten selalu menghapusnya.
"apakah dokternya tidak jadi datang?"tanya Alan .
"mungkin sebentar lagi."kata Alena sambil menghapus keringat yang mengalir di dahi Alan.
"aku takut ."cicit Alan hampir tidak terdengar tapi ditangkap baik oleh telinga tajam. Sebenarnya Alena ingin tertawa mendengar suara cicitan Alan tapi tidak jadi karena melihat wajah sayu Alan.
"tidak apa apa.itu tidak akan sakit."kata Alena menenangkan sambil mengelus punggung Alan.
Alan memandang wajah Alena mencoba mencari tahu kebohongan dari wajah tersebut tetapi ia tidak menemukannya.
lalu Alan hanya mengangguk seperti anak kecil.
tok tok tok.
jantung Alan berkerja ekstra saat mendengar suara ketukan pintu itu.
"masuk."kata Alena.
ceklek.
seorang pria tampan memakai jas berwarna putih masuk kedalam kamar itu .
"selamat siang tuan dan nyonya Wijaya."sapa dokter itu pada Alan dan Alena .
sapaan itu hanya di balas dengan deheman saja oleh pasangan itu.
"silahkan."
setelah mengatakan itu Alena beranjak mau keluar kamar tetapi tangan nya lebih dulu di cekal oleh Alan.
"jangan tinggalkan aku ,tetaplah disini."kata Alan tegas.
__ADS_1
dokter itu mengeluarkan bermacam-macam alat yang akan digunakannya.
jantung Alan berlari maraton dan matanya membulat melihat jarum dan gunting yang dikeluarkan oleh dokter itu.
bukan Alan saja tapi dokter itu pun sekarang sangat dag Dig dug melakukan ini semua,siapa yang tidak tau Alan dan pastinya ia tau dan kalau sampai melakukan kesalahan mungkin nyawa nya bukan diraganya lagi .
*skip*
.
.
.
.
sesudah Alan berkhitan tadi Alena tidak diperbolehkan nya untuk beranjak dari dekatnya.
sebenarnya Alena ingin pergi kekamar Frans untuk memastikan bahwa adiknya tidak begitu kerepotan.sebenarnya tadi alena sudah meminta kakaknya untuk membantu Aleta kalau kesusahan.
"maaf."kata Alena.
"sudahlah jangan meminta maaf lagi ,ini juga merupakan kewajiban ku."kata Alan .
"bagaimana aku mau mandi nanti."
"kamu tidak mandi tapi aku bersihkan pakai kain saja badan kamu ."kata Alena .
"ya sudah ,aku mau tidur."kata Alan memejamkan mata.
lima menit kemudian.
"apa yang kau tunggu ,aku mau tidur."kata Alan kesal karena biasanya Alena akan mengerti kalau ia mengatakan itu.
Alena langsung mengambil tempat disamping Alan sambil memeluk Alan dari samping karena keadaan Alan yang masih terlentang.
__ADS_1
.
.
.
lain dengan kamar Alan lain pula dengan kamar Aleta dan Frans .
sekarang Aleta sedang kelimpungan mencari cara agar suaminya ini dapat berhenti menangis.
"tadi kau bilang tidak sakit tapi ini sangat sakit kau tau.aku lebih memilih dikuliti dari harta ku ini yang dikhitan .ini sakit sekali huhu hu."gerutu Frans sambil terus menangis.
sebenarnya tadi saat Frans dikhitan dia tidak merasakan apapun karena dibius,tapi setelah biusnya hilang dia menangis terus menerus sampai sekarang dan itu sudah berlangsung lima belas menit.
"sudahlah jangan menangis lagi ini hanya berlangsung 2 hari saja."kata aleta menepuk pundak suaminya.
"dua hari kau bilang kau tau 2 hari itu ada 48 jam ,2880 menit dan 172800 detik kau tau ."pekik Frans .
sedangkan galaksi yang disuruh menolong Aleta malah tertawa tak henti hentinya sejak Frans menangis bukannya menolong adiknya dia malah ngakak sendiri di sofa kamar Aleta.
.
.
.
.
bersambung
***jangan lupa like and vote
salam hangat dari author 😘😘***
__ADS_1