
"hahahhahahhahha ."Baron tak henti hentinya tertawa sedari tadi entah orang itu sudah gila atau memang tidak punya akal.
Alan hanya diam saja dengan rahang yang masih mengeras tetapi berbeda dengan Alena wanita itu terlihat santai saja melihat ke arah Baron yang masih saja tertawa.
"hahah bukankah aku mertua yang baik Alena ."kata Baron dan kembali tertawa entah apa yang ada di pikirannya sekarang sehingga tertawa terbahak-bahak sedari tadi.
"ayo Alena kita keatas."Alan menarik tangan Alena keatas karena malas mendengar suara laki laki sialan itu yang terus tertawa.
Alan dan Alena pun berjalan keatas menuju kamar mereka.
setelah masuk kedalam kamar Alan langsung mengunci pintu kamar dari dalam.
"apa ini maksud kejutanmu alena?kau tau betapa susahnya aku mengendalikan diri ku sendiri untuk tidak membunuh laki laki sialan itu,aku tidak mau Allah menganggap sebagai hamba yang durhaka lagi Alena."kata Alan lirih di akhir kalimatnya.
"lebih baik kita pergi saja dari sini,aku tidak tau bisa saja aku hilaf dan membunuh laki laki sialan itu ."kata Alan sambil memegang kepala yang pusing.
datangnya pria itu memberikan dampak yang begitu besar bagi Alan,sekarang rasanya masa lalu yang ingin ia kubur dalam dalam sedang menari nari di dalam pikirannya sekarang.
Alena menggenggam tangan Alan dan membawa nya duduk di sofa kamar mereka.
"kau tau jika kamu pergi dari sini sama saja kau lari dari perperangan yang sama sekali belum terjadi ,kamu harus tegak berdiri menghadapi segala situasi kemungkinan yang akan terjadi."kata Alena sembari mengelus tangan Alan.
"tidak ada yang akan selesai jika kamu memilih pergi dan meninggalkan dia disini."lanjut Alena masih mengelus tangan Alan.
Alan menarik tangan alena dan memeluk alena erat ia meletakkan kepalanya di bahu Alena.
__ADS_1
"aku tak mau melihatnya karena saat melihat dirinya aku bisa melihat saat diriku mencaci ibu waktu itu."kata Alan lirih .
"rasanya sakit sekali."kata Alan semakin lirih dan sepertinya cairan bening itu sudah mulai berjatuhan dari kelopak mata Alan.
"menangis lah keluarkan semuanya ."kata Alena menepuk punggung tegap Alan.
"tapi setelah ini kau harus berdiri dengan gagah di depan mereka dengan tenang dan santai."lanjut Alena .
Alan menangis di pelukan Alena.
.
.
.
ia sedang duduk menanti Alena yang sedang membersihkan diri karena tadi dia yang lebih dulu mandi.
ceklek
pintu kamar mandi itu dan keluarlah wanita dengan rambut panjang yang basah dari sana.
oh astaga kenapa istrinya sangat menggoda sekarang,pikir Alan .
Alena berjalan menuju meja rias dan duduk di kursi yang ada di situ sambil mengeringkan rambutnya.
__ADS_1
Alan berjalan menuju sang istri dan mengambil handuk itu dari tangan Alena lalu menggantikan Alena mengeringkan rambut.
Alena hanya membiarkan apa yang dilakukan Alan Alena hanya memandang wajah Alan dari cermin, sepertinya Alan sudah lebih baik sekarang.
"kau sudah baikan ?"tanya Alena .
Alan memandang Alena dari cermin lalu mengangguk.
"ingat hubby kalau kau ingin menang dalam sebuah permainan jangan pernah membawa perasaan karena itu hanya permainan bukan kenyataan."kata Alena serius.
"itu lah yang harus kau ingat dalam permainan ini, jangan pernah terlihat beremosi di hadapan lawanmu."kata Alena lagi.
"karena jika kau terlihat santai dan tenang saja maka lawan sendiri yang termainkan dalam permainan nya sendiri."lanjut Alena lagi.
.
.
.
.
bersambung
***jangan lupa like jempolnya dan juga vote ya 😉 😉
__ADS_1
...salam hangat dari author 😘😘***...