
1 bulan berjalan cukup lama, namun semua masih berjalan seperti biasa, bangun lagi membereskan rumah dan pergi keluar untuk menenangkan diri,
Dikhianati oleh si kepercayaan adalah hal yang paling menyakitkan, ah ia aku sudah keluar dari dunia permodelan beberapa waktu lalu, dan saat ini aku bersiap untuk mencari pekerjaan, setidaknya agar aku memiliki kesibukan dan melupakan semua yang terjadi
"Sa.. " Angga yang baru menuruni tangga, ia berjalan mendekatiku, ia pun sudah berpakaian formal dan akan segera berangkat ke kantor, meski tak memanfaatkan Angga aku masih melakukan kewajiban ku, bangun pagi menyiapkan sarapan dan mengantar Angga pergi
Semua masih seperti di masa lalu, bedanya hanya di masa lalu aku melakukan semuanya dengan penuh cinta dan kali ini aku melakukanya hanya untuk sebuah tanggung jawab, aku hanya berperan sebagai istri yang baik
"Makan" Ucap ku dengan nada singkat, aku duduk dan menyantap makanan ku dalam diam,
Sejak hari itu kami memang tak banyak berinteraksi, seolah kami hanyalah dua orang asing yang di tempatkan di tempat yang sama, dua orang asing yang saling menghargai dan menghormati .
Makan berlalu dengan keheningan, tak lama kemudian acara makan selesai, aku segera membereskan meja dan kembali ke kamar untuk bersiap,
"Aku pergi" Ucap Angga yang membuat ku menghentikan langkah, aku baru saja menaiki tangga kedua, aku menghela nafas pelan dan mengguk, setelahnya aku segera naik untuk bersiap aku pun harus pergi untuk mencari pekerjaan dan melanjutkan hidup ku, aku memang belum meninggalkan Angga saat ini namun aku bisa saja melakukanya suatu saat nanti, saat ini aku bertahan hanya untuk membuat mamaku tenang, setidaknya ia tak akan merasa bersalah atas semua yang terjadi dalam kehidupan ku yang malang ini.
Mobil ku berhenti di sebuah rumah mewah di perumahan jakarta makmur, yah itu adalah rumah mama, sudah cukup lama aku tak kesini, aku merindukan mamaku, aku menarik nafas pelan dan menunjukan senyum terbaik ku
"Ma, ma Cika datang" Ucap ku bersikap seakan tak pernah terjadi hal buruk apapun bulan lalu, aku sudah mencari pekerjaan sedari tadi namun mencari pekerjaan di Jakarta tidaklah mudah, kerena melewati jalan ini maka aku memutuskan untuk mengunjungi mama ku dan memastikan jika ia baik baik saja
"Ma, mama di mana?, ma Cika datang, Cika bawa kue kesukaan mama loh" Ucap ku, aku sudah berada di ruang tamu namun mama juga belum menyambut kedatangan ku
"Bik, mama mana? " Ucap ku dengan nada nan begitu pelan,
"Nyonya di kamar non, beberapa hari ini nona sakit" Ucap bik Asmi pelan
"Mama sakit apa bik? "
"Bibik juga ngak tau non"
__ADS_1
"Ya udah, bibik tolong telfon dokter dan masakin bubur buat mama" Ucap ku berjalan menaiki tangga, aku menghela nafas pelan, ku lihat mama ku sedang terbaring lemah di ranjang, badanya terlihat sedikit kurus dan pucat, aku duduk di pinggiran ranjang sembari menggenggam tangannya erat
"Ma, mama sakit apa?, kenapa ngak ngabarin cika? " Ucap ku pelan, ku lihat perlahan mata itu terbuka, ku lihat senyum tipis terbit di ujung bibirnya
"Maafin mama"
"Lupain aja ma, mama ngak salah, cika yang salah" Ucap ku menciumi punggung tangan mama, bik asmi datang dengan semangkuk bubur
"Mama makan dulu ya, bentar lagi dokter akan datang" Ucap ku membantu mama duduk, aku perlahan menyuapi bubur itu, setelah beberapa suapan mama berlari cepat menuju kamar mandi,
"Ma, mama ngak papa kan?" Ucap ku cemas sembari memijit tengkuk mamaku,
"Mama ngak papa kok, cuma sedikit pusing" Ucapnya tersenyum lemah
"Ya udah mama istirahat aja, mama mau makan apa, biar cika suruh bik asmi masak"
"Mama yakin? "
"Tenggorokan mama terasa pahit akhir akhir ini"
" Ya udah, mama tunggu di sini, cika ke dapur dulu" Ucap ku pelan, setelah menyuruh bik asmi masak aku berjalan menuju pintu utama, bel berbunyi sejak tadi, mungkin saja itu dokter yang di panggil oleh bik asmi tadi
"Ah dokter silahkan masuk" Aku menuntun dokter menuju kamar mama, dan membiarkan mama di periksa
"Gimana keadaan mama saya dok?" Ucap ku dengan cemas
"Buk mira hanya sedikit tertekan, saya sarankan untuk tidak banyak pikiran dan bergadang, itu sangat tak baik untuk bayi yang berada di dalam kandungnya" Ucap sang dokter, bak petir menyambar, apa mama mengandung?, dan aku yakin itu adalah anak angga, aku menepis air mataku dengan pelan dan memaksakan diri untuk tersenyum
"Selamat ma" Ucap ku tercekat, hey aku merasa bingung bagai mana aku memanggil anak ini kelak?, di satu sisi ia adalah anak mama yang berarti adik ku, dan di sisi lain ia adalah angga dan itu berarti anak tiri ku, ah aku merasa dilema, sedih, sesak dan sakit datang dalam sekejap
__ADS_1
"Kandungan anda masih sangat lemah"
Si dokter berucap dengan nada pela , hal ini jelas saja membuat ku menjadi kepikiran, apakah yang membuat mama menjadi begitu tertekan?
"Berapa usianya dok? " Ucap ku dengan nada pelan, nama mengandung dan tentu saja aku sangat bahagia, aku ikut bahagia atas tubuhnya mahluk hidup di dalam janin mama ku,
"Sudah hampir dua bulan, saya harap anda merawat buk mira dengan baik" Ucap sang dokter, aku mengguk pelan dan mengantarkan dokter meninggalkan kamar
"Terimakasih banyak dok" Aku berucap dengan penuh semangat,
"Sama sama buk Cika," Ucap sang dokter, setelah pintu tertutup aku segera kembali ke kamar mama, mama tak mungkin tinggal sendiri, ia memerlukan perawatan extra, dan kasih sayang yang cukup, aku tak bisa egois, bagai manapun ada darah angga di sana, aku akan mengajak mama tinggal di rumah kami, dengan begitu aku bisa bernafas dengan tenang
"Kenapa mama rahasiakan ini?, Kenapa mama diam aja, Cika ngak bakalan jadi cemas ini"
Aku meraih tangan mama dan menggenggamnya pelan, dari raut wajah mama sepertinya mama sudah tau perihal ini, hanya saja mama bahkan bersikeras untuk menyembunyikannya,
"Maafin mama cik, mama udah kejam banget sama kamu, Mama malu buat ngadepin kamu" mama ku berucap dengan nada pela, jika malu seharusnya hubungan terlarang ini tak akan di mulai sedari awal
namun apalah daya saat ini nasi sudah menjadi bubur, semua sudah terlambat, usaha Angga sudah membuahkan hasil, selama ini bukankah Angga sangat menginginkan seorang anak?, maka ia akan ikut bahagia atas kehadiran janin ini
"Ma, mama jangan banyak pikiran, Ini bukan salah mama, dan Cika udah putusin, mama akan tinggal sama Cika, Cika takut kalo Maman kenapa kenapa kalo sendirian"
"Ngak usah Cik, mama bisa sendiri, mama ngak mau ngerepotin kamu, mama ngak mau nyusahin kamu dengan keadaan mama yang seperti ini"
"Ma, Mama ngak pernah ngerepotin Cika sama sekali, Cika ikut senang dengan berita bahagia ini, Cika ngak bisa tenang kalo mama sendiri, Cika takut kalo Mama kenapa kenapa"
"Tapi?, Sayang mama beneran bisa sendiri, mama baik baik aja kok"
"Cika mohon ma, mau ya, untuk Cika, untuk adik Cika yang belum lahir, mama harus jaga kesehatan mama dan Cika ngak percaya kalo yang ngurusin mama orang lain" Ucap ku tersenyum pahit, mama mengguk dengan pelan, aku tersenyum lebar dan meninggalkan bik Asmi untuk membereskan pakaian mama.
__ADS_1