
Hal yang pertama kali ku lihat adalah sebuah ranjang besar dan di atasnya terdapat seorang pria yang terlihat pucat,
Aku melangkah ringan mendekati si pria, apakah aku salah lihat?, apakah mahluk ini bisa sakit?, yang benar saja?, big bos yang berkuasa sakit?, lalu mengapa tak memanggil dokter dan malah merepotkan ku,
Aku menghela nafas pelan, akal ku mengatakan jika tinggalkan saja dia, toh ini bukan bagian dari pekerjaan ku, tapi hati ku berkata bahwa aku harus merawatnya,
Sebagai manusia aku tentu saja tak bisa tinggal diam saat melihat orang tak berdaya di hadapan ku,
Lagi dan lagi aku bahkan hanya menghela nafas, baik lah sudah ku putuskan aku akan merawatnya, demi rasa kemanusiaan, aku harus mendengarkan kata hati ku dan mengabaikan logika yang selama ini ku pakai
"Selamat pagi pak" Ucap ku masih berdiri tak jauh darinya, aku menunjukan senyum ramah mungkin agar ia tak merasa tersinggung dan merasa tak nyaman dengan keberadaan ku
"Buatkan saya bubur" Ucapnya dengan nada datar dan wajah yang bahkan masih sama seperti sebelumnya yaitu dingin,
Dalam keadaan seperti ini pun masih sangat menyebalkan, bisakah mengucapkan kata tolong?, meminta tolong tak akan membuat Anda menjadi terhina wahai tuan Arya yang terhormat, dasar orang kaya, melakukan segala hal sesuka hati
"Baik pak, mohon untuk menunggu beberapa menit" Ucap ku pelan,
Aku melangkah asal mencari keberadaan dapur dan beruntungnya aku tak salah, aku mengambil langkah yang tepat, dan di sinilah aku berada di dapur mewah yang penuh dengan segala peralatan canggih,
Si big bos meminta bubur dan aku akan membuatnya, entah mengapa aku sedikit kasihan padanya, ia memang memiliki harta yang berlimpah, namun?, ia bahkan tak memiliki keluarga sebagai tempat untuk berkeluh kesah,
Benar yang di katakan orang orang setiap orang memiliki kehidupan, memiliki cerita dan kisahnya sendiri, harta yang berlimpah benar benar tak menjamin sebuah kebahagiaan, aku sangat tau itu, karena aku pun pernah berada di posisi itu,
Saat aku berada di atas, saat semua orang menyanjung ku, mengagungkan ku seolah aku Seornag putri yang paling bersinar, akan tetapi saat ini?, semua berubah begitu saja, semua orang hanya akan mencela, mengejek mengatakan jika aku adalah istri yang tak tau di untung,
Lari dari sebuah pernikahan yang sangat bahagia, mereka bahkan tak tau betapa sakitnya aku saat itu, mereka hanya bisa melihat dan berkomentar tampa tau apa yang sebenarnya terjadi, semua bukan perkara yang mudah,
__ADS_1
Lupakan, mengapa aku jadi cengeng seperti ini, mengapa aku malah mengingat itu, pikiran konyol, aku sudah melewatinya selama satu tahun dan aku baik baik saja, lalu mengapa kalo ini ingatan itu seolah kembali lagi
Ku mohon menjauh, menjauh lah dari ku, aku tak ingin terlihat dan merasakan sakit itu lagi, cukup sekali saja aku tak ingin mengingatnya, aku sudah memulai kehidupan ku dan melepaskan semua yang memang sedari awal bukan milik ku
"Sangat menyedihkan" Aku tersenyum miring sembari mengejek diriku sendiri yang bahkan masih terperangkap dalam masa lalu,
Bubur sudah matang dan dengan segera memasukan ke dalam mangkuk, setelahnya aku segera kembali ke kamar untuk menyerah kan bubur pada si big bos
"Makan lah, saya sudah menelfon dokter agar memeriksa anda" Ucap ku meletakan bubur di nakas tak jauh darinya
"Ada apa?, anda terlihat sangat cemas?, jangan katakan jika anda takut dengan pemeriksaan" Tak ada jawaban apapun dari si big bos ia malah diam saja dan menjadi orang yang lebih penurut
Haha sangat lucu bertingkah seperti orang berkuasa dan lihat lah?, bahkan ia sangat takut dengan sebuah pemeriksaan, jangan katakan ia juga fobia pada suntik?, jika itu benar benar terjadi maka aku harus tertawa terbahak bahak
"Ah baik lah pak, dokter sudah di depan, saya permisi sebentar untuk menyambutnya" Ucap ku setelahnya bergerak meninggalkan kamar, menuju pintu utama,
"Selamat pagi dok"
"Pagi buk" Ucap si dokter, aku segera menggiring si dokter masuk,
Senyum ku bahkan tak tertahan saat di suguhkan wajah pucat dari si big bos, kapan lagi?, kapan lagi aku melihat mahluk kuat ini menjadi begitu lemah
"Tenangkan diri anda pak, ini hanya sebuah pemeriksaan" Ucap Dokter saat mendapat penolakan dari si big bos, aku menghela nafas pelan dan perlahan mendekat
Lihatlah si big bos langsung memucat saat dokter memasuki kamar, aku sangat ingin tertawa terbahak bahak melihat ketakutan si big bos
Pemandangan seperti ini akan sangat jarang ku lihat atau bahkan mungkin hanya kali ini saja, si bos yang berkuasa menjadi ciut saat berada di hadapan Seornag dokter
__ADS_1
"Pak, diperiksa ya, bapak mau cepat sembuh kan?, diperiksa ya" Ucap ku dengan nada pelan, ingin tertawa namun aku tak tega dan akhirnya melembutkan hati untuk menenangkannya
Tangan besar itu menggapai tangan ku dan menggenggamnya dengan erat meskipun sedikit terkejut aku membiarkannya, ia dalam masa ketakutan dan aku bukan mahluk yang tak memiliki hati,
"Silahkan dok" Aku memberikan instruksi pada si dokter untuk melakukan pemeriksaan
Saat ini si big bos sudah menjadi jauh lebih tenang dan tentu saja si dokter tak boleh membuang waktu
Dokter tersenyum ramah dan segera bergerak mendekat dan mulai memeriksa si big bos, tangan besar itu menggenggam tangan ku dengan erat, bahkan tubuhnya sudah bergetar
Dapat kurasakan jika saat ini ia benar benar ketakutan
"Semua akan baik baik saja, bapak tak perlu cemas, saya di sini, bapak bakalan baik baik saja" Bisik ku pelan, dalam keadaan seperti ini seseorang memang membutuhkan kata penenang
"Ah bagai mana dok?" Ucap ku pelan setelah melihat si dokter sudah selesai
"Pak Arya hanya terkena demam biasa dan gangguan pencernaan karena terlalu kelelahan dan terus memaksakan diri untuk bekerja" Ucap si dokter,
Aku hanya mengguk, seorang big bos mengalami gangguan pencernaan dan seketika tumbang?, yang benar saja?
"Ah baik lah, saya sudah menuliskan resepnya, dan ibu harus memastikan jika meminum obatnya dengan teratur"
"Baik dok, maaf tidak bisa mengantar kepergian anda" Ucap ku pelan,
Sebelumnya aku sempat memiliki niat untuk mengantarkan si dokter sampai di depan pintu, namun sayangnya si big bos bahkan tak mau melepaskan diri ku dan bahkan mempererat genggamannya, genggaman itu membuat ku merasa sedikit tak nyaman dan tak enak hati dengan si dokter
"Kalau seperti itu saya permisi"
__ADS_1
"Silahkan" Jawab ku menunjukan senyuman, sebagai pengantar kepergian si dokter, si dokter bergerak perlahan meninggalkan ruangan