
Beberapa waktu telah berlalu begitu saja, semua masih sama, keadaan masih tetap sama dan tak memiliki perubahan apapun, saat ini Aku berada sebuah cafe, kepala ku sedikit pusing, maslah selalu saja datang seakan tiada akhir,
Dan saat ini aku hanya berharap secangkir kopi bisa menenangkan ku, meskipun pada kenyataanya itu hal yang sangat tidak mungkin,
Aku sudah tak bekerja dari beberapa bulan yang lalu, beruntung uang tabungan ku masih cukup untuk menghidupi ku, aku tak pernah meminta uang ke Angga,
Aku sudah mengembalikan semua fasilitas yang ia berikan pada ku, aku tak akan memakainya, aku bisa hidup dengan caraku dan kemampuan ku
"Bukankah itu keterlaluan Mir, lo main api sama menantu lo sendiri, ya walaupun kita semua tau kalo lo itu sadis, tapi ya kita ngak pernah kepikiran sampe sana" Ucap seorang yang berada di meja tak jauh dari ku, aku dapat mendengarnya dengan jelas
"Ngak ada yang keterlaluan Dew, lagian sekarang gue udah hamil, dan yah lo pasti tau siapa bapaknya, ternyata bocah itu kuat juga, gue bahkan selalu usaha keras waktu sama mas Wily dan kenyataanya gue ngak hamil hamil, yah hingga mas wily balik bawa bayi perempuan itu, dan sialnya lagi itu anaknya istri keduanya mas wily, sejak saat itu gue putusin buat balas dendam, gue harus balas semua rasa sakit yang saya rasakan selama ini, biar ****** sialan itu nangis dari neraka sana, melihat nasib buruk anaknya yang begitu hancur saat lakinya gue rebut," Ucapnya lagi, aku terdiam sejenak, apakah aku salah dengar?
Aku tentu saja sangat mengenali suara itu, aku perlahan berbalik, aku tak mungkin salah mengenali suara, itu suara milik mamaku, aku menajamkan pendengaran ku, dia juga menyebut Wily,
William adalah papaku, dan bayi perempuan, apakah bayi perempuan itu aku?, jadi, aku?, aku bukan anak mama?, jadi aku hanya bayi yang selalu membuat mama ingat dengan perselingkuhan papa, ma mengapa mama ngambil jalan ini
"Lo udah hamil, dan ayahnya, menantu ganteng lo itu?, Lo yakin?"
"Iya lah, Lo pikir gue apaan?, jangan kurang belaian?, kalo ngak sama dia ya ogah gue sama orang lain" mama bahkan menjawab dengan penuh percaya diri, jadi itu benar benar anak Angga?, benar benar darah daging Angga?
"Ini beneran gila sih lo memang sedikit sadis kalo urusan membalas dendam, gue beneran ngak nyangka balas dendam lo sampe ke ranjang gini, gue kira lo cuma jebak dia eh taunya beneran mana udah bunting lagi" Ucap si wanita yang ku ketahui, ia adalah tante dewi teman dekat mama, tante Dewi sering mengunjungi rumah,
"Gue kan udah bilang pada Lo pada, gimanapun caranya gue pasti bakal bales semua penderitaan gue selama ini, lagian apa salahnya sih punya anak dari menantu ganteng gue, lagian gue juga masih masih cantik, gue masih mampu menarik perhatian, gue akan balas persis seperti yang mama jalangnya dulu, kehidupan gue sudah selesai di sana, saat ini gue cuma memainkan peran dengan baik, hingga saatnya tiba," Ucapnya, aku tak ingin melanjutkan acara menguping ku,
__ADS_1
Sebenci itukah mama pada ku, apakah semua yang terjadi selama dua puluh tahun ini tak meninggalkan sedikit pun belas di hati mama ku
Semua sudah sangat jelas, mama sengaja melakukan ini, dan angga terjebak dalam rayuan mama dan permainan, air mata ku tiba tiba mengalir mengalir Tampa bisa ku jengah, akhir akhir ini aku bahkan sangat suka mengais dan menyalahkan takdir ku yang buruk,
namun apapun yang terjadi aku tak bisa melakukan Apapun, saat ini aku hanya bisa menerima sebuah kenyataan pahit ini,
Dan pada kenyataannya aku hanyalah anak dari orang ketiga yang masuk dalam pernikahan mama dan papa ku, aku tak lebih anak dari selingkuhan
Tapi jujur saja aku bahkan masih tak bisa dan tak mau menerima sebuah kenyataan jika aku bukan anak kandung dari mama ku, aku masing tidak bisa menerima ini semua, namun?, hari ini aku mendengarnya Sendiri, mama membenci ku dan menggunakan ku hanya untuk membalas rasa sakitnya di masa lalu,
Tapi walau bagai mana pun aku ngak bisa benci, aku ngak bisa benci dengan mama,
kasih sayang yang mama berikan selama bertahun tahun ini ialah sebuah hal nyata aku menghela nafas pelan dan segera kembali ke rumah,
"Hallo" Ucap ku pada Amel, aku baru menghubunginya setelah beberapa waktu hilang kontak,
Ia selalu sibuk dengan bos kejamnya itu, aku mengerti itu, aku hanya ingin amel ngambil beberapa barang berharga aku di apartemen milik ku, aku juga akan menjual apartment itu, aku akan pergi, pergi dari kehidupan yang meresahkan ini
"... "
"Gue mau pergi dari rumah, semua sudah selesai, gue ngak mau terlibat apapun lagi" Ucap ku dengan nada pelan, aku sudah mengambil keputusan, aku harus meninggalkan mama dan Angga sendirian, dengan demikian dendam ini akan berakhir,
"... "
__ADS_1
"Keputusan gue udah bulat Mel, pokonya lo cari orang yang mau beli apartment gue" Ucap ku lagi, Amel masih berusaha untuk membujuk dan mempertanyakan keseriusan ku, namun?, aku sudah berfikir dengan baik, aku harus segera meninggalkan mama dan dan Angga agar mereka memiliki kehidupan manusia
"... "
"Ya udah, lo cari tempat yang ngak mungkin angga cari, gue yakin kalo gue pergi angga bakalan nyariin gue" Ucap ku dengan nada nan pelan
"... "
"Ia gue bakal jelasin nanti,"
"... "
"Gue ngak bisa pergi sekarang, gue harus mastiin kalo mama sama angga nikah dulu, gue ngak bakalan tenang kalo anak dalam perut mama gue lahir tampa bapak, ya walaupun harus mengorbankan kakaknya sendiri" Ucap ku pelan
"... "
"Ia, gue tutup dulu ya, gue mau balik, mau nyiapin semuanya, sayang kan, mana barang gue banyak di rumah, kalo barang pemberian angga sih ya di tinggal, kalo barang yang gue beli, ogah banget gue ninggalin, gue beli pake duit, gue cari duit pake keringat" Ucap ku panjang lebar,
tak ada satupun yang tersimpan antara aku dan amel, aku yakin aku dapat mempercayai Amel, Amel adalah orang yang selalu menemaniku sejak duduk di bangku kuliah,
"Yaudah" Ucap ku memutuskan sambungan telpon, aku perlahan keluar dari mobil,
aku akan menyiapkan barang ku terlebih dahulu, beberapa pakaian mahal ku, jangan sampai ketinggalan, meski aku akan menjadi janda aku harus tetap cantik,
__ADS_1