
"Ma" Ucap ku pelan, saat ini ku lihat mama sudah duduk di depan TV di ruang santai, aku perlahan duduk di sampingnya
"Hey sayang udah pulang?, kamu dari mana aja?, mama kesepian tau di rumah" Ucap mamaku sembari menunjukan senyum tak berdosanya,
Aku membalasnya dengan senyum yang sama, meskipun menyakitkan aku harus kuat dan harus terlihat kuat, aku adalah Cika wanita kuat yang akan bertahan meskipun begitu banyak masalah yang datang
"Kalo mama mau jalan jalan kan tinggal ajak mang mamad, lagian mang mamat cika bayar buat ngantar jemput mama, Cika takut mama kecapean kalo nyetir sendiri" Ucap ku dengan nada pelan
Saat ini kandungan mama sudah mulai membesar dan aku tak ingin ia kelelahan dan pada akhirnya berdampak pada kesehatannya
"Kamu memang anak yang baik sayang, tapi mama masih bisa kok berangkat ke mana mana sendiri, mama ngak butuh supir" Ucap mama sembari memeluk ku,
Meskipun sesak aku masih berusaha untuk tersenyum dan mengendalikan diri ku, sakit dan sesak yang kurasakan bahkan tidak sebanding dengan luka yang mama ku pendam selama ini
Aku kecewa dengan mama dengan semua kebohongan ya dan kepalsuannya selama ini, namun aku bahkan lebih kecewa dengan diri ku, yang menjadi sebab atas segala rasa sakit yang mama rasakan
Aku tersenyum, ah mungkin beberapa pelukan sebelum berpisah lebih baik, dan aku anggap saja ini merupakan bakti terakhir ku pada mama orang yang telah merawat dan menyayangiku selama dua puluh tujuh tahun ini, cinta dan kasih sayang mama meskipun hanya sebuah kepalsuan namun akan selalu ku kenang dan ku ingat di seluruh hidup ku
Jujur aku sedih, sedih jika akan meninggalkan mama, namun saat ini aku hanya menemukan sebuah jalan buntu aku tak memiliki jalan lain, saat ini mama mengandung dan aku harus melepaskan Angga demi kebahagiaan mama
Untuk kali ini tak masalah dengan sebuah kegagalan, kegagalan dalam rumah tangga adalah hal yang sangat wajar terjadi kan?,
Ah sudah lah kenyataanya semuanya hanya sebuah sandiwara dan permainan, mama menjebak Angga, Angga tergoda dengan bujuk rayu mama hingga memilih mendua dan mengabaikan perasaan ku, aku sadar itu, aku sepenuhnya sadar jika aku hanya akan semakin terluka jika bersikeras untuk bertahan
__ADS_1
"Ngak papa ma, Cika ngerasa cemas banget kalo ngebiarin mama kemana mana sendirian" Ucap ku lagi, setelah aku pergi pastinya tak ada siapapun yang akan menjaga mama, aku hanya ingin melakukan semua upaya terbaik yang aku bisa
"Hm yaudah sayang, mama nurut aja"
mama mengguk sembari mengelus pucuk Kepala ku dengan oelan
"Oh ia mah udah hampir waktunya, mama kapan fitting baju?, anggap aja ini hadiah terakhir dari Cika, kali mama harus janji kalo mama akan bahagia" Ucap ku tersenyum
"Karena setelah ini Cika akan pergi dari mama, pergi selama lamanya dan tak akan pernah kembali lagi" Batin ku dengan nada lirih,
Mama mengandung dan Angga harus bertanggung jawab atas perbuatanya, saat seseorang berani untuk bermain maka ia juga harus bersiap dengan sebuah resiko, lagi pula siapa suruh bermain tak menggunakan pengaman, ke bobol kan?
"Mama fikir itu ngak perlu sayang, lagian mama udah terlalu tua untuk yang begituan" Ucap mama pelan dengan nada pelan, hal ini tentu saja membuat ku kembali tersenyum lebar, mama belum tua masih cantik dan indah, bagai mana mungkin aku mempermalukannya dengan hanya memberikan sebuah pernikahan kecil
"Sayang" Mama masih berusaha untuk menolak ku namun aku tentu saja tak menerima itu, apapun yang terjadi aku memastikan jika mama memiliki pernikahan dan kebahagiaan yang utuh
"Ngak ada penolakan, besok cika bakal suruh orang ke sini, ya udah cika ke atas dulu ya, da mama" Ucap ku mengecup pipi mama dan segera menuju kamar ku yang berada di lantai atas,
Setelah sampai, aku meraih sebuah album dan aku segera beranjak menuju balkon dengan memeluk album itu
"Nyonya"
"Masuk bik Asmi" Ucap ku dengan nada pelan, yah sebelum ke atas aku sempat meminta bi Asmi membuatkan coklat panas dan beberapa cemilan untuk menemani hari ku,
__ADS_1
"Silahkan nyonya"
"Makasih bik, ah ia, bik jangan lupa kasih mama susu kehamilan ya, dan jangan lupa kasih vitamin juga" Ucap ku dengan senyuman lebar
"Baik nyonya"
"Yaudah bibik boleh pergi, setelah semuanya selesai bibik bisa istirahat" Ucap ku dengan nada pelan,
setelah kepergian bik Asmi aku menghela nafas pelan dan beranjak menuju lemari untuk mengambil sebuah album
saat album sudah di ambil aku mendudukkan diri di kursi yang berada di balkon perlahan membuka album itu, ah ini adalah gambar saat aku kecil,
Foto kebahagiaan kami yang ternyata hanya sebuah sandiwara dan tipu muslihat saja, dulu aku mengira jika aku memiliki kehidupan yang sangat sempurna,
Memiliki papa yang baik mama yang sangat sayang menyayangi ku dan suami yang sangat mencintai aku,
Namun peda akhirnya aku di tampar dengan keras oleh suatu hal ya h di sebut dengan sebuah kenyataan, aku terlalu berharap, dan pada akhirnya aku di kecewakan,
Berharap pada manusia memang akan berakhir seperti ini, keluarga yang sempurna nyatanya hanyalah sebuah kepalsuan, papa yang baik bahkan tega menyelingkuhi mama, dan lahirlah aku, mama yang menyayangi ku bahkan begitu mudah mengatakan jika ia hanya memainkan peran hingga waktunya tiba ia akan mendorong ku pada titik sebuah kehancuran , dan suami yang sangat mencintai ku bahkan begitu tega mengkhianati ku, kehidupan ku sempurna bukan?,
"Pa, kenapa papa lakuin ini?, kenapa papa ngehianatin mama?, andai aja papa ngak selingkuh, aku ngak akan lahir ke dunia ini, dan aku tak akan mungkin merasakan hal yang sangat menyakitkan seperti ini, aku ngak bakalan jadi bahan balas dendam pa" Ucap ku pelan, aku menghela nafas pelan dan melihat album lebar demi lembar, kebahagiaan yang palsu, kehidupan yang menyedihkan dan akhir yang tragis
"Tapi papa tenang aja, meskipun aku kecewa, aku tetap sayang sama mama, aku ngak akan melakukan hal yang mama lakukan pada ku, jika begitu mama dendam ini tak akan mungkin berakhir sampai kapan pun" Ucap ku pelan
__ADS_1