My Sad

My Sad
39


__ADS_3

"Pak, pak Arya udah hampir dua jam bapak memegang tangan saya, badan saya sedikit pegal"


Sudah dua jam berlalu namun si big bos masih menggenggam, ah bahkan ia memeluk tangan ku membawanya bersembunyi di bawah bantal,


Tangan ku seolah kehilangan harga dirinya saat berada di hadapan si big bos galak ini, lihatlah apa yang ia lakukan?, ia terus menganggap tangan ku seolah itu benda berharga yang tak akan pernah ia lepaskan lagi


"Pak, pak" Ucapku pelan,


Namun hanya ada keheningan, aku menghela nafas pelan sembari menarik tangan ku dengan Pelan, namun?, reaksinya bahkan hal yang pernah aku duga akan terjadi


"Pak, bapak ngak papa?" Ucap ku panik,


Tangan ku memang sudah terlepas darinya namun si big bos malah terbaring terlentang dan menujukan wajah merah serta sembab miliknya, jangan lupakan jejak air mata di wajahnya


"Pak, pak" Aku terus memanggilnya, bagai manapun ini akan sangat tak baik dan berbahaya, bagai mana jika keadaanya memburuk, aku lah yang akan menjadi sasaran empuk jika hal yang tak diinginkan itu terjadi


Namun masih hening, dengan sedikit terburu buru aku segera mengambil ponsel ku dan langsung menelfon dokter agar dapat memeriksa keadaan si big bos dan memastikan jika big bos baik baik saja


Apakah ia benar benar mengais?, apakah ia benar benar ketakutan dengan pemeriksaan ini, apakah ia memiliki trauma dengan staf medis?, Melihat reaksinya aku bahkan menjadi tak habis fikir, seseorang yang begitu kuat ternyata hanya jiwa yang rapuh


Dengan gerakan pelan ia meraih ponsel, dan segera menghubungi dokter sebelumnya, keadaan si big bos bahkan sangat tidak baik baik saja, aku harus memanggil dokter untuk memeriksa keadaanya


Aku tak ingin disalahkan jika si big bos mati maka keberadaan ku lah yang akan menjadi hal yang di pertanyakan


"Bagaimana dok?" Ucap ku cepat, si dokter baru saja menyelesaikan pemeriksaan


"Apakah sebelum ini pak Arya pernah mengalami trauma, atau yang lainya?" Ucap sang dokter pelan


Sebelumnya dokter hanya memeriksa sekilas dan lagi saat itu si big bos terlihat baik baik saja


"Saya kurang tau dok, tapi sepertinya iya, dia keliatan takut banget dengan pemeriksaan, saat saya mengatakan dokter akan datang wajah nya langsung memucat begitu aja" jawab ku sekenanya,


Toh memang benar saat dokter datang ia langsung panik seolah si dokter adalah malaikat maut yang akan merenggut nyawanya

__ADS_1


Lagi pula bukan siapa siapa si big bos yang bisa menghafal segala keluhannya, aku hanya asisten pribadi yang baru saja bekerja


"Sepertinya pak Arya mengalami kegelisahan saat mendengar mengenai tenaga kesehatan, baik itu dokter beserta barang barangnya, seperti pak Arya mengalami beberapa hal buruk di masa lalu, hal ini membuatnya beraksi lebih saat mendengar hal hal yang berbau pemeriksaan" Jelas si dokter pelan sedangkan ku hanya menggukan kepala ku pelan sepertinya cukup serius,


Tak menyangka jika si big bos yang berkuasa pernah merasakan rasa takut, ku fikir takut hanya untuk orang orang lemah seperti ku ternyata tidak ya


"Dimasa depan sebaiknya anda memberikan perhatian lebih padanya, beberapa hal akan membuatnya merasa gelisah dan itu sangat tidak baik untuk mentalnya, hanya waktu dan dirinya sendiri yang bisa menyembuhkan hal ini" jelas dokter pelan,


Aku masih mendengarnya dengan serius, jangan sampai salah penanganan, aku tak ingin masuk penjara hanya karena sebuah kesalahan fahaman


Dan mau tak mau aku harus menjaga si big bos, sekali lagi ku jelaskan ini hanya karena rasa kemanusiaan ku


"Baik dok" jawab ku pelan


"Saya sarankan untuk melakukan terapi" ucap si dokter, terapi katanya?, mendengar tenaga kesehatan saja si big bos sudah ketakutan lalu bagaimana dengan menjalani terapi?


Dapat ku pastikan jika si big bos semakin histeris saat di hadapkan dengan hal seperti ini, namun ketakutan ini jika dibiarkan lebih lama hanya akan memperbesar masalah


"Saya akan membicarakannya dok" jawab ku pelan,


Aku hanya orang asing yang bekerja padanya dan tentu saja aku tak bisa membuat sebuah keputusan mengenai hal ini, aku hanya akan menyampaikannya ke si big bos, perihal keputusan aku serahkan ke dia, toh yang menjalani pengobatan dia, kenapa aku yang harus ambil pusing dan repot


Tugas ku hanya menjaganya saat ini, dan perihal trauma dan fobianya aku tak ingin ikutan ambil pusing


Masalah Ku saja sudah banyak mengapa aku harus menambah masalahku dengan mengurusi urusan orang lain


"Baiklah, jika tidak ada hal lain saya permisi" ucap si dokter pelan dan mulai membereskan barang bawaannya


"Saya akan melihat dokter" Ucap ku mengantarkan dokter ke depan, sepanjang perjalanan menuju pintu utama hanya di dampingi dengan sebuah obrolan ringan


Meskipun si big bos takut dengan hal yang berbau obat namun itu tidak bisa di jadikan alasan untuk membiarkan si big bos meminum obat


Aku harus mencari cara untuk memanipulasi obat itu, setidaknya si big bos bisa sembuh dengan cepat agar aku bisa bekerja seperti biasanya

__ADS_1


"Terimakasih dok"


"Sama sama"


Setelahnya aku segera bergerak kembali ke kamar, tak menyangka jika si big bos memiliki penyakit seperti ini


Aku menghela nafas pelan, rumah sebesar ini tidak ada pembantu?, apakah ini benar benar kehidupan?, aku menaikan bahu tak perduli, aku melangkah masuk ke kamar si big bos,


"Ngak, jangan, jangan, lepas, jangan" Ucapnya di sela tidurnya, dengan sedikit tergesa aku melangkah mendekat,


Aku duduk di pinggiran ranjang sembari terus memanggilnya, lagi lagi ia mengigau, dan bahkan lihatlah jejak air mata itu, membuat ku menjadi ikutan sedih saja


"Pak, pak"


"Tidak jangan, jangan ma, jangan" Teriaknya, dengan enggan aku meraih tangannya, namun siapa yang menyangka ia malah menarik ku dan dalam sekejap aku sudah berada dalam pelukanya


"Pak, pak lepas, kayak gini ngak baik" Ucapku namun si big bos masih terus meracau, ia masih terus merengek dan terkadang terisak


"Jangan, saya mohon jangan, jangan saya mohon" Ucapnya lirih, butiran air mata bahkan turun saat mata itu masih terpejam dengan rapat


Hal ini membuat aku menjadi diam sejenak, tubuhnya benar benar bergetar, dan panas, yah mau bagaimana lagi ia adalah orang yang sedang sakit, dengan agak ragu aku mulai mengusap tangannya


"Jangan, jangan sakiti saya, jangan, jangan saya mohon jangan" Rengeknya,


"Ngak ada yang nyakitin bapak, bapak tenang yah" bisik ku pelan,


sepertinya trauma si big bos tidak bisa di remehkan, lihatlah malam menjadi seperti ini, sebenarnya apa yang terjadi dengan si big bos di masa lalu, sehingga menjadi seperti ini


Namun apapun pertanyaan dan rasa penasaran ku hanya bisa ku telan mentah mentah, ini bukan saat yang tepat untuk mempertanyakannya


Aku mulai menepuk nepuk punggungnya dengan lembut, bagaimanapun jelas aku adalah wanita berpengalaman, aku sudah pernah menikah selama tujuh tahun hal seperti ini jelas tak asing


"Tenang pak, ngak ada yang nyakitin bapak, sekarang bapak tenaga ya, saya di sini dan saya yang bakalan jaga bapak" Ucap ku pelan, setelahnya tubuh itu mulai normal, suhunya pun tak sepanas tadi, air matanya pun sudah berhenti hanya terdengar beberapa iskan kecil.

__ADS_1


__ADS_2