
Mentari pagi kembali menujukan dirinya, dan seperti biasa ia dengan begitu angkuh memancarkan cahaya terangnya di langit nan biru, saat ini aku sudah berada di depan kaca, memperhatikan penampilan ku dari atas sampai bawah, sangat mengagumkan, masih sangat cantik dan menggemaskan,
"Sempurna" Aku tersenyum dengan begitu lebar, pagi ku seperti biasa selalu ceria dan bahagia,
Penampilan ku, seperti biasanya akan selalu sempurna, semua wanita selalu memimpikan memiliki wajah yang cantik dan ideal, dan aku patut bersyukur karena memiliki postur tubuh yang bahkan sangat di idamkan oleh orang lain
Yang lalu biarlah berlalu saat ini ia sudah memiliki kehidupan baru dan ia hanya perlu menikmatinya saja, soal perjuangan aku tak pernah meragukan kemampuan ku, aku bisa menjaga dan bertahan di atas kaki ku sendiri
Segalanya aku segera mengambil tas dan beranjak turun, Untuk memulai hari dengan bekerja, meski memiliki bos menyebalkan namun tangung jawab tetaplah tanggung jawab, aku tak akan mencampur adukan perasaan dalam pekerjaan ku.
Langkah membawa ku menuju garasi dan dengan cepat mengemudi mobil ke kantor, tak ada hari tampa bekerja, tak ada hari tampa tumpukan dokumen itu
Aku mengemudi dengan sangat tenang hingga sebuah notifikasi pesan mengusik ku, aku meraih ponsel dan segera membukanya
Ia menghela nafas saat melihat sebuah pesan yang baru saja sampai, dan pesan itu tentu saja hanya akan membuat ku kesal
"Jemput saya di apartment" Ini adalah pesan perintah tampa penawaran, tak ada acara untuk menolak ataupun beralasan
Jika mahluk ini mengatakan ingin di jemput aku hanya bisa datang dan membawanya ke tempat yang ia inginkan, Tampa perlu melakukan perlawanan, karena jujur saja aku sudah sangat lelah berdebat dan menghadapi mahluk licik dan menyebalkan sepertinya itu.
Seperti biasa mahluk ini akan menjadi sangat semena mena, jika bukan bos ku sudah ku geplak kepalanya, enak saja memerintah dan mengatur ku sesuka hati
__ADS_1
Ya, semua juga akan tau siapa yang sangat suka menindas dan mengaturku dia adalah si paling berkuasa, mahluk menyebalkan yang sangat tak memiliki hati dan perasaan,
Si si big bos yang kejam dan tak berperasaan menyuruh ku melakukan ini dan itu Tampa bisa aku menolak dan membantah, karena ia tak sedang memberi penawaran, ia adalah orang yang suka memerintah
Terkadang aku bertanya tanya apakah ia tak memiliki supir pribadi?, apakah ia tak memiliki orang lain selain aku di sisinya?, ia begitu kaya tapi lihat lah, ia malah terus menerus merepotkan ku, mana jarak apartment ke kantor cukup jauh, dan aku harus muter lagi dong
"Baik Pak" Dengan kesal pesan itu selesai di ketik, dan segera di kirim, aku menghela nafas kesal dan kembali memutar untuk menjemput si big bos, padahal aku sudah hampir sampai di kantor, dan si big bos itu mengacaukannya
"Untung bos, kalo ngak udah gue bejek tu laki, bikin repot terus, minta ini lah itu lah, nyuruh ini lah itu lah, mana ngak masuk akal lagi, benar benar deh"
Saat ini aku bahkan hanya bisa mengomel kosong sepanjang perjalanan, aku sedangkan kesal dan biarkan aku mengeluarkannya
Jikapun aku mengatakannya maka mahluk itu tak akan pernah ingin perduli, selama ini juga seperti itu
Sebelumnya aku bahkan tak pernah ke tempat ini, ada puluhan lantai yang berada di sini, tidak mungkin aku mencari dan mengetuk kamar satu persatu, ini adalah kali pertama aku menjemputnya biasanya ia akan mengandalkan pak Rendi untuk memenuhi kebutuhan hariannya,
Dan secara teknis ini memang cukup menguntungkan bagi ku, akan tetapi tak semudah itu, semua tak sederhana yang ku pikirkan,
Meskipun pak Rendy memenuhi kebutuhan harian aku harus tetap berkutat dengan segala dokumen, mengambil dan menyelesaikan begitu banyak dokumen setiap harinya dan itu bahkan tak menerima suatu kesalahan sekecil apapun
"Hallo pak, saya sudah berada di apartment" Ucap Ku dengan nada nada nan begitu sopan, sebagai asisten pribadi yang baik aku tak bisa melakukan hal sesuka hati, aku dan si big bos ini berbeda, ia adalah atasnya dan diriku hanya karyawan biasa yang harus mengerjakan apa yang ia perintahkan
__ADS_1
lagi dan lagi aku hanya bisa menertawai diriku sendiri, takdir pasti juga melakukan hal yang sama, ia menertawai betapa malang dan bodohnya aku karena dengan mudah terperangkap dalam begitu banyak kebohongan yang penuh tipu daya
tapi, jangan mengeluh, karena mengeluh hanya akan membuat ku menjadi lemah, tak ada kata menyerah, jika jatuh aku hanya perlu bangkit, jika aku mengalami hal menyakitkan, maka aku hanya perlu beberapa waktu untuk menyembuhkannya, tak perduli jika satu tahun, dua tahun bahkan puluhan tahun kedepan,
Selama ini aku bisa bertahan, hanya masalah waktu, Lamat laun semua akan menghilang seiring perjalanan waktu, hanya sebuah ingatan dan kenagan, aku bisa melupakannya dengan mudah, yah aku bisa dan pasti bisa.
"Naik" Suara acuh itu keluar begitu saja, lagi lagi aku hanya menghela nafas kesal, dan melangkah menuju lift
Sebuah pesan masuk dalam ponsel ku, aku menghela nafas pelan sembari melangkah masuk
'Ting' lift terbuka dan saat ini aku sudah sampai di lantai 30 sesuai dengan keinginan sang big bos, aku melangkah ringan memasuki ruangan, hanya ada satu pintu yang akan membawa ku ke ruangan milik si big boss,
Ku akui bangunan ini benar benar mengagumkan dan ini adalah Penthouse, benar benar orang kaya yang sombong
"Permisi" Ucap Ku mengetuk menekan bel dan pintu terbuka secara otomatis,
Aku hanya menghela nafas dengan pelan, sebenarnya apa yang ingin di tunjukan oleh si big bos ini?, dengan sedikit ragu aku segera melangkah masuk, semoga saja ini tak menyinggung si big bos, bisa mati aku kalo di hukum lagi,
"Maaf Pak saya sudah berada di dalam apartment bapak," Aku berucap dengan nada pelan
Tempat ini bakan terbuka begitu saja, selama ini aku memang hidup sebagai orang kaya, namun aku tak menyangka jika aku hanyalah butiran debu di mata si big bos,
__ADS_1
"Masuk ke dalam ruangan dengan pintu berwarna putih"
Itulah isi pesan dari si big bos, lagi lagi aku menghela nafas kasar, ini bukan syuting film horor kan?, kok ngeri amat, dengan langkah pelan aku mendekati pintu berwarna putih itu, dan membukanya secara perlahan