My Sad

My Sad
29


__ADS_3

"Yang sabar aja Cik, pak Arya emang gitu tapi aslinya dia baik kok, lama lama pasti jadi terbiasa, asisten pak Arya sebelumnya juga gitu, si Amel, uh tu anak sampe nangis kadang kadang karena permintaan pak Arya yang bakan ngak masuk akal banget" Ucap beberapa wanita yang duduk di sekeliling ku,


Aku sudah berada di kantor ini selama beberapa hari, dan yah, hal yang wajar bukan aku memiliki beberapa teman untuk sekedar mengobrol dan menghibah,


Bagai manapun selera setiap wanita itu sama, kalo ngak ngegibah apa lagi?, dan yah, saat ini kami sedang berjalan beriringan menuju kantin,


Sudah masuk waktu istirahat makan siang dan tentu saja aku tak boleh membiarkan para cacing cacing ku mendemo lebih lama


"Yah gitu lah, saya bahkan heran, kenapa sih jadi big bos harus menyebalkan itu, sampe sampe ngak di kasih waktu istirahat, ya maaf ya kita sih bersyukur banget ngak di samping si bos, kalo ngak bisa penuaan dini kita menghadapinya" Sahut rekan lainya


Pak Arya memang sosok yang seperti itu mahluk yang hanya hidup Tampa tau menikmati hidup, mahluk yang gila bekerja Tampa mampu menikmati hasil dari jerih payahnya sendiri, nasib yang sangat malang


Seluruh perusahaan tentu saja tau bagai mana tempramen si big bos, sangat tidak berperasaan dan sangat suka memerintah


Tak seolah ia Seornag raja yang perintahnya harus di di patuhi dan di jalani mau atau tidak mau suka atau tidak suka Ucapnya bagaikan perintah mutlak yang tak bisa di ganggu gugat dan di tawar


"Jaga wibawa mungkin mbak, lagian yah pak Arya ganteng banget cocok banget dengan sifatnya, kadang kadang saya merasa berada dalam dunia novel, CEO yang tampan dan kaku bertemu dengan pemeran utama wanita jatuh cinta trus berakhir bahagia" Ucap si wanita lainya,


Di novel ataupun drama itu memang sangat sering terjadi, CEO yang jatuh cinta pada Seornag gadis biasa


Namun itu hanya sebuah cerita fiksi yang bahkan hanya sebatas khayalan penulisnya,


Tak ada cinta yang seperti itu, orang yang terhormat tentu saja akan mengambil istri yang setara dengannya


Mereka orang kaya sudah sangat terbiasa berbisnis hingga pernikahan pun di atur atas bisnis, tak ada cinta hanya ada rugi laba yang di dapati


"Sayangnya saya ngak mungkin di beri kesempatan buat jadi pemeran utama wanita itu, sayang benget kan?" Ucap wanita di sebelah ku


Aku mengangguk menyiapkan ucapan si gadis, memang seperti itulah seharunya, seseorang akan mencari pasangan yang setara dengannya


"Sayang banget" Ucap ku menggeleng pelan


Menjadi pemeran utama wanita juga bukan hal yang mudah, banyak kesulitan drama kehidupan yang harus ia lewati,


ah akan lebih baik mencintai diri sendiri dan menyadari posisi, terlalu banyak berkhayal hanya akan membuat diri menjadi lalai

__ADS_1


Setelahnya tentu saja kami melanjutkan acara makan siang sambil mengobrol ringan dan mengatakan beberapa lelucon konyol


"kalian mau pesan apa ni?"


Ucap Sunny ia adalah rekan kerja ku, aku memang anak baru namun aku bukan orang yang susah bergaul, aku bisa saja menyatu dan berbaur dengan siapapun


"Kayaknya steak aja, steak di sini enak enak loh" Ucap Neti dengan penuh semangat


"yaudah, mbak kita pesan steak, kentang goreng sama jus jeruknya ya" Ucap Neti dengan senyuman lebar


"Eh tapi ngomong ngomong, si Sintia itu udah berapa lama kerja di sini?" Aku bertanya Sintia terlihat begitu menyebalkan dan sangat tak baik untuk di dekati, ia selalu selalu membanggakan dirinya yang tiba lebih dulu dari ku, dan dengan mudah menujukan kuasanya pada ku


Meskipun aku tak ingin ambil pusing, jika bisa aku lakukan dan jika tidak maka aku hanya tinggal melawannya, toh sedari kecil aku bukan orang yang bisa di tindas


"Ah, dia?, dia udah kerja sejak 1 tahun lalu, tapi ya itu lah, Lo tau sendiri kan?, tu anak songong banget, bangga banget dengan posisinya yang selalu dekat dengan si big bos"


"Bener banget, tu anak kayaknya berambisi banget buat dapetin si big bos"


"Pantesan aja, pas baru dateng gue udah di Julitin, ternyata punya niat lain toh?"


"Hm pantesan aja.." Saat sibuk mengobrol ponsel ku berdering dan dengan malas aku mengangkatnya


"Hallo selamat siang pak"


".."


"Baik pak" Aku menutup telepon dengan wajah kesal bagai mana tidak aku bahkan baru saja ke cafe ini dan di suruh balik ke perusahaan lagi?


"Kenapa?"


"Si big bos kejam, biasa lah, di suruh balik ke kantor, yaudah, gue duluan ya, steak gue gue nitip Lo pada aja bawa ke kantor"


"Oh ok deh kalo gitu"


"Gue duluan"

__ADS_1


aku segera meninggalkan Cafe menuju kantor yang sebenarnya memang tak jauh dari sana


"Semangat Cika, hidup emang gitu, Lo kebiasaan manja sih dari kecil, sekarang Lo udah gede, ngak boleh manja, harus jadi orang yang bertanggung jawab"


Sedari tadi aku hanya berusaha untuk membohongi diriku sembari membuka beberapa berkas yang harus ku periksa dan setelahnya di antar ke ruangan si big bos


Memasuki ruangan si big bos adalah hal yang sangat ku hindari, namun apalah daya ku, yang memang seharunya selalu berada di samping si big bos


benar benar menyebalkan, belum satu minggu aku berada di tempat ini, namun otak ku sudah di penuhi dengan segala keluhan


"Ada yang bisa saya bantu pak" Ucap Ku pelan,


Wajah si big bos masih tetap sama, sangat kaku dan menyebalkan, apa lagi kali ini?


"Antarkan ini ke hotel mahadewi, jangan sampai telat sedikit pun" Ucapnya,


Kening ku mengerut, ngantar berkas?, emang ngak bisa nyuruh orang lain?,


"Ini masih jam istirahat pak, saya juga belum sempat makan siang" Protes ku, apakah dia juga ingin merebut waktu makan siang ku?,


"Ini" Ucapnya mengulurkan map biru itu, dengan kesal aku meraihnya,


Dia bahkan tak bicara apapun, dasar big bos menyebalkan tak menerima penawaran apa lagi bantahan, huh aku menghela nafas pelan dan segera meninggalkan ruangan menuju hotel mahadewi,


Langkah membawa ku menuju loby, di depan sana ojek online sudah menunggu, aku hanya menghela nafas pelan, dokumen ini harus sampai di tangan penerima dengan cepat, dan aku hanya di beri waktu 20 menit untuk sampai kesana, 20 menit?,


Dengan jalanan jakarta yang super macet ini?, dan yah lagi lagi aku harus berkorban, memesan ojek online agar sampai tepat pada waktunya


"Sesuai titik ya mbak" ucap si ojol pelan, hanya ku balas dengan deheman pelan,


Saat ini aku dalam mood yang tidak baik dari itu jangan memancing emosi ku,


"Huh" aku menghela nafas pelan, hotel mahadewi yah, baik lah,


mari bekerja paksa, aku meraih ponsel dan menelpon seseorang yang akan menyambut map ku nantinya

__ADS_1


__ADS_2