
"Lo dimana? " Aku bertanya pada Amel yang berada di sebarang sana,
Yah saat ini aku sedang menelfon sembari menikmati pijatan yang menenangkan
Sudah terlalu lama berkutik dengan segala kesulitan kesedihan, ia merasa bosan dan muak dari itu ia harus mencari kegiatan untuk menyenangkan dirinya sendiri, dan setalah ya?, tentu saja menjalani kehidupan baru ku, ini adalah awal ku dan aku tak boleh memikirkan itu lagi, mama sudah bahagia sama Angga dan Angga juga sudah berhasil mewujudkan impiannya memiliki anak
Aku menghela nafas pelan, beribu bahkan berjuta kali mengatakan jika aku sudah ikhlas namun kenyataanya aku belum bisa menerima kenyataan ini, sudah hampir setengah tahun berlalu namun luka hati ku bahkan tak memiliki tanda untuk sembuh
Aku memang menyimpan dendam pada mama ataupun Angga namun aku merasa kekecewaan yang amat sangat hal ini lah yang membuat ku bahkan masih memikirkan perihal itu saat aku sudah mati Matian berusaha untuk terlihat baik baik saja
".... "
"Yaudah, lo kirim aja alamat rumah gue, gue mau langsung istirahat habis ini" Aku berucap pelan, setelah apartment di jual aku membeli rumah kecil di sebuah perumahan di Jakarta timur
Saat ini aku berada di dalam pelarian dan tentu saja harus berusaha dengan keras agar Angga tak bisa menemukan ku lagi, karena aku jika Angga tau kepergian ku maka ia akan mencari ku seperti orang gila
"... "
"Iya, gue udah pikirin semua baik baik Mel, karena semuanya udah jelas ngak ada alasan lagi buat gue tinggal di sana, soal kebahagiaan mereka ya tergantung takdir, yang pasti gue bakalan kecewa banget kalo Angga sampe sia siain mama gue
".. "
"Iya, ngak usah samperin gue, gue bisa sendiri kok" Aku berucap pelan, Amel ingin menemui ku?, ah tidak dulu untuk sekarang, saat ini Amel sedang bekerja kan?, itu tandanya ia sedang bersama bos garangnya
Dan aku tak ingin menganggu Amel sekarang, biarkan Amel bekerja dengan baik agar si big bos tak marah dan malah memotong gajinya
"... "
"Ngak usah gue ngak mau bos galak lo marah, udah deh santai aja kali, gue udah gede gini" Amel bersikeras ingin menemani ku namun aku menolaknya
__ADS_1
Amel sedang bekerja dan aku tak ingin menganggu, aku sudah cukup sering merepotkannya dan untuk kali ini biarkan aku melakukanya sendiri, toh hanya ke alamat dan membereskan rumah saja, aku pasti biasa jika hanya melakukan hal sederhana itu
".. "
"Hm yaudah" Ucap ku memutuskan sambungan telfon,
Awalnya aku ingin membeli apartment untuk tempat tinggal setidaknya akan membuat ku menjadi lebih nyaman dan tenang, akan tapi tentu saja ku urungkan,
Setelah di fikir itu bukan pilihan yang baik aku sedang bersembunyi jika tinggal di apartment keberadaan ku dengan mudah terekspos dan pastinya angga akan mudah menemukan ku jika di antara apartment ini,
Dan akhirnya aku memilih untuk membeli sebuah rumah di komplek memang tak terlalu mewah namun jauh lebih cukup untuk ku tinggali, dengan rumah dua lantai dan barang yang pastinya sudah tersedia dengan lengkap
mengenai berkas?,
Tentu saja atas nama Amel aku tak mau jika sampai kembali terlacak meskipun rumah ini tak terlalu megah namun Angga bukan orang bodoh yang akan melepaskan ku dengan mudah
Lagi pula aku percaya pada Amel dia tak mungkin mengkhianati ku, yah begitulah akhir cerita kabur kuburan ku.
bagai mana pun aku tak bisa meninggalkan kota jakarta begitu saja, meski tampa Angga aku yakin aku, bisa, bisa hidup dan bertahan di kerasnya dunia pekerjaan, tentu saja, aku sudah bekerja sejak muda, dan ini bukan hal sulit pastinya
Aku menghela nafas pelan dan merebahkan tubuh ku di kasur yang empuk, Jika di bandingkan dengan rumah ku bersama Angga dulu, rumah ini menag terbilang agak kecil, namun ini juga cara efektif untuk menghindar,
Jika aku mengambil rumah di perumahan elit, tentu akan mudah di lacak dan di temukan, tapi jika di sini?, siapa yang mengira?, Cika Pratina Wiliam seorang model ker kenal yang sejak kecil hidup dengan bergelimang harta mau tinggal di sini,
Memang terdengar mustahil, tapi itu pilihan ku tentunya, aku menyukai hal yang mustahil, seperti kenyataan yang ada, aku buka anak kandung mama dan Angga menyelingkuhi ku, bukankah itu terdengar sangat mustahil?, namun, tentu saja aku sudah melewati itu,
"Siapa sih" Gerutu ku malas,
Saat ini aku ingin beristirahat dan menenangkan diri karena masalah yang ada, tapi?, tamu tak tau malu itu sedari tadi mengetok rumahku, mau tak mau, dari pada pintu rumah jebol dengan malas aku beranjak menuju pintu utama dan membuka pintu, untuk tamu yang tak di undang itu
__ADS_1
"Lo Mel, kirain masih sibuk" Ucap ku, ternyata si tamu gila adalah sahabat ku, wajar sih, selain amel siapa lagi yang suka bikin rusuh gini
"Ngak sampe malam juga kali" Ucapnya dengan sangat tak sopan nyolong masuk
"Trus mereka siapa?," Aku menatapnya dengan tanya, ini mau ngapain yah, mau demo?, kan gue calon janda bukan pejabat negara, mau demo apa emang?
"Orang suruhan, barang lo banyak banget tau, mana sanggup gue ngangkat sendiri, mana semuanya di bawa lagi, mehong mehong juga, kalo lecet gue ngak sanggup ganti rugi" Gerutu amel mendudukkan diri di sofa membiarkan orang orang yang ia bawa menangkap barang milik ku yang sudah memenuhi pik up
"Yah kalo ngak di bawa trus gue pake apa oon, mana Harganya mahal mahal semua, gue mana sanggup beli lagi," Ucap ku pelan, setelah selesai tentu saja kedua pria tadi meninggalkan kami yang asik mengobrol
"Yah yah, seorang Cika Pratina Wijaya mana bisa hidup susah" Ucapnya dengan nada mengejek
"Cika Pratina Wiliam, ngak ada Wijaya lagi" Ucap ku meralat ucapan amel, ia hanya mengguk malas, dan yah pada kenyataannya nama Wijaya sudah tak pantas untuk berada di belakang nama ku,
"Gimana ke adaan nyokap lo?" Obrolan yang awalnya sandai yah tentu saja beranjak menuju ke jenjang yang lebih serius, celah, seriusan segala
"Masih di rumah sakit, depresi nyokap makin parah," Ucapnya menghela nafas pelan, aku hanya bisa mengguk dan mengelus punggung prihatin
"Makin parah?, kemaren kemaren masih di rumah, kok sekarang udah di rumah sakit aja" Ucap ku pelan
"Ya gitu deh, lo tau sendiri kan gimana nyokap gue sejak bokap meninggal" jawabnya menghela nafas pelan
"Hm yaudah kalo gitu, dari pada lo kesepian mendingan lo tinggal bareng gue aja, gue juga males sendirian" ucap ku pelan, yah tentu saja, amel teman ku, dan rumah ku masih cukup besar untuk menampungnya
"Trus rumah gue?"
"Ya di tinggal lah, masak ia lo mau gendong rumah ke sini, mana muat ni tanah"
"Stres lo, tapi karena lo yang ngajak gue ngak bisa nolak, sebagai teman yang baik dan benar gue bakal nemanin lo, gue ngak mau lo depresi, trus nekat bunuh diri ngak ngak kalo lo mati trus gue sama siapa?" Ucapan konyol kembali meluncur dari mulut indah si amel, enak aja, siapa juga yang mau cepat cepat mati, ngeri siksa kubur
__ADS_1
"Ya ngak lah mana mungkin gue seputus asa itu, lagian gue masih sangat cantik kali, masih banyak kumbang di taman, sekarang mandi gih, lo bauk matahari" Ucap ku, beranjak menuju TV, akan lebih baik menonton TV untuk mengusir rasa bosan ku, pembahasan yang memang sedikit rentan, tapi tak masalah, aku yakin aku bisa melewati semuanya, tampa putus asa, depresi apa lagi nekat bunuh diri, ngak akan.